Ratu siluman putih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putra mahkota Bintang tenggara tersebut, dirinya sudah menunggu selama 200 tahun tahun. Tidak mungkin kalau sampai salah, setiap hari selalu menanti pertemuan ini, meski begitu. Memang ada yang berbeda dari sang pangeran, wajahnya jauh lebih tampan dan berkarisma, mungkinkah mereka memang bukan orang yang sama?.
“Kau harusnya sadar dan tahu, batas usia manusia tidak sepenjang usia Jin seperti kamu. Kekasihmu atau orang yang menyelamatkanmu dulu mungkin sudah meninggal, dia mungkin juga mengira kalau kamu seorang manusia. Tapi sekali lagi aku bukan Jin, aku ini manusia dan bukan orang yang pernah memberikan pertolongan padamu di masa lampau,” tegas Zein, ia menatap dingin ratu siluman tersebut. Sang ratu sangat sedih karena ternyata dia telah gagal untuk bertemu dengan pria yang pernah menyelamatkan nyawanya, dia menundukkan kepala lantaran pujaan hatinya sudah tidak ada dan gelar milik sang pujaan hati telah digantikan oleh orang lain.
“Aku sangat sedih, apa yang harus aku lakukan?” tanyanya prustasi.
“Kalau kau memang bersedia dan ingin menikah, aku bersedia menunjukkanmu pada seorang raja Jin yang sangat tampan meski terkadang suka lepas kendali. Tapi percayalah dia adalah Jin yang baik dan bertanggung jawab,” balas Zein sambil mengingat kembali tentang salah satu gurunya di perguruan rajawali. Avei, dia adalah mantan raja Jin utara, pria itu terkadang sangat lembut tapi terkadang juga sangat bengis, meski begitu Avei sudah tidak pernah lagi menyakiti manusia selama manusia tersebut tidak mengusiknya.
Ratu siluman tersebut terdiam, ia sebenaranya penasaran dengan apa yang dikatakan oleh pemilik gelar pujaan hatinya. Tapi mungkin tidak ada salahnya jika bertanya,”siapa?”
“Avei, dia adalah raja Jin utara. Aku yakin kau akan tertarik dengannya,” jawab Zein mantap, ia tidak tahu kalau Avei pernah punya sejarah kelam dengan ratu siluman ular putih tersebut. Raja jin itu pernah memporak-porakan kerajaan sang ratu hingga membuat ratu itu dendam kesumat terhadapnya.
Seketika mata ratu siluman ular putih tersebut berubah menjadi mereka penuh dengan aura pembunuhan, begitu juga dengan para ular yang lain. Zein menyipitkan matanya, dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba mata ratu tersebut berubah menjadi merah menyala seakan penuh dendam dan kebencian.
Arya dan Yuda sangat terkejut, aura pembunuhan sangat terasa di sekitar sang ratu seakan mereka semua akan dilahap. Mahesa mengamati perubahan emosi ratu siluman ular putih tersebut, memang sepertinya ada yang tidak beres ketika nama Avei disebut, siluman itu langsung marah seakan telah menguak kembali luka lama.
“Berani sekali kau menyebut tentang b******n itu! Dia adalah raja Jin kurang ajar, berani memporak-porakan istanaku dan mencuri mutiara siluman ular milikmu. Aku tidak akan pernah mengampuninya,” kata ratu siluman ular murka, ia mengubah wujudnya menjadi ular besar dan membuka mulutnya lebar-lebar bersiap untuk menelan Zein dan teman-temannya.
Grek…
Grek…
Pedang naga langit berdetak dan bergetar seakan jiwa pusaka itu ingin keluar dan membantu pemiliknya untuk melawan musuh, Zein melirik pedang tersebut, ia mengerti kalau pusaka milikinya tidak ingin hanya berdiam diri. Dia pun melemparkan pedang itu ke udara dan seketika pedang tersebut berubah menjadi seekor naga putih raksasa.
Ratu silumaman ular putih tersebut terkejut, ia tidak berpikir sama sekali bahwa pedang tersebut bisa menjadi seekor naga raksasa. Arya, Mahesa dan Yuda tercengang. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau pedang naga langit itu ternyata bisa menjadi seekor naga putih raksasa, sebuah naga yang sangat melegenda.
“Siluman ular putih, jangan sekalipun kamu berani untuk berbuat kezaliman terhadap tuanku. Aku tidak akan pernah mengampunimu, jika raja jin utara yang bersalah padamu, bukan berarti kamu harus melampiaskan kesalahan pada pangeran Zein Zulkarnain. Tuhanlah yang memberikan padanya gelar Arsy ratu sejagad bukan dia yang meminta, kamu tidak ada hak untuk menyalahkannya.”
Naga langit tersebut berbicara dengan mulut naganya, tubuhnya yang besar seeakan menutupi langit di tempat tersebut hingga udara hampir gelap menjadi gelap sempurna.
“Kamu pasti raja naga dari langit, naga langit putih. Bukankah kamu telah tersegel kedalam suatu pedang, ratu Arsylah yang menyegelmu. Kamu adalah pusaka kesayangannya bersama dengan pusaka tujuh warna, kenapa sekarang kamu malah menjadi milik orang?” kata ratu siluman ular putih tidak percaya.
“Benar, tidak seorang pun mampu menekan auraku. Tidak seorang pun bisa mencabutku dari lembah itu, tapi dengan izin Tuhan seluruh alam. Pangeran Zein zulkarnain berhasil mengambilku dan mengekang aura gelapku hingga sekarang tubuhku kembali menjadi putih,” jawab naga langit sambil meliuk-liuk di langit, suara besar menggelegar membuat siapapun yang melihat pasti akan ketakutan. Tapi sukur di hutan ini tidak ada orang lain selain Zein dan teman-temannya serta ratu silmuan berserta pasukannya.
“Jadi, dia benar-benar sudah tidak ada?” tanya ratu siluman ular putih tidak ingin percaya bahwa manusia pujaan hatinya telah tiada dan gelar itu telah diberikan pada orang lain.
“Benar, kamu harus bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah tidak ada lagi. Harusnya kamu jatuh cinta pada bangsamu sendiri bukan manusia, usia manusia itu lebih sedikit dari bangsa jin,” jawab naga putih.
Diam hanya bisa terdiam, dalam hati penuh dengan api membara. Ratu siluman tidak terima kalau apa yang didengarnya itu adalah suatu kenyataan, penantian lamanya seakan tidak terbayar. Kalau memang manusia pujaan hatinya telah tiada, maka tidak masalah juga jika manusia yang telah menggantikan tugasnya itu menjadi pendamping hidupnya,”kalau memang pujaan hatiku telah tidak ada, maka kaulah yang harus menggantikannya,” katanya sambil menatap Zein dengan mata merahnya.
“Tidak, aku tidak ada waktu untuk berurusan dengan seekor ular. Aku harus menjalankan tugasku sebagai seorang putra mahkota. Aku sudah bilang berkali-kali bahwa rakyatku jauh membutuhkanku dari pada dirimu,” tolak Zein tegas.
“Aku akan membantumu melindungi rakyatmu, aku juga akan membantumu mengambil kembali kerajaanmu dari orang yang kau sebutkan tadi. Terimalah penawaranku,” balas ratu siluman ular putih kekeh.
“Aku berterimakasih dengan niat baikmu, tapi aku tetap tidak bisa. Karena manusia itu harus menikah dengan sebagangsanya, dan jin juga harus menikah dengan sebangsanya. Aku sama sekali tidak keberatan kalau kau membantuku asal bantuanmu itu ikhlas karena Tuhan Yang Maha pengasih, bukan dengan niat apapun,” jawab Zein juga sangat kekeh, dia tidak akan pernah merubah pendiriannya. Tapi tidak mungkin dirinya menikah dengan seekor ular sekalipun itu adalah ratu, karena dia hanya akan menikah dengan sebangsanya, yaitu manusia sesuai dengan perintah Tuhan.
Ratu siluman ular sangat murka dengan penolakan Zein, ia pun menyuruh para prajuridnya untuk menyerang sang putra mahkota Bintang tenggara dan rekan-rekannya. Tapi naga langit tidak membiarkan hal itu terjadi, ketika sang ratu siluman hendak menyemburkan bisa beracun, ia langsung menangkis serangan tersebut dengan racun yang lebih mematikan. Sedangkan para prajurid langsung menyerang Mahesa, Arya dan Yuda.
“Naga langit, apakah kau tidak apa-apa?” tanya Zein khawatir, sekalipun ia melihat naga itu terlihat sangat baik-baik saja. Tubuh naga tersebut mengelilingi tubuhnya seakan memberikan perlindungan terhadapnya.
“Tentu saja yang mulia pangeran, aku adalah mahluk ghaib dari langit. Aku ditugaskan untuk menjaga dan melindungi siapapun orang dengan gelar Arsy ratu sejagad. Tuhan memberikan anugrah kepadaku berupa kekuatan, aku tidak mungkin menyia-nyiakannya,” balas naga langit dengan suara menggelegar ciri khas seekor naga.
“Baiklah, aku percaya. Tapi kenapa kau tidak mengizinkan aku untuk bertarung sendiri? Kenapa kau tidak kembali kembali menjadi sebuah pedang?” tanya Zein heran.
“Karena kau sedang terluka, kau harus ingat dengan racun langka yang masih bersarang dalam tubuhmu. Semakin banyak kau menggunakan kekuatanmu, bisa jadi kesempatan untuk sembuh juga semakin tipis,” jelas naga langit, ia kembali meliuk ke udara lalu terbang menghampiri ratu siluman ular yang masih berusaha untuk mengeluarkan kekuatan lagi.
Sebuah cahaya berwarna hitam membentuk bola kembali dikeluarkan oleh ratu siluman ular tersebut, dan naga langit pun kembali mengumpulkan api naganya di dalam mulut lalu mengeluarkannya membentuk serangan dasyat pada ratu siluman ular putih.
Cahaya hitam bertempur dengan cahaya jingga dari api naga tersebut, kedua kekuatan itu saling dorong mendorong. Memberikan serangan terdasyat dari masing-masing pemilik kekuatan.
Zein memperhatikan kedua ular tersebut bertarung di langit, mereka sama -sama mengeluarkan kekuatan terbaiknya. Tapi ia merasakan keanehan dari naga langit miliknya, kekuatan naga itu tidak maksimal seperti tertahan. Dia mengingat kalau setiap pusaka itu berhubungan langsung dengan tuannya, itu artinya kekuatan naga langit juga berhubungan dengannya. Dirinya tidak boleh membiarkan naga itu sendirian menghadapi ratu ular, ia harus membantunya.
Putra mahkota Bintang tenggara tersebut langsung terbang dengan menggunakan jurus meringankan tubuh ( Saipi angin) lalu melompat di atas punggung naga tersebut dan duduk di atasnya.
“Naga langit, jangan pernah gentar. Tidak perlu menahan kekuatanmu, karena musuhmu juga tidak pernah setengah-setengah dalam memberikan serangan,” kata Zein sambil mengelus leher naga tersebut.
Naga langit mengengguk, setelah itu ia menambah kekuatannya tanpa sedikit pun ada keraguan di dalamnya lalu memberikan serangan penuh pada ratu siluman ular tersebut.
Srru….
Duarr…
Ratu siluman tersebut terpental setelah serangannya dipentalkan oleh naga langit, dia bahkan berubah menjadi wujud manusia dan terluka sangat parah. Naga langit dan Zein masih berada belum turun, mereka memperhatikan ratu siluman tersebut. Dalam sekejap mata sang ratu menghilang bersama dengan para prajuridnya.
Ugh…
Zein menyentuh dadanya pelan, rasa nyeri kembali datang karena racun aneh tersebut kembali menyerangnya dari dalam. Tubuhnya mulai terasa lemas dan pandangan kabur, ia kehilangan keseimbangan. Hampir saja sang putra mahkota terjatuh kalau naga langit tidak segera menukik lalu memangkap tubuh rapuh tersebut dan meletakkannya perlahan di atas rerumputan.
Mahesa, Arya dan Yuda menghampiri pangeran tersebut, mereka sangat khawatir melihat Zein tiba-tiba pingsan.
Wus…
Naga langit berubah menjadi pria rupawan memakai baju putih bersih membuat kedua pangeran dan pengawal pribadi tersebut perpana, mereka tidak menyangka kalau sebuah pedang bisa berubah menjadi naga lalu berubah lagi menjadi manusia rupawan.
“Izinkan aku untuk melihat keadaan pangeran Zein, aku tidak akan membuatnya dalam bahaya,” katanya sambil berusaha mengambil alih sangat pangeran dari pengawal pribadinya.
Mahesa tidak ada alasan untuk menolak permintaan pria rupawan tersebut, sekalipun jelmaan dari seekor naga tapi tetap saja, naga itu telah berbuat baik dan menolong sang pangeran.
“Baiklah, aku berharap dia akan baik-baik saja.”
Ia menyerahkan Zein pada jelmaan naga tersebut agar bisa diperiksa, naga langit meletakkan kedua telapak tangannya di tubuh sang pengeran lalu mulai memusatkan konsentrasinya untuk melihat keadaan pangeran tersebut.
Terlihat sinar kehinjauan muncul dari telapak tangannya sang naga, tak lama kemudian sinar tersebut redup lalu menghilang. Naga langit tersebut langsung berubah kembali menjadi bentuk pedang hingga membuat para pangeran dan pengawal tersebut bingung dengan apa yang terjadi pada seorang Zein zulkarnain.
Tak lama kemudian, Zein membuka matanya. Ia sedikit menyerngit ketika merasakan tubuhnya sangat lemah dan sepertinya racun itu kembali memberikan serangan terhadapnya.
“Pangeran Zein, apakah kau baik-baik saja? Tadi pangeran pingsan, dan pria rupawan jelmaan pedang naga langit mencoba untuk mengobati pangeran. Pangeran, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pangeran bisa pingsan?” tanya Mahesa khawatir.
“Aku tidak tahu, mungkin racun dalam tubuhku kembali bereaksi. Karena itu aku menjadi pingsan, sekarang kita harus segera keluar dari hutan ini dan meneruskan kembali perjalanan hingga mencapai puncak raung untuk mengambil bungan seribu tahun itu,” balas Zein sambil mencoba untuk bangkit dari posisinya, ia meraih pedang yang tergeletak di samping tubuhnya lalu menggenggamnya erat.
Mahesa mendongak menatap sang putra mahkota, pria itu selalu berusaha terlihat kuat meskipun tubuhnya sangat lemah. Sebenarnya tidak ada salahnya jika seseorang jujur dengan kondisi tubuh sendiri, manusia itu memang lemah jadi bukankah tidak perlu menjadi sok kuat.
Zein memicingkan matanya dingin melihat ekspresi tidak puas dari pengawal pribadinya tersebut,”kenapa kau menatapku begitu? Apa kau pikir aku ini manusia lemah?” katanya tidak suka.
Mahesa menelan ludah, dia lupa kalau tempramen pria satu itu terkadang tidak terlalu baik. Dialah yang menjaganya dari kecil, tentu saja tahu bagaimana karakter dari pangeran Bintang tenggara tersebut.
“Pangeran, apa yang pangeran katakan benar. Tapi apakah tidak sebaiknya pangeran aku gendong saja?” tawarnya.
Zein mendelik galak mendengar tawaran pangawal pribadinya tersebut, ia sangat jengkel kalau ada orang yang berani meremahkan kemampuan bertahannya dalam menjalani hidup.
“Kau memang sudah tua, aku mintak maaf karena telah membuatmu berhayal aku adalah seorang wanita,” sindirnya sambil melangkahkan kaki meninggalkan pengawal tersebut.
Mahesa melotot horor, bisa-bisanya putra mahkota Bintang tenggara itu berpikir kalau dirinya menghayal. Dari zaman dulu pun ia juga tahu kalau seorang Zein zulkarnain itu asli seorang pria, dan dia tidak ingin sama sekali menikah sebelum sang pengeran berhasil merebut kembali kerajaannya. Biarkan saja tua dari pada menikah dan istrinya ikut dalam bahaya bersamanya.
“Hihihi…” Yuda terkikik geli mendengar ucapan sindirian dari sang pangeran, pria itu memang terkadang sangat menjengkelkan. Ada orang berniat baik malah disindir bukan berterimakasih.