ENAMBELAS

1284 Kata
〰〰〰〰〰 Rencana mereka tak semulus yang di bayangkan. Setelah mengetahui dimana tempat Nessa di lahirkan, tentunya info dari Mela. Sekarang Nessa dan Alya sedang mencari informasi tentang nama-nama bayi yang di lahirkan di rumah sakit itu 17 tahun yang lalu. Ternyata ini sangat sulit dan tentunya pihak rumah sakit tidak akan memberikan data pasiennya. Nessa bingung harus bagaimana. "Apa gue nyerah aja ya Al?". Gumam Nessa lirih sambil menyesap es jeruk manis di tangannya. Sekarang sudah hampir jam 3 sore. Ia harus segera pulang sebelum Nevan dan Mela khawatir. Karena tadi ia beralasan mengerjakan tugas di rumah Alya. "Gue sih ngikut aja sama lo Nes!". Alya menyahut. "Ngomong-ngomong gue juga lahir di rumah sakit ini---kata Mama!". Spontan Nessa menolehkan kepalanya ke arah Alya dengan kening berlipat-lipat. Alya dan Nessa lahir di tanggal dan bulan yang sama. Dan Alya juga di lahirkan di rumah sakit yang sama dengan Nessa. Jadi secara tidak langsung ia mendapatkan satu informasi mengenai nama bayi yang terlahir di sana. Aulia Rizky Amalya. Nessa masih tertegun menatap Alya. Sampai ia merasakan sebuah tangan melambai-lambai di depan wajahnya. "Nes. Ngelamunin apa?". Pertanyaan Alya membuat Nessa tersadar dan perlahan ia menggeleng. Tidak. Tidak mungkin. Nessa tidak bisa mengambil kesimpulan secepat itu. Ia harus punya bukti yang kuat. Apa ini saatnya ua harus jujur sama Mela soal kejadian di rumah sakit itu? Nessa menyesap lagi es jeruk di tangannya hingga tandas dan membuangnya ke tempat sampah. Ia lalu berdiri sambil merapikan belakang roknya. "Pulang yuk!". Ajak Nessa dan Alyapun mengangguk. Mereka duduk bersebelahan di jok belakang mobil taxi. Nessa lebih dulu turun. Nessa menatap mobil taxi berwarna orange itu. Yang membawa Alya pulang ke rumahnya. Lalu Nessa memutar tubuhnya setelah ia tak melihatnya lagi. Ia melangkah pelan masuk ke dalam rumah dengan berbagai pikiran berkecamuk dalam otak kecilnya. Sebelum Nessa menarik kesimpulan, ia harus mengetahui yang sebenarnya. Kenapa darahnya dan Nevan bisa beda. Nessa masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur single ini. Tangannya meraba-raba tas selempang, merogoh ke dalam dan meraih selembar foto Alya yang tadi ia bawa. Nessa mengamati wajah cantiknya. Hidung mancung. Bibir merah. Alis tebal dan bulu mata lentik---tunggu! Nessa langsung terbangun dari kasurnya dan duduk di tepinya. Bulu mata lentik? Nessa pindah duduk di depan meja riasnya. Mengamati wajahnya. Hidung mancung. Bibir tipis dan merah. Alis juga tebal dan bulu matanya juga lentik. Nessa mendekatkan wajahnya ke cermin besar di depannya. Bulu matanya juga terlihat lentik. Tak puas melakukan hal itu ia meraih kaca kecil dan mendekatkan ke wajahnya. Lebih tepatnya mendekatkan ke mataknya. Mengamati bulu matanya. Ternyata lentik juga. Mirip dengan Nevan. Lalu apa lagi? Tapi Alya juga ada kemiripan dengan Nevan. Kata orang kalau mirip maka artinya mereka berjodoh. Nessa terus bergumam dalam hati. Nessa menghela nafas kasar dan meletakkan kaca kecil itu lagi. Kembali mengamati wajahnya di depan cermin. Mencari-cari cela di wajahnya yang mungkin ada 1 hal yang tidak mirip dengan Nevan. Nessa mendengus kesal saat tak mendapatinya. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu bergerak di belakangnya. Daun pintu kamarnya perlahan terbuka dan kepala Nevan menyembul di baliknya. Belum sempat Nessa memprotesnya dia sudah masuk dan menutup rapat pintu biru itu. "Nevan?". Pekik Nessa lirih dan berbalik menghadap ke arahnya. Laki-laki itu tersenyum lalu melangkah mendekati Nessa. Saat ini jantung Nessa mulai bekerja tak normal. Detakkannya semakin keras. Ada apa ini? Perasaan apa ini? Takut atau apa? Nevan menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di depan Nessa. "Gue kangen sama lo!". Nessa memutar bola matanya dan langsung memutar tubuhnya. Duduk memunggungi Nevan yang kini berdiri di belakangnya. "Nggak usah mulai deh. Gue lagi nggak mau debat sama lo---!". "Gue nggak ngajakin lo debat. Gue cuman ungkapin perasaan gue!". Sela Nevan. Nessa kembali mendengus. Kali ini sangat pelan. "Nevan please. Lo bentar lagi tunangan sama Alya. Dan lo tau kita sodara. Kenapa lo nggak mikir sejauh itu? Papa Mama udah marah dan kecewa sama kita makanya Mama milih jalan kayak gini. Dengan cara jodohin lo sama Alya!". Nevan tampak tak terima dengan penjelasan Nessa. Nevan maju selangkah dan tangannya mendarat di kedua pundak Nessa. Sentuhan tangannya terasa hangat dan menenangkan. Nessa melirik tangannya yang kini bertengger manis di atas bahu kecil Nessa. "Salah kalo gue suka sama lo? Salah kalo gue cinta sama lo--!". "Itu bukan rasa cinta Nevan tapi obsesi. Lo harusnya bisa bedain. Lagian lo udah di jodohin sama Alya dan gue juga udah ada Ardo di sisi gue!". Tiba-tiba Nessa merasakan cengkraman tangan Nevan di bahunya sedikit menguat. Nessa sempat meringis menahannya. "Ardo jangan lo jadiin pelarian, Nes!". Nessa terperangah mendengarnya. Bagaimana mungkin ia menjadikan Ardo pelarian? Sementara dari dulu Nessa sangat menyukai Ardo. "Gue suka sama Ardo. Dari dulu gue suka sama dia. Lo kan tau itu--!". "Suka, cinta sama sayang itu beda Nes!". Kata Nevan lagi dengan nada dingin. Kali ini cengkraman tangannya sedikit mengendur. "Suka itu kagum. Cinta itu itu sudah pasti sayang tapi sayang belum tentu cinta. Definisi cinta itu banyak dan panjang sementara suka dan sayang hanya sedikit ruang lingkupnya. Gue tanya sama lo. Apa yang lo rasain sama dia? Suka? Sayang? Atau cinta?". Nessa diam tak bisa menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya. Yang ia tau ia sangat menyukai Ardo. Nessa tak tau jika perasaan seseorang bisa terbagi menjadi 3 bagian. Karena baginya itu semua sama saja. Suka, cinta ataupun sayang itu sama saja. "Ketiganya nggak ada bedanya Van. Suka, cinta dan sayang itu nggak ada bedanya. Perasaan itu memiliki tujuan yang sama yaitu ingin memiliki--!". "Lo salah!". Potong Nevan. Ia melepaskan tangannya dan kini melangkah ke tempat tidur dan duduk di tepinya dengan posisi menghadap ke arah Nessa. "Suka itu kagum dan ingin memiliki memang besar. Tapi setelah mendapatkannya, tak ada hal spesial yang terjadi. Sementara sayang itu rasa ingin melindungi. Cinta? Cinta itu adalah perasaan suci. Perasaan ingin memiliki dan melindungi. Kadang ingin membuat bahagia walau harus melepaskanya--!". "Itu lo tau!". Kini ganti Nessa yang menyelanya. Nevan tampak menatap kearahnya dengan intens. "Kalo lo cinta sama gue. Biarin gue jalanin hidup gue sama Ardo. Simpel kan?". Nevan malah tertawa sinis sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Lo payah Emery. Lo belum sadar juga jika perasaan lo sama Ardo itu sebatas kagum!". "Stop Van. Berhenti ikut campur soal hati gue!". Nessa memutar tubuhnya 90derajat menghadap ke arah Nevan. Nafasnya naik turun seiring emosinua yang tersulut. Nevan masih menatap Nessa tajam dengan mata elangnya. "Ada satu hal yang pengen gue tanyain sama lo. Jawab jujur. Setelah itu gue janji nggak akan ikut campur urusan lo lagi sama Ardo!". Ucap Nevan pelan sambil menggeser duduknya lebih mendekat ke arah Nessa. Nessa hanya diam dengan kening mengernyit. Ia menunggu apa yang akan di katakan Nevan nanti. "Kalo lo emang suka sama Ardo. Cinta, sayang dan apapun itu. Pernah nggak lo ngerasain sesuatu saat bersama Ardo?". Nessa semakin mengernyit mendengarnya. "Maksud lo?". Tanyanya balik. "Misalnya saat Ardo megang tangan lo tiba-tiba jantung lo berdetak nggak karuan? Keringat dingin di sekujur tubuh lo? Darah lo mengalir dengan deras secara tiba-tiba? Atau saat liat wajahnya..pernah nggak lo ngerasain muka lo tiba-tiba terasa panas. Apa lo pernah ngerasain semua itu?". Nessa terdiam. Terpaku mendengar rentetan pertanyaan yang Nevan ajukan. Tubuhnya menegang dengan sendirinya dan entah kenapa tiba-tiba telapak tangannya mulai berkeringat. Jantungnya semakin berdetak kencang dan aliran darahnya berdesir hebat. Kenapa ia merasakannya sekarang? Saat ia bersama Nevan? Saat Nessa tengah asik dengan pikirannya, Nevan menyadarkannya dengan cara meraih jemari Nessa. Menggenggamnya dan menariknya. Nessa hanya bisa diam menerima perlakuan Nevan. Nevan terus menarik tangan Nessa dan meletakkan di depan dadanya. Telapak tangan Nessa menempel di d**a kiri Nevan. Nessa bahkan bisa merasakn denyut jantung Nevan yang berdetak kencang. "Ini yang gue rasain saat deket sama lo dan nggak pernah gue rasain saat deket sama cewek lain. Termasuk Alya!". 〰〰〰〰〰
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN