episode 38

1067 Kata
Episode 38 Mahesa tidak membantah, ia bangkit dari tempat duduknya lalu mulai mencari tempat yang nyaman untuk dijadikan sebagai sandaran, pria itu duduk di bahwah pohon tidak jauh dari tempat pangeran Bintang tenggara tersebut masih berjaga di depan perapian. Paras rupawannya terlihat pucat di bawah cahaya rembulan, meski begitu keteguhan dan keyakinan untuk melindungi orang-orang terkasih tidak akan pernah luntur. Uhuk… Uhuk.. Udara dingin menusuk hingga ke rongga d**a membuat sesak bahkan kesulitan untuk bernapas. Zein Zulkarnain menggigit bibir bawah kala rasa nyeri menyerang organ tubuh terpentingnya. Matanya memperhatikan telapak tangan yang mulai membiru, ia menghela napas. Sepertinya dia tidak bisa menunda waktu untuk segera mencari bunga ke puncak raung tersebut, karena akan sangat berbahaya jika terus dibiarkan seperti ini. “Arrg.” Pria itu mengerang tertahan menekan d**a kirinya kuat berharap rasa sakit seperti tertusuk ribuan jarum itu segera menghilang, sedikit menoleh pada kawan-kawannya, tak tega untuk sekedar membangunkan mereka. Karena yakin pasti ketiga orang tersebut sekarang sudah sangat kelelahan. Sret… Tak sanggup menahan rasa sakit, sang pangeran mengambil dan menyayat lengannya sendiri, membiarkan darah yang sudah bercampur racun tersebut keluar dari tubuh, menetes membasahi rumput kering di bawahnya. Iris safir itu menatap nanar arah Bintang Tenggara, kerinduan akan susana dalam kerjaan tersebut, keinginan untuk membawa ibu dan adik-adiknya kembali, memberikan bekas luka mendalam dalam jiwa. Bahkan dibandingkan luka di tangannya, itu jauh lebih menyakitkan. “Aku pasti akan merebut kembali kejaraanku, aku tidak akan pernah membiarkan mereka menguasainya terlalu lama. Membiarkan rakyat menderita, hidup dalam penindasan. Kepemimpinan zalim kalian harus segera berakhir.”   Secerca cahaya dalam kegelapan membuat sang pangeran terkejut, kepalanya dipaksa mendongak ke atas mengikuti arah cahaya jingga tersebut, sesosok manusia berjubah putih berdiri dengan senyum manisnya. Di tangannya terdapat sebuah tongkat dengan ujung tongkat tersebut berbentuk bulan dan bintan, bentuk itu sama persis dengan mahkota tak kasat mata yang ada di kepalanya. “Siapa kamu?” tanyanya heran. “Kamu tidak perlu tahu siapa saya, saya hanya ingin menyampaikan pesan bahwa tugasmu sebentar lagi akan segera diturunkan. Kau tidak bisa hanya memikirkan sebuah dendam. Kau harus memikirkan nasib rakyatmu! Tanpa menjadi raja pun, kau bisa menegakkan keadilan untuk mereka.” Pria barjubah putih tersebut melemparkan sebuah tongkat komando pada pangeran tersebut. Zein menatap tongkat tersebut tersebut dengan tatapan bertanya-tanya, karena sesungguhnya ia juga tidak tahu apa fungsinya,”engkau tidak perlu merasa bingung, wahai kesatria pilihan. Laksanakan tugasmu, pergilah kesuatu kota di pinggir hutan ini. Tidak perlu menunggu teman-temanmu untuk bangun, mereka akan bangun saat kau kembali.” Setelah mengatakan kalimat tersebut sosok tersebut hilang di tengah kegelapan, Zein Zulkarnain masih menatap heran tongkat komando tersebut,”siapa orang itu? Untuk apa tongkat ini sebenarnya. Tetapi … sebagai seorang kesatrian, dan seorang pangeran Bintang tenggara. Maka aku harus pergi.”   Pangeran itu menatap ketiga temannya dengan senyum dan penuh penyesalan,”maaf, aku harus meninggalkan kalian di sini. Aku akan kembali setelah tugasku selesai.” Zein Zulkarnain mengambil jubah berbulu yang disimpan di dalam tas perbekalannya, ia membalikkan tubuh dan meninggalkan ketiga temannya demi untuk melaksanakan tugas mulia. ** “Tolong…!!” “Lepaskan aku!” Suara teriakan memilukan dari seorang wanita terdengar dari pinggir kota Lapar, sebuah kota yang terletak di ujung jalan dari hutan tampatnya beristirahat. Zein segera mempercepat langkahkan kaki untuk memeriksa alasan di balik teriakan tersebut. Pandangan kosong dari setiap mahkluk hidup dari kota tersebut, seperti mayat kering tanpa jiwa. Keadaan mengenaskan semua penduduk terutama kaum hawa yang telah diambil kehormatannya secara paksa oleh pemimpin mereka. “Ada apa dengan kota ini? Kenapa seperti kota tanpa jiwa? Sedangkan penduduknya terlihat masih ada,” Zein bertanya sendiri, kakinya terus melangkah memasuki kota tersebut lebih dalam hingga ia bertamu dengan seorang wanita dengan baju setengah telanjang diseret oleh prajurid berkuda. “Sungguh tidak bermoral,” katanya. Zein segera berlari mengejar wanita tersebut, dia tidak ingin nelihat seorang wanita yang serusnya dimuliakan justru dihinakan. “Tolong!” Rintihan dalam kesakitan wanita malang tersebut seakan tidak seorang pun ada yang mendengarkan, telinga mereka terbuka lebar tapi naluri rasa persaudaraan terasa telah mati. Melihat seorang wanita diseret dalam keadaan setengah telanjang, seharusnya banyak orang yang membantu, bukan dibiarkan. Jrek… Nyihik… Kuda tunggangan dari prajurid itu berteriak nyaring saat seorang pria mengenakan jubah berbulu berhenti di depannya dengan tatapn garang. Prajurid berkuda itu menatap sengit pria berjubah tersebut, ia bahkan mengacungkan sebilah pedang tajam terhadap pria tersebut,”jangan mengahalangi jalan! Aku bisa membunuhmu saat ini juga!”   “Ancaman seperti ini tidak akan mempan terhadapku, tidakkah kau memiliki perasaan menyeret seorang tanpa dengan kondisi setengah telanjang,” balas Zein tanpa rasa takut. Matanya menatap dingin prajutid tersebut dan menatap ibu wanita yang diseret. Wanita itu menatap pangeran Bintang tenggara tersebut dengan tatapn mata sedih, berharap sang pangeran bersedia menolongnya, mengeluarkan dari siksaan kejam yang menimpanya. “Tidak! Pangeran akan murka kalau kami melepaskan baju tidurnya.” Projurid itu menolak permintaan Zein dengan tegas dan penuh kemurkaan. “Tuan, tolong saya … saya tidak mau menjadi selimut tidur pangeran kejam itu.” Bibir pecah dan kering dari wanita tersebut memohon kesediaan untuk ditolong. Suara lirih dan penuh dengan rasa sakit tersebut menyayat hati sang putra mahkota. Ctar… Seketikan lecutan dari cambuk menghantam kulit tipis tersebut hingga merubah kulit tersebut menjadi merah,”jangan berani memintak pertolongan! Atau seluruh keluargamu akan dipendam hidup-hidup .” Prajurid itu memberikan ancaman terhadap wanita malang tersebut, hanya terdengar isak tangis dalam kepiluan mengampiri luka dalam jiwa. “Sungguh manusia tidak punya akhlak, kau memperlakukan seorang manusia seperti hewan, apa yang kau telah perbuat, sungguh suatu kezaliman. Dan aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.” Zain Zulkarnain terbang ke udara saat lecutan akan kembali dihantamkan pada wanita malang tersebut. Sret,,, Ia menahan cambuk tersebut dengan tangannya, digenggamnya dengan kuat. Tatapan mata sang pangeran bangai belati tajam, terhunus menembus jantung prajurid tersebut. Mengeluarkan aura pembunuhan yang kuat bagaikan dewa kematian. Prajurid tersebut gemetar, seketika tubuhnya terhempas ke tanah. Tak pernah ditemui sebelumnya seorang pria yang memiliki aura pembunuhan seperti ini. Wanita malang tersebut tersenyum senang, harapan yang hilang kini telah kembali lagi, ia yakin bahwa pria itu adalah manusia yang sengaja dikirim oleh Tuhan untuk menyelamatkannya.  “Wahai manusia, sesungguhnya wanita itu adalah mahluk yang dimuliakan oleh Tuhanmu. Sudah sepantaskan, dia dihormati … bukan direndahkan seperti sampah tak berguna.” Zein masih berada di udara, matanya menyapu semua orang yang berdiri di pinggir jalan dengan wajah tertunduk, seakan mereka menyaksikan masa penghakiman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN