episode 39

1003 Kata
Epispde 39 Berbagai tatapan dilayangkan kepada putra mahkota Bintang tenggara tersebut, ada yang kagum, jijik, bertanya-tanya dan masih banyak yang lain, iris safif sang pangeran menyapu satu persatu kaum Adam di tenpat tersebut. Amarah dan kecewa menjadi satu bercampur dam relung hati,”tidakkah kalian merasa iba? Melihat seorang wanita diseret dengan keadaan tubuh hampir telanjang.” Tertunduk dan tak berani menjawab, bahkan untuk mengangkat wajah saja tak ada yang berani melakukannya,” sungguh manusia pengecut!” Zein mengumpati para warga yang menjadi penakut untuk menegakkan kebenaran. Pria itu mendarat dengan sempurna di tanah, perlahan ia menghampiri wanita malang tersebut lalu mulai membukakkak tali yang mengikat tangan dan kaki, dia melepas jubah di tubuhnya dan memberikan pada wanita tersebut untuk menutupi tubuh tersebut. Iris kecoklatan penuh ketakutan serta kemarah wanita itu mengguggah luka dalam hati sang pangeran, dia pernah melihat tatapan seperti ini, yaitu pada ibunya saat sang ibu mengalami penindasan oleh orang-orang di kedai waktu itu. Entah berapa lama air mata harus ditahan sekalipun dirinya harus bersukur karena sekarang sang ibu sudah baik-baik saja bersama kedua adiknya. “Aku akan mengantarkanmu kembali pada keluargamu.” Zein membantu wanita tersebut untuk berdiri, terlalu banyak luka dan sayatan di tubuh rapuh tersebut hingga untuk sekedar berdiri saja tak mampu dan harus dipapah. Parjurid berkuda tersebut tiba-tiba bangkit dari posisinya saat melihat pangeran mahkota Bintang tenggara hendak membawa pergi tahanannya, ia mengeluarkan beberapa jarum beracun lalu melemparkan pada sang pangeran. Zein Zulkarnain memicing tajam, pendengaran serta penglihan dirinya sebagai seorang pangeran tidaklah mudah untuk dimanipulasi dengan suatu kebohongan, dengan sangat mudah beberapa jarum tersebut langsung ditangkap dengan lima jarinya. “Tidakkah kau sadara, menyerang seorang dari belakang tersebut merupakan suatu tindakan sebagai pengecut. Kau bisa melaporkan kejadian ini pada pangeranmu, katakan padanya. Zein Zulkarnain menantangnya untuk bertarung. Jika dia masih bersikap semena-mena terhadap rakyat, maka jangan salahkan kalau aku menggulungkannya dari tahta sebagai putra mahkota.” Dengan lantang dan tegas, seorang putra mahkota memberikan tantangan terhadap putra mahkota kota ini. Zein menggendong wanita malang itu lalu membawanya melompat terbang ke udara menggunakan ilmu meringankan tubuh miliknya. Wanita tersebut mengalungkan tangan di leher sang pangeran, kepalanya di sandarakan pada d**a pangeran tersebut, irama detak jantung membuat hati menjadi tentram seakan semua rasa takut lenyap seketika itu juga. “Tuan, bolehkah saya tahu nama tuan?” tanyanya lirih. “Zein Zulkarnain, panggil saya Zein,” balas Zein datar. Setiap hentakan kaki ketika mendarat di atap rumah terasa begitu halus dan lembut seakan ria itu tidak ingin menyakiti dirinya. “Terimakasih tuan Zein, anda telah bersedia menolong saya. Sebenarnya ini semua adalah salah saya, saya tidak bersedia menjadi selimut tidur pangeran Anjas. Pangeran selalu meminta gadis untuk menemaninya tidur, setelah dia bosan pada wanita tersebut, maka wanita itu akan dibantai hidup-hidup dan membuat tuduhan palsu dengan mengatakan bahwa wanita tersebutlah yang melakukan kesalahan.” Wanita itu mulai bercerita, tatapan mata penuh ke kaguman menyoroti wajah rupawan pria yang menggendongnya tersebut. “Apakah selama ini tidak ada satu pun orang yang berani untuk melawan kekejaman tersebut?” tanya Zein sambil terus terbang menuju arah wanita malang tersebut. Wanita itu menggeleng dalam gendongan, ia menundukkan kepala,”tidak ada, semua warga di sini sangat takut terhadapnya. Pangeran kejam terhadap seluruh warganya, bahkan dia tidak akan segan-segan untuk mengubur hidup-hidup orang yang telah berani melawannya. Pernah ada sebuah keluarga, mereka mencoba untuk menentang kekuasaan pangeran Anjas, keesokan harinya keluarga itu dibawa oleh prajurid lalu dikubur hidup-hidup di depan rumahnya dan disaksikan oleh para warga,” jelasnya dengan tubuh bergetar karena ketakutan. Uhuk… Uhuk… Zein terbatuk saat rasa nyeri dan sesak menyambangi jantungnya hingga membuat wanita itu terkejut, matanya menatap pria tersebut khawatir,”tuan, apakah andan baik-baik saja?” tanyanya khawatir. “Ya, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu memikirkannya, aku akan segera mengantarmu kepada keluargamu,” balas Zein datang, iris safirnya masih menatap jalan di depannya tanpa ekspresi apapun hingga membuat wanita itu sangat kesulitan untuk membaca pikiran pria tersebut. “Tapi … tadi tuan batuk-batuk itu kenapa? Apakah tuan memang memiliki penyakin bihung,” tanya wanita itu tadi. Jlek… Zein mendarat di depan rumah wanita itu dengan sempurna, setelah itu ia menaruh sang wanita malang di depan rumah tanpa benayk bicara,”tidakkah anda melihat, bahwa aku jauh lebih kuat dari anda. Percayalah … jika ada orang yang harus ditanya kesehatannya, itu adalah anda, nona.” Setelah mengatakan kalimat tersebut, putra mahkota Bintang tenggara tersebut membalikkan tubuhnya lalu melangkahkan kaki meninggalkan wanita tersebut di depan rumah. Wanita malang tersebut hanya mampu menatap punggung Zein dalam, sepertinya pria itu tersinggung dengan perkataannya, tetapi penglihatannya terhadap kondisi tubuh manusia tidak akan pernah salah. Karena dirinya merupakan seorang tabib wanita yang sudah menangani berbagai macam jenis penyakit dalam. Suasa kota Badai biru terlihat sangat sunyi ketika malam, sejauh apapun melangkah tidak akan menemukan seberkkas cahaya apapun sebagai pelita. Kaki jenjang tersebut terus melangkah menyusuri pusat kota,”aku harus segera sampai di kediaman pangeran Anjas, apa yang dia lakukan sudah di luar batas.” Brok… Brok… Indra pendengaran putra mahkota Bintang tenggara tersebut menajam mengdengar suara derap kaki menuju ke arahnya, ia yakin jumlahnya tidak sedikit tetapi sebagai seorang kesatria maka dia tidak diizinkan untuk mundur apa lagi lagi. Pria itu tetap berdiri di tengah pusat kota berselimutkan angin malam. Satu persatu cahaya obor mulai menunjukkan sinarnya, puluhan prajurid mengepung sang pangeran, paras rupawan tersebut tidak menunjukkan ekspresi datar hingga para prajurid tersebut tidak mampu membaca isi pikiran pria tersebut. “Apakah kalian kesini sesuai perintah pangeran Anjas?” tanyanya datar. “Kami diperintahkan untuk membunuhmu di tempat, kau dianggap sebagai pemberontak negara!” salah seorang prajurid menyuarakan alasan pengepungan. Zein zulkarnain menatap prajurid tersebut tanpa minat, ia sangat tidak ingin menggunakan pedangnya untuk menghabisi gerombolan manusia yang hanya sedang melakukan tugas. Dia lebih ingin berurusan langsung dengan pemimpin kota Badai biru, bukannya tak mendengar bahwa kota ini ingin memberontak pada kerajaan dan mendirikan negara sendiri.  “Aku sarankan untuk kalian mundur, aku tidak ingkin menggunakan pedangku untuk menghabisi kalian semua, karena kalian hanya orang suruhan.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN