episode 34

2113 Kata
Episode 34 “Yuda, kenapa kau takut bertemu dengan jin? Bukankah kau sudah sering bertemu dengan raja Jin? Kak ingat kak Avei? Apakah menurutmu dia manusia seperti kita?” Zein sangat jengkel dengan sikap sahabatnya tersebut, sedari tadi terus peluk-peluk lengannya. Untungnya di hutan kalau di pasar orang akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih, mencemarkan nama baik orang. “Pangeran Zein, aku ini juga rakyatmu. Karena itu aku juga ingin berada dalam lindunganmu, kamu tidak boleh pilih kasih,” balas Yuda mencari alasan, ia terus memeluk lengan sang pangeran, tidak perlu kalau tangannya terus disentakkan. Semak belukar menjadi pijakan kaki tiga orang pangeran serta seorang pengawal pribadi tersebut, sesekali Mahesa melirik pangeran Kayumas tersebut. Bibirnya tersenyum geli melihat sikapnya seperti seorang istri yang memintak perlindungan dari seorang suami, padahal kalau di luar sangat pemberani. Krusak… “Kya…” Yuda semakin mengeratkan pelukannya ketika mendengar suara tersebut, Zein sangat geram dengan sikap sahabatnya tersebut, ia pun melepaskan pegangan sang sahabat dan menatapnya dingin. “Jalan sendiri! Kamu akan menjadi seorang raja, bagaimana mungkin kamu menjadi sangat penakut?” omelnya. “Pangeran Zein, aku ini sama sekali tidak tertarik untuk menjadi seorang raja. Tapi bagaimana lagi, kakakku seorang wanita dan pimpinan itu harus seorang pria. Kecuali semua pria baik sudah tidak ada,” balas Yuda pundung gara-gara diomeli. “Apakah itu artinya kau rela kalau tahtamu diberikan pada orang lain?” tanya Zein dengan picingan mengejek. “Tidak dong! Sudahlah, aku akan jalan paling depan. Kau ini sungguh tidak setia kawan, aku ketakutan bukannya menghiburku malah membuatku semakin jengkel,” sewot Yuda sambil membalikkan badan, ia berjalan dengan sok berani padahal hatinya sangat ketakutan. Kaki gemetaran bahkan rasanya hampir kencing dicelana, mulutnya berkomat-kamit mengutuk putra mahkota Bintang tenggara. Zein tersenyum tipis, ia pun kembali melangkahkan kaki di belakang sabatanya diikuti oleh Arya dan Mahesa berada paling belakang. Srag… Zein tiba-tiba berhenti hingga membuat Arya hampir menabrak tubuh pangeran Bintang tenggara tersebut sedang Yuda tetap berjalan dengan rasa dongkol. Wus… Sebuah panah tak kasat mata tiba-tiba terbang di depan matanya, Zein mengerutkan kening. Ini belum ada setengah perjalanan menuju tengah hutan, tapi sepertinya para mahluk ghaib sudah mulai memberikan sambutan terhadapnya, bahkan ini masih sore belum malam. Arya dan Mahesa terkejut melihat panah ghaib seperti ada api di depannya,”itu tadi apa?” tanya Arya hampir saja terkena serangan jantung karena terlalu terkejut. Mahesa juga tidak menyangka sudah ada serangan penyambutan, ia sama sekali tidak menyangka kalau mahluk ghaib sudah mulai memberikan peringatan tentang daerah kekuasaannya. “Pangeran Zein, sebaiknya kita semua harus hati-hati,” katanya memberikan peringatan, matanya juga terus waspada siapa tahu ada serangan lagi. “Aku tahu, tapi sepertinya Yuda tidak merasakan adanya serangan tersebut,” balas Zein sambil memperhatikan sahabatnya tersebutm sang sahabat terlihat terus berjalan tanpa sedikit pun merasakan suatu bahaya mengancam. “Benar, kenapa dia malah tidak peka seperti itu ya? Apakah indra penglihatannya tidak terbuka? Maksudnya apa mungkin mata bhatinnya tertutup?” balas Arya juga bingung. “Entah, tapi kalau dia bisa mengeluarkan sukmanya itu artinya dia sudah bisa membuka mata bhatinnya,” jawab Zein. “Biarkan saja, aku yakin dia bukan seorang pengeran lemah. Dia hanya tidak ingin menggunakan kemampuannya,” sahut Mahesa sengaja sedikit dikeraskan agar pangeran Kayumas itu bisa mendengar. Yuda langsung menghentikan langkah kakinya, ia menoleh pelan-pelan kebelakang. Ternyata rombongannya sangat jauh darinya, tanpa pikir panjang dia langsung berlari kebelakang dan bersembunyi di belakang Zein Zulkarnain. “Yuda, berhentilah menarik-narik bajuku. Kau pikir kau itu siapa?” Zein kesal karena pria itu menarik bajunya. “Pangeran Zein, kau akan ketinggalkan jauh kalau terus di belakang,” kilah Yuda menyembunyikan rasa takutnya. “Alasan, di sini sangat berbahaya. Tadi ada panah ghaib ke arah timur, sepertinya ada orang ingin mengirim santet,” sergah Zein sambil menjelaskan. Awalnya ia berpikir kalau panah api tadi adalah sambutan dari mahluk ghaib, tapi setelah diperhatikan lagi. Itu seperti jenis sihir berupa santet yang dikirimkan oleh seseorang pada orang lain. “Santet itu apa? Apa sejenis ilmu sihir?” tanya Yuda penasaran. “Benar, santet itu adalah salah satu jenis ilmu sihir. Santet itu sendiri digunakan oleh orang-orang yang memiliki ilmu aliran hitam, dengan melakukan perjanjian dengan jin atau pemujaan jin, dukun itu mengirimkan teluh pada orang dengan niat untuk menyakiti orang tersebut,” jelas Zein. Yuda dan Arya merinding mendengarnya, tidak disangka ada orang yang sampai melakukan pemujaan pada jin atau bersukutu dengan jin untuk menyakiti orang lain. Manusia sungguh tega bahkan lebih kejam daripada hewan, tidak ada hewan yang akan melakukan santet pada kawanannya tapi manusia sangat suka melakukannya. “Pangeran Zein, aku pikir itu tadi adalah sambutan dari mahluk ghaib,” sahut Mahesa. “Aku pikir tadinya juga begitu, tapi setelah aku melihat arahnya. Panah itu berhenti di atap rumah orang, tapi meledak. Karena aku sempat menggunakan tenaga dalam untuk menghentikannya, kasihan kalau seowang wanita hamil harus terkena sihir semacam itu,” balas Zein. “Ha?” Arya, Mahesa dan Yuda terkejut mendengarnya. Mereka tidak menyangka kalau tujuan dari panah itu adalah seorang wanita hamil, bukankah itu sungguh keterlaluan?. “Sebelum kita masuk lebih dalam ke hutan ini, ayo kita temui dukun itu dulu. Aku ingin memberi peringatan padanya, tidak pantas bagi seorang manusia yang telah diberikan karunia oleh Tuhan yang maha kuasa justru menggunakan kemampuannya untuk arah maksiat apa lagi malah bersekutu dengan jin dan menyakiti seorang calon ibu,” kata Zein sambil membalikkan tubuhnya, ia melangkahkan kaki berjalan ke arah barat tepi hutan tersebut diikuti dengan pengawal sdan kedua teman-temannya. ** Duar…. Dukun santet itu terlempar setelah serangannya digagalkan oleh seseorang, bahkan peralatannya juga menjadi porak-poranda tidak karuan,”b******k! Siapa orang yang telah menghalangiku?! apakah dia cari mati?!” dukun tersebut mengumpat, ia tidak terima kalau ada orang yang berani mematahkan serangannya. Sebuah rumah terbuat dari kayu, atapnya ada tumpukan jerami. Rumah itu terlihat sudah tua dan sangat sunyi seperti tidak ada penghuninya sama sekali. Zein menatap rumah itu heran, rumah seperti sarang mahluk halus, ia pun memejamkan matanya untuk melihat apa yang sebenarnya ada di dalam. Seorang pria dengan baju serba hitam memegang jantung pisang serta keris, mulutnya berkomat-kamit membacakan mantra. Putra mahkota Bintang tenggara itu terkejut, ia langsung mengeluarkan sukmanya untuk menggagalkan rencana dukun tersebut berbuatan kejahatan. Dia yakin mantra itu adalah untuk membunuh orang dengan jantung pisang itu diibaratkan dengan jantung manusia, kalau jantung pisang itu ditusuk keris, otomatis orang yang namanya disebut juga akan sakit luar biasa di jantungnya. Sebagai seorang calon raja, Zein tentu saja tidak akan membiarkan itu terjadi. Tugasnya adalah melindungi rakyat sesuai dengan kemampuannya. Sret… Duar… Zein langsung mengambil jantung pisang itu lalu melempar ke atas tumpukan kemenyang dan bunga untuk sajen hingga membuat dukun ilmu hitam itu terkejut karena tidak menyangka ternyata ada orang yang berani menghentikannya. Dukun aliran hitam berdiri dengan wajah marah, ia sangat kesal karena ada seseorang yang berani dan bisa dengan mudah menghentikan ritualnya, siapa orang ini sebenarnya?. “Siapa kamu?! berani sekali merusak rencanaku!” bentaknya. “Aku? Namaku, Zein Zulkarnain. Aku sengaja datang kesini untuk menghentikan perbuatan jahatmu! Kau telah berlaku zalim serta kemusrikan dengan menggunakan ilmu hitam. Bertaubatlah sebelum terlambat,” jawab Zein sambil menghunuskan pedangnya ke arah dukun tersebut. Dukun itu sangat murka dengan ucapan Zein, ia tidak terima mendengar ucapan putra mahkota Bintang tenggara tersebut. Baginya tidak seorang pun bisa menghentikannya untuk membunuh orang atau menyiksa orang lain, dia telah dibayar untuk mengambil nyawa manusia, karena itu dirinya tidak akan pernah ragu untuk melakukannya. “b*****h! Dasar kau j*****m! Berani sekali berpidato di depanku, kau pikir kau sudah mampu untuk melawanku. Sekarang aku akan membuatmu menyesal karena menganggu ritualku.” Dukun itu kembali mengambil jantung pisang tersebut lalu mulai berkomat-kamit kemudian menusukkan sebuah paku ke jantung pisang tersebut. Seketika Zein tersentak, jantungnya terasa tertusuk, sangat sakit bahkan membuatnya memuntahkan darah. Meski begitu, bibirnya tersenyum remeh dengan apa yang dilakukan oleh dukun tersebut. “Jadi hanya ini kemampuanmu? Sekarang biarku tunjukkan kemampuan yang Tuhan anugrahkan padaku,” kata Zein sambil mengayunkan pedangnya lalu menebaskan pada dukun tersebut. Cras… Tes… Tes… Tetesan darah di lantai tercecer dari luka di tangan dukun tersebut,”tanganmu itulah yang sering kau gunakan untuk menyiksa orang tak berdosa. Jadi aku sengaja memotongnya, karena tidak ada gunanya kau memiliki sebuah tangan dan hanya kau gunakan untuk berbuat kezaliman. Itu hanya sebuah peringatan, kalau aku mendengar kau melakukan tindak kezaliman lagi, aku akan memotong tanganmu yang satunya. Aku bukan orang yang bisa sombongi,” kata Zein dengan senyum dingin di bibirnya, matanya masih menatap tetesan darah dari tangan yang sudah terputus tersebut. Dukun tersebut terlalu syok hingga tidak mamou untuk berkata apapun, ia sungguh sangat tidak menyangka kalau ada seorang pria yang sangat kejam bahkan memotong tangan orang tanpa berkedip sedikitpun, dia bahkan tak dapat menghentikan ketika pria tersebut pergi dengan pedang masih menetes darah miliknya. Mahesa, Arya dan Yuda tercengang melihat darah menetes dari pedang terhunus milik putra mahkota Bintang tenggara tersebut, mereka pun segera menghampiri sang pengeran. Khawatir kalau terjadi sesuatu pada pangeran Bintang tenggara tersebut. “Pangeran Zein.” “Pangeran Zein.” Zein menatap ketiga temannya tersebut, mereka terlihat sangat khawatir terhadapnya. Mungkin dipikir kalau dirinya terluka, meski sesungguhnya orang lainlah yang terluka. “Aku melukai seorang dukun santet,” kata Zein sambil berjalan melewati mereka. Ia mencari benda atau air untuk mencuci pedangnya agar tidak ternodai darah atau tercium bau darah di pedangnya tersebut. Kedua pangeran dan pengawal pribadi tersebut tercengang, jadi benar ada yang namanya santet di tanah jawa ini? Sihir jenis apakah santet tersebut?. “Kalau kalian masih ingin berdiam diri di situ, aku akan melanjutkan perjalanan sendiri,” kata Zein tanpa ada niat untuk menoleh pada ke tiga rekannya tersebut. “Eh, baik. Aku akan ikut, tidak mungkin aku membiarkanmu berjalan sendiri,” kata Mahesa yang pertama kali tersadar dari lamunannya, ia langsung berbalik dan mengenjar Zein. Begitu juga Yuda dan Arya, mereka langsung membalikkan tubuhnya lalu mengejar putra mahkota Bintang tenggara tersebut. “Uhuk…uhuk…” Mahesa mengalihkan perhatiannya pada Zein, pria itu terlihat tidak sehat. Ia khawatir kalau ada sesautu yang disembunyikan dan tidak mengatakan apapun terhadap dirinya,”pangeran Zein, apakah pangeran baik-baik saja?” tanyanya khawatir. “Hm, aku baik-baik saja. Kita harus segera berjalan karena sebentar lagi hari mulai gelap, kalian semua harus bersiap. Yang ku dengar, hutan Kemuning ini dijaga oleh ratu siluman ular putih, dia bisa menjelma menjadi manusia yang cantik dan akan menggoda setiap orang yang datang. Tapi jangan pernah terkena tipu dayanya, karena sesaungguhnya dia sangat bengis dan akan menjadikanmu sebagai tumbal dan b***k di istananya,” kata Zein berjalan sambil menjelaskan, karena mereka perlu untuk bersikap waspada dalam setiap serangan. “Baik, kami semua akan berhati-hati dan selalu bersikap waspada,” sahut Arya, Yuda dan Mahesa serempak. Mereka kembali melanjutkan perjalanan, hingga tiba di sebuah tulisan”istana ratu ular putih” Zein yakin kalau mereka telah masuk tanpa sadar ke alam ghaib, karena gapura itu terlihat sangat jelas , bukan hanya ukuran sebuah batu. Tidak menyangka kalau kemampuan sang rayu sungguh luar biasa, belum apa-apa saja sudah menyeret mereka semua masuk. “Selamat datang di istanaku, pangeran Zein Zulkarnain. Kami menyambutnya dengan rasa hormat, terimakasih pernah menyelamatkan ratu kami dari raja iblis hutan cempaka.” Seorang ular besar berkepala wanita cantik bersama beberapa ular besar-besar seperti sedang menunduk hormat terhadap sang putra mahkota Bintang tenggara. Arya dan Mehasa sama sekali tidak mengerti apa yang mereka ucapakan, kapankah putra mahkota Bintang tenggara tersebut pernah menolong pemimpin mereka? Perasaan juga tidak pernah. Zein tidak ingat sama sekali pernah bertemu dengan ratu siluman ular putih, lalu bagaimana mereka bisa menyebut dirinya pernah menolong sang ratu? “Aku tidak pernah melakukan itu, jadi simpan basa-basi kalian. Aku harus segera melewati hutan ini, jadi sebagaiknya kalian menyingkir,” balasnya dingin. “Arsy Ratu sejagad, bagaimana mungkin kamu melupakan pertemuan kita waktu itu? Aku masih sangat ingat, 200 tahun yang lalu kamu berjanji akan menjadi rajaku.” Seorang wanita cantik menggunakan gaun seperti seorang ratu berjalana dengan anggun kearah sang putra mahkota. Zein merasa wanita silmuan itu gila, dirinya baru juga berumur 30 tahun bagaimana mungkin bisa 200 tahun? Ia juga bukan bangsa jin yang memiliki tenggang waktu hidup yang lama, dia manusia sejati. Tapi mungkin saja, 200 tahun yang lalu gelar Arsy ratu sejagad itu memang milik orang lain, dan orang tersebutlah yang telah berjanji serta menolongnya, bukan dirinya.  “Kamu salah, aku bukan Arsy ratu sejagad. Aku ini hanya manusia biasa, aku bukan orang yang dulu bertemu dengamu, jadi sebagaiknya kamu jangan pernah datang dan mencoba untuk menghentikan perjalananku. Aku harus segera pergi, karena rakyatku menungguku untuk menyelamatkan mereka dari kekejaman Ku Bangan sampah,” balasnya tidak suka dengan ucapan ratu siluman ular putih tersebut. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN