Toxic Family

1265 Kata
"Ini salah, tak seharusnya kita melakukan ini. Disini!" Wanita itu menarik tengkuk sang pria, menciumnya dengan tergesa. Gairahnya sudah di ujung dan persetan dengan Abiyan yang sudah memeringkatkan dirinya. Kepalang tanggung, mereka tetap meneruskan pergulatan panas mereka diatas ranjang. "Ah terus." Menolak pun tak bisa, Abiyan terasa tersihir oleh nafsu yang sudah menguasai dirinya. Ciumannya semakin cepat dan tak memberikan ruang untuk wanita dibawahnya mengambil nafas. Desahan-desahan itu lolos begitu saja, menemani malam sunyi yang begitu panas. Dua anak manusia itu melakukan penyatuan, saling memberikan kepuasan dan terbuai semakin dalam. "Ahhhh, ini—ini salah." tertatih terucap, deru nafasnya memburu diikuti desahan yang saling bersahutan. **** "Udah mau 10 tahun nikah tapi sampai sekarang enggak hamil-hamil. Kasian Mas Abiyan, padahal dia udah kepingin banget gendong anak." Perkataan itu sangat mengusik bagi Berliana. Dia hanya terdiam mendapati adik iparnya berkata demikian, bukan takut untuk membalas, tapi Berliana enggan memulai keributan. Berliana menoleh, mencoba menyembunyikan kekesalannya pada adik pertama suaminya. "Aku sama Mas Abiyan lagi program kehamilan kok. Mungkin belum waktunya aja. Kan semua butuh proses, Vina." jawab Berliana, diikuti senyuman yang terkesan dipaksakan. Wanita itu sudah risih sejak topik kehamilan dibawa-bawa. Sebab pada akhirnya akan membuat Berliana kepikiran dan berakhir dia overthinking berhari-hari. Topik ini sangat sensitif karena pada akhirnya akan berakhir dengan perdebatan. "Dari dulu bilangnya lagi program hamil, tapi mana kok sampai sekarang enggak ada hasilnya?" sahut Icha, adik iparnya yang lain. Berliana hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Bukan sekali atau dua kali situasi ini dia hadapi, tapi sudah hampir 10 tahun. Selama itu pula Berliana selalu menahan diri, tidak ingin ada pertengkaran hanya karena masalah kehamilan. Sebenarnya Berliana geram sekali jika sudah berada diposisi ini, tapi dia sedang malas berdebat. Dia jadi menyesal membatalkan janji temunya dengan sang sahabat. Pagi-pagi sudah dimulai dengan keributan. "Sumpah tahu gini mending jadi keluar aja. Mulut mereka lama-lama makin enggak tahu adab." batin Berliana. Namun dia tetap tenang, jika tidak para iparnya akan semakin memojokkannya. "Periksa aja ke dokter, siapa tahu emang diantara kalian ada yang mandul. Tapi kalau mas Abiyan sih kayaknya enggak, gak tahu lagi kalau Mbak Berlin." ucap Vicky, adik Abiyan yang ketiga dan yang paling menjengkelkan. Ah mereka semua memang menjengkelkan. Satu ipar saja rasanya kepala mau pecah, apalagi Berliana yang mempunyai 4 ipar sekaligus. Tinggal bersama pula, selama 10 tahun pernikahannya dengan Abiyan. Bisa dibayangkan bukan betapa stresnya wanita itu. Suasana semakin tegang, perkataan demi perkataan yang dilontarkan adik-adik suaminya, benar-benar membuat hati Berliana memanas. Tidak bisakah berbicara dengan kalimat yang lebih baik dan tidak terkesan membully "Berapa sih biaya periksa ke dokter, Mbak Berlin kan kaya. Dari dulu disuruh periksa kok gak ada yang mau. Heran deh. Udah 10 tahun loh kalian menikah.” "Apa emang benar ya kalau Mbak Berlin itu mandul? Soalnya gak mungkin aja kalau Mas Abiyan yang mandul, secara kan di keluarga kita gak ada keturunan mandul." "Nah iya, mandul itu keturunan ya, di keluarga kami semua subur-subur. Buktinya istriku sekarang hamil anak kedua." deg "Keturunan?" Ketiga adik iparnya memberikan serangan secara bersamaan. Berliana merasa yang paling tidak bisa apa-apa diposisi sekarang, padahal dialah yang bisanya mendominasi lawannya. Tapi Berliana akui, sejak menikah dan tinggal bersama keluarga Abiyan, Berliana hampir selalu mengalah dan menurunkan egonya. Dia sering menahan diri, menahan emosi hanya untuk meredam suasana agar tidak semakin memanas. Tapi hari ini mereka benar-benar keterlaluan. Mungkin tadi Berliana masih bisa menahan diri untuk tidak membalas semua perkataan adik-adik iparnya. Tapi ucapan Vicky barusan membuatnya naik darah, seolah di sini Berliana adalah wanita mandul! Berliana menatap satu persatu dari mereka, Berliana begitu membenci mereka, juga heran kenapa mereka bisa sejahat itu padanya. Bukankah seharusnya mereka segan dan menghormati Berliana sebagai iparnya? "Ya gimana ya Vic, kamu nikahin istri kamu aja pas dia hamil anak kedua kalian. Itupun kalau aku gak kasih jaminan di kantor polisi, sampai sekarang juga kamu masih ada di penjara." ucap Berliana sarkas, tanpa peduli lagi jika nanti mereka akan berdebat besar. Ah ini sudah sering terjadi, perdebatan Berliana dengan adik-adik iparnya. Atau mungkin pagi ini akan menjadi perdebatan yang sangat panas antara mereka. Tidak bisa dipungkiri. "Itu aja aku yang ngomong langsung ke mertua kamu, biar kamu bisa bebas bersyarat." lanjut Berliana dengan senyum penuh kemenangan, kala melihat ekspresi wajah terkejut dari mereka. Mungkin mereka tidak pernah mengira jika Berliana akan membalas, lagipula posisi sekarang Berliana sedang berada di rumah sendirian, tidak ada Abiyan. Yang artinya Berliana akan kalah telak jika berdebat dengan mereka. Tapi nyatanya, Berliana malah menanggapinya. "Oh, Mbak Berlin gak ikhlas kasih uang buat jaminan ku waktu itu? Muka dua ya, di depan Mas Abiyan aja gayanya sok-sokan ikhlas, ternyata di ungkit-ungkit juga." "Emang dasarnya sombong, berapa sih uang yang Mbak Berlin keluarin buat jaminan Vicky, kok sampai segitunya diungkit-ungkit." timpal Icha. Yang sudah mendekat ke arah Berliana. Berliana hanya bisa tersenyum miring, jika mereka tidak terus-terusan menyudutkan dirinya, mungkin ia juga tidak akan mengungkit-ungkit hal ini. "Gak salah? Tanya nominal uang yang aku keluarin? Aku jabarin juga kalian gak bakal bisa ganti—" "Hei!" Teriakan dari arah dapur, membuat fokus keempat orang di ruang tamu termasuk Berliana terpusat. Wanita baya yang merupakan ibu Abiyan tersebut berjalan dengan angkuh mendekati anak dan menantunya. Matanya menatap nyalang ke arah Berliana, "Mentang-mentang kamu anak orang kaya, bisa bicara begitu sama adik ipar kamu. Merasa keren kamu bicara kayak gitu heh?!" "Ibu tahu kamu kaya, punya kekuasaan. Tapi jangan jadi sok jagoan disini. Kata-kata kamu itu harus dijaga, lagian apa yang dibilang mereka semua itu benar kan. Dan sekarang kamu ungkit-ungkit apa yang udah kamu kasih, muka dua?" "Asal kamu tahu, Abiyan gak mungkin bermasalah, buktinya keluarga kita punya anak semua. Justru kamu yang harusnya sadar diri, siapa tahu kamu mandul!" Semua perkataan dari ibu mertuanya begitu menyakitkan, tidak sepantasnya seorang ibu berkata sedemikian. Apalagi mereka sama-sama wanita, seharusnya tahu dan saling memahami. "Bu..." lirih Berliana. "Aku tidak mandul!" lanjutnya. "Terus kalau gak mandul, kenapa gak hamil-hamil sampai sekarang? Pernikahan kalian itu udah mau 10 tahun loh, bukan pengantin baru. Dan itu namanya kamu mandul, gak subur." Sedangkan Abiyan yang baru saja datang, langsung kebingungan mendengar perdebatan dari luar rumah. "Ada apa ini?" tanyanya, dia menatap sang istri untuk meminta jawaban, namun Berliana hanya diam dengan sorot mata yang tidak bisa Abiyan mengerti. "Itu tanya saja istri kamu. Sombongnya minta ampun, kalau gak ikhlas ngasih itu bilang. Jangan jadi sok baik kalau ujungnya juga diungkit-ungkit." jawab Tari, Ibu dari Abiyan. "Aku ikhlas ya Bu. Cuma ibu dan lainnya yang gak tahu malu dan kurang berterima kasih!" Berliana berdiri, melengos kala Abiyan memanggilnya dan tidak memperdulikan ibu mertuanya yang masih koar-koar disana. Berliana bisa menebak, jika sekarang pergi, maka suasana rumah akan semakin parah kala dia kembali. Dan Berliana tetap memutuskan pergi. "Beraninya kamu ngatain ibu enggak tahu malu? Dasar wanita mandul!" teriak Tari. Menatap jengkel Berliana yang sudah hilang dibalik pintu. "Apa apa sih Bu?" tanya Abiyan lagi. Dia ingin mengejar istrinya, tapi dia ingin tahu dulu penyebab perdebatan ini terjadi. "Itu istri kamu. Makin hari makin kurang ajar, dasar wanita mandul." "Bu, apa-apaan sih kok bicara kayak gitu. Berliana itu istri Abiyan loh, menantu ibu. Gak seharusnya ibu ngatain dia mandul!" "Wajar ibu bilang gitu, orang kenyataannya dia mandul kan?" "Tapi—" "Yang dibilang ibu itu benar. Istrimu juga udah keterlaluan sih Mas! Heran banget aku sama dia, dikasih pengertian kok gak bisa nerima. Malah ngajak berantem kayak gini, memuakkan!" Icha langsung pergi begitu saja, meninggalkan ruang tamu. "Lain kali bilangin istrimu Mas, kalau dia sok jagoan lagi disini, gak segan-segan aku ajar dia. Gak peduli dia mau cewe, mau istrimu, gak peduli aku!" "Jaga bicara kamu Vicky! Dia istriku!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN