〰〰〰〰〰
Nessa membuka matanya perlahan saat ia merasakan seseorang menepuk-nepuk pipinya.
"Nessa. Bangun sayang!" Panggil Mela lembut. Wajahnya tampak cemas. Nessa mencoba bangun di bantu Aldi. Ia meringis sambil memegangi kepalanya.
Pusing. Hanya itu yang Nessa rasakan.
Nessa mengedarkan pandangannya. Menatap satu persatu semua orang yang ada di dalam ruangan ini. Dan terakhir matanya tertuju ke sosok Nevan.
Dia tampak terbaring di atas tempat tidurnya. Manik mata Nevan menatap ke arahnya. Seketika darah Nessa berdesir hebat.
Nessa mengalihkan pandangannya menatap ke arah Mela. "Ma..!" Panggil Nessa pelan.
Mela tersenyum lembut ke arah Nessa dan duduk di sebelahmya. Sementara Aldi duduk di sebelah kiri Nessa. "Setelah Nevan keluar dari rumah sakit. Kita bahas masalah ini!"
Nessa menundukkan wajahnya dalam-dalam tanpa bisa menjawab kata-kata Mela. Bayangan mimpi itu tiba-tiba melintas dalam benaknya.
Apa aku akan di pisahkan dengannya? Batin Nessa berseru.
"Ma. Jangan percaya sama apa yang di omongin Nevan. Nevan itu--!"
"Sssst. Udah sayang. Di bahas besok aja!" Potong Mela. Nessa menghela nafas pelan dan menuruti perintah Mela. "Kamu istirahat di rumah ya. Besok kan sekolah!"
Seketika Nessa menoleh ke arah Mela. "Tapi Ma. Aku pengen di sini. Aku pengen jagain Nevan!" Sahut Nessa lirih.
"Nessa. Kamu juga harus perhatiin kesehatan kamu. Udara di sini nggak baik buat kesehatan kamu. Malam ini kamu tidur di rumah sama Mama ya. Biar Papa yang menjaga abangmu!"
Aldi ikut bersuara. Jika Aldi sudah angkat bicara maka Nessa tidak bisa menolak perintahnya lagi. Nessa kembali mengangguk dan menunduk.
〰〰〰〰〰
Berkali-kali Nessa merubah posisi tidurnya tapi matanya sama sekali tak bisa terpejam. Ia menatap ke tempat kosong sebelahnya. Biasanya Nevan memeluk dirinya sambil mengusap pucuk kepalanya. Dengan begitu ia akan tertidur.
Tapi Nevan saat ini berada di rumah sakit.
Nessa kembali merubah posisi tidurnya. Ia melihat hpnya yang tergeletak di atas nakas. Nessa meraihnya dan mengusap layarnya.
Foto dirinya dan foto Nevan terpampang jelas di sana. Nessa menatap sebentar lalu membuka aplikasi chattingnya.
LINE
Nessatwin
Lo udah tidur?
Nevantwin
Belum..
Nessa berdecak sebal membaca balasan pesannya. Ia lalu meletakkan hpnya kembali di atas nakas. Moodnya langsung hilang begitu saja saat pesannya tak juga di balas oleh Nevan.
Tak lama hpnya kembali bergetar. Nessa menatapnya sebentar lalu dengan malas mengambilnya.
Nevantwin
Kok nggak tidur?
Nessatwim
Nggak bisa tidur gue
Nevantwin
Kenapa?
Nessatwin
Lo sendiri napa nggak tidur?
Nevantwin
Kepikiran seseorang
Nessa kembali terdiam. Siapa yang di pikirkan Nevan sampai ia tak bisa tidur? Gumam Nessa dalam hati.
Nessatwin
Alya?
Tebak Nessa langsung.
Nevantwin
Lo
Nessa membelalakkan matanya membaca pesan dari Nevan. Senyumnya perlahan merekah.
Nessatwin
Bullshit
Nevantwin
Gue pengen pulang Nes
Gue nggak betah di sini
Nessatwin
Nggak usah aneh2.
Lo masih sakit
Nevantwin
Nessatwin
Nevantwin
Gue kangen sama lo
Nessa kembali terdiam. Ia bingung harus membalas apa. Tiba-tiba satu notif muncul di layar hpnya. Chat dari Ardo.
ARagil
Udah tidur belum?
Nessatwin
Belum nih...Nggak bisa tidur
ARagil
Udah malem loh...
Awas aja kalo besok nggak bisa bangun
Nessatwin
ARagil
Di bilangin malah ketawa
Tidur Nessa sayaaaang
Nessatwin
Iya ini juga mau tidur
ARagil
Ya udah matiin hp trus tidur
Sweet dream ☺
Nessa tersenyum sendiri membaca chat dari Ardo. Sampai-sampai ia tak sadar ada beberapa notif pesan muncul. Dari Nevan. Dengan bergegas Nessa membukanya.
Nevantwin
Nes..
Nevantwin
Nessa..tidur lo?
Nevantwin
Nes lo lagi apa?
Balas chat gue
Nevantwin
Nevantwin
Lagi chat sama sapa lo?
Ardo?
Nessa sedikit gugup mengetik balasan untuk Nevan. Nevan benar-benar gila. Baru 5 menit di tinggal chat dengan Ardo tapi ia sudah kebakaran jenggot.
Nesaatwin
Sorry...tadi ada Ardo
Chat gue
Nevantwin
Kan apa gue bilang.
Nessatwin
Ya maaf...
Nevantwin
Gue udah bilang sama lo.
Putusin Ardo
Gue serius Nes.
Gue suka sama lo
Nessa menggigit bibir bawahnya. Bingung. Tapi hatinya senang saat mendengar Nevan mengucapkan kata cinta itu.
Nevantwin
Aelaaah diem lagi
Ya udah tidur sana
Nevantwin
Besok berangkat skul di anter sapa
Nessatwin
Kalo nggak Mama ya sendiri
Nevantwin
Sama Mama aja
Awas kalo di jemput Ardo
Nessa tersenyum lebar membaca pesannya.
Nessatwin
Ya udah lo juga tidur sana
Lo kan masih sakit
Nevantwin
Iya nih lagi otw
Nessatwin
Otw?
Kemana?
Nevantwin
Otw tidur
Nessatwin
Nevantwin
Nessa tak membalas lagi chat dari Nevan lagi dan langsung meletakkan hpnya di atas nakas. Sudah larut malam. Nessa hanya tak ingin besok sampai kesiangan.
〰〰〰〰〰
Sesuai perintah Nevan pagi ini Nessa nebeng mobil Mela. Hari ini Mela langsung ke rumah sakit setelah mengantar Nessa sekolah.
Baru saja langkah kaki Nessa memasuki area sekolah tapi ia merasakan hpnya bergetar.
Nevantwin
Udah sampe?
Nessatwin
Baru aja turun dari mobil
Nevantwin
Mobilnya sapa??
Nessatwin
Nyokap lo
Nevantwin
Good
Setelah tak ada balasan dari Nevan, Nessa kembali melangkahkan kakinya. Terasa beda memang. Biasanya selalu ada Nevan di sebelahnya.
Nessa merasakan ada sedikit perbedaan hari ini. Biasanya ia berjalan beriringan bersama Nevan. Merasa ada yang tak beres dengan otaknya, Nessa kembali melangkah dengan lebar dan langsung masuk ke dalam kelas. Masih sepi tapi ternyata Ardo sudah ada di kursinya. Nessa duduk dan meletakkan tasnya. Tak lama kemudian Ardo datang dan langsung duduk di sebelahnya. Tempat duduk Nevan.
"Sendirian?" Tanyanya langsung. Nessa hanya mengangguk. "Nevan mana?" Tanya Ardo lagi.
"Dia di rumah sakit!"
"Nevan sakit?" Tanya Ardo lagi dengan nada suara agak meninggi. Nessa kembali mengangguk. "Trus tadi berangkat sama siapa?"
"Nyokap!"
"Kenapa nggak bilang sama aku. Kan bisa aku jemput! Nanti pulangnya aku anterin ya!"
Seketika Nessa menoleh ke arah Ardo yang tampak menunggu jawaban darinya. "Maaf Do. Kayaknya nggak usah deh..!" Jawab Nessa lemas.
"Kenapa? Nggak di bolehin sama Nevan?"
Nessa menggeleng pelan. "Papa ngelarang aku pacaran!" Kata-kata itu spontan terlontar dari bibir Nessa.
Raut wajah Aldo langsung berubah dingin. "Jadi maksud lo kita putus?"
"Nggak!" Sahut Nessa cepat. "Nggak gitu maksud aku--!"
"Aku heran deh sama keluarga kamu. Nevan sama bokap lo kolot banget sih? Kayak nggak pernah muda aja!"
Spontan mata Nessa mendelik menatap wajah Ardo. Ia tak tau kenapa Ardo bisa mencela Aldi sama Nevan. Emosi Nessa seketika memuncak mendengar keluarganya di jelek-jelekkan. Walaupun sama orang yang ia cintai.
"Do. Maksud kamu apa ngomong kayak gitu?"
"Bener kan? Papa kamu sama Nevan kolot. Ngapain sih mereka ngelarang kamu pacaran? Emang Papa kamu nggak pernah muda apa?"
Nessa langsung bangkit dari tempat duduknya. Nessa tak menyangka jika Ardo bisa mengatakan hal itu.
"Kamu mau kemana?" Cegah Ardo saat Nessa akan meninggalkannya.
"Kantin!" Sahut Nessa pendek.
"Aku temenin--!"
"Nggak perlu. Aku pengen sendiri!" Nessa menepis tangan Ardo dan langsung meninggalkannya. Ia melangkah cepat menuju kantin dengan tangan mengepal kuat menahan emosi.
"Nessa. Tunggu!"
Nessa mendengus sebal dan langsung menoleh. Alya berlari kecil menghampirinya. Nessa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat. Ia mencoba tersenyum ke arah Alya seceria mungkin.
"Ngantin ya?" Tanya Alya. Nessa hanya mengangguk. "Bareng yuk!"
Alya langsung menggandeng lengan Nessa dan melangkah menuju kantin. "Nevan gimana kabar?"
"Nggak tau. Semalam kan gue tidur di rumah. Tadi nyokap langsung ke rumah sakit setelah nganterin gue!"
Alya manggut-manggut saja.
"Oh iya Al. Sebenarnya gue masih bingung sama kejadian kemarin!"
"Soal?" Tanya Alya. Tak terasa langkah kaki mereka sudah sampai di kantin. Mereka duduk di kursi yang kosong. Duduk saling berhadapan.
"Kenapa golongan darah gue sama Nevan bisa beda ya?"
Alya tampak ikut berpikir. "Mungkiiiin kemaren susternya salah ngecek golongan darah lo Nes!"
"Masa sih? Tapi sumpah Al gue penasaran kenapa golongan darah gue beda?"
"Trus Bokap Nyokap lo? Lo tau nggak golongan darah mereka apa?"
Nessa menggeleng pelan.
"Saran gue nih Nes. Sebaiknya lo cek lagi deh ke Dokter trus lo tanya sama Bonyok lo golongan darah mereka apa?"
Nessa menggaruk pelipisnya pelan. "Perlu ya gue cek lagi ke Dokter?"
"Iya lah Nes. Cuman mau mastiin aja sama nggak kayak hasil yang kemarin!"
Nessa paham. Ia harus berpikir positif. Mungkin saja mereka melakukan kesalahan saat mengecek darahnya.
Tak lama kemudian Nessa mendengar suara deringan dari hpnya. Ia merogoh saku bajuku dan menatap layar hpnya yang sudah terpampang foto dirinya dan Nevan.
"Ya halo!" Sapa Nessa pelan.
"Addduuuuuh...kepala gue---!"
"NEVAN? LO KENAPA VAN? KEPALA LO KENAPA??" Tanya Nessa panik saat mendengar suara rintihan Nevan.
"Kepala gue....kepala gue..!"
"IYA KEPALA LO KENAPA??" Tanya Nessa tak sabar.
"Kepala gue pusing karena mikirin lo!"
Seketika Nevan tertawa terbahak-bahak. Bibir Nessa seketika mengerucut. Sebal. Bisa-bisanya Nevan mengerjai Nessa. Padahal gadis itu benar-benar khawatir setengah mati.
"NGGAK LUCU!!" Teriak Nessa. Tawa Nevan perlahan mereda. Nessa bisa mendengar laki-laki itu terbatuk-batuk tapi Nessa tak peduli.
"Ciyeee yang takut gue kenapa-napa......ciye ciye ciyeeeeeee!!"
"NEVAN NGGAK LUCU!!" Teriak Nessa lagi.
"Ahahahahha...ambek'an!"
"Biarin. Daripada lo nyebelin!"
"Lagi dimana lo?"
"Kantin!"
"Jawabnya yang lembut dooonk masa jutek gitu!"
"Bodo!!"
Nevan terkekeh pelan. "Siang ini gue pulang!"
"Hah? Seriusan?" Tanya Nessa tak percaya.
"Duarius. Gue nggak betah di sini. Nggak ada lo!"
Nessa berdecak pelan. "Berhenti modusin gue!"
"Siapa yang modus? Lo sih nggak bisa bedain antara modus dan tulus!"
"Lo mana pernah tulus sama gue!" Sahut Nessa kesal.
"Ck. Nanti gue tulusin lo-nya malah baper..!"
"NEVAAAN!!" Teriak Nessa lagi dan Nevan kembali terbahak. "Kampret lo!"
"Eh eh eh ngomong apaan tadi. Gue nggak pernah ngajarin lo ngomong kayak tadi ya!"
"Ck. Lebay ah. Gue tutup ya, bentar lagi masuk niih--!"
"Jangan!"
Nessa terpaku sejenak. Ia melirik ke arah Alya yang tampak tersenyum ke arahnya. "Gue bentar lagi masuk Nevan. Lagian gue nggak enak di sini ada Alya!" Kata Nessa setengah berbisik.
Alya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Emang kenapa kalo ada Alya? Dia bukan cewek gue kan?"
Nessa memutar bola matanya sambil mendengus pelan. "Udah deh. Gue tutup nih---!"
"Gue bilang jangan. Gue belum selesai ngomong!" Sela Nevan lagi.
"Apaan sih?"
"Lo di tungguin Mama di depan!"
"Depan?" Cicit Nessa dengan kening mengernyit.
"Ck. Depan gerbang sekolah. Buruan!"
"Mama? Ngapain Mama kesini? Bukannya Mama ke rumah sakit?"
"Udah buru. Nggak usah banyak protes!"
Nessa kembali berdecak. Ia menutupi microphone hpnya dan berbisik ke arah Alya.
"Tunggu bentar ya..gue ke depan dulu!" Kata Nessa setengah berbisik. Alya hanya mengangguk dan mengacungkan jari jempolnya.
Nessa langsung keluar kantin dan menuju gerbang sekolah. Di sana memang terlihat mobil Mela. Entah kenapa mendadak perasaan Nessa tidak enak ya.
"Buruan! Ngapain malah bengong di situ?"
Nessa mendelik seketika. Nessa bingung, bagaimana Nevan bisa tau kalau ia sedang melamun?
"Kok lo--!"
"Buruan!" Potong Nevan. Nessa hanya berdecak pelan dan menuruti perintah Nevan. Ia berjalan keluar pagar dan mendekati mobil Mela. Baru saja Nessa hendak mengetuk kaca jendela mobil itu tapi tiba-tiba pintu mobil terbuka dan Nevan ada di dalamnya.
"SURPRISE.....HAPPY BIRTHDAY!!" Teriak Nevan. Aldi dan Mela tak kalah semangatnya. Mulut Nessa melongo menatap ke arah mereka bertiga. Tampaknya Nessa masih tak sadar dengan apa yang terjadi.
Dan ia baru tersadar saat mereka selesai menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.
"Happy birthday sayang. Semoga panjang umur ya!" Seru Aldi dan Mela serempak. Mata Nessa tiba-tiba terasa panas dan berair.
Ia lupa sekarang tanggal berapa dan sama sekali tak ingat hari ulang tahunnya. Nessa menatap ke arah Nevan yang tampak tersenyum. Kepalanya masih di balut perban. Ia lalu merentangkan kedua tangannya. Siap menyambut Nessa.
Nessa mengalihkan pandangannya menatap Aldi dan Mela bergantian. Mereka tersenyum dan mengangguk. Tak perlu pikir lama Nessa langsung berhambur ke pelukan Nevan dan menangis kencang.
"HUWAAAAAA!!"
"Ultah kok malah nangis sih?" Protes Nevan.
"Lo nyebelin. Bikin gue emosi!" Sahut Nessa. Semuanya tertawa.
"Udah nggak usah mellow-mellowan. Sekarang naik!" Titah Aldi.
"Hah? Naik? Aku kan sekolah Pa?"
"Bolos sehari aja nggak bakalan ada yang marahin kamu!"
Kening Nessa seketika mengernyit. "Papa kok malah ngajarin nggak bener sih?"
"Mau ikut nggak?" Goda Aldi dengan memainkan alisnya naik turun.
"MAUUUUUU!!" pekik Nessa dan langsung masuk ke dalam mobil. Tak peduli dengan sekolahnya.
Aldi langsung menjalankan mobilnya dan membawa keluarga kecilnya. Di dalam mobil Nessa berkali-kali mencubiti pipi gembil Nevan.
"Nyebelin lo. Pake acara bikin surprise segala!" Gerutu Nessa. Nevan hanya tersenyum lembut ke arah Nessa. "Oh iya. Lo juga happy birthday yaa. Moga panjang umur dan tambah nyebeliiiiiiin!"
Nessa kembali menghadiahi sebuah cubitan di kedua pipi Nevan. Nevan tersenyum dan tak membalasnya. Mobil berbelok menuju ke arah pintu Tol Malang.
"Kita mau kemana Pa?" Tanya Nessa penasaran.
"Kamu maunya kemana sayaaang?" Tanya Mela.
"Mmm...kemana ya? Aku pengen banget deh makan jagung bakar di Tretes!"
Mela dan Aldi malah tertawa cekikikan.
"Lo nggak salah? Kayak lagi ngidam aja pengen makan jagung bakar di sana!" Celetuk Nevan membuat tawa Aldi dan Mela pecah. Nessa hanya bisa mencembikkan bibirnya.
"Ya udah deh. Terserah kalian aja!" Ucap Nessa pelan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
Tiba-tiba Nevan merangkul bahu Nessa. "Gue ada sesuatu buat lo. Lo pasti suka!"
Nessa tak menghiraukan kata-kata Mevan dan memilih menatap ke jendela kaca. Menikmati pemandangan di luar.
"Happy birthday Nessa!"
Nevan meletakkan sebuah boneka doraemon raksasa ke pangkuan Nessa. Seketika matanya membulat dan senyumnya merekah.
"Aaaa curang. Gue kan belum nyiapin hadiah buat lo!"
Nevan lalu menempelkan kepalanya ke kepala Nessa dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Lo adalah hadiah terindah buat gue!"
〰〰〰〰〰