SEMBILAN

1641 Kata
〰〰〰〰〰 Mela tampak sibuk memasukkan beberapa cemilan ke dalam toples tuperware. Setelah semuanya selesai Mela membawa toples-toples itu ke ruang tamu. Nessa yang baru saja keluar dari kamar hanya menatap heran ke arah Mela. Hari Minggu pagi Mama tampak sibuk. Ada apa? Pikirnya. Nessa perlahan melangkahkan kakinya dan menuju ruang tengah. Di sana, di meja makan sudah siap dengan beberapa masakan yang lumayan banyak. Sepertinya akan ada tamu penting. Nessa lalu mengambil duduk di salah satu kursi coklat itu. Ia mengedarkan pandangannya dan mengamati beberapa macam makanan di depannya. Tanpa sadar ia menelan ludahnya. Perutnya sudah lapar dan di depannya sudah tersaji beberapa menu makanan yang terlihat sangat lezat. Saat Nessa membuka piringnya tiba-tiba suara Mela menginterupsi. "Tahan dulu sayang. Kita akan kedatangan tamu!" "Tamu?" Tanya Nessa pelan. Mela melangkah ke dapur dengan senyum mengembang lalu melanjutkan aktifitasnya. Menyiapkan minuman dingin. "Tante Maura mau ke sini. Temen arisan Mama!" Nessa hanya ber-oh ria dalam hati. Tante Maura? Siapa ya? "Masih lama? Aku udah laper Ma!" Rengek Nessa. Mela kembali melemparkan senyumnya. "Bentar lagi juga dateng!" Nessa mendengus pelan. Padahal ia sudah benar-benar lapar. Apalagi hidangan di depannya ini sangat menggiurkan. "Papa mana Ma?" Nessa menolehkan kepalanya saat mendengar suara Nevan. "Baru bangun ya kamu. Papa ada di taman belakang!" Sahut Mela tanpa mengalihkan perhatian dari gelas-gelas di depannya. "Nessa sayang. Bantuin Mama donk. Tolong bawa gelas ini ke meja makan ya!" Nessa hanya mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Mela. "Semuanya Ma?" "Iya sayang!" Saat Nessa akan mengangkat baki berisikan beberapa gelas itu, tiba-tiba Nevan mengatakan sesuatu yang membuatnya menghentikan aktifitasnya. "Nevan mau ngomong sama Papa juga Mama. Penting Ma!" Nessa menatap tajam ke arah Nevan. Laki-laki itu juga membalas tatapan mata Nessa. Nessa mengkerutkan keningnya dan menggeleng kecil agar Nevan tidak mengatakan hal yang sebenarnya. "Ngomong aja sayang. Mama dengerin kok!" "Ini soal aku sama Nessa Ma!" Kata Nevan lagi. Jantung Nessa berdetak tak karuan. Baki di tangannya agak bergetar karena efek tangannya yang gemetaran. "Kenapa? Kalian berantem lagi? Mama udah ngomong berapa kali? Kalian udah dewasa. Kalo kalian berantem terus mending kalian tidurnya pisah aja!" "Kenapa harus pisah Ma?" Tanya Nevan dengan sedikit meninggikan nada suaranya. "Nevan. Kalian sudah dewasa. Bukan anak kecil lagi. Memang seharusnya begitu kan? Kalian pasti punya privacy. Dan satu hal lagi yang perlu kalian pahami. Kelak kalian akan berpisah. Kalian akan membangun rumah tangga dengan pasangan kalian masing-masing. Jadi Mama harap kalian bisa hidup mandiri. Terutama kamu Nessa!" Pandangan mata Mela langsung beralih menatap Nessa. "Kamu nggak boleh selalu bergantung sama Nevan. Kamu sudah dewasa jadi kamu pasti bisa membedakan mana yang baik dan buruk buat kamu!" "Tapi kenapa harus pisah kamar Ma?" Nevan terlihat ngotot dengan pertanyaannya membuat Mela menghela nafas pelan. "Nevan. Jika kalian masih kecil tentunya Mama tidak akan melarang kalian tidur sekamar. Tapi sekarang beda. Kalian sudah baligh. Mama hanya mengantisipasi agar--!" "Agar kami tidak saling suka?" Sela Nevan. Mela terdiam dan terlihat membeku. Mela lalu berdehem kecil dan mencoba menguasai dirinya. "Bersiap-siaplah kalian. Sebentar lagi Tante Maura datang. Oh iya Van. Mama harap kamu bisa akrab sama anaknya Tante Maura!" Mela tersenyum lembut. Nessa lalu melanjutkan aktifitasnya. Membawa baki itu ke ruang tengah. "Tapi Ma. Nevan mau ngomong penting sama Mama--!" "Nanti malem kita bahas lagi ya sayang. Mama mau ganti baju dulu!" Sela Mela. Nessa perlahan meletakkan baki itu di meja makan dan menata gelasnya. Nevan berjalan ke arah Nessa dan berdiri di sebelahnya. "Nes!" Panggilnya pelan. "Hm. Iya?" Sahut Nessa cepat dengan senyum merekah. Sebisa mungkin ia harus terlihat baik-baik saja di depan Nevan. Hatinya sedikit terasa nyeri saat mendengar perkataan Mela tadi. "Percaya sama gue. Kita pasti bisa lewatin ini semua!" Ucap Nevan pelan dan meraih jemari Nessa lalu menggenggamnya erat. Nevan menarik jemari Nessa dan mengecup telapak tangannya. Nessa hanya bisa diam menerima perlakuan manis dari saudara kembarnya. 〰〰〰〰〰 Nessa dan Nevan duduk bersebelahan di meja makan. Sementara Mela berada di sebelah kiri Nessa dan Aldi duduk di sebelah kanan Nevan. Maura dan anaknya duduk berseberangan dengan mereka. Ternyata dunia ini sempit sekali. Maura adalah ibu dari Alya. Teman sekolah Nessa dan Nevan. "Ehem. Yang lagi curi-curi pandang!" Goda Aldi sambil menyikut lengan Nevan. Nessa menoleh ke arah Nevan dan Nevan terlihat kikuk. "Apaan sih Pa. Siapa yang curi pandang?" Kilah Nevan. Nessa kembali menyantap makanannya dan mencoba tak mempedulikan apa yang mereka bicarakan. "Tenang Boy. Alya sebentar lagi akan jadi bagian dari keluarga kita. Ya nggak Ma?" Kata Aldi lagi. "Bener bangeeet. Acara tunangan di lakukan setelah kalian lulus sekolah!" BYUUUR "UHHHUUUK!" Nessa tanpa sengaja menyemburkan makanan di dalam mulutnya. Untung saja semburannya tak terlalu kuat. Semua mata langsung mendelik ke arah Nessa. Tak terkecuali Mela yang langsung menepuk lengan Nessa. "Nessa jorok iiih. Kamu kenapa sih?" Protes Mela. Nessa tak menjawab dan langsung meraih tisu. Membersihkan mulutnya. Tak lama kemudian Nevan menyodorkan segelas air putih ke arah Nessa dan ia langsung mengambilnya tanpa bersuara. "Jangan ulangi lagi Nessa. Mama nggak suka!" "Maaf!" Ucap Nessa pelan. "Nessa kan nggak sengaja Ma!" Bela Nevan membuat Nessa menoleh ke arah Nevan sebentar. Mela hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafas pelan. "Maaf ya Mbak. Jadi berantakan gini acara kita!" "Ahahaha nggak apa-apa Mbak. Biasa aja. Mungkin Nessa kaget mendengarnya!" Sahut Maura dengan senyum mengembang. Nessa sempat terpana melihat senyumnya. Terasa sejuk di hati. "Ayo di lanjutin makannya. Maaf ya adanya cuman ini aja!" Sahut Mela. "Alhamdulillah. Ini sudah cukup Mbak. Enak kok masakannya. Kalau bisa sih sering-sering aja ngundang saya. Ahahaha!" Nessa hanya meringis mendengar candaan Maura. Maura orangnya supel dan humoris. Tapi entah kenapa sifat itu tidak menurun ke Alya. "Mama ngerasa nggak sih kalo Nevan sama Alya agak mirip?" Celetuk Aldi dan spontan semua mata tertuju ke arah Nevan dan Alya bergantian. "Iya ya. Mereka mirip!" Sahut Mela. "Katanya kalo mirip itu jodoh loh Mbak!" Timpal Maura. Alya terlihat tersipu malu sementara Nevan memasang ekspresi datarnya. Nesaa lalu meneguk segelas air putih dan mengusap mulutnya. Ia beranjak dari tempat duduknya. "Saya permisi dulu!" Mela mendongak menatap Nessa. "Cepet banget kamu makannya sayang?" "Nessa ke kamar sebentar ya Ma!" Pamit Nessa. Tiba-tiba Alya ikut berdiri dari tempat duduknya. "Gue boleh ikut nggak?" Nessa menoleh ke arah Nevan. Bingung mau menjawab apa. "Boleh donk Al. Kenapa nggak boleh?" Sahut Aldi. Alya lalu melempar tsenyumnya ke arah Nessa. Nessa lalu melangkah meninggalkan meja makan di ikuti Alya di belakangnya. Nessa membuka pintu kamar agak ragu. Saat pintu kamar terbuka, mulut Alya seketika menganga lebar. "Kamar yang unik. Lo suka spongebob juga?" Tanya Alya sambil melangkah pelan dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar Nessa. Tangannya lalu menyentuh wall stiker kamar yang bergambar doraemon dan spongebob. "Gue nggak suka spongebob. Itu favoritnya Nevan!" "Nevan?" Tanya Alya dengan kening mengkerut. Nesaa mengangguk pelan. "Mak-maksudnya kalian sekamar?" Tanyanya lagi tak percaya. Nessa kembali mengangguk. "Nggak usah nethink dulu. Kita dari kecil emang kayak gini. Nevan nggak bakalan bisa tidur kalo nggak mainin rambut gue. Gue juga gitu. Nggak bisa tidur kalo nggak di usap-usap kepala gue sama dia!" Penjelasan Nessa membuat Alya menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Nggak nyangka aja sama kalian. Kompak banget. Gue jadi pengen deh punya sodara. Apalagi sodara kembar. Seru pastinya!" Nessa hanya tersenyum tipis. Alya mulai menanyakan beberapa hal tentang Nevan dan Nessa dengan setia menjawab semua pertanyaannya. Entah kenapa pertanyaan Alya semakin membuat dadanya sesak. Sepertinya Alya sangat berminat dengan Nevan. Apa Alya menyukai Nevan? 〰〰〰〰〰 Mereka bertiga sekarang berada di dalam sebuah mobil. Nevan menyetir dan Alya duduk di sebelahnya. Sementara Nessa duduk di belakang sendirian. Nessa sengaja memilih menatap ke arah luar jendela daripada melihat Alya yang terus-terusan menatap Nevan. "Oh iya Van. Lulus nanti lo mau kuliah dimana?" Suara Alya memecah keheningan di dalam mobil. "Belum ada planning!" Jawab Nevan datar. "Gitu ya? Padahal kan UNBK tinggal beberapa bulan lagi? Kalo lo Nes. Mau kuliah dimana?" Alya sedikit menengok ke belakang. "Mm. Gue pengen banget kuliah di luar negeri!" Jawab Nessa dengan pandangan menatap ke wajah Alya. "Wow. Hebat donk. Gue juga pengen sih tapi kasihan Bunda ntar sendirian di sini. Hehehe!" "Kenapa pilih keluar negri? Lo punya niatan ninggalin gue?" Nessa sedikit mendelik ke arah Nevan. Alyapun langsung menolehkan kepalanya menatap Nevan. "Gu-gue pengen aja. Lagian kata Mama gue harus belajar mandiri kan?" Suasana hening kembali. Entah kenapa tiba-tiba Nessa ingin segera lulus sekolah dan pergi meninggalkan kota ini. Nevan menepikan mobilnya di sebuah minimarket. Alya langsung turun di susul Nessa yang keluar dari pintu belakang. Begitu turun Nessa mengedarkan pandangannya. Di seberang jalan ada yang menarik penglihatannya. "Al. Lo kesana dulu ya. Gue mau beli itu!" Pamit Nessa sambil menunjuk seorang penjual es krim di seberang jalan. "Oke. Ati-ati Nes!" Pesan Alya. Nessa mengangguk dan langsung berbalik meninggalkan Alya. Nevan yang baru saja keluar dari mobil langsung menginterogasi Nessa. "Mau kemana lo?" "Beli es krim bentar!". Nessa menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Menunggu beberapa mobil dan motor yang lewat. Setelah keadaan lumayan sepi ia melangkahkan kakinya, menyebrang jalan. Baru saja beberapa langkah tapi Nevan berteriak. Suara teriakannya membuat langkah Nessa berhenti seketika. Nessa tak tau kenapa Nevan berteriak memanggil namanya. Yang Nessa tau saat ini Nevan sedang berlari ke arahnya dan langsung memeluk dirinya. BRAAAAK! Suara itu begitu nyaring terdengar di telinga Nessa membuat matanya terpejam. Nessa merasakan tubuhnya menyapu jalanan beraspal ini. Ia berteriak kencang dan airmatanya mulai tumpah. Apa yang terjadi? Tubuh Nessa berguling beberapa meter di jalanan ramai ini. Tapi ia merasakan sebuah tangan memeluknya dengan erat. Nessa mulai membuka matanya perlahan saat ia mencium bau anyir darah dan hal pertama yang ia lihat adalah Nevan yang terbaring di rerumputan dengan tangan memeluk pinggangnya. Kepala Nevan penuh dengan darah dan darah itu mengalir di kedua pelipisnya. Hidung dan mulutnya tak kalah mengerikan. Darah ada di seluruh wajahnya. Air mata Nessa langsung berurai seiring ia berteriak memanggil nama Nevan. "NEVAN!!" 〰〰〰〰〰
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN