episode 32

806 Kata
“Hah, mereka itu ada-ada saja. Mana ada seorang kesatria itu suka meramal, apa lagi suka memasukkan sukma orang ke dalam botol. Itu seorang kesatria atau paranormal?” kata Yuda sambil menarik piring makanan agar lebih dekat dengannya. Mehasa menghela napas, memang orang kalau tidak tahu apapun tentang kesatria tersembunyi tapi sok tahu itu kalau berbicara suka sembarangan. Ia menggunakan tiga jarinya untuk mengambil makanan yang ada di atas piringnya lalu memasukkannya ke dalam mulut. “Kenapa juga kamu harus perduli? Kita ke sini hanya untuk beristirahat dan mengisi perut. Bukan mendengar pembicaraan tidak masuk akal orang-orang itu,” celetuknya. Zein dan Arya hanya diam sambil menikmati makanan yang ada di depannya dengan santai tanpa merasa terganggu sedikit pun dengan pembicaraan orang-orang tersebut. “Hei, jangan begitu. Aku penasaran juga, mereka membicarakan tentang Satria tersembunyi, tapi sebenarnya mereka tidak tahu apapun. Bukannya itu sangat menjengkelkan.” Yuda membalas ucapan Mahesa, rasa penasaran memang selalu mengalahkan apapun, bahkan gengsi juga kalah kalau rasa penasaran sudah terlalu tinggi. “Aku mengatakan apa adanya, lebih baik kamu tidak perbicara dengan orang-orang seperti itu. Karena itu sama sekali tidak ada untungnya juga. Telingamu hanya akan panas mendengarnya,” kata Mahesa tidak mau kalah. “Aku rasa kalian tidak perlu memperdebatkan hal yang tidak penting, biarkan mereka berbicara tentang siapa satria tersembunyi. Apapun yang mereka katakan tidak akan pernah mempengaruhiku, aku tetaplah aku bukan siapapun dan tidak akan berubah apapun. Lebih banyak kesatria itu akan lebih baik, hingga tugas akan lebih mudah untuk dijalankan karena bisa dibagi-bagi.” Zein menyela ucapan mereka, rasanya tidak pantas memperbutkan suatu gelar yang bukan menjadi miliknya. Yuda dan Mahesa mengangguk, memang benar apa yang dikatakan pangeran Bintang Tenggara tersebut. Dialah sejatinya satria tersembunyi dengan gelar Arsy ratu sejagad, karena itulah tugasnya sangat berat. Selain itu, pria itu memang tidak pernah suka melihat suatu ketidak adilan dan kezaliman jadi wajar jika Tuhan memberikan gelar itu padanya. Seorang pria  mengenakan batu akik di lima jarinya, dengan sangat angkuh ia berjalan menghampiri Zein dan teman-temannya, dia tanpa permisi mendudukkan diri di depan sang putra mahkota Bintang Tenggara. “Kau memiliki leluhur seorang kakek berjubah putih, energimu 92%, kau didampingin oleh seekor harimau putih, buaya putih. Kau juga didampingi oleh ratu pantai selatan. Aku yakin kau adalah titisan dari Arjua,” kata pria itu sambil memperhatikan sang putra mahkota. Brus… Arya tersedak karena mendengar capan manusia aneh tersebut, mana ada seorang Zein Zulkarnain dianggap titisan Arjuna. Apakah dia sudah gila? Zein hampir saja tersedak makanan, rasanya sangat aneh kala dirinya dianggap titisan dari Arjuna, dari dulu dirinya juga itu turnan raja Ilyasa bukan Arjuna. “Kamu masih memiliki hubungan dengan raja Ilyasa,” kata pria memakai batu akik tersebut. Zein tersenyum, kalau ini memang sangat benar karena ia adalah putranya. “Kamu anak dari selir Kausi, selir kesayangannya. Itu artinya kamu adalah sadaraku, karena aku adalah putra raja Ilyasa dari ratu Bilqis.” Dengan penuh percaya diri orang tersebut mengaku menjadi anak ratu. “Oh, kalau begitu, apa yang sudah kamu lakukan untuk mengambil kembali kerajaan Bintang tenggara dari raja Ka Lenan? Apa yang kamu lakukan saat ayah dan ibumu tersakiti bahkan ayahmu terbunuh?” tanya Zein menahan emosi. “Sayangnya waktu itu aku berada di luar istana, kalau saja aku ada. Mungkin aku bisa menolong ayah dan ibu,” jawab orang tersebut. Brak… Zein menggerbrak meja, ia tak tahan lagi dengan kebohongan pria di depannya tersebut. Mengaku sebagai putra mahkota kerajaan Bintang tenggara tapi banyak alasan,”kamu jangan suka mengaku yang bukan milikmu. Harusnya kam tahu, siapa nama putra mahkota kerajaan Bintang tenggara, putra dari raja Ilyasa dan ratu Bilqis. Bukan hanya mengaku,” desisnya. “Aku tahu, kamu juga sangat penasaran. Namaku adalah Zein Zulkarnain, aku adalah satria tersembunyi yang dicari itu.” Zein hampir saja ingin membunuh manusia tersebut, ia tidak terima kalau ada orang mengaku-ngaku sebagai dirinya tapi Mahesa dan Yuda menahannya. Bagaimana pun juga mereka tidak ingin terjadi sesuatu dengan putra mahkota Bintang tenggara yang asli. “Ah.” Mahesa tersenyum palsu, kalau memang ada orang yang suka rela mengaku sebagai seorang Zein zulkarnain bukankah itu tidak masalah? Dengan begitu mereka akan lebih leluasa untuk berjalan di bumi tanpa harus ada yang berusaha melukai. “Eheheh, kalau memang pangeran Zein ini sungguh seorang satria tersembunyi. Artinya aku memang harus mengatakan pada semua orang kalau sekarang pangeran Zein Zulkarnain sudah ditemukan. Kamu harus merebut kembali hak mu sebagai seorang putra mahkota,” katanya penuh semangat meski sebenarnya dalam hati dia sangat ingin menertawakan. “Benar, aku sangat berterimakasih kalau kau bersedia percaya padaku,” kata orang tersebut.  “Jangan percaya diri dulu, dia ini adalah Mahesa Jenar. Pengawal pribadi seorang Zein Zulkarnain di waktu kecil, apakah kamu tidak mengenalnya?” celetuk Yuda. Membuat orang tersebut syok, ia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang ada di depannya adalah pengawal pribadi Zein zulkarnain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN