Alya membuka jendela kamar Alya, lalu membangunkan putrinya itu. ia mengguncang bahu Ara pelan. “Ra, bangun! Udah siang.” Ara hanye bergumam pelan sebelum akhirnya kembali pulas. Tumben sekali Ara susah dibangunkan. Biasanya gadis itu akan bangun lebih awal. Apa semalam Ara bekerja sampai larut malam? Tapi Alya ingat semalam Ara pulang ke rumah jam sepuluh malam. Itu tidak terlalu malam untuk ukuran seorang Ara yang kadang bisa lembur sampai jam 3 pagi. “Kamu enggak mau sarapan?” tanya Alya lagi. Ara tidak menjawabnya. Wanita itu hanya bisa geleng-geleng kepala, kemudian pergi dari kamar putrinya. ketika ia turun ke bawah, Marcela dan Arden sudah berada di meja makan. Keduanya tengah membantu Bibi merapikan meja makan untuk sarapan. “Ara mana, Ma?” tanya Marcela yang tidak melihat Ara

