〰〰〰〰〰
Nessa tak tau apa ia akan melakukannya? Menuruti permintaan Nevan. Putus dengan Ardo?
Nessa menggigit bibir bawahnha kuat-kuat. Ia menunggu kedatangan Ardo di taman belakang. Tapi hingga 10 menit berlalu, laki-laki itu tidak datang juga.
Kemana Ardo?
Nessa menolehkan kepalanya kesana kemari. Mencari sosok Ardo dan senyumnya langsung mengembang menatap kedatangan cowok jangkung itu.
Ardo langsung duduk di sebelah Nessa. "Maaf ya. Tadi ada rapat OSIS bentar. Kamu nggak lama kan?"
Nessa menggeleng dengan senyum merekah.
"Ada apa?"
Pertanyaan Ardo membuat senyum Nessa hilang seketika. Ia teringat sesuatu. Tapi Nessa ragu apakah ia akan mengambil keputusan ini?
"Mm...ada yang pengen aku sampein sama kamu!"
"Soal?"
Nessa menatap mata Ardo yang hitam pekat. "Aku mau tanya sama kamu. Apa bener kamu cinta sama aku?"
Kening Ardo mengkerut lalu sedetik kemudian ia tertawa. "Kenapa nanya gituan?"
Nessa meringis sambil menggaruk pelipisnya.
"Mm. Nggak apa-apa sih cuman tanya aja!" Jawab Nessa pelan.
Ardo kembali tertawa. Ia lalu mengusap kepala Nessa. "Ayo aku anterin pulang!"
Nessa kembali meringis. Nevan sedang menunggunya di parkiran. Kalau ia pulang bersama Ardo lalu bagaimana dengan Nevan?
"Kok bengong? Ayo pulang!"
"I-iya!" Sahut Nessa gagap dan beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah beriringan bersama Ardo. Langkahnya sedikit melambat saat tiba di parkiran.
Nessa mengedarkan pandangannya dan mendapati Nevan sedang berdiri di samping mobil. Laki-laki itu terlihat menyilangkan kedua tangannya ke depan d**a. Matanya menatap lurus ke arah Nessa.
"Hari ini aku anterin. Biar Nevan pulang sendiri!" Interupsi Ardo. Nessa mengangguk pelan lalu kembali melangkah mengikuti Ardo menuju motor sportnya.
Ardo lalu naik ke motornya dan Nessa ikut naik di jok belakang. Tiba-tiba seseorang mencekal lengan Nessa. Nessa menoleh dan mendapati Nevan sudah berdiri di sebelahnya.
"Nevan?"
"Pulang bareng gue!" Kata Nevan dingin. Nessa menelan ludahnya takut. Ia melirik ke arah Ardo. Ia lalu turun dan mencoba melepaskan lengannya dari cengkraman tangan Nevan.
"Dia udah gede Van. Dia punya pilihan sendiri. Berhenti bersikap protektif sama Nessa. Sekarang lepasin!" Titah Ardo.
Nevan membalasnya dengan senyuman miringnya dan masih mempertahankan cengkramannya. Ia lalu menatap Nessa lagi.
"Lo nggak lupa pesen Papa kan?"
Nessa tentunya tidak lupa dengan pesan Aldi. Tapi tidak hari ini. Ia masih ingin bersama Ardo. "Maaf Van. Gue nggak bisa!" Jawab Nessa pelan. Nevan membalasnya dengan tatapan tajam dan perlahan cengkraman tangannya mengendur. Nessa mundur sedikit saat tangan yang satunya di genggam oleh Ardo.
"Ayo Nes. Aku anter pulang!" Ardo kembali naik ke atas motornya dan Nessa akhirnya memilih pulang bersama Ardo.
Maafin aku Van. Tapi ini aku lakukan demi kebaikan kita. Tidak mungkin kita bersatu. Karena kita saudara. Selamanya akan menjadi saudara.
〰〰〰〰〰
Semenjak kejadian siang itu, aku dan Nevan jarang berkomunikasi. Terhitung sudah hampir seminggu. Tapi kami masih tidur dalam satu kamar. Hanya saja Nevan lebih banyak diam. Biasanya ia melarangku ini itu tapi ia membiarkan aku melakukan apapun.
Seperti pagi ini. Saat bel istirahat berbunyi Nevan langsung keluar dari kelas. Aku dengan gerakan cepat mengikuti langkahnya.
Dan ternyata ia berdiri di depan pintu kelas Alya. Keningku mengernyit saat melihat Alya keluar dari kelas. Alya tersenyum ke arah Nevan, begitupun Nevan. Aku hanya bisa diam menatap pemandangan itu.
Lalu mereka melangkah beriringan menuju kantin. Aku terus mengendap-endap mengikuti mereka dari belakang.
Nevan memilih duduk di pojok kantin. Mereka duduk berhadapan. Mataku tak bisa lepas dari dua sosok di depanku.
Dan entah kenapa hatiku sedikit nyeri saat melihat Nevan menatap Alya. Senyum Nevan tersungging di bibir merahnya.
Kenapa aku? Harusnya aku bahagia melihat Nevan bersama Alya. Bukankah ini rencanaku dulu?
Aku menghela nafas pelan lalu berniat meninggalkan area kantin.
BRUK!
"AAAAAW!!" teriakku saat pundakku membentur tubuh seseorang.
"Nessa. Kamu ngapain di sini?"
Aku langsung mendongak saat mendengar suara Ardo. Aku hanya meringis ke arahnya. Aku menoleh ke belakang dan sialnya mata Nevan menatap ke arahku.
Gawat.
Kalau sampai Nevan tau...
Aaaah...kacau. Aku langsung mengambil langkah seribu dan tak mempedulikan teriakan Ardo memanggil namaku.
Aku bingung dengan perasaanku. Kenapa?
Seminggu terasa sepi tidak mendengar ocehan dari mulut Nevan. Perhatiannya juga berkurang dan sekarang dia sibuk dengan Alya.
Aku menghela nafas pelan dan menghembuskannya dengan cepat.
Aku merindukan senyum Nevan. Perhatiannya. Sikapnya yang posesif dan kadang protektif. Aku merindukan suaranya. Aku merindukan elusan tangannya yang lembut.
"Nessa. Ngapain bengong di sini?"
"Hah?" Aku refleks mendongak dan mendapati Suster Okta sudah berdiri di depanku.
"Kamu nangis?" Tanyanya lagi. Aku mengerjapkan mataku dan menyeka kedua sudut mataku.
Kok basah? Sejak kapan ada airmata di sini?
"Eh. Suster Okta. Nggak apa-apa kok!"
"Trus kenapa nangis?" Suster Okta mengulangi pertanyaanya. Aku hanya menggeleng sambil melemparkan senyum manisku. "Kamu kayaknya lagi ada masalah ya? Masuk sini!"
Aku menurut dan masuk ke dalam uks. Suster Okta membawaku duduk di sofa tak jauh dari meja prakteknya.
"Sedih gitu mukanya? Kenapa?"
Aku kembali menggeleng pelan. Aku bingung harus bicara apa.
"Kamu sendirian? Tumben? Biasanya sama Nevan!" Suster Okta tampak celingak celinguk. Sepertinya sedang mencari Nevan.
"Nevan nggak ada Sus. Dia di kantin sama Alya!"
Kening Suster Okta langsung mengkerut mendengar penjelasanku. Perlahan senyumnya mengembang dan itu malah membuatku semakin bingung.
"Aku tau kenapa kamu galau kayak gini!"
Kini keningku yang mengkerut sambil menatap Suster Okta. "Kenapa emangnya Sus?"
Suster Okta membenarkan letak duduknya. "Saudara kembar itu biasanya punya perasaan yang kuat. Kalian punya telepati. Saat kamu sakit, biasanya kembaran kamu ikut merasakan apa yang kamu rasakan!"
"Dan.....!"
"Dan apa Sus?" Selaku.
Suster Okta menebar senyumnya ke arahku. "Seperti yang udah aku bilang sebelumnya. Kebanyakan saudara kembar beda jenis kelamin itu akan mengalami masalah brother complex. Mereka merasa nyaman dan saling melengkapi. Karena sejak kecil mereka terbiasa bersama. Dan saat kalian terpisah, kaliann akan merasa kesepian. Walaupun kalian merasa nyaman dengan pasangan kalian masing-masing!"
"Suster tau soal aku sama Ardo?"
Kembali senyum itu mengembang dari bibir Suster Okta. Ia mengangguk. "Siapa yang nggak tau soal hubungan asmara sang Ketua OSIS?"
Aku mengangguk, membenarkan perkataan Suster Okta. Aku kembali murung dan mencermati kata-kata Suster Okta.
"Kayaknya kalian harus intropeksi diri deh Nes!"
"Kenapa?" Tanyaku seraya menoleh ke arah Suster Okta.
"Kalian sodara. Sedarah. Serahim. Coba deh kalian rundingan sama orang tua kalian. Mereka pasti mengerti dan akan mencarikan solusi yang terbaik!"
"Rundingan sama orang tua?"
Suster Okta mengangguk. Kalau saja aku mengikuti saran Suster Okta maka mimpiku itu akan menjadi kenyataan. Aku dan Nevan akan terpisah. Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali.
"Aku nggak yakin bisa Sus!"
"Harus doonk. Ini demi kebaikan kalian bersama. Inget Nes. Apapun alasannya kalian tetap salah. Haram hukumnya mencintai saudara sendiri. Apalagi saudara kandung. Kamu ngerti kan?"
Aku mengangguk pelan. Tak lama kemudian aku merasakan kehadiran seseorang di ruangan ini. Saat aku menoleh ke arah pintu uks. Di sana Nevan berdiri. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Sejak kapan dia ada di sana? Apa dia mendengar semuanya?
Aku menggigit bibir bawahku saat Nevan melangkah menghampiriku. Suster Okta langsung beranjak dari sofa lalu menghadang langkah Nevan.
"Kalian udah dewasa. Selesaikan masalah kalian!". Pesannya lalu Suster cantik itu keluar dari ruangan ini. Pandangan mataku langsung menunduk. Aku terus berharap semoga Nevan tidak mendengar apa yang aku bicarakan dengan Suster Okta.
"Lo nggak apa-apa?" Tanyanya dengan suara pelan. Aku menggeleng masih dengan pandangan menunduk.
Nevan lalu mengambil duduk di sebelahku. Aku takut. Aku meremas ujung rokku sambil kembali menggigit bibir bawahku.
"Kenapa ada di sini?" Tanya Nevan lagi.
"Gu-gue tadi...cuman ngobrol sama Suster Okta!"
"Kalo ngomong itu ngeliat orangnya!". Sahutnya ketus. Ada sedikit kebahagiaan dalam hatiku saat mendengar nada bicaranya. "Gue kuatir sama lo. Gue kira lo kenapa-napa!"
Seketika aku menoleh ke arah Nevan. Menatap mata hitam pekatnya. Aku benar-benar merindukan mata itu. Dan Nevan tersenyum lembut ke arahku. Aku juga merindukan senyumnya.
"Gue udah denger semuanya!" Katanya tiba-tiba. Jantungku tiba-tiba berlomba berdetak. Rasanya kencang sekali.
"Gue--!"
"Ssssst!" Nevan menempelkan jari telunjuknya ke bibirku. "Perlu lo tau. Seminggu ini gue sengaja ngindarin lo. Gue deketin Alya. Gue pengen tau aja seberapa pentingnya gue buat lo!"
"Hah?"
"Dan gue tau..lo selalu ngikutin gue kemana gue pergi!"
"Kok lo tau?" Aku nyeplos gitu aja. Aku langsung menutup mulutku. Nevan kembali tersenyum sambil mengusap pucuk kepalaku.
"Itu nggak penting karena yang terpenting sekarang adalah gue tau isi hati lo!"
Aku langsung mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Menunduk. Aku bingung harus berkata apa. Nevan lalu meraih jemariku dan menggenggamnya. Akupun langsung menoleh ke arahnya.
"Gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Kita perjuangin cinta kita--!"
"Tapi Papa? Mama?" Potongku.
"Itu biar jadi urusan gue. Yang gue mau, lo selalu ada di samping gue!"
"Tapi Ardo--!"
"Gue tau sebenarnya lo nggak cinta sama Ardo. Gue udah pernah bilang kan? Cinta sama obsesi itu beda Nes!"
"Alya?"
"Alya? Gue sama Alya nggak ada apa-apa! Dia gue anggep adek. Gue nggak ada perasaan lebih sama dia. Emang sih gue ngerasa nyaman kalo deket sama dia. Tapi gue jamin...rasa cinta gue cuman buat lo!"
Aku mengedipkan mataku pelan. Dan buliran bening itu tiba-tiba menetes membasahi pipi chubbyku. Nevan langsung mengusapnya dan melempar senyumnya.
"Gue mohon. Jangan pernah sekalipun berpikir buat pergi dari hidup gue!"
Aku mengangguk pelan. Senyum Nevan semakin merekah. Ia lalu menarik tubuhku dan memeluknya sangat erat.
Aku langsung membalas pelukannya. Aku tak tau apakah jalan yang kami pilih ini benar atau salah. Mungkin sebentar lagi mimpiku akan menjadi kenyataan. Aku dan Nevan akan terpisah.
Aku semakin mengeratkan pelukanku. Biarlah ini menjadi pelukan terakhir kami jika memang suatu saat nanti kami terpisah.
〰〰〰〰〰