TUJUHBELAS

1969 Kata
〰〰〰〰〰 Nessa menarik tangannya dari genggaman tangan Nevan. "Jangan mulai lagi Van. Please!!". Nessa menundukkan wajahnya. Rasanya ia tak bisa lama-lama menatap mata elang itu. Nessa lalu memutar tubuhnya lagi menghadap cermin meja riasnya. "Sebaiknya lo keluar sebelum Mama dateng dan marah lagi kayak kemaren!". Nevan menghela nafas pelan dan masih duduk di tepi kasur Nessa. "Gue cuman pengen tau aja. Apa yang gue rasain, lo juga ngerasain nggak?". Nessa memilih diam. Hening beberapa menit dan akhirnya Nessa memilih keluar dari kamarnya, meninggalkan Nevan. Nevan kembali menghela nafasnya. "Gue nggak tau kenapa gue begitu sayang sama lo, cinta sama lo. Harusnya itu emang nggak boleh terjadi, tapi semakin gue pengen ngindar, rasa ini semakin kuat. Gue butuh jawaban kenapa gue bisa segini cinta sama lo!". Gumamnya lirih dengan pandangan mata menatap daun pintu kamar Nessa yang terbuka. Nevan tersenyum simpul saat mengingat kebersamaan mereka. Senyum Nessa, rengekan manja Nessa apalagi saat melihat Nessa tidur di sampingnya. Nyaman melihat orang yang kita sayangi selalu dekat dengan kita. Tapi sekarang berubah. Nevan sudah tidak bisa menatap wajah polos Nessa saat tertidur. Lamunan Nevan tiba-tiba buyar saat ia mendengar hp Nessa berdering pelan. Nevan meraih hp yang tergeletak di atas nakas dan membaca tulisan yang terpampang di benda pipih itu. Alya calling... Nevan mendengus pelan. Untuk apa Alya menelpon Nessa? Akhirnya Nevan memilih untuk mendiamkannya sampai akhirnya panggilan itu berhenti. Nevan kembali meletakkan hp itu di atas nakas. Nevan beranjak dari kasur dan siap melangkah keluar kamar. Tapi deringan hp Nessa membuat langkahnya terhenti. Nevan kembali melongok ke arah hp itu. Masih dengan nama yang sama. Alya. Nevan akhirnya memilih meraih hp itu tapi saat ia menggeser tombol hijau dan mendekatkan ke telinganya, panggilan sudah terputus. Terlalu lama Nevan berpikir untuk menerima panggilan itu. Tak lama kemudian ada sebuah pesan masuk. LINE Aulia.Al Kok nggak angkat telpon gue? Aulia.Al Lo lagi sama Nevan ya? Kening Nevan mengernyit membaca pesan itu. Diam-diam Nevan membalasnya. Nessatwin Iya Aulia.Al ? Lo kenapa sih? Aneh tau nggak? Aulia.Al Nggak biasanya lo bales chat gue kayak gini Nessatwin Gpp...lagi males aja Aulia.Al Oooh...gue kirain lo kepikiran Nevan Kening Nevan kembali mengernyit. Nessa kepikiran gue?. Ia lalu kembali membalas chat Alya. Nessatwin Maksud lo? Hampir 2 menit Nevan menunggu balasan dari Alya. Aulia.Al Kayaknya lo mending jujur deh sama Nevan. Ini soal rumit Nes. Gue yakin Nevan bakalan bantuin kita Nevan tertegun membaca pesan itu. Ia berpikir. Hal apa yang di sembunyikan Nessa darinya. Nessatwin Soal apa? Aulia.Al ??? Are u kidding me? Jangan sampe karena masalah ini lo jadi lemot kayak gini deh Nes. Nessatwin Sorry... Aulia.Al Udah seharusnya Nevan tau soal ini Nes... Nggak selamanya lo nyembunyiin ini dari keluarga lo Aulia.Al Atau gue aja yg ngomong sama Nevan klo darah kalian itu beda? Darah? Maksud Alya darah apa? Nevan kembali meletakkan hp Nessa ke tempatnya. Sudah cukup. Dan sepertinya Nevan harus mencari tau apa maksud Alya. Dengan langkah lebar Nevan meninggalkan kamar Nevan. Tapi sebelumnya ia sudah menghapus chat dari Alya. Semoga Nessa tidak tau. Harapnya dalam hati. Saat langkah Nevan sampai di ruang tengah tiba-tiba pandangan mereka bertemu. Nessa yang sedang menonton tv langsung mengalihkan pandangannya saat menyadari kedatangan Nevan. Tapi sedetik kemudian ia kembali sibuk dengan tv di depannya. Nevan hanya menatap dingin ke arah Nessa. Ia menatap Nessa dengan sorot mata tajamnya lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya. "Kenapa tuh anak. Kesambet kali ya?". Gumam Nessa lirih. 〰〰〰〰〰 Seperti biasanya. Nessa lebih memilih berangkat di jemput Ardo dan Nevan dengan terpaksa menjemput Alya. Untuk kedua kalinya. Tapi pagi ini Nevan sedikit tidak terpaksa. Karena sejak semalam ia memikirkan pesan Alya untuk Nessa. Darah. Kata-kata itu terus mengingang di telinga Nevan. Alya sudah duduk manis di bangku penumpang sebelah Nevan. Perlahan Nevan melajukan mobilnya. Ia gelisah dan sesekali melirik ke arah Alya. "Ada apa Van? Kok kayaknya lo...nggak nyaman jalan sama gue. Kalo lo ngerasa ini beban, gue bisa kok berangkat sendiri. Jadi lo nggak perlu--!". "Bukan soal itu!". Potong Nevan cepat. Alya hanya mengernyit mendengarnya tapi perlahan senyumnya terukir. Ia kira Nevan akan merasa keberatan dengan aktifitas barunya. Mengantar jemput Alya pergi ke sekolah. "Ada hal yang pengen gue tanyain sama lo!". "Apa?". Tanya Alya dengan memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Nevan. "Ini...soal chat lo sama Nessa kemarin!". "Chat?". Cicit Alya pelan. Ia memutar bola matanya ke bawah, mengingat kejadian kemarin. "Gue nggak ngerti deh!". "Lo bilang darah gue sama Nessa beda. Apa maksudnya?". Alya langsung menelan salivanya. Dia berpikir. Bagaimana Nevan bisa tau soal itu?. "Lo pasti kaget kenapa gue bisa tau soal ini?". Tanya Nevan lagi. Alya menganggukkan kepalanya pelan. "Gue yang kemarin chat sama lo pake hpnya Nessa!". Alya langsung memutar tubuhnya perlahan, menghadap ke jendela mobil. Bola matanya memutar kesana kemari, bingung harus berkata apa lagi. "Maksud lo apa ngomong kayak gitu. Darah apa yang lo maksud?". Alya semakin bingung. Ia sama sekali tak menyangka jika Nevan akan mengetahui hal ini. Lalu apa yang harus ia lakukan? CKIIIT!! Nevan menginjak pedal rem secara tiba-tiba. Alya yang sedari tadi tidak memakai sabuk pengaman hampir saja tubuhnya menubruk dashboard mobil Nevan. "Kenapa berhenti di sini Van?". Alya menoleh kesana kemari. "Jelasin sama gue!". Alya tertegun menatap Nevan. Pikirannya kacau. Kalau ia jujur apa reaksi Nessa nanti? Bukankah dia sudah berjanji tidak akan menceritakannya kepada siapapun, termasuk Nevan. "Em..itu..anu...!". Alya menggaruk belakang telinganya. TIN! TIIIIIN! Bunyi klakson mobil di belakangnya tak membuat Nevan menginjak pedal gasnya. Alya semakin panik. Ia bingung tentang darah itu tapi di sisi lain ada banyak orang yang menunggu di belakang. "Nevan jalanin mobilnya sekarang juga!!" Perintah Alya sambil menolehkan kepalanya kesana kemari. Nevan tak bergeming. "Nggak akan sebelum lo jujur sama gue!". "Aaaaargh!!!". Alya berteriak kecil sambil mengepalkan kedua tangannya. "Oke. Oke. Gue bakalan jujur sama lo!". Alya menyerah dan menuruti kemauan Nevan. Nevan tersenyum kecil lalu perlahan menjalankan mobilnya lagi. Tak sulit membuat Alya jujur. "Jadi gimana? Bisa lo cerita sekarang?". Alya mendengus pelan. Nevan benar-benar tak sabar mengetahui hal yang sebenarnya. "Tapi janji jangan bilang Nessa kalo lo tau soal ini dari gue!". Nevan hanya menganggukkan kepalanya saja. Alya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Jadi gini. Sebenarnya darah lo sama Nessa itu beda!". Alya memulai ceritanya. Nevan menoleh sebentar ke arah Alya dengan kening mengernyit. "Maksud gue golongan darah kalian itu beda!". Alya menjelaskan kembali, seakan tau apa yang di pikirkan Nevan. "Kenapa bisa gitu?". Tanya Nevan bingung. "Ya mana gue tau?!". Nevan tiba-tiba teringat sesuatu. Saat Ily bertanya soal perbedaan golongan darah di dalam satu keluarga. Dan ia juga masih ingat apa yang ia jelaskan waktu itu. "Jadi itu alasannya kenapa Nessa nanya soal golongan darah?". Gumam Nevan lirih. "Trus sejak kapan kalian tau soal ini?". Mampus! Seru Alya dalam hati. Ia membenarkan letak duduknya, menghadap ke depan dan menatap lurus ke depan. "Se-sejak lo kecelakaan waktu itu. Waktu Dokter bilang kalo lo butuh darah dan Nessa mau donor buat lo tapi kata Dokter darah kalian nggak sama!". "Trus? Siapa yang nolongin gue waktu itu?". Alya menelan ludahnya pelan. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. "Em....kebetulan golongan darah kita sama jadi gue...yang donor!". Jelas Alya pelan. Nevan seketika menolehkan kepalanya ke arah Alya. Alya langsung menundukkan wajahnya. "Elo??". Tanya Nevan dengan perasaan bingung setengah mati. Bagaimana Alya bisa mendonorkan darahnya. Dan kenapa Nessa tidak sama dengannya? Apa jangan-jangan Nessa bukan kembaran gue? Atau Nessa anak angkat? Trus kenapa Papa Mama bilang kalo gue kembar sama Nessa? Pantesan aja perasaan gue beda sama dia! Nevan mengedipkan matanya berkali-kali. Ia terus menduga-duga dalam hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi? "Van...tolong jangan sampe Nessa tau soal hal ini ya. Please!!!". Pinta Alya. "Sorry Al. Gue nggak bisa janji!". Jawaban Nevan membuat tubuh Alya terasa lemas seketika. Ia hanya bisa pasrah jika Nessa akan marah kepadanya. "Thanks udah nolongin gue waktu itu. Kalo nggak ada lo...mungkin gue nggak akan ada di sini!". Kata Nevan sesaat setelah menghentikan mobilnya di parkiran sekolahnya. Alya mengangguk pelan. Ia lalu turun dari mobil Nevan dan langsung melangkah cepat menuju kelasnya. Secepat mungkin ia menghindari Nevan. Sementara Nevan mengedarkan pandangannya. Menyapu seluruh parkiran sekolahan dan matanya menatap ke arah sebuah motor sport yang terparkir di ujung. Senyumnya terukir. Nevan lalu melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Ingin segera menemui seseorang. Di lihatnya Nessa tampak sibuk dengan hpnya. Nevan melangkah cepat dan langsung duduk di sebelah Nessa. "Morning!". Sapa Nevan. Nessa menolehkan kepalanya ke arah saudara kembarnya. "Pagi juga!". Jawab Nessa pelan lalu kembali fokus dengan hp di tangannya. Nevan menatap ke tempat Ardo yang terlihat kosong. "Mana tukang ojek lo?". Nessa kembali menoleh dengan kening mengernyit. "Tukang ojek siapa maksud lo?". Tanya Nessa balik. "Cowok lo. Siapa lagi. Dia kan yang anter jemput lo tiap hari?". Nevan terkekeh pelan. "Trus apa kabarnya lo? Lo juga sama kan? Anter jemput Alya tiap hari?". Senyum Nevan sirna seketika. "Itu bukan kemauan gue. Kalo bukan karena Mama, gue lebih milih nggak masuk sekolah dari pada tiap hari anter jemput Alya!". Nessa hanya berdecak pelan. Tiba-tiba senyum Nevan kembali tersungging di bibirnya. "Lo cemburu gue deket sama Alya?". Tebaknya. "Ngayal!". "Gue bisa kok berhenti nganter jemput Alya kalo lo yang nyuruh gue!". "Serah lo!". "Bener nih terserah gue?". "Hm!". "Oke. Nanti gue bilang sama Alya biar pulang sendiri sementara lo pulang sama gue!". "NEVAN!". Teriak Nessa gemas. Ia langsung memukul bahu Nevan dengan pelan. "Sumpah nggak lucu!". Nevan malah tergelak. Nessa tampak mengerucutkan bibirnya. "Awas aja kalo lo sampe macem-macem. Lagian gue nanti pulangnya sama Ardo!". "Sama tukang ojek lagi?". Goda Nevan. "Nevan please deh!!". Geram Nessa sambil menatap ke arah Nevan dengan sebal. "Lo tadi makan apaan sih? Kenapa lo jadi ngeselin kayak gini sih? Ardo itu cowok gue bukan tukang ojek!". Nevan mengedikkan kedua pundaknya. Nessa lalu kembali sibuk dengan hpnya. Memainkan sosmed yang ia miliki. "Nessa!". Panggil Nevan pelan. "Hm?". "Apa yang lo sembunyiin dari gue?". Spontan kepala Nessa menoleh. Ia menatap mata Nevan dengan bingung. "Ngomong apa lo barusan?". "Lo nyembunyiin sesuatu dari gue?". Tanya Nevan lagi. Nessa tak merespon. "Kenapa lo nggak jujur sama gue?" "Van lo ngomong apaan sih? Sumpah gue nggak ngerti!". Nessa memasukkan hpnya ke dalam saku bajunya dan beranjak dari tempat duduknya. Tapi dengan cepat Nevan menyambar tangan mungil itu. "Kenapa lo sembunyiin hal penting itu dari gue?". Pertanyaan Nevan membuat Nessa bingung dan takut. Dua perasaan itu tiba-tiba timbul dalam benaknya. "Lepasin Van!". "Duduk Nessa!". "Gue mau keluar. Lepasin!". Nessa mencoba melepaskan tangannya tapi sia-sia. "Duduk Emery!". Kali ini ucapan Nevan lebih dingin. Nessa selalu menurut saat nama depannya di panggil karena ia merasa kali ini Nevab serius dengan kata-katanya. Nessa perlahan duduk lagi di tempatnya tapi Nevan tak melepaskan cengkraman tangannya. Nevan malah menggeser duduknya lebih mendekat ke arah Nessa. "Lo mau jujur sama gue?". Kening Nessa mengernyit. Ia hanya bisa diam karena ia takut akan salah bicara. "Oke. Kayaknya lo tetep nggak mau jujur sama gue!". Nevan menghela nafasnya pelan dan semakin mendekatkan wajahnya. "Lo mengetahui satu hal tapi kenapa lo nggak jujur sama gue?". Nessa mulai jengah dengan omongan Nevan yang berbelit-belit. Ia memutar bola matanya, kesal. "Udah deh Van. Sebenarnya lo itu mau ngomong apa sih? Lepasin. Gue nggak mau kalo Ardo sampe liat!". "Persetan sama cowok lo itu!". Desis Nevan tajam. "Lo tau kan darah kita beda? Kenapa lo nggak ngomong sama gue?". Mata Nessa terbelalak mendengarnya. Ia memutar bola mata kesana kemari. Detak jantungnya kembali bekerja tak normal. Detakkannya lebih cepat. "Gue nggak bermaksud nyembunyiin ini semua dari lo. Karena ini bukan hal yang penting--!". "Ini penting bagi gue Nessa!". Sela Nevan. "Karena gue yang akan mencari tau penyebab perbedaan itu. Dan gue semakin berharap kalo kita nggak ada hubungan darah. Lo pasti tau kenapa gue berdoa kayak gitu. Seperti apa yang pernah gue bilang sebelumnya!". Nessa terdiam. Ia hanya bisa menelan salivanya pelan. "Semoga lo bukan sodara gue, dengan gitu gue bisa milikin lo tanpa ada embel-embel kalo kita kembar!". 〰〰〰〰〰
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN