Dijual Ayah Atas Izin Ibu
"Delima, kamu harus mengerti. Ini untuk kebaikan keluarga kita," kata Pak Irwan dengan nada memohon, meski wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa bersalah.
Delima menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya. Air matanya mulai menggenang.
"Jadi, Ayah benar-benar menjual aku sama lelaki itu? Untuk melunasi hutang yang bahkan bukan salahku?"
Ibunya Delima mencoba menengahi.
"Delima, ini bukan soal menjual. Kamu hanya... menikah dengannya. Dia bersedia menanggung hutang keluarga kita. Ini satu-satunya cara agar kita gak kehilangan rumah."
"Menikah?" Delima hampir tertawa mendengar kata itu.
"Kalian pikir ini pernikahan biasa? Aku tau siapa dia! Nando itu pemimpin geng. Dia penjahat! Orang-orang takut sama dia!"
Delima menggelengkan kepala. Tubuhnya gemetar antara marah dan takut.
"Aku gak akan menikah dengan lelaki seperti itu!"
Tiba-tiba pintu ruang tamu berderit pelan dan suara berat menghentikan percakapan.
"Kalian membicarakan Bos Nando?"
Suara itu datang dari Elang, salah satu kaki tangan Nando yang baru saja masuk. Lelaki itu datang diiringi dua pria berperawakan besar di belakangnya.
Mata Elang yang tajam menatap Delima. Sementara rambut panjang yang berantakan menambah kesan menyeramkan.
Delima mundur satu langkah. Tangannya menggenggam erat sisi roknya.
"Kamu..." suara Delima terputus, tertelan rasa takut yang mencengkeram.
"Bos Nando sudah membayar hutang keluargamu. Jadi--"
Elang mengucapkannya dengan nada datar. Namun, setiap katanya terdengar seperti ancaman.
"Jadi ... mulai sekarang kamu menjadi miliknya."
"Miliknya?"
Delima terbata-bata, tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Gadis itu menatap ayah dan ibu, berharap mereka akan membela dirinya.
Sayangnya, Pak Irwan hanya menunduk. Sementara sang ibu mengalihkan pandangan, terlalu malu untuk menghadapi tatapan putrinya.
Elang mendekati Delima. Langkahnya perlahan tapi pasti, membuat jantung gadis itu berdetak semakin cepat.
"Kami gak butuh persetujuan kamu. Kesepakatan sudah dibuat. Kamu akan ikut dengan kami malam ini."
"Gak! Aku gak akan pergi dengan kamu!" seru Delima. Suaranya bergetar tapi tetap tegas.
Delima mencoba berlari ke arah pintu. Namun dua pria yang berdiri di belakang Elang langsung menghalanginya.
"Delima, cukup!"
Suara Pak Irwan terdengar lebih keras dari biasanya, membuat Delima berhenti di tempatnya.
"Kamu gak punya pilihan. Kami gak punya pilihan. Kamu harus patuh!"
Air mata Delima akhirnya jatuh membasahi pipi. Isaknya mulai terdengar lirih. Rasa kecewa kepada ayahnya tiba-tiba menghantam d**a.
"Kenapa, Ayah? Kenapa aku yang harus menanggung semua ini? Bukankah kalian yang membuat hutang itu? Kenapa bukan Ayah yang pergi dengannya?"
Pak Irwan hanya bisa terdiam. Wajahnya penuh rasa bersalah.
Elang, yang berdiri beberapa langkah dari Delima, mengangkat tangan. Lelaki itu memberi isyarat kepada teman-temannya untuk mundur.
"Sudah cukup dramanya," kata Elang dengan nada dingin. "Kita pergi sekarang."
Elang meraih pergelangan tangan Delima. Namun, gadis itu berontak dengan sekuat tenaga.
"Jangan sentuh aku!" teriaknya.
"Kalau kamu terus melawan, aku bisa membuat ini jauh lebih sulit," balas Elang dengan suara rendah yang terdengar mengancam.
"Tapi kalau kamu menurut, kami tidak akan melakukan kekerasan."
Kata-kata itu membuat Delima terdiam sejenak. Dia menatap Elang, mencari kebohongan di balik matanya. Namun yang gadis itu temukan adalah keteguhan.
Elang tidak terlihat seperti sedang bercanda. Dan entah kenapa, Delima percaya bahwa ia benar-benar tidak akan memaksa lebih jauh... untuk saat ini.
"Delima, pergilah," lirih sang ibu akhirnya. "Kita gak mau membuat Bos Nando marah."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Delima berhenti melawan. Ia membiarkan Elang menggenggam lengannya. Lalu, membawanya keluar dari rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
Saat Delima melangkah keluar, ia merasa seperti sedang meninggalkan segalanya. Keluarga, kehidupan, dan mungkin juga kebebasannya.
Mobil hitam besar menunggu di depan rumah, dengan pintu yang sudah terbuka. Delima menaikinya tanpa perlawanan. Gadis itu duduk di kursi belakang, sementara Elang duduk di sebelahnya.
Selama perjalanan, mereka tidak berbicara. Hanya ada keheningan, diselingi suara deru mesin mobil. Setelah beberapa waktu, Delima akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.
"Kenapa Nando memilihku? Dari semua orang, kenapa aku?"
Elang menoleh padanya dengan wajah tetap tanpa ekspresi.
"Bos Nando gak memilih kamu, Delima. Dia memilih untuk melunasi hutang keluargamu. Kamu adalah bagian dari kesepakatan itu."
Jawaban itu membuat Delima merasa semakin marah dan terhina.
"Jadi aku hanya barang, begitu? Sesuatu yang bisa dia beli?"
Elang mengangkat bahu.
"Kalau kamu melihatnya seperti itu, kami gak peduli. Tapi selama kamu tinggal di rumahnya, kamu akan aman. Asal jangan macam-macam."
Pernyataan itu membuat Delima merasa merinding.
"Dia benar-benar monster," katanya pelan, hampir seperti bisikan.
"Dan kau lebih bodoh dari yang kami kira," balas Elang dengan suara yang tetap datar.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar yang tampak suram. Rumah itu dikelilingi pagar tinggi, dengan beberapa pria berjaga di gerbang. Delima merasa seperti masuk ke dalam penjara.
"Selamat datang di rumah barumu," kata Elang sambil membuka pintu mobil dan turun. Ia memberi isyarat kepada Delima untuk ikut.
Delima melangkah keluar dengan ragu. Matanya mengamati lingkungan sekitar. Ia bisa merasakan tatapan tajam para penjaga yang mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki.
"Jangan takut," kata Elang dengan nada yang hampir terdengar seperti ejekan.
"Gak ada yang akan menyakitimu... kecuali Bos Nando yang memerintahkan mereka."
Delima menatapnya dengan penuh kebencian.
"Nando benar-benar lelaki yang menjijikkan."
Elang hanya tersenyum tipis mendengar itu.
"Kamu belum tahu separuhnya, Delima."
Saat mereka masuk ke dalam rumah, Delima langsung merasakan suasana dingin dan tidak bersahabat. Dindingnya berwarna gelap, dengan sedikit sekali hiasan yang membuat tempat itu terasa hidup.
Delima berdiri canggung di tengah ruang tamu, tidak tahu harus berbuat apa.
"Kamar tidurmu ada di lantai atas," kata Elang sambil menunjuk tangga.
"Kami gak akan ganggu kamu. Tapi jangan berbuat seenaknya. Kamu tinggal di sini karena kesepakatan. Jangan mencoba melarikan diri, karena kamu gak akan berhasil."
Delima mendongak, menatap Elang dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa Nando melakukan ini? Apa dia benar-benar gak punya hati?"
Untuk pertama kalinya, Elang terlihat sedikit terkejut. Ia menatap Delima selama beberapa detik sebelum menjawab.
"Hati?"
Elang tertawa kecil. Suara tawanya terdengar pahit.
"Hati gak akan membuatmu bertahan di dunia ini. Kamu akan mengerti itu cepat atau lambat."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Elang berbalik dan meninggalkannya sendirian di ruang tamu. Delima merasa kakinya lemas. Gadis itu hampir terjatuh. Air matanya mulai mengalir lagi.
Delima duduk di ruang tamu yang sunyi, ditemani gemeretak jam dinding yang terasa memekakkan telinga. Hatinya bergemuruh, penuh rasa takut dan kebingungan.
Belum lama dia tiba di rumah besar ini. Namun atmosfernya sudah menekan. Seperti jerat yang siap mengikat kapan saja.
Tiba-tiba, langkah berat mendekat dari arah pintu depan. Suara sepatu membentur lantai marmer menggetarkan udara di sekitarnya.
Delima meneguk ludah, memeluk tubuhnya sendiri untuk menenangkan diri. Namun, semua itu sia-sia saat pintu terbuka dan sosok itu muncul.
Nando.
Lelaki itu tinggi dan tegap, dengan wajah penuh bekas luka yang menambah kesan menyeramkan. Matanya gelap, tajam seperti belati yang siap menembus pertahanan siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama.
Nando mengenakan jaket kulit hitam yang tampak sudah usang, tapi tetap memberikan kesan berwibawa. Delima hampir terlonjak mundur saat lelaki itu berjalan mendekat.
"Jadi, ini gadis yang mereka serahkan?"