Alia bangun dengan kepala pusing luar biasa dan mata yang terasa begitu lengket karena terlalu banyak menangis. Dia bergerak pelan di atas ranjang sambil mengerang lirih dengan tangan berada di atas kepala, wanita itu mencoba untuk duduk. Tangan Alia segera memegang erat selimut yang menutupi seluruh tubuhnya yang masih telanjang, Alia melihat ke arah kasur dan tahu tidak ada Fahri di sana, matanya menatap sekeliling dengan bingung dan mencari, ketika tidak menemukan Fahri tidur di sebelahnya kerutan terlihat di dahinya. Entah kemana kekasihnya itu, dan Alia sadar telah lagi-lagi gagal untuk mengatakan alasan berbeda tentang permintaannya membatalkan pernikahan mereka. Alia terhanyut dan menginginkan kemesraan terakhir bersama dengan Fahri, pria yang di cintai. Tetapi setelah semuanya

