Nice To Meet You

1270 Kata
Baru saja sejam yang lalu Abiyan mengirim pesan agar Berliana segera menuju ke restoran. Tapi baru saja masuk dan memesan makanan, Abiyan malah menelepon dan berkata tengah ada urusan mendadak yang tak bisa ditinggalkan. Padahal pria itu sendiri yang bilang ingin menyelesaikan masalah mereka. Akan tetapi, sepertinya Abiyan tak serius dengan ucapannya. Buktinya pria itu tanpa rasa bersalah langsung membatalkan janji temu. Padahal pembicaraan semalam belum bertemu ujungnya. Geram sekali Berliana terhadap tingkah laku suaminya. Urusan mendadak seperti apa sampai-sampai tidak bisa ditinggalkan. Di perusahaan jabatannya sebagai direktur, tidak bisakah melemparkan urusan ke sekertaris pribadi? Apa gunanya jabatan tinggi kalau tidak bisa diandalkan disaat-saat penting. Lagipula tidak setiap hari Abiyan keluar dengan Berliana. Sebegitu pentingnya pekerjaan bagi Abiyan. Heran sekali, semakin lama Abiyan semakin gila dengan pekerjaannya. Apapun selalu pekerjaan yang dia nomor satukan. Pembicaraan mereka ini juga penting. Ah, sejak menikah dengan Abiyan, Berliana sendiri sudah menyerahkan perusahaan sepenuhnya pada sang suami dan dia berhenti mengurusi perusahaan keluarga sejak tahun pertama pernikahannya. Itupun dengan berat hati Berliana lakukan, terpaksa karena ibu mertua dan iparnya terus memojokkan dirinya. Sering berkata, kalau Berliana tidak bisa menghormati suami. Dan jika Berliana tidak berhenti bekerja, maka posisi Berliana lebih tinggi dari Abiyan. Ibu Abiyan berkata itu sama saja tidak menghargai suami dan apa kata orang nanti jika mengetahui jabatan istri Abiyan lebih tinggi dari Abiyan nya sendiri. Sebenarnya itu pemikiran kolot, tapi bodohnya Berliana mengiyakan dan malah pensiun dini dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Membutuhkan waktu lama untuk Berliana mengambil keputusan, karena selama ini perusahaan sudah Fathan serahkan sepenuhnya kepadanya, karena dialah anak satu-satunya Fathan dan Ariana. Jujur saja, semakin lama Berliana semakin merasa menjadi anak yang tidak tahu diri. Orang tua angkat mana yang rela menyerahkan semua kekayaan keluarga untuk anak angkatnya? Tapi apa boleh buat, dia juga harus memikirkan pernikahannya juga. Tak ada salahnya juga kan berhenti dari pekerjaan. Dan saat itu Berliana berpikir dia bisa mempercayakan sepenuhnya perusahaan pada Abiyan. Sangat percaya sampai Berliana tak pernah berpikir jika nantinya Abiyan bisa saja menyalahgunakan kepercayaannya. Meskipun awalnya Fathan menolak keputusan Berliana, pada akhirnya juga berusaha menerima dan pasrah saat menantunya yang memegang perusahaan. Fathan dan Ariana mencoba percaya sebagaimana Berliana percaya kepada Abiyan. Sebenarnya saat dia berniat pergi ke kantor namun ia urungkan, keesokan harinya Berliana mengunjungi kantor dan bertepatan dengan Abiyan yang sedang rapat di luar. Hanya iseng dan tidak berniat lain selain berkunjung. Namun ada beberapa hal yang membuatnya mengurungkan niat jika kedatangannya hanya untuk berkunjung. Charina, mantan sekretarisnya sebelum Berliana memutuskan berhenti menjabat dan menyerahkan perusahaan kepada Abiyan. Wanita itu menyapa Berliana, yang dulunya sebagai sekretaris, sekarang dialihkan untuk memegang jabatan kepala keuangan di perusahaannya. Ada beberapa hal yang baru Berliana ketahui, dan itu cukup mengusik pikirannya. Berliana rasa selama meninggalkan perusahaan, sudah banyak hal yang dia lewatkan. Salah satunya keuangan perusahaan yang ternyata ada beberapa masalah di dalamnya. Jelas Abiyan tidak tahu perihal kedatangannya hari itu. Bahkan Abiyan juga tidak tahu jika Berliana mulai berkomunikasi lagi dengan Charina Sampai akhirnya, kemarin dia tahu bahwasanya Abiyan menggunakan uang perusahaan sebesar 700 juta. ***** "Berliana kan?" Berliana menoleh, mendapati sosok pria dengan setelan formal yang berdiri di sampingnya. "Kamu--" "Adrian. Anaknya Mami Lucy kalau kamu lupa." Sedetik kemudian Berliana tersenyum sampai memperlihatkan lesung pipinya. "Wow, apa kabar? Betah banget ya tinggal di luar negeri. Sampai lupa kalau lahir di Indonesia.” Adrian menanggapi dengan senyuman. Sedangkan Berliana langsung menyuruh pria itu untuk duduk di depannya. Jika diingat-ingat, ini merupakan pertemuan kedua mereka. Tapi tidak bisa dikatakan pertemuan kedua, sebab waktu itu Berliana sedang dalam keadaan mabuk. Tidak tahu kalau yang mengantarkan dirinya pulang dari Club malam adalah Adrian, dan yang memberitahunya juga Sania. "Ya begitulah. Ngomong-ngomong kamu sama siapa disini?" "Sebenarnya sama suamiku, tapi dia gak bisa datang karena urusan kantor." "Kalau gitu gapapa dong aku di sini saja?” "Iya silahkan." “Omong-omong gimana nih kabar kamu? Jauh lebih baik dari sebelumnya? Jangan mabuk lagi, apalagi sampai gak sadarkan diri.” celetuknya dengan setengah menyindir. Yang disindir pun hanya bisa memutar bola matanya. “Terimakasih yaa, kata Sania kamu yang antar kita balik. Aku rasa itu pertemuan pertama yang memalukan dan maaf sudah—“ “It’s okay, meskipun sempat kesal saat kamu muntah di dalam mobil. But, okay lah.” Tawa Adrian pecah saat melihat wajah Berliana sudah memerah. Sepertinya wanita itu benar-benar merasa malu. "Aku dengar dari Mami kalau kamu sudah menikah beberapa tahun yang lalu. Gak ada kabar juga kan, kayaknya kita putus komunikasi sejak Mami dan Tante Ariana berencana menjodohkan kita." Berliana membuang muka, dia kembali ingat kejadian beberapa tahu yang lalu. Saat ibunya dan juga ibu Adrian, menjodohkan mereka berdua. "Sepertinya. Aku juga dengar skandal kamu dengan beberapa wanita di sana. Gimana, sudah menikah atau belum?" ungkitnya. Karena pria itu mengungkit perihal perjodohan masa lalu. "Aku? Ah tentu belum." "Why? Mustahil seorang Adrian menjomblo." "Tapi itu faktanya." Adrian ini merupakan anak angkat dari kakak ipar Ariana, orang sering menyebutnya Mami Lucy. Karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk hamil, di tahun ke 10 pernikahan, Mami Lucy dan suaminya memutuskan mengadopsi anak dari panti asuhan. Usia Adrian 5 tahun pada saat itu. Dan setelah mendengar cerita dari pengurus panti, hati Mami Lucy tersentuh dan memutuskan mengadopsi Adrian sebagai anaknya. Singkat cerita setelah kakak Ariana meninggal dunia, Mami Lucy memutuskan membawa Adrian untuk tinggal di luar negeri. Sudah dilarang oleh semuanya, tapi apa boleh buat karena ini keputusan yang sudah Mami Lucy ambil. Siapa sangka ternyata di luar sana Mami Lucy membesarkan Adrian seorang diri, tanpa ada niatan untuk menikah lagi. Tepat di usia Berliana yang ke 17 tahun, Mami Lucy menyuarakan idenya untuk menjodohkan Berliana dengan Adrian. Entah sebagai gurauan atau memang saat itu Mami Lucy serius dengan ucapannya. Tapi keduanya sama-sama menolak pada saat itu. Berliana dengan tegas tidak menerima jika dirinya dijodohkan dengan Adrian. Dan Adrian menolak setelah ada penolakan dari wanita itu sebelumnya. Tidak tahu diri bukan sebagai anak? Yang hanya anak angkat, yang mana kedua orang tua mereka belum pernah meminta apapun kecuali tentang perjodohan itu. "Gimana dengan kamu? Maksud aku, pernikahan kamu dan suami. Sudah punya anak berapa?" Ini hanya pertanyaan basa-basi. Sejujurnya Adrian sudah tahu semuanya dari Sania, tapi tetap saja ingin mendengarnya langsung dari Berliana. Pertanyaan Adrian barusan membuat Berliana terdiam, bingung menjawabnya. Tapi sepertinya Berliana tak perlu bersusah payah mencari alasan untuk mengatakan dia belum mempunyai anak. Melihat Adrian tersenyum dan mengangguk, membuktikan jika Adrian paham kenapa Berliana tak memberikan jawaban. "It's okay. Mungkin kamu bisa mulai hidup sehat dan sering-sering periksa ke dokter." Obrolan mereka berlanjut sangat asyik sampai Berliana melupakan rasa kesalnya pada Abiyan yang lebih mementingkan pekerjaan. Kehadiran Adrian bisa sedikit membuat mood wanita itu kembali membaik. *** “Terima kasih ya Dri, udah mau antar aku sampai rumah.” ucap Berliana berterimakasih. Berliana yang memang diantar sopir tadi dan belum sempat sopir menjemputnya, Adrian memaksa untuk mengantarkan wanita itu pulang ke rumahnya. Dan sekarang mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan gerbang rumah Berliana. Keduanya masih di dalam mobil, Adrian masih ingin meneruskan obrolan mereka. “Besok free gak kamu Lin?” “Kenapa Dri?” “Mami ingin bertemu kamu. Sewaktu aku bilang bertemu kamu dan mengantarkan kamu pulang malam itu, Mami terus aja minta aku buat bawa kamu ke rumah.” “Kamu cerita kalau aku mabuk?” “Ya engga lah. Tapi kamu besok kalau ada waktu, aku mau ajak kamu ketemu mami.” Berliana terdiam cukup lama, sebenarnya besok dia ada janji dengan seseorang. Tapi dia juga tidak bisa menolak ajakan Adrian. Apalagi dia juga sudah sangat rindu dengan Mami Lucy. “Boleh, aku kabari lagi nanti.” “Oke, aku tunggu kabar dari kamu.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN