TIGABELAS

1320 Kata
〰〰〰〰〰 Nessa menelungkupkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya. Tak menghiraukan deringan hp yang mengusik ketenangannya. Ia memilih duduk di pojok cafe. Tak lama kemudian Nessa merasakan seseorang memegang pundaknya. Ia mendongak dan mendapati Alya berdiri di sebelahnya. "Lo nggak apa-apa?". Tanya Alya dengan nada khawatir. Nessa menggeleng. Nessa tadi memang meminta Alya untuk datang dan menemaninya. Nessa bingung mau menelpon siapa. "Ada masalah?". Alya lalu duduk di depan Nessa. Gadis itu terlihat menghela nafas dan membuangnya pelan. "Gue bingung harus seneng atau sedih!". Jawabnya lesu dengan pandangan menunduk. Alya lalu meraih jemari Nessa dan menggenggamnya. "Cerita aja. Gue dengerin!". Nessa menatap Alya dalam-dalam. "Nevan mau di jodohin!". Alya tak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi Nessa yakin saat Alya tau yang sebenarnya Laya pasti akan kaget. "Nevan mau di jodohin sama lo, Al!". Kata Nessa lagi saat melihat Alya masih terdiam. Spontan Alya menarik tangannya perlahan. Raut wajahnya berubah. "Maaf. Gue nggak tau mesti ngomong apa!". "Kenapa minta maaf sama gue?". Tanya Nessa bingung. Alya menunduk sebentar lalu menatap Nessa lagi. "Kapan hari gue denger Mama ngobrol di telpon. Mama bahas soal perjodohan dan gue denger Mama nyebut nama Nevan!". Jelasnya. Nessa menghela nafas panjang. Dadanya kembali nyeri. Rasanya sakit dan sesak. Kenapa? Harusnya ini menjadi berita baik untukku. Dari dulu aku berniat menjodohkan Nevan dengan Alya. Tapi kenapa rasanya beda. Padahal saat ini aku sudah bersama Ardo. Cowok yang sudah aku cintai sejak dulu. "Maaf Nes gue baru ngomong sama lo sekarang!". Sesal Alya. Nessa mencoba tersenyum dan ku raih tangan Alya. "Lo nggak perlu minta maaf sama gue Al. Gue seneng kok denger kabar ini. Itu artinya bentar lagi lo bakalan jadi sodara gue!". Jelasnya menutupi rasa sesak di dadanya. "Tapi Nevan cinta sama lo kan?". Nessa menggeleng pelan dan tersenyum getir. "Itu cinta sebagai sodara. Lo kan tau kita kembar. Masa iya gue pacarin sodara gue sendiri?". Nessa terkekeh pelan. "Kalo seandaikan Nevan bukan sodara lo. Apa lo juga nggak bakalan jatuh cinta sama dia?". Pertanyaan Alya membuat tubuh Nessa terasa mati. Kaku. Tak bisa bergerak sama sekali. Dan tanpa ia duga, airmatanya lolos begitu saja. Dengan cepat Nessa menghapusnya dan menggeleng. "Mana mungkin itu terjadi?". "Tapi apa Nevan akan nerima gue?". Nessa kembali tersenyum. "Gue yakin suatu saat nanti rasa itu pasti tumbuh. Rasa cinta Nevan ke gue itu cuman sekedar cinta ke adik aja. Nggak lebih. Jadi lo nggak usah kuatir!". Dada Nessa semakin sesak saat mengucapkan kalimat itu. Apa saat ini hatinya mulai bercabang? Apa perhatian Nevan membuat hatinya berpaling dari Ardo? "Al...gue malem ini nginep di rumah lo boleh nggak?". Alya tersenyum dan mengangguk beberapa kali. "Boleh banget lah Nes. Pulang sekarang yuk. Nanti biar Mama yang telpon nyokap lo!". Nessa mengangguk dan menurut ajakan Alya. Selama 18 tahun baru kali ini Nessa terpisah dari keluarganya. Malam ini ia akan tidur tanpa ada Nevan di sisinya. Apa Nessa bisa? 〰〰〰〰〰 Dan benar saja malam ini Nessa susah tidur. Ia berkali-kali merubah posisi tidurnya. Nessa heran dengan Alya, dia sama sekali tak terganggu dengan aktifitasnya. Maura memberi Nessa ijin untuk menginap di rumahnya dan Maura yang memberitahu Mel kalau Nessa menginap di rumahnya. Nessa sepertinya belum siap untuk bertemu dengan Mela dan Aldi setelah kejadian memalukan itu. Mereka pasti murka. Nessa lalu meraih hpbya yang tergeletak di atas nakas. Menyalakan paket datanya dan langsung di serbu dengan beberapa notif. Ada dari Ardo dan Nevan. Paling banyak pesan dari Nevan. Entah kenapa Nessa membiarkan pesan dari Ardo dan malah membuka pesan dari Nevan. Nevantwin Nes Angkat telpon gue Nevantwin Lo dimana Nevantwin Pulang Nes udah malem Nevantwin Please balas chat gue Lo dimana Sama sapa? Nevantwin Nes gue kuatir sama lo Nevantwin Bilang sama gue lo dimana Sekarang Nevantwin Gue minta maaf sama lo Ini salah gue Nevantwin Please jangab marah sama gue Nevantwin Nessa lo dimana sekarang?? Nevantwin Nessa tersenyum tipis membaca pesan dari Nevan. Baru saja ia akan membalasnya tapi chat dari Nevan masuk lagi. Nwvantwin Kenapa nggak pulang? Kenapa nginep di rumahnya Alya? Ternyata Nevab tau kalau ia sekarang lagi di rumahnya Alya. Nessatwin Gue pengen di sini Nevantwin Kenapa? Lo marah sama gue? Nessatwin Nggak Gue pengen di sini dulu Gue takut... Nessa mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Takut menghadapi hari esok. Nevantwin Ada gue Lo nggak perlu takut. Nevan memang selalu seperti ini. Dia selalu membuat Nessa merasa nyaman. Nessatwin Gue pengen sndiri dulu Nevantwin Pulang sekarang. Gue jemput Nessa membelalak kaget membaca chat dari Nevan. Ini sudah hampir tengah malam. Nessatwin Jangan Ini udah malem Van Nevantwin Nggak perlu takut Kan ada gue Nessatwin Jangan Van. Gue nggak mau pulang Gue masih pengen di sini Nevantwin Otw.. Nessatwin JANGAAN. KALO LO KE SINI SELAMANYA GUE BAKALAN MARAH SAMA LO Lama tak ada balasan dari Nevan. Apa dia benar-benar akan menjemput Nessa? Ia semakin gelisah. Tapi tak lama kemudian ada chat masuk. Cepat-cepat ia membacanya. Nevantwin Serah lo Nite... Nessa menghela nafas. Sedikit lega dan entah kenapa rasa sakit itu kembali mendera. Ada setitik air bening mengalir dari kedua matanya. Nessa mengusapnya dengan pelan. Ia kembali meletakkan hpnya di atas nakas dan beranjak dari tempat tidur. Nessa berjalan pelan keluar dari kamar Alya. Ia butuh minum. Langkahnya menuju dapur. Sepi dan sunyi. Hari memang sudah malam. Jam 11 lebih tepatnya. Nessa mengambil minum dan membawanya ke ruang tengah. Di sana ada TV. Ia memilih duduk di sofa dan menyalakan tv. Pandangan matanya memang sedang menatap ke layar TV tapi pikirannya saat ini kemana-mana. Ia mencari posisi ternyaman dan membiarkan TV menyala. Setelah meneguk minumannya, Nessa bersandar di sofa sambil memeluk bantal kecil. Sedikit nyaman daripada berada di kamar. Krieeet! Suara itu membuat Nessa menoleh. Maura keluar dari kamarnya sambil menguap. "Loh kamu nggak tidur Nes?". Tanya Maura sambil melangkah ke dapur, membuka kulkas dan mengambil minum. "Nggak bisa tidur Tan!". Jawab Nessa pelan. Maura menyelesaikan minumnya lalu beberapa detik kemudian menyahut. "Kenapa? Nggak nyaman ya tidur di rumah Alya?". Dengan cepat Nessa menggeleng. "Ah nggak kok Tan. Aku betah kok di sini. Cuman nggak tau kenapa nggak ngantuk sama sekali!". Maura tersenyum lembut ke arah Nessa. Wanita paruh baya itu lalu berjalan pelan menghampiri Nessa dan duduk di sebelahnya. Tangannya langsung mendarat ke rambut Nessa dan mengelusnya pelan. "Ya udah kalo gitu Tante temenin ya!". Nessa refleks mengangguk. Maura membuka kedua tangannya dan otomatis Nessa langsung memeluknya. Nyaman dan hangat pelukannya. "Tan..!". Panggil Nessa pelan. "Apa sayang!". Sahutnya dengan tangan masih mengelus rambut Nessa. "Apa benar Alya mau di jodohin sama Nevan?". Elusan tangan Maura tiba-tiba berhenti tapi tak lama kemudian tangan hangat itu kembali mengelus rambut Nessa. "Memangnya kenapa?". Tanyanya balik. "Mm, nggak apa-apa sih. Aku cuman tanya aja kok!". Maura melepas pelukannya dan beralih menatap Nessa. Ia lalu mengangguk pelan. "Iya sayang. Itu permintaan Papa sama Mama kamu!". Hati Nessa sedikit gelisah mendengarnya. Ia lalu kembali memeluk Maura. "Pasti gara-gara kejadian di rumah sakit itu ya, Tan?". Maura menghela nafas pelan. "Sebenarnya bukan dari situ Nes. Mamamu memang sudah berencana menjodohkan Nevan sama Alya. Karena memang mereka seumuran jadinya Mama terima aja. Lagian mereka berdua juga udah saling kenal. Nanti pasti nggak sulit buat mereka menerimanya! Apa kamu keberatan?". Nessa dengan cepat melepas pelukan Maura, mendongak menatapnya dan menggeleng cepat. "Tante ngomong apa sih? Kenapa mesti keberatan? Nevan kan sodara aku? Yang terbaik buat Nevan pasti terbaik buat aku juga!". "Tapi kayaknya Nevan bener-bener sayang sama kamu!". Nesza terkekeh pelan. "Kan aku sodara kembarnya Tan. Jadi wajar Nevan kayak gitu!". Maura lalu tersenyum tipis. Ia lalu meraih anak rambut yang menutupi sebagian wajah Nessa dan menyelipkannya ke belakang telinga. "Maaf kalo Tante bikin kamu bingung. Menurut mitos yang berkembang. Kembar laki perempuan itu harusnya di pisah. Apalagi adat jawa. Mereka beranggapan bahwa suatu saat nanti akan timbul rasa cinta di antara keduanya. Cinta melebihi saudara!". Maura menghentikan kalimatnya sebentar lalu menanyakan hal yang membuat jantung Nessa berdetak tidak normal. "Apa sedikitpun kamu nggak ada rasa lebih sama dia?". 〰〰〰〰〰
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN