DELAPANBELAS

2062 Kata
〰〰〰〰〰 Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Nevan langsung menarik lengan Nessa dan membawanya keluar kelas. Ardo yang melihatnya langsung mempercepat gerakannya memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan mengejar Nessa yang di bawa kabur oleh saudara kembarnya. "Nessa. Tunggu!!". Teriak Ardo saat mendapati Nessa dan Nevan berjalan di koridor kelas. Langkah keduanya terhenti tapi Nevan kembali melangkah dan mau tak mau Nessa ikut terseret langkah Nevan. "Nevan. Lepasin! Sakit tau!". Seru Nessa sambil mengimbangi langkah Nevan yang lebar. Sesekali ia menolehkan kepalanya ke belakang, melihat Ardo yang masih mengejar langkah mereka. "Nevan berhenti!!". Seru Ardo lagi. Nevan kembali menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ardo yang berjalan ke arahnya. Nafas Nessa sedikit ngos-ngosan. Beruntung Ardo bisa menghentikan langkah Nevan. "Apa?". Tanya Nevan dingin. Pandangan matanya lurus menatap mata hitam Ardo. "Mau lo bawa kemana cewek gue?". Tanya Ardo balik sambil membenarkan letak ranselnya yang menyampir di pundak kanannya. Nevan menoleh ke arah Nessa sebentar dan kemudian menatap Ardo lagi. "Cewek lo? Dia sodara kembar gue dan dia lebih berhak sama gue!". "Tapi dia cewek gue. Lagian bokap kalian udah ngerestuin hubungan gue sama Nessa. Lalu apa masalah lo?". Nevan maju selangkah mendekat ke arah Ardo, membuat Nessa sedikit was-was. Takut jika Nevan akan melayangkan pukulannya. "Nevan...lepasin!". Pinta Nessa lirih tapi sama sekali tak di gubris oleh Nevan. "Status kalian cuman pacaran. Jangan lupa soal itu!". Nevan kembali menyeret Nessa. Tapi Ardo langsung berlari dan mencegat langkah Nevan. "Mau apa lagi?". "Gue emang masih pacarnya Nessa. Tapi gue juga berhak tau kemana dia pergi!". Nevan mencetak senyum miringnya mendengar penuturan Ardo. "Gue mau bawa dia kemanapun itu terserah gue. Lo nggak usah sok care sama dia. Bokap gue emang setuju kalian pacaran tapi inget. Di sini masih ada gue. Gue lebih berhak atas dia, bukan 'elo'!". Nevan menunjuk d**a Ardo dengan jari telunjuknya dan mendorongnya ke belakang. Satu langkah Ardo mundur ke belakang. Di liriknya Nessa yang tampak menahan sakit di pergelangan tangannya karena cengkraman tangan Nevan. "Apa seperti itu cara ngelindungin orang yang lo sayangi? Dengan cara nyakitin dia?". Telunjuk Ardo mengarah ke pergelangan tangan Nessa. Nevan ikut menoleh dan seketika ia melepaskan tangannya dari lengan Nessa. "Berhenti bersikap kayak anak kecil. Gue bukan barang yang harus jadi rebutan. Gue punya hak buat nentuin sama siapa gue ngerasa nyaman. Gue muak sama tingkah kalian!". Setelah mengatakan itu Nessa langsung pergi, sesekali berlari kecil. Nevan mendengus pelan. "Urusan kita belum selesai, Bung!". Ucapnya dan langsung mengejar langkah Nessa. Nevan mencari di parkiran tapi nyatanya Nessa tak ada di sana. Nevan lalu berlari ke depan, melewati pagar sekolahnya. Di lihatnya Nessa masuk ke dalam taxi dan secepat kilat taxi itu meluncur meninggalkan area sekolahnya. "s**t!!". Umpat Nevan sambil menendangkan kakinya ke udara. Ia kembali ke parkiran dengan langkah cepat. Di sana, di sebelah mobilnya sudah ada Alya. Ia hampir lupa jika kegiatan barunya adalah mengantar jemput Alya. "Habis dari mana? Gue tadi liat lo lari-lari?". Tanya Alya saat mereka sudah duduk bersebelahan di dalam mobil. Nevan tak langsung menjawab. Ia melajukan mobilnya. Pikirannya kacau. Memikirkan tentang Nessa. "Al...kayaknya kita nggak bisa kayak gini terus!". "Maksudnya?". Nevan mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan. "Gue nggak bisa pura-pura setuju sama perjodohan ini. Gue emang nyaman sama lo tapi gue lebih nyaman sama Nessa!". Alya menunduk. "Gue akan cari tau kenapa gue sama Nessa beda. Dengan gitu gue bisa mengambil langkah selanjutnya!". "Langkah? Langkah apa yang lo maksud?". Nevan sama sekali tak menatap ke arah Alya, melirikpun juga tidak. "Langkah untuk mertahanin dia atau ngelepasin dia untuk orang lain!". Hati Alya sedikit sakit mendengarnya. Sebesar itukah rasa cintanya untuk Nessa?. "Gue paham. Gue juga nggak bisa maksa orang lain untuk suka sama gue. Gue akan lebih bahagia jika gue bisa melihat orang yang gue sayangi bahagia!". Kali ini Nevan menatap sebentar ke arah Alya. Alya mengangkat kepalanya dan membalas tatapan mata Nevan. Ia tersenyum lembut walaupun hatinya terasa teriris. 〰〰〰〰〰 "NESSA??". Begitu pintu terbuka Nessa langsung menubruk wanita di depannya. "Tante Maura. Biarin Nessa di sini dulu. Nessa nggak mau pulang ke rumah!". Maura mengernyit mendengar ucapan Nessa. Ia lalu mengelus rambut Nessa dan membawanya masuk. "Duduk sini dulu. Bilang sama Tante kenapa kamu nggak mau pulang?". Nessa mengurai pelukannya lalu menyeka air matanya. Menatap ke arah Maura yang tersenyum lembut ke arahnya. Sejenak Nessa terpaku saat menatap manik mata cokelat itu. Mata yang begitu teduh dan penuh kasih. "Boleh Nessa peluk Tante lagi?". Entah kenapa justru kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. Maura tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya. "Kapanpun Nessa mau!". Mereka berpelukan dan Maura terus mengusap punggung Nessa. Nessa sendiri merasakan hangat di sekujur tubuhnya. Baru kali ini ia merasakan nyaman seperti ini. Walaupun Mamanya sering memberinya pelukan tapi entah kenapa pelukan Maura terasa berbeda. Tak lama kemudian Alya dan Nevan muncul. Mereka tampak kaget saat melihat Nessa tengah memeluk Maura. Saat melihat kedatangan Alya dan Nevan, Maura perlahan melepas pelukannya. "Eh kalian sudah dateng. Ayo duduk dulu. Nevan duduk dulu ya, Tante bikinin minum!". Nevan hanya mengangguk. Sementara Nessa terlihat sibuk menyusut air matanya. Nevan mengambil duduk di seberang Nessa sementara Alya memilih masuk ke kamar dulu untuk mengganti bajunya. Sepeninggal Maura dan Alya, Nevan terdiam menatap gadis di depannya. Pandangan matanya menatap lurus ke arah Nessa. "Kenapa nggak pulang?". Tanya Nevan lirih. Nessa hanya menggelengkan kepalanya tanpa berani mengangkat kepalanya, menatap Nevan. "Mulai besok dan seterusnya, lo berangkat sekolah bareng gue!". Seketika Nessa mengangkat kepalanya. Baru saja ia akan menjawab pernyataan Nevan tapi Maura datang dengan membawa baki berisikan 3 gelas jus jeruk. "Minum dulu ya Van!". Kata Maura sembari meletakkan gelas itu satu peesatu di atas meja. "Makasih Tante!". Ucap Nevan. "Nggak usah sungkan-sungkan. Anggep aja rumah sendiri. Kan sebentar lagi kalian akan--!". "Maaf Tan!". Sela Nevan cepat. "Sebenarnya ada hal penting yang ingin saya sampaikan!". Maura menatap Nevan dengan kening mengernyit. "Soal apa?". "Ini....soal saya dan Alya!". Jelasnya pelan sambil melirikkan matanya ke arah Nessa. "Maaf Tan. Sepertinya saya nggak bisa nerusin rencana Tante sama Mama. Saya nggak bisa pura-pura menyukai seseorang. Bagi saya itu hal paling sulit dalam hidup saya. Apalagi Alya juga tau kalau saya tidak menyimpan rasa untuknya!". Sekilas pandangan mata Maura melirik ke arah Nessa yang langsung menundukkan wajahnya. Maura tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. "Tante ngerti sama perasaan kamu, Nevan. Tapi nggak seharusnya kamu menyukai saudara kembar kamu sendiri kan? Ingat. Nessa itu orang yang harus kamu lindungi dan cintai, hanya sebatas saudara. Tante bisa menerima kalau kamu menolak perjodohan ini tapi bagaimana dengan orang tua kalian?" "Nanti biar Nevan yang ngomong sama Papa Mama, Tan. Nevan cuman mau jujur sama Tante. Nevan nggak mau ngecewain Tante dan Alya, dengan berpura-pura menyukai Alya!". Maura mengangguk lagi. Ia lalu mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan pelan. "Semoga Alya bisa berlapang d**a dengan keputusan yang kamu ambil!!". Nevan kini yang menganggukkan kepalanya. "Kalo gitu Nevan pamit, Tan. Sekalian mau bawa Nessa pulang!". "Boleh!". Sahut Maura cepat. Ia lalu menatap ke arah Nessa yang sedari tadi diam. "Nes, kamu sebaiknya pulang ya. Takutnya nanti orang rumah kuatir. Tante bukannya ngusir kamu sayang, tapi sebaiknya kamu pulang dulu ya. Mama kamu pasti kuatir kalo Nevan pulang nggak sama kamu!". Nessa mengangguk patuh lalu berdiri dari sofa di ikuti Nevan dan Maura. Setelah Nevan pamitan , ia langsung membawa Nessa pulang ke rumah. Seorang gadis yang kini berdiri di balik tembok yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang tengah. Ia hanya bisa menahan sesak di dadanya. Tangannya terulur menyeka pipinya yang sudah basah. 〰〰〰〰〰 Mela dan Aldi duduk bersebalahan di ruang makan. Sementara Nevan dan Nessa duduk di depan mereka. Sedari tadi Nessa hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa sedikitpun memasukkan ke dalam mulutnya. "Kamu kenapa sayang? Kok nggak di makan? Kamu sakit?". Tanya Mela yang sadar keanehan pada diri Nessa. "Nessa nggak nafsu makan Ma!". Jawabnya pelan. Nevan hanya menoleh sebentar dan kembali sibuk dengan sendok garpu di kedua tangannya. "Kamu sakit? Besok ijin nggak masuk sekolah aja. Besok ke Dokter ya!". Nessa menggeleng pelan. "Nessa cuman sedikit pusing Ma!". "Minum obat kalo emang sakit, Nes!". Kali ini suara Aldi ikut menyahut. "Iya Pa. Nanti Nessa minum obat!". Akhirnya dengan terpaksa Nessa memasukkan nasi itu ke dalam mulutnya. Mengunyahnya pelan dan menelannya dengan susah payah. 〰〰〰〰〰 Acara makan malam selesai sudah. Mela dan Nessa tampak sibuk di dapur membereskan beberapa peralatan makan. Sementara Aldi duduk di ruang tengah menikmati teh hangatnya sambil menikmati siaran tv. "Pa. Ada yang pengen Nevan bicarain sama Papa dan Mama!". Ucap Nevan dingin. Aldi menoleh dan menyuruh Nevan duduk di sebelahnya. Mela yang mendengar suara itu langsung menghentikan aktifitasnya dan mengajak Nessa menyudahi pekerjaan mereka. Nessa sedikit ragu untuk bergabung dengan mereka. "Pa. Ma. Nessa ke kamar dulu ya. Nessa mau belajar!". Pamitnya. "Iya sayang---!". "Tunggu!". Nevan dengan cepat memotong perkataan Mela. "Nessa duduk dulu. Ini hal penting. Jadi Nevan harap semuanya berkumpul di sini!". Aldi dan Mela saling berpandangan lalu akhirnya memilih menunggu apa yang akan di sampaikan Nevan. Nessa perlahan duduk di sofa dengan posisi agak jauh dari Nevan. Tangannya saling berkaitan, sesekali meremasnya. Ia takut jika Nevan akan mengatakan hal yang membuat Aldi dan Mela marah. "Tadi siang Nevan ke rumah Tante Maura!". Nevan menghentikan kalimatnya dan sejenak menatap ke arah Nessa. Nessa menggeleng pelan, memberi kode untuk Nevan. "Maafin Nevan Pa. Ma. Nevan nggak bisa nerusin perjodohan ini. Nevan nggak bisa pura-pura suka sama Alya. Tante Maura udah tau dan beliau mengerti!". Aldi tampak syok dengan keputusan yang Nevan ambil secara sepihak. "Kenapa kamu nggak ngomong dulu sama Papa?". "Maaf Pa. Nevan udah mikir dari kemarin dan Nevan benar-benar nggak bisa menuhin permintaan Papa sama Mama!". "Apa alasan kamu menolak perjodohan ini?". Tanya Aldi lagi. "Sepertinya Nevan nggak perlu jelasin lagi alasannya. Nevan rasa Papa Mama tau alasannya!". Nessa langsung menundukkan wajahnya. "Apa karena Nessa?". Suara Aldi begitu dingin dan tegas. Membuat airmata Nessa luruh seketika. Badannya sedikit gemetar. Mela perlahan menoleh ke arah Nessa. "Iya!". Sahut Nevan tak kalah tegasnya. Aldi menghela nafas panjang dan membuangnya dengan cepat. "Kamu sadar sama apa yang kamu bicarain Demitrio Nevan Valeska?". Suara Aldi begitu terdengar menggema di seluruh ruangan tapi Nevan sama sekali tak gentar. Ia tetap mengangkat kepalanya, menatap ke arah Aldi. "Nevan sadar Pa. Nevan sangat menyayangi Nessa. Nevan sangat mencintai Nessa. Jadi Nevan mohon restuin hubungan kami!". Aldi terkekeh pelan. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Papa ngerti sama apa yang kamu rasain Nevan. Papa bisa memakluminya. Kamu masih labil jadi Papa pikir, rasa cinta kamu itu hanya cinta monyet. Papa tau, kamu begitu sayang sama Nessa. Nessa juga pasti sayang sama kamu. Tapi kalian jangan sampai salah mengartikan rasa sayang itu. Ingat Nevan. Kalian itu saudara. Kembar. Sedarah!". Kini Nevan yang tersenyum miring. "Kalau Nessa ternyata bukan saudara Nevan? Apa Papa dan Mama bakalan setuju sama hubungan ini?". "Kamu ngomong apa Nevan?". Pekik Mela. Ia begitu terkejut dengan perkataan Nevan. "Tanya aja sama Nessa, Ma. Nevan punya alasan kenapa Nevan bisa ngomong kayak gini sama Mama dan Papa!". Kini Aldi dan Mela serempak menoleh ke arah Nessa yang terlihat menunduk dan menangis. Mela lalu pindah duduk di sebelah Nessa dan merangkul pundaknya. "Sayang. Sebenarnya apa yang terjadi?". Nessa terdiam dan semakin menundukkan kepalanya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir tipis Nessa. "Nes. Bisa kamu jelasin maksud Nevan?". Aldi ikut bertanya tapi sama sekali tak ada respon dari Nessa. Nevan mulai bosan. Akhirnya ia mengatakan hal yang sebenarnya. Yang membuat Aldi dan Mela malah tertawa. "Darah Nessa beda sama Nevan. Itulah alasan Nevan mencintai Nessa!". Melihat kedua orang tuanya tertawa, Nevan semakin bingung. Apalagi Nessa yang sedari tadi menunduk kini mengangkat kepalanya, menatap Aldi dan Mela bergantian. Lalu menatap Nevan yang juga terlihat bingung, sama halnya dengan dirinya. "Kamu ini ngomong apa sih Van!?". Ucap Aldi di sela-sela tawanya yang belum mereda. "Emangnya anak kembar itu golongan darah harus sama?". Sambungnya. "Nevan. Nevan. Jadi alasannya ini kenapa kamu sampe suka sama Nessa?". Timpal Mela. "Maksud Papa Mama apa?". Tanya Nevan lirih. Aldi berusaha meredakan tawanya dan menjelaskan kepada Nevan. "Dengerin Papa, Van. Papa sama Mama ini golongan darahnya beda. Mama A, Papa O. Jadi mungkin aja Nessa sama kayak Papa atau Mama mungkin. Nevan...Nevan...!". Aldi terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Mela sudah berhenti tertawa. Nevan tampaknya tak kehabisan akal. Ia lalu beranjak dari sofanya. Berdiri secara tiba-tiba membuat semua mata tertuju ke arahnya. "Baiklah kalo gitu kita tes DNA. Buat ngebuktiin siapa Nessa sebenarnya!". 〰〰〰〰〰
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN