Deep Talk

1348 Kata
Sejak kejadian dimana Abiyan meminta maaf kepada Berliana, sifat pria itu mulai dirasa berubah. Mulai dari tingkah laku sampai rutinitasnya, tidak pernah luput dari perhatian Berliana. Berliana kebingungan, apalagi hampir seminggu ini hubungan keduanya tidak kunjung membaik. Seolah ada dinding di tengah-tengah mereka. Oh ya Tuhan, jangan lupakan kalau sudah seminggu ini Abiyan dan Berliana pisah kamar. Lagi? Entahlah apa yang sebenarnya terjadi. Berliana dengan keras kepalanya yang tetap ingin Tari meminta maaf secara langsung dan Abiyan yang mungkin sudah lelah menghadapi istri dan ibunya. Berliana tidak salah, Abiyan juga tidak salah. Takdir sendiri yang membuat mereka berdua ada di situasi yang tidak mengenakkan. "Bu, sarapannya udah siap. Menunya sesuai request an ibu Berlin semalam." ucap salah satu asisten rumah tangga. Membuat pandangan Berliana teralihkan. "Iya, saya bentar lagi turun. Oh iya, suami saya udah berangkat?" "Udah Bu, pagi-pagi sekali." "Ya udah kamu boleh pergi." "Baik Bu." Helaan napas panjang terdengar. Berliana masih ingat, setelah Abiyan memeluk dan meminta maaf padanya, pria itu izin pamit pergi ke kantor. Dan malam harinya entah apa yang membuat Berliana memutuskan untuk tidur di kamar tamu. Yang jelas saat itu dia masih dongkol terhadap suaminya. Entahlah aneh saja, kekesalannya pada Tari juga berimbas kepada pria itu. Selalu seperti ini siklusnya. Pisah kamar sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Tapi hanya beberapa hari saja, paling lama hanya tiga hari. Tapi kali ini, sudah seminggu lamanya mereka pisah ranjang. Sayangnya saat itu Abiyan malah membiarkan Berliana, dan berakhir sampai sekarang. Tidak hanya itu yang Berliana permasalahkan, tapi perubahan sikap Abiyan juga membuatnya ikut bertanya-tanya. Interaksi antara dia dan Abiyan menjadi berkurang, hubungannya terasa dingin dan Abiyan yang sibuk sampai lupa waktu. Bagaimana tidak, pria itu sekarang jadi sering berangkat pagi pulang pagi. Gila bukan? Sejak kapan dia gila akan pekerjaan. Hal ini justru tidak membuat Berliana kaget, karena sudah sering mereka bertengkar. Tapi baru kali ini Abiyan juga ikut menghindarinya, menjaga jarak bahkan komunikasi via telepon pun tidak dilakukannya. "Kalau aku diam dan Abiyan diam, sampai kapan kita akan diam-diam an. Lagian tumben banget sih, heran deh. Kayaknya hubungan kita baik-baik aja, bukannya kita udah damai ya waktu di rumah Sania?” Tanyanya pada diri sendiri. Cukup bingung namun tidak Berliana ambil pusing. *** "700 juta?!" "Gila, masa sih?" "Iya. Beneran ini. Gue dapat bisik-bisik dari staf dalam, katanya sih pengeluaran Pak Bos minggu ini gila-gila an. Banyak banget deh." "Ah ya biarin lah kan namanya juga Bos. Lagian selama ini gak pernah ada desas desus Pak Abiyan yang aneh-aneh kan. 700 juta itu kecil, lagian kalau di hitung-hitung proyek Pak Bos itu miliaran uangnya." "Tapi ini beda. Gak pernah lo Pak Abiyan gunain uang perusahaan. Dia itu pinter banget ngatur keuangannya. Bisa bedain urusan pribadi sama perusahaan. Tapi sekalinya ambil uang perusahaan kok sampai 700 juta." "Kok gue curiga ya." "Curiga apa?" "Biasalah." "Hah?" "Jangan-jangan buat selingkuhan—" "Hust! Jangan ngawur." *** "Gak ada yang salah sih Lin. Yang salah tuh ya mertua lo. Gue paham banget kalau waktu itu lo emosi dan Abiyan kena imbasnya, dan ya gimana ya Lin. Gue bingung sumpah." "Tapi masa sih dia gak ada ngajak lo buat tidur sekamar lagi? Gak kangen apa? Kan sekarang lagi masuk musim hujan, dingin. Gak pingin cari kehangatan apa." cetus Sania yang langsung mendapatkan jitakan dari Berliana. "Itu mulut tolong di kondisikan." "Yaelah. Santai aja kali, disini gak ada orang juga. Lagian wajar kali pasutri menyelesaikan segala permasalahan dengan cara ‘urusan ranjang’ ya kan—" Sania hanya bisa menyengir, tidak melanjutkan perkataannya. "Eh tapi Lin, lo gak penasaran apa sama yang terjadi di rumah, waktu lo engga disana?" lanjut, tanya Sania. Berliana mengedikkan bahunya, "Ya kayak biasanya paling." "Masa?" "Lo kenapa sih? Tanya gak jelas kayak gitu." Melihat respon yang di berikan Berliana, Sania sadar kalau sebenarnya Berliana ini penasaran tapi seolah masa bodoh dengan apa yang terjadi. "Gimana ya gue bilangnya. Liat aja deh dulu gimana hubungan lo sama Abiyan ke depannya. Syukur-syukur lo sama suami lo kayak dulu lagi. Dan mertua lo ga lagi ikut campur urusan rumah tangga lo lagi." "Gak jelas lo San." *** Untuk seharian ini Berliana menghabiskan waktu lebih banyak di rumah daripada di luar. Tadi juga sempat bertemu Sania, itupun sebentar dan setelahnya wanita itu kembali pulang dan merehatkan tubuh. Mood nya berantakan, tidak seperti biasanya. Dan malam ini Berliana sengaja bergadang untuk menunggu kepulangan suaminya. Jika Abiyan diam terus menerus, maka Berliana lah yang harus memulai percakapan lebih dulu. Seperti yang dibilang, mereka tidak ada masalah. Hanya saja mungkin saling merasa canggung memulai pembicaraan. Dan benar, selang 5 menit terdengar suara deru mobil Abiyan yang baru memasuki halaman rumah. Berliana bangkit dari duduknya, merapikan piyama nya sebelum berjalan keluar kamar menuju pintu utama. Baru saja ingin membuka pintu, tetapi Abiyan lah yang terlebih dahulu membukanya dari luar. "Astaga." kejutnya. Mimik wajah Abiyan terlihat kaget saat mendapati Berliana sudah berdiri di depannya. "Berlin." "Masuk dulu Mas." "Kamu belum tidur? Udah hampir jam dua pagi loh." tanya dan heran Abiyan. Pria tersebut langsung duduk di atas sofa dan dengan mata yang tak lepas menatap istrinya. "Udah makan kamu?" tanyanya. "Udah Mas. Kamu sendiri?" "Tadi di luar sebelum pulang aku sempat makan." Suasana berubah hening. Keduanya saling pandang dan berakhir Abiyan yang membuang muka. Dia terlihat salah tingkah saat Berliana terus menatapnya tanpa berkedip. "Kenapa kamu?" tanya Abiyan pada akhirnya. "Kayaknya diantara kita ada yang salah Mas." "Salah? Salah apa Lin?" Berliana mendekat dan mengambil duduk tepat di samping suaminya. "Mas, kenapa sih? Akhir-akhir ini aku lihat kamu itu beda Mas. Gak kayak biasanya. Kamu juga seminggu ini sibuk kerja kayak orang gila. Emang sejak kapan kamu jadi workaholic?" Oke. Abiyan sudah paham topik apa yang akan mereka bahas pagi dini hari ini. "Itu perasaan kamu aja. Aku akhir-akhir ini sibuk menghandle semua pekerjaan Rafi, dia cuti soalnya istrinya udah mau lahiran. Kamu tahu sendiri kan seberapa banyak pekerjaan yang di urus Rafi? Lagian ada proyek besar yang lagi berjalan." jelas Abiyan, sedikit memberikan jawaban tapi tidak membuat Berliana puas, "Itu yang buat kamu berangkat pagi pulang pagi?" "Iya." "Terus, akhir-akhir ini juga aku ngerasa hubungan kita itu dingin. Jauh lebih dingin sepanjang kita bertengkar. Kita udah pisah kamar seminggu loh Mas. Kita juga jarang komunikasi, setiap aku bangun kamu udah pergi ke kantor. Gitu aja selama seminggu ini. Kenapa? Aku udah nahan diri buat gak bahas masalah waktu itu dan aku cuma minta ibu kamu buat minta maaf langsung ke aku.” “Oke kamu mungkin bosan dengan aku yang terus terusan minta ibu kamu buat minta maaf langsung ke aku. Tapi harusnya kamu sadar mas, dengan terang-terangan menyuruh kita bercerai itu bukan masalah yang kecil lagi. Itu sudah terlalu kurang ajar bagiku.” Abiyan mengusap wajahnya, detik selanjutnya pria itu menggenggam tangan Berliana dengan erat. "Aku memberi kamu waktu yang cukup banyak, seperti pisah ranjang, mengurangi komunikasi dan menjaga jarak dari kamu. Aku sadar apa yang terjadi belakangan ini termasuk masalah besar. Apalagi itu disebabkan oleh ibu ku sendiri. Aku tahu kamu marah, kamu emosi dan pasti kamu juga ikutan emosi ke aku. Jadi, aku membiarkan kita tetap pisah ranjang untuk kamu menenangkan diri. Jadi aku minta maaf kalau itu membuat kamu berpikiran yang enggak-enggak." Berliana tak sekalipun mengalihkan pandangannya, mencari sesuatu yang entah apa dari sorotan mata pria itu. “Apa yang terjadi setelah aku pergi dari rumah waktu itu?” Abiyan mengalihkan pandangannya, “Aku menegur ibu.” “Berarti kamu tetap gak bisa buat ibu kamu minta maaf langsung ke aku?” “Lin, ini sudah kita bahas. Tolong beritahu aku bagaimana caranya menyuruh ibu tanpa mengurangi rasa hormatku sebagai anaknya? Aku tahu ibuku salah, aku meminta maaf untuk itu. Aku—tidak bisa memaksa ibu untuk minta maaf langsung ke kamu. Aku—“ “Kamu memang gak bisa mas.” “Maaf.” “Lupakan itu, aku juga gak berharap lagi ibu kamu mau minta maaf. Dan apa aku boleh tanya sesuatu ke kamu?” “Apa Lin.” “Kamu ada masalah?” “Enggak ada. Kenapa?” "Sekali lagi hanya satu pertanyaan, boleh?" "Apa?" "Uang perusahaan sebesar 700 juta, kamu pergunakan untuk apa?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN