episode 36

1075 Kata
Tekad seorang kesatria seperti Zein memang tidak perlu diragukan lagi, sekalipun tubuhnya sangat lemah karena racun langka tersebut masuk ke dalam tubuhnya hingga berpengaruh padanya saat dirinya mengeluarkan sebuah kekuatan. “Akhirnya kita bisa keluar dari huta Kemuning, tapi pastinya masih harus melewati beberapa desa dan hutan lagi untuk sampai di puncak raung. Lelahnya,” kata Yuda sambil meregangkan otot yang terasa kaku. “Aku juga tidak menyangka kalau bisa mengalahkan pasukan ratu siluman ular putih tersebut, rasanya tidak menyangka kalau ada seekor siluman yang begitu cantik,” timpal Arya. “Dia tercantik karena memang sedang menjelma, kalau aslinya juga bukan begitu,” sahut Zein. Hampir saja tubuhnya limbung kalau Mahesa tidak segera menangkap tubuh ringkih tersebut,”pangeran Zein,” katanya khawatir. “Aku baik-baik saja, aku hanya merasa sangat lelah,” katanya sambil mencoba untuk menegakkan tubuhnya kembali. “Pangeran Zein, jangan memaksakan diri lagi. Sebaiknya kita istirahat dulu, ini sudah malam. Untung kita bisa keluar dari hutan itu, aku akan pergi mencari buah-buahan. Sekali pun malam, tapi pedangku bisa memancarkan sebuah sinar,” kata Yuda sambil memperlihatkan pedangnya. “Aku akan mencari sungai sekitar sini, siapa tahu saja bisa menangkap ikan. Sebaiknya, paman Mahesa tidak meninggalkan pangeran Zein terlebih dulu. Khawatir saja kalau ada siluman cantik lagi yang ingin menggodanya,” timpal Arya. Mahesa mengangguk, memang benar apa yang dikatakan kedua pangeran tersebut. Ia tidak boleh meninggalkan sang pangeran sendirian. Sekarang ini banyak sekali orang yang ingin mengincarnya, karena itu kalau dirinya berjaga, bisa membantu sang pangeran bila memang dibutuhkan. “Baiklah, kalau begitu kalian harus berhati-hati. Sekali pun sekarang kita sudah berada di tepi hutan, tapi tetap saja ini masih kawasan hutan. Jadi kita tidak bisa meremahkannya,” pesannya. “Baik, kami mengerti,” jawab Arya dan Yuda bersamaam. Setelah itu mereka langsung membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki meninggalkan Zein bersama pengawalnya. Mahesa membantu Zein untuk mencari tempat istirahat yang nyaman. Sebuah pohon besar menjadi tempat tujuan pria tersebut, mungkin disana mereka bisa beristirahat. “Pangeran Zein, lebih baik istirahat disini dulu. kita harus menunggu Yuda dan Arya kembali,” katanya sambil membantu Zein duduk. “Baiklah,” jawab Zein. Ia menyandarkan punggungnya di pohon tersebut, seketika pedang naga langit kembali berubah menjadi seekor naga lalu melingkari tubuh tuannya tersebut untuk melindungi sang tuan dari setiap serangan musuh. Mahesa tersenyum, ia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilakukan oleh naga tersebut. Naga langit hanyalah sebuah pusaka yang digunakan untuk bertempur, tapi ketika sebuah benda pusaka diperlakukan dengan baik maka benda pusaka itu akan melindungi majikannya. Tapi kenapa seorang manusia justru mengkhianati orang yang bersikap baik padanya, sekali pun naga langit bisa berbicara tapi tetap dis seekor naga. “Apa yang kau lihat, ayah? Kau terus menatap naga langit? Apakah kau menyukainya?” tanya Zein jenaka. Mahesa tersenyum simpul, ia mendudukkan diri di samping pangeran tersebut,”aku hanya merasa kagum pada naga langit, dia seekor hewan ghaib. Tapi dia bisa melindungimu majikannya, tapi manusia… ketika dia telah diperlakukan dengan sangat baik, diberi tempat tinggal, makan geratis. Justru berkhianat, apakah manusia yang telah diberikan kesempurnaan akal dan pikiran memiliki tabiat lebih buruk dari pada seekor hewan,” katanya heran. “Tidak, manusia bisa lebih dari apapun. Karena kesempurnaan akal itulah manusia mampun menjadi apapun, manusia terbaik bisa melebihi malaikat, tapi manusia terburuk bisa melebihi iblis. Jadi, manusia itu harus memilih, dia ingin menempatkan dirinya menjadi seperti apa?” jelas Zein. Mahesa tidak mengerti maksud penjelasan putra mahkota tersebut, tapi mungkin yang dimaksud dengan terbaik, adalah seorang manusia yang menggunakan akal pikirannya untuk kebaikan. Sedang terburuk itu adalah seorang manusia yang lebih mengutamakan nafsunya untuk berbuat kejahatan. “Pangeran Zein, anda benar. Kalau manusia menggunakan akal pikiran dan hati nurani untuk berbuatan kebaikan, manusia itu isa lebih baik dari malaikat. Lebih baik sekarang pangeran Zein istirahat, aku akan berjaga di sini.” Zein mengangguk, ia pun mulai memejamkan matanya berharap rasa lelah menghilang dari tubuhnya. ** Gemericik air memantulkan cahaya dari sinar bulan, Arya memperhatikan air tersebut. Tersebut sambil memegang tombak terbuat dari kayu di lancipi,”kenapa aku tidak menemukan adanya ikan?” gumamnya. Ciplak… Arya terkejut melihat sebuah ikan lele melompat tinggi lalu kembali ke dalam air, ia merasa sangat bodoh karena tidak segera mengambil ikan tersebut. “Eheheh… anak muda, kamu tidak boleh mengambil ikan tadi. Itu ikan siluman, tapi kamu boleh mengambil ikan lainnya.” Seorang kakek tua tiba-tiba berdiri di belakang pangeran tersebut. Arya sangat terkejut hampir saja jantungnya copot karena kakek tua itu tanpa berbicara langsung mengatakan hal seperti itu, ia pun menoleh kebelakang. Seorang kakek tua berbagai baju putih dan berjanggut putih panjang. “Aku tahu kamu dan teman-temanmu sangat membutuhkan makanan, karena itu ambilah beberapa ekor ikan besar di sungai ini. Semoga Tuhan selalu melindungimu.” Arya mengangguk,” terimakasih, kakek. Kalau saya boleh tahu, apa yang kakek lakukan malam-malam begini? Apakah kakek tidak takut diserang binatang buas?” tanyanya heran. Kakek berjubah putih tersebut tersenyum,” siapa yang dapat melukaiku tanpada seizin Tuhanku? Aku sudah biasa, nak. Rumahku ada di sekitar sini, kamu tidak perlu merisaukan apapun. Segerlah ambil beberapa ekor ikan, lalu kembali pada temanmu. Dia sangat membutuhkan makanan.” “Baik, kek. Aku akan mengambil ikan terlebih dulu,” jawab Arya, setelah ia kembali membalikkan tubuhnya, mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil menggenggam erat tongkat tersebut. Ketika seekor ikan keluar, dia langsung melemparkan tombak itu ke arah ikan, bibirnya tersenyum ketika ikan itu akhirnya berhasil ditangkap. “Sukurlah, Tuhan memang baik, tidak membiarkan kami kelaparan,” gumamnya sambil berjalan di atas air lalu mengambil tombak miliknya. Tapi ketika pangeran tersebut menoleh kebelakang, tidak seorang pun manusia berdiri di tempat kakek tersebut. Ia bingung dan merinding karena tidak menemukan tubuh si kakek,”jangan-jangan itu tadi hantu penunggu hutan,” katanya ketakutan. Arya langsung naik ke darat dan membawa ikan hasil tangkapannya lalu berlari menghampiri Zein dan Mahesa, dia sudah tidak sabar ingin menceritakan semua keanehan ini pada mereka berdua, siapa tahu saja bisa sedikit lebih lega. ** Sebuah pohon apel tumbuh di dekat hutan, sekalipun itu sungguh aneh tapi tidak ada salahnya juga untuk mengambil beberapa buah untuk dimakan, Yuda menolehkan kepalanya ke sana dan kemari, ia tidak menemukan satu pun kayu panjang untuk mengambil buah tersebut.  “Kalau aku melompat untuk mengambil buah tersebut lalu menebas pohonnya, bisa-bisa kalau nanti ada yang membutuhkan juga tidak akan kebagian. Lebih aku panjat saja, tapi sebelum itu aku harus melempar pedang milikku agar bisa menciptakan sebuah cahaya,” gumamnya sambil melihat pedang miliknya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN