Episode 37
Wus…
Tiba-tiba saja sebuah angin berhembus sangatkencang, seketika angin tersebut merontokkan buah-buahn tersebut membuat Yuda sangat terkejut bahkan terperangah sangkit terkejutnya,”apakah ini seperti kisah dalam serial kerasakti? Tapi aku bukan biksu tong, jadi tidak mungkin memiliki murid siluman kera. Tidak apalah anggap saja ini sebagai rikzy, jadi aku ambil saja secukupnya. Pangeran Zein akan sangat marah kalau aku membawa semuanya, nanti dia bilang serakahlah, inilah, itulah. Ribet, “ katanya sambil memunguti satu persatu buah apel tersebut, setelah dirasa cukup ia langsung bangkit dari tempat itu dan kembali menghampiri pangeran Zein, bagaimana pun juga pangeran tersebut sangat membutuhkan banyak nutrinya karena saat ini tubuhnya sangat lemah.
Zein tersentak dari tidurnya ketika Arya menyodorkan ikan yang sudah dibakar padanya,”pangeran Zein, sebaiknya pangeran makan dulu. Maaf kalau membangunkan tidurmu,” katanya.
Zein memperhatikan sekelilingnya, ia tidak mendapati naga langit melingkari tubuhnya, ternyata naga itu sudah berubah kembali menjadi sebilah pedang sakti. Dan pengawal pribadinya juga tidak ada di tempat, kemana dia pergi?.
“Paman Mahesa sedang pergi untuk mencari air bersih untuk minum, Yuda belum kembali dari memetik buah di kebun. Sekali pun kebun siapa, bijsa jadi kebun demit,” jelas Arya melihat ekspresi kebingungan dari putra mahkota Bintang tenggara tersebut.
Zein mengekkan tubuhnya, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil ikan tersebut,”terimakasih,” katanya. Arya mengangguk, ia sangat senang bisa membantu sahabatnya.
“Bagaimana perasaan pangeran Zein sekarang?” tanya Arya sambil memakan ikat tersebut.
“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Tapi, apakah kau mengambil ikan ini dari sungai jernih di pesisir hutan Kemuning?” tanya Zein memastikan.
“Iya, memangnya kenapa?” tanya Arya bingung.
“Apakah kau tidak bertemu dengan kakek berjubah putih?”
“Aku bertemu, sebanarnya aku juga sangat penasaran siapa kakek itu. Dia pergi setelah mengatakan kalau dia mengizinkanku mengambil ikan-ikan di sungai. Apakah pangeran Zein tahu sesuatu?” tanya Arya penasaran.
“Tidak, anggap saja kakek itu orang baik. Sekarang kita bisa makan ikan, untuk Yuda dan Mahesa mana?” tanya Zein karena tidak menemukan ikan matang lagi.
“Itu ada beberapa ikan yang belum dipanggang, nanti mereka bisa memanggangnya sendiri. Pangeran Zein sedang tidak sehat, tidak mungkin aku membiarkan pangeran memanggangnya sendiri,” jelas Arya sambil menunjuk beberapa ikan yang belum dipanggang.
Zein tersenyum, terkadang sahabatnya yang satu ini sedikit pilih kasih. Satu dipanggangkan yang lainnya tidak, tapi sudahlah nanti biar dia saja yang memanggang ikannya.
“Arya, setelah ini kau istirahat saja. Besok kita akan melanjutkan perjalanan, aku akan berjaga,” katanya.
“Tapi, pangeran Zein sedang tidak sehat. Kalau pangeran yang berjaga lalu ada serangan, apakah tidak akan terjadi apa-apa?” tanya Arya ragu.
Zein melirik pria itu tidak suka,”aku harap kau tidak meragukan kemampuanku untuk membunuh lawan, sekalipun dalam tubuhku terdapat racun. Tapi bukan berarti aku tidak mampu untuk menebas musuh, kau istirahat saja.”
“Baik,” kata Arya mengalah, setelah menghabiskan ikan panggangnya ia segera bangkit dari tempat duduknya dan berpindah duduk di bawah pohon. Dia menyandarkan punggungnya pada pohon tersebut.
Zein mengambil beberapa ikan yang masih belum dipanggang, ia memanggang ikan-ikan tersebut untuk Mahesa dan Yuda, udara malam sangat dingin menusuk hingga ketulang-tulang. Sekalipun dirinya di depan perapian, tapi rasanya masih sangat dingin.
Tes…
Pangeran Bintang Tenggara itu terbelalak melihat cairan kental berwarna merah keluar dari hidungnya, ini mungkin karena racun dalam tubuhnya terus bekerja untuk menghabisinya pelan-pelan. Ia segera menghampus darah tersebut dan bersikap seakan tidak terjadi apapun ketika mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya.
“Pangeran Zein!” teriak Yuda sambil berlari dengan beberapa buah apel di tangannya. Zein menghela napas lega karena ternyata itu pangeran Kayumas tukang ribut tersebut, ia mengalihkan perhatiannya pada pangeran tersebut.
“Lihat, aku membawakan beberapa buah apel untukmu dan paman Mahesa. Aku tidak perlu membawakan untuk Arya, aku yakin dia juga tidak menyisakan makanan untukku,”kata Yuda sambil memberikan dua buah apel pada Zein.
Zein tersenyum tipis, ia melirik Arya. Sahabatnya itu ternyata sudah terlelap dalam tidurnya, padahal kalau belum, dia akan memberikan satu apel miliknya.
“Aku sudah memanggangkan ikan untukmu dan Mahesa, kau bisa langsung makan. Terimakasih karena bersusah paya membawakan buah untukku,” katanya. Yuda tersenyum, ia pun mengambil ikan itu dengan hati gembira dan memakannya dengan sangat lahap.
“Puncak raung masih sangat jauh, kita masih harus melewati beberapa desa dan hutan lagi. Apakah pangeran Zein sanggup menahan racun dalam tubuhmu itu?” tanyanya sambil mengunyah ikan.
“Aku baik-baik saja, jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkanku,” jawab Zein sambil memakan buah apel, ia tidak ingin meemberitahu sahabatnya bahwa baru saja dia mimisan karena khawatir sang sahabat akan khawatir.
Tak lama kemudian Mahesa datang dengan sebotol air untuk minum,”pangeran Zein,” tegurnya. Zein mendongakkan kepalanya, ia tersenyum melihat pengawal pribadinya itu telah kembali, sepertinya dia harus membicarakan ini pada pria itu. Bila nanti racun dalam tubuhnya itu tak bisa ditahan, maka Mahesalah yang harus meneruskan impiannya untuk mengambil kembali kerajaan Bintang tenggara.
“Ayah, aku senang kau kembali. Sekarang kau makanlah, aku sudah memanggangkan ikan untukmu, Yuda juga sudah mencarikan buah apel untuk kita,” katanya sambil menyerahkan ikan yang sudah dipanggang.
“Terimakasih,”kata Mahesa sambil menerima ikan tersebut, ia mendudukkan dirinya di samping putra mahkota Bintang tenggara tersebut.
“Aku gantuk sekali,” keluh Yuda.
“Istirahatlah, aku akan berjaga. Tadi aku sudah tidur, sekarang giliran kalian,” kata Zein.
“Hm, baiklah. Aku tidur duluan,” kata Yuda sambil bangkit dari tempat duduknya lalu duduk di samping Arya, ia tersenyum licik melihat sahabatnya itu sudah terlelap dalam tidur. Dengan seenak hati, dia menyandarkan kepalanya di bahu sang sahabat.
Mahesa memperhatikan majikannya tersebut, entah kenapa ia mearasa ada yang berbeda dari pangeran Bintang tenggara tersebut. Sering tersenyum padahal biasanya terlihat dingin,”pangeran, kalau ada yang ingin kau sampaikan. Katakanlah, jangan dipendam sendiri. Aku adalah pengawalmu, tugasku adalah melindungimu.”
“Ayah, kalau nanti aku tidak bisa mendapatkan bunga seribu tahun itu. Kalau nanti racun dalam tubuhku membunuhku, aku mohon. Ayah tetap melanjutkan keinginanku untuk merebut kembali kerajaan Bintang tenggara, ayah jemput kedua adikku. Jadilah raja yang adil di sana,” pinta Zein dengan senyum penuh makna.
Mahesa sangat terkejut, ia tidak menyangka kalau pangeran Bintang tenggara akan mengatakan hal semacam itu, itu artinya kondisi tubuhnya memang dalam keadaan tidak baik,”Pangeran Zein, apakah pangeran tidak baik-baik saja?” tanyanya khawatir.
“Lupakan saja, aku baik-baik saja. Sekarang kau istirahatlah, aku akan berjaga. Kau juga pasti sudah sangat lelah,” kata Zein memalingkan wajahnya.