Ara mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya terasa pening. Ia bangkit dari tempat tidur lalu melirik ke arah kanan-kiri. Matanya langsung melotot kala mendapati bahwa dia tidak sedang berada di kamarnya ataupun di butiknya. Ara langsung berdiri, namun karena sakit kepala tiba-tiba menyerang gadis itu hampir tumbang kalau saja Gama tidak cepat menahannya. “Ra, gapapa? Mana yang sakit?” tanya Gama khawatir. Ara langsung mendorong pria itu. “Lo ngapain?! Kok, lo bisa ada di sini?! Gue di mana?!” pekik Ara. “Ra, tenang.” Tak lama, Arden keluar dari kamar mandi. “Ini semua gara-gara lo mabuk! Lagian gaya apa, sih, lo, pakai mabuk segala?” omel pria itu menatap Ara. “Nah, lo kenapa ada di sini?” “Ya memang kenapa? Suka-suka gue dong,” balas Arden. Ara memijat pelipisnya. Ia ingat

