DUABELAS

1686 Kata
〰〰〰〰〰 Gue berdoa. Semoga lo bukan sodara kembar gue Nessa benar-benar bingung harus berekspresi seperti apa. Senang atau sedih? Senang karena mendapatkan cinta yang begitu besar tapi sedih kalau benar Nevan bukan saudara kembarnya. Dan kejadian beberapa hari yang lalu kembali melintas dalam benak Nessa. Saat kecelakaan itu dan saat Alya berhasil mendonorkan darahnya untuk Nevan. Apa semua itu pertanda bahwa Nevan benar-benar bukan saudara kembar Nessa? Lalu anak siapa Nessa ini? Nessa menghela nafas pelan dan membuangnya dengan cepat. "Hei!" Suara itu membuat Nessa mendongak. Ardo. Nessa menatap laki-laki itu sebentar dan kembali menyangga dagunya. Entah kenapa Nessa malas bertemu dengan Ardo. Ardo lalu mengambil duduk di sebelah Nessa dan ia tau Ardo saat ini sedang menatap kearahnya. Nessa hanya melirik Ardo dari sudut matanya. "Udah makan?" Nessa hanya menggeleng. "Kenapa nggak makan?" Nessa mengangkat kedua pundaknya bersamaan. "Kemarin kok tiba-tiba ngilang? Aku datengin ke rumah kamu tapi rumah kamu kosong--!" "Apa?". Nessa benar-benar terkejut mendengar penjelasan Ardo. "Kamu kemarin ke rumahku?" Ardo mengangguk, terlihat bingung melihat ekspresi Nessa yang tampak panik. "Anterin tas kamu!" "Ooooh!". Sahut Nessa lirih. "Kemarin kenapa bolos?" "Hah? Eh-em...itu--aku--!" "NESSA!!!". Nessa langsung mengalihkan pandangannya. Di ujung kantin ada Alya. Oh Tuhan..penyelamatku datang. Seru Nessa dalam hati. Ia langsung memasang senyum ceria dan melambaikan tangannya ke arah Alya. Alya membalasnya dan langsung melangkah ke arah Nessa. "Eh ada Ardo. Kayaknya gue ganggu nih--!" "Nggak kok!" Sergah Nessa. "Kebetulan gue juga ada perlu sama lo!" "Gue?" Alya menunjuk dirinya sendiri. Nessa membalasnya dengan menganggukkan kepalanya. Ia lalu menoleh ke arah Ardo yang kini tengah memasang wajah masamnya. "Do, aku sama Alya dulu ya!" Pamit Nessa dan hanya di angguki oleh Ardo. Tanpa menunggu waktu lagi Nessa langsung beranjak dari tempat duduknya dan meraih tangan Alya, menariknya keluar dari kantin. "Gimana keadaan Nevan?" Tanya Alya saat langkah mereka sampai di koridor kelas. "Udah agak mendingan. Tadi gue berangkat dia masih ngorok!". Sebenarnya keadaan Nevan tak terlalu parah, tapi perban di kepalanya membuat ia malas masuk sekolah. Nessa masih ingat apa yang di katakan Nevan kemarin malam. "Gue nggak akan masuk sekolah kalo perban ini masih nempel di kepala gue!" "Kenapa?" Tanya Nessa spontan. "Ntar kadar ketampanan gue bisa berkurang kalo perban ini masih di sini!" Nessa menghela nafas pelan mengingat percakapan mereka semalam sebelum tidur. Tapi dengan tak adanya Nevan, ia merasa lega. Setidaknya ia sedikit terbebas dari sikap posesif Nevan. "Eh, kemarin lo kemana kok tiba-tiba ngilang gitu sih?" Tanya Alya lagi. Langkah mereka sudah sampai di taman belakang sekolah. Nessa mengambil duduk di kursi bawah pohon di ikuti Alya yang duduk di sebelahnya. "Hehehe...bolos gue. Tiba-tiba aja Nevan sama ortu gue jemput ke sekolah!" "Hah? Ngapain?" "Em, ngerayain ultah gue sama Nevan!" Ekspresi Alya hanya mendelik tanpa mengeluarkan suaranya. Kening Nessa langsung mengernyit melihatnya. "Seriusan lo kemarin ultah?" Tanya Alya. Nessa mengangguk semangat. "Kyaaa....happy birthday Nessa. Panjang umur yaaa!" Nessa membalas pelukan Alya. "Makasih..!" Tak lama Alya melepas pelukannya. "Nggak nyangka ya, ultah kita barengan!" Serunya girang. "Maksudnya? Lo kemaren juga ultah?" Alya mengangguk beberapa kali sementara mulut Nessa malah melongo mendengar berita ini. Bagaimana mungkin? Apa ini suatu kebetulan? Atau pertanda? Nessa terlihat menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Kenapa Nes?". Nessa seketika menoleh ke arah Alya. "Ah...nggak apa-apa kok. Nggak pa-pa!" . Alya hanya mengangguk kecil. "Oh iya selamat ya Al semoga lo juga panjang umur dan tambah cantik!". Ucap Nessa. Alya tersenyum dan kembali memeluk Nessa sebentar. "Thanks ya Nes. Taun depan kita rayain barengan aja kalo gitu. Kan seru tuh kita bertiga bisa tuker kado!". Seru Alya dengan mata berbinar-binar. "Boleh juga. Jadinya kayak kembar 3 ya!". Nessa dan Alya spontan tertawa. Sampai akhirnya Nessa teringat sesuatu. "Oh iya Al. Gue sebenarnya ada perlu sama lo!". "Hm. Apa?". "Ini soal kejadian di rumah sakit kemarin. Nggak tau napa gue masih kepikiran aja!". "Soal yang mana? Apa soal Nevan yang suka sama lo!". "Bukaaaaaan!". Sahut Nessa gemas. "Soal darah tepatnya!". "Darah?". Cicit Alya dengan kening mengkerut. "Golongan darah maksud gue..!". "Oooh..kenapa emang? Lagian penting banget ya?". "Menurut gue penting banget lah. Kemarin gue tanya sama Nevan mungkin nggak sih satu kelurga tapi golongan darahnya beda--!" "Trus Nevan bilang apa?". Sela Alya. "Katanya sih nggak mungkin. Yang namanya keluarga pasti golongan darahnya sama. Tapi kenapa gue beda ya?". "Trus lo udah tanya bokap nyokap lo belum?". Nessa hanya menggeleng. "Kalo belum ada bukti jangan ambil kesimpulan dulu Nes. Bisa aja kan bokap atau mungkin nyokap lo yang darahnya sama kayak lo!" Nessa manggut-manggut sambil berpikir bagaimana caranya menanyakan hal itu sama Aldi dan Mela tanpa menimbulkan kecurigaan. "Tapi gue bingung Al. Masa iya tiba-tiba gue tanya sama mereka golongan darahnya apa?" "Mm, ya lo bisa bilang buat isi angket di skul. Gampang kan?" "Ide cemerlang Al!". Seru Nessa tiba-tiba. "Good luck ya!". 〰〰〰〰〰 Pulang sekolah Ardo memaksa untuk mengantar Nessa pulang. Akhirnya dengan berat hati Nesaa mengiyakan. Tapi ia takut kalau Nevan melihatnya. Maka dari itu Nessa memilih turun agak jauh dari rumahnya. Sambil celingak-celinguk ke kanan kiri. Berharap tak ada orang yang melihatnya. "Kok turunnya di sini sih? Rumah kamu kan masih di depan?". Protes Ardo sambil membuka kaca helmnya. "Nggak apa-apa sini aja Do. Aku belum siap aja ngomong sama Papa!" "Papa kamu masih nggak setuju kita pacaran?". Nessa mengangguk pelan. Ia bisa mendengar Ardo berdecak. "Ya udah kalo gitu aku cabut ya. Besok gimana? Aku jemput--?". "Nggak usah. Nggak usah!!". Tolak Nessa cepat dengen kepala menggeleng beberapa kali. "Besok aku berangkat bareng Papa!". Ardo mengangguk lalu iapun pamit pulang dan memutar balik motornya. Nessa melambaikan tangannya sebentar dan terus menatap motor laki-laki itu sampai menghilang dari pandangannya. Nessa menghela nafas kasar saat motor Ardo sudah tak terlihat. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju rumah yang letaknya agak jauh. Berharap tak ada siapapun yang melihatnya. Nessa membuka pintu rumah dengan pelan dan suasana sepi. Kemana Mama? Kemana Nevan? Pikirnya. Nessa mengangkat kedua pundaknya lalu berjalan menuju kamar. Dan benar saja. Nevan ada di dalam kamar sambil memainkan gitarnya. Saat Nessa datang , Nevan hanya menoleh ke arahnya sebentar dan kembali fokus dengan gitar di tangannya. "Pulang sama siapa?". Tanya Nevan dengan pandangan tertuju ke gitar di dekapannya dan jemarinya memetik senar gitar, menciptakan alunan nada yang merdu. "Di anterin Ardo!". Jawab Nessa jujur. Seketika petikan gitar Nevan terhenti. Wajah Nevan langsung menatap lurus ke arah Nessa. "Besok gue sekolah. Pulang pergi sama gue!". Setelah mengatakan itu Nevan kembali memainkan senar gitar sambil bersenandung kecil. "Bullshit. Katanya mau ngasih gue kebebasan!". Gumam Nessa kecil. Nevan kembali menghentikan permainannya. Kali ini ia meletakkan gitar itu di atas tempat tidur. Matanya kembali menatap kearah Nessa. Gadis itu berusaha tak takut dengan tatapan mata Nevan yang terlihat mengintimidasi. Nessa balas menatap matanya yang hitam pekat. "Ngomong apa tadi? Gue nggak denger!". Nevan beranjak dari tempat tidur dan berjalan pelan menghampiri Nessa yang masih berdiri di depan pintu dengan kedua tangan menyilang di depan d**a. "Bohong lo. Katanya bakalan ngebiarin gue jalan sama Ardo. Mana janji lo?". Rasanya plong setelah Nessa mengeluarkan uneg-unegnya. Ia sudah tak tahan lagi memendamnya. Nevan seakan lupa dengan janjinya saat Aldi melarangnya untuk pacaran. Nevan tak menjawab tapi ia semakin mengikis jarak di antara mereka. Kaki Nessa refleks melangkah mundur pelan sampai ia merasakan punggungnya menyentuh sebuah benda. Pintu kamar yang terbuka. Kedua tangan Nessa langsung menempel di d**a Nevan. Mendorongnya agar menjauh dari dirinya. Tapi sia-sia. Usahanya tak membuahkan hasil. Nevan semakin dekat dan dekat. Nessa bahkan sampai mendongak menatapnya. "Gue tarik lagi omongan gue yang dulu. Emery Nessa Valesia. Gue nggak setuju lo jalan sama Ardo apalagi jadian. Gue nggak suka lo deket sama cowok lain. Apalagi sama Ardo--!". "Gila lo. Mau lo apa sih Van?". Potong Nessa cepat. Kedua tangannya masih mendorong d**a Nevan. Timbul rasa takut dalam hati Nessa saat menatap mata hitam itu. "Apa kurang perhatian yang gue berikan ke lo? Apa kurang kasih sayang dari gue? Sampai-sampai lo nyari ke cowok lain?". Melihat ekspresi Nessa membuat Nevan semakin tertantang. "Ngomong apaan sih lo?". Nessa semakin bingung di buatnya. "Nessa. Harus berapa kali gue ngomong sama lo. Gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Harusnya lo peka. Harusnya semua itu udah cukup!". "Tapi kita sod--!" "Sodara?". Potong Nevan cepat sambil menyeringai. Tiba-tiba kedua tangannya mencengkram pergelangan tangan Nessa membuat gadis itu sedikit terkejut. "Jangan salahin gue kalo gue suka sama lo tapi salahin Allah kenapa dia jadiin lo sodara kembar gue--!" PLAAKK! Entah kekuatan dari mana tangan kanan Nessa terlepas dari cengkraman Nevan dan langsung mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi kiri Nevan. Kepala Nevan sempat menoleh sedikit akibat tamparan keras itu. Ia meringis kecil tapi sama sekali tak meraba pipinya yang sudah memerah. "Kalo ngomong di saring dulu Nevan!". Desis Nessa sambil menatap garang ke arah Nevan. Tamparan Nessa ternyata membuat emosi Nevan semakin memuncak. Laki-laki itu kembali mencengkram tangan Nessa dan langsung menghimpit tubuh mungilnya. Bahkan Nessa bisa merasakan d**a bidang Nevan sepenuhnya menempel ke dadanya. Nessa sedikit sesak mendapatkan serangan itu. "Nevan lepasin!". Nessa meronta tapi sama sekali tak di dengar oleh Nevan. Dalam hitungan detik saja bibir mereka sudah beradu. Kasar dan ganas. Nessa ingin berteriak tapi takut. Akhirnya ia hanya bisa menangis dalam diam. Membiarkan airmatanya menetes. "NEVAN! NESSA! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!" Teriakan itu membuat aktifitas mereka terhenti. Cengkraman Nevan terlepas dan spontan ia melangkah mundur. Sementara Nessa sibuk dengan mengatur nafasnya yang naik turun. Airmatanya sudah membanjiri kedua pipi merahnya. Nessa tau itu suara siapa. Mela. "Kalian benar-benar di luar batas!". Deru nafas Mela terdengar memburu. "Sepertinya keputusan Mama untuk menjodohkan Nevan sama Alya adalah keputusan yang tepat!" Nevan terlihat menggelengkan kepalanya beberapa kali. Sementara Nessa hanya bisa terdiam sambil terus menyeka airmatanya yang tak henti-hentinya mengalir. "Nevan. Nessa. Mulai hari ini kalian tidur di kamar masing-masing. Mama nggak menerima bantahan!". Nesaa langsung menerobos keluar dari kamar Nevan. Langkahnya bukan masuk ke dalam kamar barunya tapi malah keluar dari rumah. Entah kenapa kakinya malah berlari menjauhi rumah. Hati Nessa sedikit nyeri saat mendengar Nevan akan di jodohkan dengan Alya. Harusnya ia senang. Dengan begitu ia bisa bebas jalan dengan Ardo. Tapi entah kenapa dadanya terasa sesak dan bulir bening itu terus saja terurai. 〰〰〰〰〰
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN