episode 40

1006 Kata
Episode 40 Tidak ada pergerakan dari para prajurid, mereka masih mengelilingi pangeran Zein Zulkarnain. Senjata terhunus kedepan menodong sang pangeran yang masih berdiri tegak tanpa rasa gentar sedikit pun. Iris mata safir itu mengamati satu persatu dari pasukan kota Beras kutah. “Tidak ada gunanya kalian menghentikanku, sebanyak apapun kalian, kekuatan kalian masihlah sangat lemah. Satu tebasan pedang dariku.” Nada intonasi datar namun berat dari sang pangeran membuat tubuh prajurid bagian depan bergetar ketakutan, aura pangeran Bintang Tenggara terlalu kuat laksana seorang kaisar hendak memberikan perintah. Diam membisu di tempat tanpa berani untuk beranjak dari tempat berdiri, bergeser pun tidak. Genggaman pedang semakin mengerat, tangan berkeringat jantung berpacu meminta untuk segera pergi. “Lihatlah! Betapa kalian sangat ketakutan … hingga kaki kalian gemetar.” Zein Zulkarnain menyeringai tipis menatap seluruh prajurid beras kutah. “Jangan takut! Pangeran Anjas akan membunuh kita kalau sampai kita berani kembali tanpa membawa kepala kembali pria ini!” Komandan dari pasukan tersebut memberikan perintah untuk menguatkan jiwa para prajurid yang sudah mulai goyah.    Senyum sinis dari pangeran Zein terlihat menakutkan bagaikan seorang iblis siap untuk menghantarkan para prajurid tersebut menuju gerbang neraka,”aku sudah memberikan peringatan untuk kalian, tetapi tidak sedikit pun diantara kalian ada yang mengindahkan peringatakan dariku. Kini jangan salahkan bila aku harus mencabut pedang dari sarungnya. “Serang!” Komandan prajurid tersebut memberikan perintah bagi seluruh bawahannya agar menyerang sang pangeran, banyaknya pasukan tidak menjamin akan menang di dalam sebuah pertempuran tetapi kecerdasam berpadu dengan kekuatan itu akan menjadi kunci jalannya pertandingan tersebut. Sringh… Zein Zulkarnain mencabut pedang naga langit dari sarungnya, cahaya putih kebiruan menyinari seluruh tempat tersebut bahkan seluruh kota hingga membuat para warga yang sedang tertidur lelap terbangun dari tidurnya karena terkejut dan kebingungan waktu malam tiba-tiba menjadi terang. Mereka berbondong-bondong keluar dari rumah dan berjalan menuju pusat dari cahaya tersebut. Tubuh menggigil karena ketakutan melihat sebilah pedang mengeluarkan sinar begitu terang menyilaukan mata orang di sekitarnya. Cahaya tersebut mengandung energi dingin dan panas tapi bukan kulkas dua pintu menyerap kekuatan langit dan bumi. Langkah para prajurid terhenti seperti ada magnet dalam kaki memaksa untuk tetap berdiri di tempat tanpa bergerak. Dalam keadaan seperti itu, akan sangat mudah bagi musuh untuk langsung menebas kepala meraka hanya dengan sekali serangan. Pangeran Zein tidak langsung mengangkat pedang untuk membunuh mereka parab prajurid tersebut, ia masih menunggu seakan memberikan kesempatan sang prajurid untuk pergi meninggalkan tempat mereka. “Bukankah kalian merasakan kekuatan pedang ini? Apakah kalian masih ingin menyerahkan nyawa? Pergilah! Kembali para pangeran Anjas, sampaikan pesanku. Jika masih ingin hidup … maka bertaubatlah! Jangan   melakukan kezaliman lagi! Wanita bukan untuk diambil mahkotanya secara paksa, dia adalah mahluk yang mulia… tapi jika pangeran Anjas tetap berkeinginan untuk melanjutkan kezalimannya terhadap seorang wanita, maka jangan salahkan bila aku akan menyingkirkannya dari muka bumi ini.” Sang pangeran memberikan ultimatum penegasan, para parjurid masih gemetar di tempat mereka berdiri. Tak mampu memilih antara kembali atau tetap melaksanakan tugas dari pangeran Anjas, kembali tiada tetap tinggal juga akan tiada, seperti buah simala kama nasih prajurid tersebut. “Tidak! Kami tidak akan berkhianat pada junjungan kami! Pemberontak harus diakhiri.” Komandan pasukan membulatkan tekad untuk tetap menjalankan tugas dari junjungannya. Dia membawa pasukannya untuk tetap maju dan mengalahkan rasa takut. Trang… Suara besi saling beradu menjadi melodi indah dalam pusat kota Beras tumpah tersebut, sabetan benda pipih nan tajam tersebut menggores setiap kulit hingga mengeluarkan cairan kental berawarna merah. Tubuh tak berdaya terjatuh ke tasa tanah tanpa nyawa. Pangeran Zain kelelahan melawan begitu banyak pasukan tanpa kunjung habis, tubuh lemahnya dipaksa untuk terus bertarung melawan ratusan prajurid sendirian. Pedang naga langit terus mengambil energi dari pemiliknya tanpa ada niat untuk menghentikannya. Hos… Hos Sang pengeran terengah-engah, keringat telah membanjiri pelipisnya, tak ada jalan lain selain menggunakan kekuatan penuh dari pedang tersebut sekali pun itu akan mengakibatkan kerusakan fatal juga untuk tubuhnya. Atau mungkin lebih baik menggunakan ilmu petir langit miliknya, Zein Zulkarnain mulai memusatkan kekuatan pada dua jari antara jari telunjuk dan jari tengah lalu mengumpulkan mengusapkan kedua jari tersebuh pada pedang naga langit miliknya. Percikan cahaya petir mengalir dalam pedang tersebut, sang pangeran mengangkat pedangnya tinggi-tinggi,”ranton sora!” bersamaan dengan teriakan menggema tersebut ledakan besar juga terjadi dalam arena pertarungan tersebut. Duarr… Puff… Pangeran Zein memuntahkan darah dari mulutnya, ia terjatuh di atas kedua lututnya bersamaan dengan tumbangnya seluruh prajurid utusan pangeran Anjar. Bumi bergoncang setelah ledakan tersebut terjadi, para warga ketakutan, mereka mencari perlindungan ketakutan menyelimuti para warga tersebut. Di tepi hutan kemuning, Mahesa, Yuda dan Arya terbangun dari tidur. Mereka merasa kalau tidur hanya beberapa detik saja karena langit masih gelap, dikejutkan oleh suara ledakan menggema berpusat pada kota Beras kutah. “Paman, apa yang terjadi? Ledakan apa itu tadi? Energinya sampai sini.” Yuda menatap arah pusat ledakan tersebut merinding, udara mendadak dingin membeku, kilatan cahaya petir masih belum lenyap sepenuhnya. “Pangeran Zein.” Mahesa bergumam merasakan energi pedang naga langit bercampur dengan energi sang pangeran. Yuda dan Arya menoleh pada pengawal pribadi tersebut. “Aku yakin, ini adalah energi pangeran Zein bercampur dengan pedang naga langit. Kita harus segera kesana, pangeran dalam bahaya.” Mahesa membalas tatapan mereka, kedua pengeran tersebut mengangguk. Tanpa banyak bicara mereka langsung melompati dahan-dahan dan ranting menyusul Zein Zulkarnain. Putra mahkota Bintang Tenggara tersebut menguatkan diri untuk bangkit dari tempatnya, melawan rasa sakit yang menyiksa jantung demi untuk mengembalikan hak seorang wanita dalam kota Beras kutah. Langkah kaki sempoyongan bahkan nyaris terjatuh tetapi ditahan oleh salah seorang warga,”tuan, kami akan berada di pihakmu. Kami akan membantumu menegakkan keadilan untuk rakyat Beras Kutah. Kau bukanlah penduduk sini, tapi tekadmu sangat kuat untuk melindungi kami, izinkan kami untuk membantumu dan menjadi pasukanmu.” “Kami juga.” “Ya benar, kami semua akan bertarung melawan kekejaman pangeran Anjas. Kami tidak akan takut bila nyawa kami melayang.”  Pangeran Zein tersenyum, dia bahagia dan bangga pada para rakyat, tidak perduli selemah dan sesakit apa tubuhnya saat ini, dirinya akan tetap berjuang untuk menegakkan keadilan bagi kaum hawa di kota Beras kutah ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN