SEBELAS

1434 Kata
〰〰〰〰〰 Lo adalah hadiah terindah buat gue! Nessa tersenyum mengingat kata-kata Nevan. Di hari yang spesial ini sebenarnya ia menunggu ucapan dari seseorang. Seseorang yang saat ini berada jauh di sana. Arlando Ragil Syahputra. "Di sini lo rupanya!" Nessa membalikkan tubuhnya dan menatap Nevan yang berjalan menuju ke arahnya. Nevan semakin mendekat dan berdiri di samping Nessa. Tangan Nevan langsung memegang besi pembatas balkon dan wajahnya menengadah, menatap langit malam ini. Nessa perlahan memposisikan tubuhnya semula dan kembali menatap langit yang lumayan cerah. Semilir angin malam ini sedikit membuat bulu kuduk Nessa berdiri, bukan karena takut tapi karena hawanya yang sangat dingin. Nessa memeluk tubuhnya sendiri sambil mengusap lengan atasnya. Tubuhnya tiba-tiba bergidik. Nevan menoleh dan langsung merangkul bahu Nessa dari samping. "Udara di sini dingin. Masuk yuk!" Ajak Nevan. Nessa menggeleng lalu menyandarkan kepalanha di bahu Nevan. "Biarin kayak gini dulu!" Pinta Nessa dan Nevan menuruti permintaannya. "Oh iya met ulang tahun ya. Semoga lo di selalu dalam lindunganNya dan diberikan hal-hal yang terbaik dalam hidup lo!" Nevan mengangguk kecil dan mengusap lengan atas Nessa. Nessa sangat nyaman berada dalam pelukannya. "Beneran lo nggak mau hadiah dari gue?" Tanya Nessa meyakinkan. Nevan kembali menggeleng. "Gue kan udah bilang. Lo kado terindah dalam hidup gue. Cukup lo dan selamanya lo!" Tubuh Nessa terasa membeku. Ia menginginkan orang yang ia cintai yang akan mengatakan ini. Tapi nyatanya Ardo sama sekali tidak menelponnya ataupun sekedar mengirim pesan. Suasana malam ini lumayan romantis tapi hati Nessa sendu. Nessa jadi teringat sesuatu. Soal kejadian di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Apa sebaiknya ia menanyakan hal itu ke Nevan? "Van..!" Panggil Nessa. "Hm!" "Gue...gue mau nanya sesuatu nih!" "Apa?" Nessa melepaskan diri dari pelukan Nevan dan menatap wajahnya. "Menurut lo satu keluarga itu golongan darah harus sama ya?" Nevan malah mengernyitkan keningnya. "Maksud lo apaan sih?" Tanyanya balik. Nessa mendengus pelan dan mencoba merangkai kata lagi. "Maksud gue. Satu anggota keluarga ada kemungkinan nggak punya golongan darah beda?" Kening Nevan masih mengernyit dan menatap ke arah Nessa. "Kenapa tiba-tiba nanya gituan?" Nessa langsung memalingkan wajahnya dan mengangkat kedua pundaknya. "Tanya aja sih..!" "Setau gue satu anggota keluarga nggak mungkin golongan darahnya beda. Kalo masih sepupu sih wajar tapi kalo kandung nggak ada. Kalo nggak ngikut sang Ayah ya ngikut Ibunya. Pastinya salah satu dari orang tua mereka!" Nessa manggut-manggut mendengar penjelasan Nevan. Cukup ia pahami. Tapi masih ada yang mengganjal di hatinya. "Kalo seandaikan ada 1 keluarga trus tiba-tiba anaknya golongan darahnya nggak sama kayak sodaranya. Itu gimana?" Nevan tampak berpikir sambil menatap langit malam. "Bisa jadi mereka bukan sodara kandung. Kemungkinan sodara tiri. Karena mewarisi salah satu golongan darah orang tuanya terdahulu!" Nessa kembali manggut-manggut. Apa mungkin ia bukan anak di keluarga ini? Apa mungkin Nevan bukan saudara kembarnya? Beberapa pertanyaan berkecamuk dalam otaknya. Nessa meringis ngeri membayangkannya. Bagaimana bisa ia berpikiran seperti itu? Membayangkan nasibnya seperti cerita-cerita di tv atau novel? "Lo kenapa sih aneh gini? Ini hari spesial kita. Senyum dooonk!" Nessa menoleh ke arah Nevan dan mengurai senyumnya. Agak terpaksa tapi ia harus bahagia di hari ulang tahun Nevan. Ulang tahun mereka berdua. "Nevan. Nessa. Yuk ikut Papa Mama keluar!" Mereka berdua serempak menoleh dan mendapati Mela berdiri di pintu kamar. Nessa mengangguk dan langsung menghampiri Mela, di susul Nevan yang melangkah di belakangnya. Jam masih menunjukkan pukul 7 malam. Aldi dan Mela mengajak Nevan dan Nessa turun. Ke Food Terace yang ada di bawah. Hanya memakan waktu sekitar 15 menitan karena memang posisi rumah mereka berada di puncak Taman Dayu. Mereka berempat duduk melingkari meja. Suasana disini sangat menyenangkan. Jauh dari polusi. Dan ada yang membuat Nessa betah nongkrong di sini. Selain karena harga makanannya yang tak terlalu mahal, di sini ada live musicnya. Entah sejak kapan Adi dan Mela sudah menghilang. Mungkin karena Nessa terlalu sibuk menikmati alunan musik. Pasti mereka sedang memesan makanan. Nessa kembali fokus dengan musik yang ia dengar dan sesekali kakinya menghentak kecil ke lantai. "Nes!" "Ya!" Sahut Nessa cepat dan langsung menoleh ke arah Nevan yang duduk di sebelahnya. "Gue--gue ada sesuatu buat lo!" Kata Nevan sambil tersenyum lembut ke arah Nessa. "Apa?" Tanya Nessa penasaran. Nevan lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju panggung kecil di depan. Nessa melihat Nevan membisikkan sesuatu ke telinga penyanyi itu lalu orang itu mengangguk dan menyerahkan gitarnya kepada Nevan. Kini Nevan yang mengambil alih tempat orang itu dan memegang microphone di depannya. "Tes. Tes. Halo semuanya selamat malam!" "Malam!" Suara itu hampir terdengar serempak. Nessa tetap fokus dengan pandangannya. Menunggu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. "Malam ini merupakan malam spesial untuk orang yang saya sayangi. Juga termasuk malam spesial untuk saya sendiri. Tepat hari ini umur kami genap 18 tahun. Kalian liat. Di sana ada seorang wanita cantik. Dia adalah belahan jiwa saya. Jantung saya. Oksigen saya dan hidup saya. Namanya Emery Nessa Valesia. Kami saudara kembar. Dan malam ini saya akan mempersembahkan sebuah lagu untuknya. My Love My Twin. This song for you!" Nessa tersenyum menatapnya. Tak sedikit pasang mata yang beralih menatap dirinya. Nessa jadi malu sendiri di buatnya. Perlahan petikan gitar Nevan terdengar. Begitu merdu dan terdengar romantis. Rupanya Nevan sedang mencoba menyanyikan lagu favorit Nessa. Lagu milik Anji. Dia. Nevan tampaknya begitu menghayati setiap bait lagu yang ia bawakan. Dan Nessa sangat menyukainya. Begitu ia selesai menyanyikan lagu, suara riuh tepuk tangan langsung terdengar. Nevan turun dari panggung dan kembali ke meja. "SURPRISE!!!" teriak Aldi dan Mela kompakan. Nessa melongo tapi Nevan tampak santai. Di depan meja sudah ada sebuah blackforest berukuran mini. Di atasnya ada lilin biru dengan angka 18. Nevan lalu duduk di sebelah Nessa. "Kadonya mana Ma. Kayak anak kecil aja di kasih kue tart!" Protes Nevan. "Nevan ih...apaan sih lo. Papa Mama udah bela-belain bikin surprise buat kita, lo-nya masiiiih aja protes!" Sungut Nessa. Aldi dan Mela tersenyum lembut lalu Mela angkat bicara. "Ayo make a wish dulu sebelum tiup lilinnya!" Nessa mengangguk dan langsung memejamkan matanya. Tapi tak lama kemudian ia membukanya kembali. Pandangan matanya langsung mengarah ke Nevan. Nevan masih membuka matanya dan tak menuruti perintah Mela. "Make a wish Nevan!" Bisik Nessa sambil menyikut lengan Nevan. Nevan tak menjawab tapi ia terdengar menghela nafas pelan dan mulai memejamkan matanya. Nessa kembali memejamkan matanya. Berdoa untuk kebaikan. Setelah cukup ia membuka matanya dan bersiap meniup lilin itu. Fiuh! Nessa dan Nevan serempak meniupnya. Aldi dan Mela langsung bertepuk tangan. Nessa lebih dulu memotong kue dan menyerahkannya ke Mela selanjutnya potongan kedua ia berikan Aldi dan terakhir Nevan. "Selamat ulang tahun ya sayang. Semoga kalian panjang umur. Selalu di beri kesehatan sama Allah dan tercapai semua cita-citanya!" Pinta Mela. "Amiin!" Kata Nessa dan Nevan hampir serempak. "Makasih ya Ma!" Ucap Nessa pelan. Mela mengangguk dan kembali tersenyum. Nessa dan Nevan beranjak dari tempat duduk dan memesan makanan. Perut Nessa sudah terasa perih. Ia langsung menuju stand favoritnya. Mie goreng jawa. Hidangan itu sangat enak di makan di suhu dingin seperti sekarang ini. Sementara Nevan masih sibuk memilih menu makanannya. Nessa tak sadar jika tangannya sedari tadi menggenggam jemari Nessa. Nessapun mengikuti langkah Nevan kemanapun ia pergi. "Lo mau makan apa sih?" Tanya Nessa setelah agak lama Nevan membawanya muter-muter tidak jelas. "Gue juga bingung mau makan apa!" Nessa membuang nafas kasar. "Ya kan banyak tuh. Ada bakso. Bebek. Ayam. Mie goreng. Nasi goreng. Tahu--!" "Gue nggak selera!" Potong Nevan dengan pandangan mata masih menatap ke arah stand makanan satu persatu. Nessa hanya berdecak pelan. Nevan lalu menghentikan langkahnya di depan stand es krim. Wajah Nessa yang tadinya masam langsung berubah ceria. "Mas. Es krim cokelat 2 ya. Meja 11!" Kata Nevan sambil membuka dompet dan menyodorkan uang 50ribuan ke arah Mas-Mas penjual es krim. "Gue mau es krim!" Pekik Nessa girang. "Makan dulu baru makan es krim!" Seketika wajah Nessa kembali masam. Nevan lalu kembali mengajaknya berputar. "Oh iya makasih ya buat lagunya. Suara lo bagus!" Puji Nessa tulus. Nevan mengangguk pelan. "Itu curahan hati gue biar lo tau perasaan gue!" Bibir Nessa langsung mencembik. Dalam situasi seperti ini Nevan masih membahas soal perasaannya. "Lo tadi make a wish apaan?" Tanya Nessa mengalihkan pembicaraan. Nevan langsung menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Nessa. "Lo pengen tau banget?" Nesaa mengangguk pelan. Jujur ia memang sangat ingin tau apa yang Nevan ucapkan sewaktu berdoa tadi. "Simpel sih nggak muluk-muluk. Gue berharap banget doa gue terkabul biar kita bisa pacaran trus nikah!" Nessa terperanjat mendengar penjelasan Nevan. Sangat tidak masuk akal. "Emangnya lo minta apa?" Tanya Nessa spontan. Nevan mencondongkan tubuhnya. Wajahnya tepat berada di depan wajah Nessa. Hanya berjarak beberapa sentimeter saja. "Gue berdoa. Semoga lo bukan sodara kembar gue!" 〰〰〰〰〰
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN