LIMABELAS

1488 Kata
〰️〰️〰️〰️〰️ Nessa tersenyum menatap lembaran demi lembaran kenangan manis ini. Foto Nevan waktu masih kecil sampai dia beranjak dewasa dan sebesar ini. Nessa meraba wajahnya di foto terakhir. Tampak cool dengan kacamata hitamnya. Demitrio Nevan Valeska. Kata Mela, mereka lahir hanya beda 9 menit. Nessa lebih dulu keluar. Kata orang Jawa, jika yang lahir belakangan itu yang akan di panggil Kakak. Karena seorang Kakak akan mengiringi langkah Sang Adik menuju dunia. Entah itu mitos atau fakta tapi yang jelas Nevan memang dewasa dalam segala hal. Tapi entah kenapa ia malah salah langkah. Menempatkan cintanya pada saudara kembarnya sendiri. "Sayaaang...belum tidur?". Mela membuka pintu kamar Nessa dengan sangat pelan. Mulai hari ini dan seterusnya Nessa dan Nevan pisah kamar. Keputusan Mela dan Aldi demi kebaikan mereka berdua. Nessa menoleh dan tersenyum ke arah Mela. Wanita itu langsung masuk dan duduk di sebelah Nessa. Ikut menatap album foto di tangan Nessa. "Maafin Mama yang sayang!". Ungkap Mela sambil mengelus rambut Nessa pelan. "Minta maaf dalam rangka apa Ma?". "Semuanya. Mama tau ini berat buat kamu, tapi Mama yakin ini yang terbaik. Kalian sudah dewasa, sudah memiliki privasi sendiri-sendiri. Jadi Mama putusin pisah kamar adalah pilihan terbaik. Mama nggak mau--!". "Iya Nessa ngerti Ma!". Potong Nessa. "Nessa tau kesalahan Nessa dimana. Nessa minta maaf sama Mama kalo Nessa bikin Mama kecewa. Tapi percaya sama Nessa, Nessa sama sekali nggak ada perasaan sama Nevan. Nevan itu abang Nessa, Ma. Dan nggak mungkin Nessa bisa suka abang Nessa sendiri!". Mela mengangguk dan tersenyum lembut. Helaan nafasnya terdengar oleh telinga Nessa. "Setelah lulus nanti Nevan akan tunangan sama Alya. Nggak tau kenapa Mama rasanya udah sreg banget sama Alya. Anaknya baik, pendiem dan juga sopan. Mama kadang ngerasa aneh kalo deket sama Alya. Kayak udah kenal lama tapi Mama nggak tau juga. Mungkin karena Mamanya Alya temennya Mama!". Mela terkekeh sendiri mengingat tentang Alya. "Mama sayang sama Alya?". Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dalam benak Nessa dan ia mulai merasakan cemburu. "Sayang donk. Alya kan sebentar lagi akan jadi bagian dari keluarga kita. Dia calon kakak ipar kamu!". Nesaa tersenyum tipis mendengarnya. Untuk kedua kalinya ia takut. Takut jika perhatian dan kasih sayang Mela terbagi untuk orang lain. Apa tidak cukup hanya Nevan? Tunggu, apa mungkin Nevan juga suatu saat nanti akan menyayangi Alya? Nessa menatap foto Nevan dengan mata berkaca-kaca. Sesak sekali mengetahui kenyataan jika suatu saat nanti perhatian Nevan akan terbagi. "Pacar kamu cakep ya!". Celetuk Mela. Nessa sedikit terperanjat dan tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Mela. "Ardo cowok baik Ma. Nessa udah lama suka sama dia--"!. "Oh iya? Kalo gitu gimana kalo nanti setelah lulus sekolah kamu juga tunangan sama Ardo?". "Uhuk...uhuk!". Nessa tersedak oleh air liurknya sendiri. Tunangan? Secepat itukah? Tapi Nessa sama sekali belum kepikiran untuk menuju ke sana. Nessa menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal. "Mm, nanti deh Ma Nessa pikirin lagi!". "Kenapa? Katanya kamu suka sama dia? Mumpung belum di samber sama cewek lain loh Nes!". "Mama apaan sih. Ardo kan statusnya udah pacar Nessa. Masa iya Ardo mau pacaran lagi?". "Ya...hati orang kan nggak ada yang tau, Nes!". Nessa tak menjawab kata-kata Mela. Ia kembali menatap foto di depannya. Nevan. "Ma...!". "Iya sayang?". "Apa Mama sayang sama Nessa?". Mela tersenyum lalu memeluk Nessa dari samping. "Sudah tentu donk sayang. Kamu kan anak Mama yang paling cantik!". Nessa ikut tersenyum lalu mengelus lengan Mela yang melingkar di depan dadanya. "Kalo aku bukan anak Mama. Apa Mama bakalan tetep sayang sama Nessa?". Mela langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nessa. Ia tak tau kenapa tiba-tiba ada pikiran seperti itu di dalam kepalanya. Mungkin karena kejadian di rumah sakit beberapa waktu yang lalu. Lalu kalau Aldi dan Mela bukan orang tua kandungnya, lantas ia anak siapa? Dan dimana orang tua kandungnya? "Kamu nggak ngelindur kan Nes?". Tanya Mela balik. "Kenapa kamu punya pikiran kayak gitu sayang?". Nesaa menggeleng pelan. "Aku cuman takut aja suatu saat nanti Mama nggak sayang sama Nessa lagi!" Mela kembali memeluk Nessa. Kali ini di tambah dengan kecupan lembut di pucuk kepalanya. "Kamu dan abangmu itu lahir dari rahim Mama. Kalian lahir cuman beda 9 menit. Rasa sayang Mama sampe kapanpun nggak akan pernah hilang Nessa. Apapun keadaan kamu. Mau kamu sudah berkeluarga, punya anak dan cucu. Mama akan selalu sayang sama kamu--!". "Walaupun ada Alya nantinya?". Potong Nessa. "Iya sayang. Mama selalu dan selalu sayang sama kamu!". Dan obrolan mereka malam ini di tutup dengan pelukan hangat dari Mela. 〰〰〰〰〰 Nessatwin Ntar bawa foto masa kecil lo Gue pengen liat Itu salah satu pesan yang Nessa kirim untuk Alya. Hari ini adalah hari paling beda dari hari-hari sebelumnya. Ardo menjemputnya dan Nevan berangkat ke rumah Alya. Jemput Alya tentunya. Ada sedikit kata tak rela dalam hatik Nessa. Tapi ya sudahlah, toh mereka sebentar lagi juga akan menyandang status bertunangan. Nessa naik ke motor Ardo dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia berangkat sekolah bersama orang lain. Orang lain? Apa Ardo termasuk orang lain? Apa suatu saat nanti Ardo juga akan menjadi bagian dari anggota keluarganya? Sekolah masih agak sepi. Nessa langsung menuju kelas. Rupanya Nevan belum datang. Ia langsung melempar tasnya ke atas meja dan duduk di kursi dengan agak malas. Dan anehnya Ardo malah langsung duduk di sebelah Nessa membuat Nessa menatap bingung ke arahnya. "Loh..Do. Kok kamu di sini?". Tanya Nessa to the point. "Kenapa? Aku pengen duduk sini. Lagian kan kamu pacar aku. Biasanya kalo pacaran duduknya sebelahan!". "Tapi--!". "Nggak ada penolakan!". Sela Ardo. Oke. Nessa mengalah. Nessa agak heran kenapa Ardo jadi berubah posesif. Ketularan penyakitnya Nevan. "Siapa suruh lo duduk di situ?". Nevan datang dan langsung berdiri di sebelah mejanya yang kini sedang di duduki oleh Ardo. "Minggir. Gue mau duduk!". Ardo tak bergeming. Ia malah mendongak menatap Nevan. "Gue mau duduk sama pacar gue. Kenapa? Ada masalah?". Kening Nevan langsung mengernyit. "Sejak kapan lo jadi posesif gini? Lo tanya dulu sama Nessa dia ngijinin lo duduk sini nggak?". "Lo ngatain gue posesif trus apa kabarnya lo yang suka ngekang Nessa? Lagian gue nggak perlu ijin sama Nessa. Udah pasti dia ngijinin gue duduk sini. Ya nggak sayang?". Tangan Ardo langsung mendarat di atas bahu Nessa. Gadis itu refleks menatap Ardo dan tak tau kenapa ia malah menepisnya. Nessa beranjak dari kursinya sambil meraih tas. "Daripada kalian ribut soal tempat duduk, mendingan gue aja yang ngalah. Kalian bisa duduk di sini bersebelahan!". Jawab Nessa ketus. Ardo dan Nevan terdengar memanggil nama Nessa tapi gadis itu terlihat masa bodoh dengan keadaan. Nessa mengambil duduk di kursi paling belakang dan menatap ke arah luar kelas. "Gara-gara lo!". Umpat Nevan sambil berjalan ke arah Nessa dan ikut duduk di sebelahnya. "Kenapa gue yang di salahin? Loh beib...kenapa kamu duduk di situ? Trus aku gimana?". Protes Ardo. Nesaa hanya memutar bola matanya. Nevan tampak tersenyum lebar. Ia merasa menang kali ini. Tiba-tiba mata Nessa menangkap sosok Alya yang berdiri di luar kelas. Alya tampak melambaikan tangan ke arahnya. "Alya. Tunggu!". Teriak Nessa dan langsung beranjak dari kursinya. "Mana? Lo bawa kan?". "Mm, sorry ya Nes. Foto masa kecil gue nggak ada semuanya. Rumah gue dulu pernah kebakar dan bokap gue meninggal. Yang ada cuman ini!". Alya menyerahkan selembar fotonya ke arah Nessa. Nessa mendesah pelan. Ia bener-bener butuh foto itu. Tapi tak apalah mungkin ini sedikit membantu. Nessa meraihnya dan menatapnya. Sekilas bayangan wajah Nevan muncul dalam benaknya. "Kenapa tiba-tiba minta foto gue?". Nessa mengangkat kepalanya dan kembali menatap Alya. Sebelum menjawab pertanyaan Alya, ia menarik tangan Alya dan membawanya agak jauh dari kelas. "Gue ngerasa ada yang aneh!". Jawab Nessa pelan. "Aneh? Aneh kenapa?". "Gue....gue ngerasa Mama bukan orang tua kandung gue?". Alya melayangkan tatapan aneh ke arah Nessa. "Kenapa bisa ngomong gitu? Jangan kebanyakan nonton sinetron deh...jadinya baper kan?". Cibirnya. "Gue serius Al!". Tekan Nessa. "Semalem gue ngobrol sama Mama. Gue tanya kalo seandaikan gue bukan anaknya apa Mama tetep sayang sama gue?".Alya langsung memasang mimik serius. "Trus jawaban nyokap lo gimana?". "Katanya sih gue emang anaknya, sodara kembar Nevan. Kita lahir cuman beda 9 menit!". Alya terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan Nessa. "Kenapa lo bisa mikir kalo lo bukan anak mereka? Apa karena kejadian di rumah sakit itu?". Nessa hanya mengangguk. "Oke. Gue mau bantu lo!". "Hah? Bantu soal apaan?". Kini Nessa malah di buat bingung oleh pernyataan Alya. "Menyelidiki kasus lo. Kenapa darah kalian bisa beda. Dan apa bener Tante Mela bukan orang tua kandung lo?". Nessa terdiam dan memikirkan rencana Alya. Dan idenya tak terlalu buruk. Tapi apa mungkin ia benar-benar bukan anak Aldi dan Mela? "Gue bingung Al. Gue nggak tau harus mulai dari mana. Ini terlalu rumit!". "Santai aja ada gue!". Alya menepuk pundak Nessa pelan. "Gue pasti bantuin lo kok!". Nessa tersenyum ke arah Alya dan mengangguk. Alyapun membalasnya. "Sekarang kita mulai dengan langkah pertama!". Ucapnya lagi. "Apa yang akan kita lakuin?". Tanya Nessa dengan kening mengkerut. "Kita cari tau di Rumah Sakit mana lo di lahirin!" 〰〰〰〰〰
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN