EMPATBELAS

1356 Kata
〰〰〰〰〰 Mereka berenam duduk di ruang tamu. 2 keluarga yang sedang membicarakan rencana pertunangan Nevan dan Alya. Seharusnya Nesaa tak perlu ada di sini. Kehadirannya tak ada artinya. Nessa melirik ke arah Alya yang tampak bahagia. Sedangkan raut wajah Nevan kebalikannya dari Alya. Wajahnya asem. Pandangan matanya menatap lurus ke arahnya. Nesaa langsung menundukkan pandangannya dan sibuk memainkan ponselnya. "Jadi udah deal ya Mbak Maura. Tunangan Nevan sama Alya setelah lulus sekolah. Untuk nikahnya tergantung mereka berdua aja maunya kapan!". Terang Mela. Nessa tak bisa melihat seperti apa ekspresi Mela saat ini karena ia sedang berusaha menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya. "Terserah Mbak Mela aja gimana. Saya sih ngikut aja. Ya kan Alya sayang?". Sahut Maura. "Mm, iya Ma!". Jawab Alya lirih. Nessa tersenyum kecil saat ada chat masuk dari Ardo. ARagil Hay beib...lagi apa? Nessatwin Di rumah aja Kenapa? ARagil Jalan yuk Nessatwin Kemana? ARagil Nonton Senyum Nessa semakin melebar dan dengan segera ia membalas pesan dari Ardo. Nessatwin Okay. Sekarang? ARagil Iya doonk Siap2 ya aku jemput Pesan dari Ardo membuat Nessa kalang kabut. Laki-laki itu menawarkan diri untuk menjemputnya. Bagaimana reaksi Aldi dan Mela nanti. Lalu Nevan? Nessa yakin, Nevan tak akan membiarkan Ardo melangkah masuk. ARagil Kok nggak di balas? Nessatwin Ok Akhirnya Nessa mengambil keputusan. Mungkin ini saatnya ia membawa Ardo ke rumah. Perlahan ia mendongak, menatap mereka satu persatu. Tiba-tiba hpnya kembali bergetar. Nessa kembali menunduk. Nevantwin Chat sama siapa? Nessa melirik Nevan sebentar lalu mendengus sebal. Nessatwin Ardo Nevantwin Belum putus juga? Seketika Nessa mendelik membaca chatnya. Nessatwin Gak akan Nessa langsung memasukkan hpnya ke dalam saku celananya dan kembali mengangkat kepalanha. Nevan tampak geram dan terus menatap lurus ke arahnya. Nessa mencoba menyimak apa yang mereka bicarakan. Dan dari pertemuan ini sudah ada keputusan jika Nevan akan bertunangan dulu dengan Alya setelah ujian nanti. Nessa tersenyum ke arah Alya saat gadis itu menatap dirinya. Pembicaraan mereka terhenti saat suara bel rumah berbunyi. "Biar Nessa aja Ma!". Nessa beranjak dari sofa dan berjalan cepat menuju pintu ruang tamu. Saat pintu itu terbuka, wajah tampan Ardo yang pertama kali ia lihat. "Hei!". Sapanya. Ardo langsung tersenyum lembut ke arah Nessa. "Siapa Nes?". Suara Aldi membuat Nessa dan Ardo terdiam. Ia berpikir sejenak lalu dengan perlahan ia meraih jemari Ardo dan menggenggamnya. Menarik Ardo, membawanya masuk ke dalam ruang tamu. Ardo hanya nurut saja tanpa protes sedikitpun. "Kenalin Pa. Ini namanya Ardo. Pacar Nessa!". Kata Nessa tegas. Kening Aldi langsung mengkerut. Mela tampak syok lalu melihat ke arah Aldi. Sementara Maura tampak tersenyum. Nevan? Jangan tanya seperti apa ekspresi wajahnya saat ini. "Nessa...apa kamu bilang?". Tanya Aldi lantang. Tubuh Nessa sedikit bergetar mendengar suara bariton Aldi tapi ia dengan sekuat tenaga mencoba melawan rasa takut itu. Nessa semakin merapatkan tubuhnya ke arah Ardo dan semakin erat menggenggam tangannya. "Nessa udah besar Pa. Nessa bukan anak kecil lagi yang apa-apa di larang. Nessa pengen ngerasain masa muda Nessa yang penuh warna. Nessa pengen punya pacar. Nessa pengen kayak remaja lainnya!". Nessa memberi jeda dalam kalimatnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat. "Nevan aja langsung tunangan setelah lulus nanti, kenapa Nessa nggak boleh punya pacar?". "Nessa mohon Papa sama Mama ngertiin Nessa. Selama ini Nessa nggak pernah minta yang aneh-aneh sama Papa Mama tapi Nessa mohon, biarin Nessa ngerasain gimana rasanya jadi remaja normal. Pacaran, hangout dan hal lainnya yang remaja lainnya lakuin. Nessa tau batasan kok. Lagian Ardo juga bakalan jagain Nessa. Nessa percaya sama Ardo!". Akhirnya Nessa berhasil mengeluarkan uneg-unegnya. Hening. Aldi dan Mela saling berpandangan. Mela lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke arah Aldi. "Ehem!". Itu suara Aldi. Tampaknya Aldi akan mengambil keputusan dan Nessa setia menunggunya. "Baiklah. Papa ijinin kamu jalan sama Ardo. Tapi ingat!". Senyum Nessa langsung sirna saat mendengar kalimat terakhir itu. "Jangan pernah kecewain kepercayaan yang Papa berikan sama kamu. Dan kamu Ardo. Jangan pernah sekalipun membuat Nessa menangis. Karena akibatnya akan fatal nanti!". Ardo mengangguk. "Saya janji Om. Saya akan membuat Nessa bahagia bersama saya!". Jawabnya mantab. Aldi mengangguk, Mela tersenyum dan Nevan masih dengan wajah datarnya. Nessa meliriknya sekilas dan ia bisa melihat kemana arah pandangnya. Nevan menatap ke arah tangan Nessa yang masih menggenggam erat tangan Ardo. Biarlah. Mungkin dengan cara ini Nevan akan sadar dengan perasaannya dan akan menjauhi Nessa. 〰〰〰〰〰 Tepat pukul 2 siang mereka keluar dari bioskop. Setelah acara nonton Ardo mengajak Nessa makan siang. Setelah acara makan siang, Nessa kira Ardo akan langsung mengantarnya pulang tapi ternyata dia mengajaknya berduaan di taman kota. Hari yang tak terlalu menyebalkan untuk Nessa. Mereka duduk bersebelahan dengan pandangan lurus menatap ke depan. Menatap lalu lalang mobil dan motor yang melintas. Nessa baru sadar ternyata tempat ini tak terlalu panas juga. "Nes!". Panggil Ardo saat terjadi keheningan beberapa menit. "Ya?". Nessa menoleh ke arah Ardo dengan senyum mengembang. "Aku heran deh...kapan hari kamu bilang katanya Papa kamu nggak setuju kita pacaran. Tapi tadi....!". Ardo tak meneruskan kata-katanya. Nesza mengalihkan pandangannya dari wajah Ardo dan kembali menatap jalanan yang di penuhi dengan berbagai macam kendaraan. Nessa sebenarnya tau alasan Aldi bisa berubah pikiran secepat itu. Tapi sepertinya ia tak perlu menjelaskannya ke Ardo. "Mm, mungkin kamu cakep!". Jawabnya asal sambil menoleh ke arah Ardo kembali. Ardo hanya menaikkan sebelah alisnya. "Canda...nggak usah baper!". Lanjutnya. Ardo mendengus pelan. "Jujur kek biar akunya seneng!". Protes Ardo. Nessa hanya terkikik geli. "Tadi di rumah kamu ada apaan? Rame banget? Tadi itu Alya ya?". Nesaa mengangguk. "Acara pertunangan Nevan sama Alya!". "Serius? Mereka di jodohin?". Nessa mengangguk lagi dan sangat pelan lalu menundukkan kepalanya. Sakit itu kembali hadir. Apa ia mulai tak rela jika ada cewek lain di sisi Nevan. Apa ia mulai takut jika suatu saat nanti perhatian Nevan terbagi? "Kamu kenapa beib?". Seketika Nessa mendongak dan sedetik kemudian buliran airmata itu tiba-tiba meleleh. Nessa mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kamu nangis?". Tanya Ardo lagi. Nessa tersenyum tipis dan menggeleng pelan. "Ahaha...nggak kok. Ini tadi ada binatang masuk ke mata aku!". Kilah Nessa sambil menyeka kedua pipiku. "Binatangnya masuk ke mata tapi yang di bersihin kok pipinya?". DEG. Nessa mengumpat untuk kebodohannya. Ia kembali menyeka airmatanya yang masih menggenang di pelupuk mata. "Sebenarnya ada hal penting yang mau aku tanyain sama kamu!". "Soal apa?". Sahut Nessa dengan pandangan menunduk. Menghindari kontak mata dengan Ardo. Ia takut kalau Ardo tau kebohongan lewat matanya. "Sebenarnya hubungan kalian seperti apa?". Nessa tertegun dan tak lama kemudian ia menoleh ke arah Ardo. "Hubungan? Maksud kamu hubungan aku sama siapa?". Tanyanya balik. "Kamu sama Nevan!". Kening Nessa semakin berlipat-lipat. "Kenapa kamu nanyanya gitu? Kamu udah tau kan kalo aku sama Nevan sodara? Dia sodara kembar aku--!". "Kamu yakin hanya sebatas itu?". Sela Ardo. Nessa langsung terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Kamu nggak ada perasaan apa-apa kan sama Nevan?". Nessa masih terdiam dan ia merasakan airmatanya kembali berlomba-lomba ingin keluar. "Nevan begitu posesif sama kamu. Sayang sama kamu. Kalian emang sodara tapi aku bisa melihat perhatian yang Nevan berikan sama kamu itu beda. Apalagi cara dia natap kamu. Seperti ada rasa yang dia pendam. Kenapa aku bisa ngomong kayak gini? Karena aku cowok Nes. Apa beneran hubungan kalian hanya sebatas sodara? Di antara kalian nggak terjadi brother complex kan?". Nessa langsung menatap wajah Ardo dengan genangan air asin di kedua matanya. Ia berusaha menahan air itu agar tidak terjatuh dengan cara menahan kedua matanya untuk tidak berkedip. Karena Nessa yakin, sekali berkedip maka air itu akan jatuh lagi. Tapi pertahanan Nessa runtuh. Airmata itu kembali luruh. Bayangan wajah Nevan melintas dalam benaknya. Semua kata-kata manisnya berputar-putar seperti kaset film. Kalo bukan sodara kembar gue...udah gue pacarin lo! Di sini ada nama lo. Dan selamanya nama itu nggak akan bisa hilang. Kalo lo nggak mau ngeliat Alya sakit karena gue..jangan pernah nyuruh gue buat deket sama dia. Karena gue nggak bisa. Gue nggak bisa nyimpen nama lagi selain nama lo! Semakin lo lari,,,gue akan semakin ngejar lo! Lo adalah hadiah terindah buat gue! Gue tau ini nggak mungkin. Tapi hati gue mengatakan kalo Tuhan ciptain lo buat gue! Gue berdoa. Semoga lo bukan sodara kembar gue! "Sebelum semuanya tersakiti mendingan kalian buang jauh-jauh rasa cinta terlarang itu!". 〰〰〰〰〰
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN