There is A Small Gap

1061 Kata
Pria berperawakan tinggi dengan pakaian formal yang melekat di tubuhnya, terlihat jelas raut wajah letih darinya. Dia Abiyan. Hari ini, dia menghabiskan waktu seharian dengan ibu dan adik-adiknya. Bukan tanpa sebab Abiyan melakukan hal ini, selain paksaan dan desakan dari sang ibu yang terus-menerus menginginkan mereka menghabiskan waktu bersama, Abiyan terjebak dengan mengiyakan ajakan itu. Dan merusak semua janji temunya dengan Berliana. "Mas Biyan, mending aku beli tas yang mana. Merah atau hitam ini ya? Soalnya bagus banget." "Bagus, kamu bisa beli dua-duanya." "Beneran?" "Iya." Abiyan mengeluarkan kartu ATM nya dan menyerahkan pada sang adik. Mengabaikan adiknya yang langsung masuk ke store tanpa mengatakan apapun lagi. Dia hanya melihat dan menarik nafas dalam-dalam, “Lain kali aku gak mau kalau ibu memaksa seperti ini. Aku juga punya janji lain bu.” tegasnya, tari yang tepat berada di sampingnya hanya mendengkus kesal. “Janji sama Berliana kan.” “Bukan cuma dengan Berliana, tapi aku juga punya janji dengan yang lainnya. Jadi ibu gak bisa seenaknya seperti ini. Kalau ujungnya cuma mau ditraktir belanja di mall, bukannya dari awal aku sudah menawarkan akan mentransfer uangnya. Tapi malah memaksa.” “Yaudah dong, ngapain pakai ngegas segala. Lagian kita udah jarang keluar bareng. Gak pernah ada waktu buat kita kamu itu.” Abiyan menarik nafas dalam-dalam, berusaha menahan diri untuk tidak membalas ucapan sang ibu. Percuma saja, ujungnya dia juga akan kalah jika berdebat dengan ibunya. “Besok Dina balik dari Singapura, kamu yang jemput dia yaa.” ucap Tari tiba-tiba, yang sukses membuat raut wajah Abiyan berubah. “Dia bilang katanya kamu gak respon pesannya, kamu juga gak angkat telepon dari Dina. Gimana sih kamu itu, senggak ada waktu itu buat ngerespon Dina?” “Bisa gak kita omongin ini nanti aja Bu? Kita di luar, gak enak juga ngomong ini di sini.” Abiyan mundur beberapa langkah dan memilih pergi dari sana. Meninggalkan Tari dan adik-adiknya. Hal itu sukses membuat Tari naik pitam, tatapan matanya tajam, dibuat kesal oleh putranya sendiri, “Lihat itu kakak kamu, kayaknya dia udah dipengaruhi sama wanita jahat itu. Sikapnya jelas-jelas beda ke kita.” kesalnya. “Udah lah Bu, jangan marah-marah disini. Udah biarin aja dia, mending kita habisin aja uang mas Abiyan sekarang. Lagian hari ini kita udah berhasil buat mas Abiyan batalin pertemuannya dengan Berliana.” Vicky tersenyum, dia berusaha meredakan amarah sang ibu. *** Setelah dari restoran, Berliana yang awalnya ingin pulang, jadi mengurungkan niatnya. Padahal Adrian sudah mengantarkannya sampai di depan gerbang rumahnya. Wanita itu memilih pergi lagi bersama Adrian untuk menghilangkan kejenuhan. Lumayan, kehadiran Adrian menghilangkan rasa kesepian yang akhir-akhir ini Berliana rasakan. Tidak tahu harus kemana lagi, pada akhir Adrian membawa Berliana pulang ke rumah Mami Lucy. Yang rencananya mengajak Berliana mengunjungi Mami Lucy adalah esok hari, jadi berubah menjadi hari ini. Mami Lucy sendiri memutuskan kembali dan menetap di Indonesia sejak lama, setahun sebelum Berliana menikah. Dan Adrian tetap tinggal di luar negeri untuk urusan pekerjaan. Mami Lucy begitu excited ketika Berliana datang berkunjung setalah beberapa tahun lamanya. Bisa dibilang terakhir mereka bertemu, adalah saat resepsi pernikahan Berliana. Maklum, Mami Lucy tinggal di Bogor. Boro-boro berkunjung ke rumah Mami Lucy, mengunjungi orang tuanya saja bisa dihitung berapa kali dalam setahun. Karena dirasa sudah bertambah tua, Fathan menyerahkan perusahaan kepada Berliana dan Berliana mempercayakan kepada Abiyan. Kedua orang tuanya memutuskan hidup berdua jauh dari Jakarta. Selain mencari suasana baru yang jauh dari perkotaan, mereka juga ingin menikmati masa tua bersama-sama. "Menginap di sini aja Berlin, masa iya sih udah mau pulang." "Harus pulang Mami, kapan-kapan aku bakalan main-main kesini lagi kok." "Jangan dong. Kalau kamu pulang, terus Adrian balik ke apartemen, terus Mami sendirian lagi di rumah. Menginap ya, semalam aja." "Jangan gitu dong Mi, Berlin juga punya suami kalau Mami lupa. Gak enak sama suaminya, nanti sendirian di rumah." ucap Adrian. Adrian mengambil kunci mobil dan bersiap pergi dari sana. Dia akan mengantar Berliana terlebih dahulu sebelum ia kembali ke apartemen. Karena sekarang sudah kembali dari luar negeri, dan pekerjaan sepenuhnya ada di Indonesia. Adrian juga lebih sering menginap di kantor yang berlokasi di Jakarta, jadi jika tinggal bersama Mami Lucy akan memakan waktu lama untuk pulang pergi. Mami Lucy pun tak mau meninggalkan rumahnya, karena rumah yang ditempatinya merupakan rumah hadiah pernikahan dari almarhum suaminya. "Ya udah deh kalau gitu. Tapi besok-besok main lagi ya, kita jalan-jalan ke mall gitu. Ya?" "Iya, pasti Mami." "Ya udah hati-hati ya kalian di jalan. Adrian, jangan ngebut kalau bawa mobil, udah malam juga ini." "Siap." ***** "Iya mas gapapa, hati-hati dijalan ya. Have fun liburannya." ‘Bukan liburan sayang, ini pekerjaan.’ "Sekalian liburan mas, jangan terus-terusan sibuk sama pekerjaan. Kamu juga harus liburan dong." ‘Haha bisa aja kamu. Ya udah ya, aku matiin teleponnya. Kamu gapapa kan di rumah sendirian?’ "Gapapa, udah terbiasa." "Dah." Berliana memasukkan ponselnya ke dalam tas dan kembali menatap kearah luar kaca mobil. Hari ini Abiyan membatalkan pertemuan mereka, bahkan mereka belum sempat bertemu hari ini, tapi Abiyan sudah izin akan keluar kota selama beberapa hari. Abiyan bahkan tidak bertanya di mana Berliana sekarang. Dan bisa dipastikan suaminya berangkat luar kota tanpa mampir terlebih dahulu ke rumah. Jadi tidak tahu istrinya sekarang ada di rumah atau tidak. Sudah jadi kebiasaan, kantor adalah rumah kedua Abiyan. Semua barang-barangnya ada di sana, ingin pergi pun tak perlu bersusah payah datang ke rumah dan berkemas. Ah Berliana jadi kepikiran satu hal. Dia sampai lupa rencananya tadi siang. Padahal Berliana sudah ada janji temu dengan beberapa direksi, dan niatnya Berliana akan kembali memimpin perusahaan secara perlahan. Sebelum itu dia harus mengetahui apa saja yang terjadi di perusahaan selama Abiyan yang memimpin. Keputusan gila yang Berliana ambil tanpa ada diskusi terlebih dahulu dengan suaminya. "Telepon dari suamimu?" "Iya." "Gimana pernikahan mu, semoga baik-baik saja." Berliana menatap Adrian cukup lama, bingung dengan perkataan pria itu. "Maksud ku, aku rasa kamu sedang ada masalah dengan suami mu mungkin?" "Sok tahu." "Aku sangat peka, jadi aku tahu Lin.” "Jika terlalu, bukan peka lagi namanya. Tapi sotoy, sok tahu kamu." "Dari jawaban mu, kayaknya benar ya." "Jangan banyak bicara, sudah sana fokus menyetir. Aku lagi gak mood buat ngomong, mending kamu diam atau turunkan aku disini.” Adrian tersenyum, Berliana masih sama seperti Berliana yang dulu. Wanita galak yang sempat membuat Adrian hampir menaruh hati padanya. "Astaga Berlin, kamu tetap sama ya kayak dulu. Tetap galak, padahal aku cuma bercanda.” "Terserah." "Astaga."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN