Mahesa tertawa canggung, kenapa pangeran Kayumas itu malah membongkar rahasianya, kalau sampai orang tersebut menyebarkan identitas asli dirinya, bisa saja raja Ka Lenan dan Ku Bangan serta Tong Sampah akan memburunya .
“Ahaha…iya, aku adalah Mahesa Jenar. Tapi tidak semua orang bernama Mehasa Jenar itu seorang pengawal pribadi putra mahkota Bintang tenggara bukan? Aku ini hanya ayah angkat dari Satria Dirgantara Mahardika, bukan pengawal pribadimu. Karena aku rasa aku tidak pantas menjadi pengawal pribadimu, aku ingin bersama Satria saja,” katanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Orang memakai batu akik di lima jarinya tersebut mengangguk, memang benar juga apa yang dikatakan oleh pria tersebut, tapi kenapa dirinya sama sekali tidak ingat kalau pernah memiliki seorang pengawal. Tapi seharusnya itu sangat wajar karena orang tersebut bukanlah seorang pangeran Bintang tenggara hingga tidak akan pernah tahu tentang sejarah kelam kerajaan tersebut kecuali hanya dari mulut kemulut dan semua itu tentu saja bisa berbeda dari satu orang keorang lain.
Zein diam, ia dapat melihat betapa bodohnya manusia di depannya. Jelas sekali kalau dia sama sekali tidak tahu apapun tentang kerajaan Bintang tenggara, siapa putra mahkota yang sesungguhnya. Hingga tidak akan pernah tahu apapun dan bagaimana rasanya sakit hati dan kebencian ketika melihat raja Ilyasa tersebunuh di depan matanya.
“Mahesa, ayo kita pergi. Tidak ada urusan berbicara dengannya, kita sudah selesai di sini. Waktunya melanjutkan perjalanan, semakin cepat semakin baik,” katanya sambil berjalan melewati orang tersebut, seenaknya saja mengaku-ngaku sebagai putra mahkota Bintang Tenggara. Dia sama sekali tidak ikut merasakan sakitnya melihat ayah tercinta meninggal di depannya sedang dirinya tidak bisa berbuat apapun.
Mahesa memandang pangeran Bintang tenggara itu sedih, kalau ada orang yang seenaknya menggunakan namanya tapi tidak mau melakukan apapun demi melindungi rakyat hanya sibuk mengumpulkan batu akik dijadikan cincin sedang rakyat Bintang Tenggara sangat menderita karena penguasa yang sekarang.
“Pangeran Zein, tunggu aku!” Pria itu lagi-lagi tidak bisa menahan untuk tidak memanggil seorang putra mahkota Bintang Tenggara dengan nama yang sesaungguhnya.
Yuda dan Arya ikut bangkit dari tempat duduknya lalu menyusul temannya tersebut, sebelum pergi Yuda terlebih dulu berjalan mendekat pada orang memakai batu akik tersebut,”namaku Yuda Arya dimasta, aku adalah pangeran kerajaan Kayumas. Dan orang yang kau ramal tadi itu, adalah Zein Zulkarnain. Dialah putra mahkota yang sesungguhnya, kamu tidak boleh menggunakan namanya untuk menipu orang lain.” Setelah mengatakan kalimat tersebut, ia langsung berlari menyusul Mahesa dan Zein.
“Pangeran Zein, menurutku kamu sangat populer. Bahkan banyak sekali orang yang sangat ingin menggunakan namamu dan mengaku sebagai pangeran Bintang tenggara.” Yuda terus mengoceh dengan niat untuk menghibur sang pangeran tapi tetap saja Zein hanya diam, mereka berjalan sambil berbicara tidak penting.
“Kita akan memasuki hutan Kemuning sebentar lagi, hutan itu sangat angker. Banyak demit yang berkeliaran. Banyak orang bisa masuk tak bisa keluar, apa lagi kalau malah hari. Akan banyak para gadis cantik, tapi itu semua hanya jelmaan dari jin penunggu hutan, aku berharap kalian semua berhati-hati. Jangan sampai salah mengenali orang. Karena mereka bisa menjelma menjadi salah satu dari kalian lalu menipu.” Mahesa memberi peringatan pada Yuda, Arya dan Zein.
“Aku mengerti,” balas Zein tenang.
“Bagaimana cara kita membeda itu adalah jelmaan jin atau asli teman-teman kita?” tanya Arya.
“Aku memiliki tanda pohon beringin di lenganku, pangeran Zein memiliki tanda bulan bintang serta huruf alif di keningnya, tanda itu berwarna kuning keemasan. Kalian bisa menggunakan tanda itu untuk mengenali kali,” jawab Mahesa.
“Aku punya tanda hati di dadaku,” balas Yuda jenaka.
“Tidak perlu bercanda disaat serius,” sergah Arya membuat pangeran Kayumas tersebut langsung kicep.
“Aku punya tanda sabun mandi di telingaku,” kata Arya sambil menunjukkan gambar persegi mirip sabun mandi membuat Yuda dan Mahesa tidak bisa menahan tawa.
“Ahahaha… kamu sunggu membuat orang ingin tertawa saja. Kenapa kok bisa ada tanda sabun mandi? Itu adalah tanda lahir, bentuknya kotak bukan berarti sabun mandi,” kata Yuda sambil terus tertawa.
Zein melirik Arya sejenak, kasihan saja temannya yang satu itu. Mungkin bukan sabun mandi, tapi persegi panjang artinya memiliki sifat jujur, tegas serta berjiwa kepemimpinan.
“Kalian ini sungguh tidak mengerti, dia itu memiliki jiwa seorang kesatria. Sudah, tidak perlu banyak bicara lagi. Di sini yang tidak punya tanda itu hanya Yuda, tapi aku akan memberikan tanda padamu.”
Mahesa, Yuda dan Arya mengalihkan perhatiannya pada putra mahkota Bintang tenggara tersebut, mereka menatap sang pangeran dengan tatapan penuh selidik dan penasaran.
“Apa? Kenapa kalian menatapku begitu?” tanya Zein merasa tidak nyaman.
“Kami hanya penasaran, tanda apa yang kau berikan pada Yuda?” jawab Arya.
Zein tersenyum tipis,”Yuda itu oranya sangat aktif, aku yakin juga tidak akan jin yang bisa seaktif dia dalam berbicara. Jadi, kalau itu memang Yuda asli, pasti banyak bicara.”
“Sialan kamu pangeran Zein,” guman Yuda dongkol, dia sudah memikirkan dan berkhayal kalau sang pangeran Bintang Tenggara tersebut akan memberikan tanda yang bagus untuknya tapi nyatanya hanya itu saja. Sungguh sangat menyebalkan.
Zein tersenyum geli, sahabatnya yang satu itu memang terlihat konyol tapi sebenarnya sangat baik serta memiliki selera humor tinggi. Ia pun membalikkan tubuhnya karena tidak ingin ketahuan telah mengerjai pangeran Kayumas tersebut.
“Sudah, sebaiknya sekarang kita segera pergi. Jangan sampai tengah malam berada di tengah hutan, kalian tidak mau bukan pada menjadi makanan demit,” kata Mahesa melerai pertengkaran. Ia melangkahkan kaki menyusul junjungannya dan membiarkan Yuda masih dongkol di tempat nanti juga berjalan sendiri.
Arya tersenyum melihat pangeran satu itu, meski begitu tetap saja ikut berjalan bersama mereka,”Yuda, kamu kenapa tidak pulang ke negaramu saja? Aku pikir setelah lulus perguruan rajawali, kamu akan kembali.”
“Tidak, aku ingin tetap bersama Zein. Pangeran Zein sangat membutuhkan kita. Negaraku masih ada ayah, ayah masih sanggup memerintah kerajaan. Jadi tidak perlu aku harus ikut juga,” jawab Yuda sambil berjalan di samping Arya.
“Tidak lama lagi kita akan sampai ke pinggir hutan Kemuning, berhati-hatilah.” Mahesa memberi peringatan terhadap ketiga pangeran tersebut, ia tidak ingin terjadi sesautu pada sang pangeran.