Bab 2 Pertemuan

634 Kata
"Mes", panggil Mama sambil mengetuk pintu kamar. "Ehm", jawabku yang masih berada di atas kasur dengan posisi yang tak karuan. "Kerja gak? Apa libur hari ini?", tanya Mama sambil membuka pintu kamar yang memang tak pernah ku kunci. "Hah? Jam berapa, Ma?", tanyaku yang segera duduk dengan rambut berantakkan. "Setengah enam", jawab Mama santai. "Aduh", ucapku sambil menepuk jidat. Segera ku langkahkan kaki menuju kamar mandi. "Udah, gak usah buru-buru. Masih telat juga", ucap Mama yang memang sudah pasrah menghadapiku sambil berlalu. Selesai mandi, aku segera menuju meja makan untuk menyantap satu keping roti coklat yang sudah Mama siapkan. Tak lupa, Pelo juga ikut serta. "Begadang lagi?", tanya Mama yang masih memasak. "Gak. Cuma emang ngantuk berat aja, Ma. Banyak banget kerjaanku di kantor kemarin", ucapku masih dengan santai menyantap roti. Tak lama, telponku berdering. "Anti". "Halo", ucapku. "Dimana? Udah jalan belom? Hari ini Pak Bos ngajak rapat. Mau perkenalan sama yang baru itu", ucap Anti di telpon. "Aduh! Iya-iya gue jalan sekarang", ucapku sambil menutup telpon. Jujur saja, aku lupa jika hari ini orang pindahan itu datang. Aku segera bergegas menuju garasi dan memasukkan semua perlengkapan kerja ke dalam mobil. "Eh, pelan-pelan. Gak usah buru-buru gitu", ucap Mama sambil mengikutiku. Mungkin beliau hanya bisa pasrah melihat tingkah laku anaknya. "Iya, Ma. Aku pamit dulu ya. Assalamualaikum", ucapku sambil mencium tangan Mama. Ku lajukan mobil dengan kecepatan sedang. Berusaha untuk tetap tenang karena mau tidak mau pasti ada potongan nanti di slip gajiku. Sampai di kantor segera ku parkirkan mobil di bawah pohon agar tak terlalu panas saat pulang nanti. Bergegas ku masuki loby dan melakukan finger print. "Udah dateng, ya?", tanyaku kepada Anti yang sudah berada di meja kerjanya. "Udah. Dari mana aja, sih? Tumben banget telat. Biasanya paling anti banget sama potongan. Haha", ledek Anti. "Kesiangan. Dimana?", tanyaku yang masih penasaran. "Di ruang Pak Bos. Udah, santai aja", ucap Anti yang berusaha menenangkan. "Huft", ucapku sambil menghela nafas. Tak lama berselang, Pak Bos memanggil kami untuk segera ke ruang rapat. "Ayo semua, kita kumpul dulu di ruang rapat, ya. Ada pegawai baru. Sekalian kenalan", ucap Pak bos sembari berlalu. "Oke, Pak", jawab kami. Ruang rapat berada di lantai dua gedung kami. Biasa digunakan jika ada pertemuan penting antar pegawai. Fasilitas kantor yang aku tempati ini lumayan oke. Seperti bukan berada di daerah kabupaten yang notabene sederhana. Semua pegawai sudah berkumpul di ruang rapat. Terlihat satu pegawai yang memang asing. Di dadanya terdapat name tag yang bisa terbaca jelas. Namanya Arka. Ya, hanya Arka. Tak ada kata lain selain itu. "Tuh", ucap Anti sambil menyikut lenganku. "Sssttt", ucapku malu. "Baiklah semuanya, mungkin kemarin sudah ada yang tahu bahwa kantor kita akan kedatangan pegawai baru. Beliau ini pindahan dari kabupaten sebelah. Pindah karena memang mengajukan. Silahkan Arka, perkenalkan diri kepada yang lain", ucap Pak Boss. "Baik, Pak terima kasih. Assalamualaikum semuanya. Perkenalkan, saya Arka. Nama lengkap Saya Muhammad Arkana Revian. Biasa di panggil Arka. Saya berasal dari sini, dan alasan saya pindah karena ingin merawat kedua orang tua saya. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik. Terima kasih", ucap Arka. Jujur saja, ku akui Arka termasuk pria yang memiliki karisma di banding dengan pria yang ada di kantor ini. Beda aja gitu ngeliatnya. Selain itu, aku merasa alasan dia pindah kesini sangat mulia. Aku jadi terharu dan teringat dengan orang tuaku. Perkenalan Arka disambut tepuk tangan meriah oleh seluruh pegawai kantor, tanpa terkecuali. Sepertinya memang Arka bisa menarik hati. Ya, termasuk aku. "Baik. Terima kasih Arka atas perkenalannya. Berhubungan bidang kamu dulu di bagian perencanaan, jadi sekarang tetap sama ya. Silahkan bergabung dengan bagian perencanaan. Mungkin ada yang ingin mewakili untuk perkenalan menyambut Arka?", ucap Pak Boss menawarkan. "Iya, Pak. Mesa mau mewakili", ucap Anti spontan tanpa memikirkanku. Aku hanya tertegun. Entah apa yang harus aku bicarakan di depan. Huf, memang ulah Anti ada-ada saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN