"Cla kamu udah makan siang?" Tanya Liam saat berada di depan meja Clara bersama dengan Juna di gendongan nya.
"Belum pak, saya mau menyelesaikan ini dulu" jawab Clara sambil menatap sekilas Liam lalu mengalihkan pandangan nya lagi ke komputer.
Hari ini pekerjaan Clara sedang banyak sekali, karena sejak pagi Liam tidak bisa melakukan apapun, Juna sedang rewel dan sangat sulit di tenangkan, selalu ingin dengan Liam.
"Da...da...urun...." Juna yang sedang di gendongan meminta untuk keluar dari gedung perkantoran yang sedang sibuk itu.
Tubuh Juna sedang demam sejak tiba di kantor pagi tadi, dan Liam juga tidak bisa pergi begitu saja untuk pulang, karena Liam memiliki tanggung jawab pada perusahaan.
Dan beruntung nya Clara dengan cekatan membantu Liam untuk melakukan nya semua, bahkan sampai jam makan siang pun Clara belum selesai melakukan nya.
"Sebentar nak, Daddy bicara dulu sama Tante Clara" kata Liam berusaha membenarkan lagi gendongan Juna di tubuh nya.
"Kamu makan siang aja dulu Cla, berkas nya nggak harus selesai hari ini juga kok" kata Liam.
"Oh iya pak nanti saya makan siang"
"Yaudah kalau gitu aku tinggal dulu ya buat periksa Juna ke dokter" setelah mendapat anggukan dari Clara, Liam langsung melangkahkan kaki nya untuk pergi dari sana dan menuju lobby kantor.
.
"Pak Liam mana?!" Clara mendongakkan kepala nya untuk melihat siapa yang datang dan bertanya dengan nada kasar itu padanya.
"Pak Liam lagi keluar mba" jawab Clara sopan.
"Nih nanti kalo dia Dateng bilang gw udah kasih laporan keuangan" dengan kasar wanita itu menaruh map yang katanya berisi laporan keuangan dimeja Clara dan pergi dari sana begitu saja.
Clara yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas nya pelan, selama dia bekerja disini sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu dari. Nathalia, kepada divisi keuangan.
Bahkan sampai saat ini, Clara sendiri tidak mengerti dimana salah nya sampai wanita itu berperilaku tidak menyenangkan kepada dirinya.
Dari arah yang berlawanan Ilham datang mendekati Clara setelah sebelum nya berpapasan dengan Nathalia dan tentu saja tatapan judes yang diberikan kepada Clara oleh Nathalia juga di berikan wanita itu pada Ilham.
"Jangan kamu hirauin Cla, Nathalia emang begitu ke semua pegawai perempuan yang Deket sama pak Liam" Clara mendengar hal itu dari Ilham pun langsung menatap pria itu dengan kening berkerut.
"Maksudnya?" Tanya Clara yang tidak mengerti dengan pembicaraan Ilham.
"Nathalia nggak suka sama perempuan yang Deket sama pak Liam, dari divisi manapun dan siapapun itu bahkan termasuk sama nona Dhea yang notabene tunangan tuan Kei" kata Ilham yang tanpa sadar bercerita perihal atasan nya itu.
"Tunggu tunggu, Tuan Kei tunangan nya Dhea? Nara Dhea? Mas Ilham serius?" Tanya Clara tidak yakin, dia baru tau kalau Kei mantan atasan nya merupakan tunangan dari sahabat nya Nara.
"Iya Nara Dhea, kamu kenal juga sama dia?"
"Dia sahabat aku dari SMP sampai SMA mas..." Ucap Clara yang di balas anggukan dari Ilham pertanda pria itu mengerti.
.
.
.
Liam baru selesai memeriksa keadaan Juna di rumah sakit, dan benar saja putra nya itu demam yang menyebabkan rewel.
Dan kini Liam sedang di dalam lift menuju ruangan nya, Juna sudah bersama dengan Ilham. Mumpung Juna sudah bisa istirahat dan tenang setelah meminum obat, Liam meminta Ilham kerumah nya untuk menjaga Juna sebentar, karena Liam harus kembali ke kantor untuk mengambil beberapa berkas.
Karena kemungkinan sebelum Juna sembuh Liam tidak akan datang ke kantor.
Dan begitu sampai di lantai dimana ruangan nya berada, begitu keluar dari lift dengan sesuatu di genggaman nya Liam berjalan dengan gagah untuk menghamili Clara yang masih terlihat sibuk dengan layar komputer nya.
Dengan tiba-tiba Liam menaruh sebuah bungkusan di hadapan Clara, membuat si pemilik meja menatap Liam.
"Kamu pasti belum makan kan sampai sekarang?" Tanya Liam yang sangat tau, karena tidak terlihat sedikitpun jejak bekas Clara makan.
"Eh iya pak, aduh saya lupa" kata Clara meringis tidak enak, karena setelah pembicaraan nya dengan Ilham siang tadi, dirinya langsung melanjutkan pekerjaan tanpa ingat makan siang.
"Ini buat kamu, aku tau kamu pasti selalu lupa makan kalo lagi sibuk" kata Liam setelah itu berlaku dari sana dan menuju ruangan nya sendiri untuk mengambil berkas yang akan dia urus.
Sedangkan Clara kaget dengan apa yang dilakukan oleh Liam, dan saat dibuka bungkusan itu ternyata isi nya adalah makanan favorit Clara yaitu bakso malang.
"Ternyata dia masih inget makanan kesukaan gw" gumam Clara.
.
15 menit di ruangan nya Liam kembali keluar lagi, dengan tas laptop juga beberapa berkas di tangan nya, Clara yang melihat itu berniat membantu meskipun sedang makan, tapi di tahan oleh Liam.
"Kamu makan aja, aku bisa bawa ini sendiri. Kalo udah jam pulang langsung pulang aja jangan lembur, kamu bisa selesaikan besok atau bawa pulang kerumah bebas. Mungkin untuk beberapa hari aku nggak masuk Juna masih sakit"
"Baik pak" setelah itu Liam pergi dari sana.
Clara melihat punggung tegap Liam yang berjalan menjauh, sampai akhirnya menghilang saat pintu lift tertutup. Liam sebenarnya sudah sering kali meminta kepada Clara untuk kembali bicara santai seperti saat dulu.
Tapi itu semua sulit Clara lakukan, karena dia takut terbawa arus seperti dahulu, apa lagi status mereka sudah berubah. Atau lebih tepatnya status Liam yang kini sudah tidak sendiri.
.
.
.
Liam sampai di kediaman nya, dengan langkah sedikit berlari dia menuju dalam rumah dan melihat Juna yang sedang menangis di pelukan Ilham.
"Dia baru aja bangun pak, langsung nangis karna nggak ada bapak di dekat dia" jelas Ilham. Liam pun mengangguk dan mengambil alih Juna dari gendongan Ilham.
Berusaha menenangkan Juna yang menangis karena takut jika tangisan itu tidak berhenti untuk waktu yang lama maka suara Juna akan serak.
"Udah ya nak, Daddy ada disini. Jangan nangis lagi" kata Liam dengan nada ke bapak-an sekali.
Ilham yang melihat itu sungguh takjub, bagaimana pun juga dia tau Jika menjadi sosok ayah tunggal bukan lah hal yang mudah. Apa lagi anak nya masih kecil.
Menurut Ilham bukan hal yang sulit jika memang Liam ingin pendamping hidup yang baru, namun Dengan memiliki Juna menjadi pertimbangan baru lagi.
Jika saja Liam masih sendiri maka akan dengan mudah dia mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan, sedangkan sekarang dia harus memikirkan Juna sekaligus. Dia harus mencari wanita yang juga mencintai anak nya.
Ilham cukup lama bekerja dengan Liam, dan sudah sering dia melihat banyak wanita yang ingin mendekati bos nya termasuk kepala divisi keuangan Nathalia. Tapi semua itu tidak di tanggapi oleh Liam.
Karena Ilham tau kalau Liam sadar jika wanita-wanita itu hanya ingin harta dan Liam pribadi. Tidak dengan Juna, tapi sekarang Juna dan Liam adalah satu paket, jika ingin memiliki Daddy nya maka harus mengambil hati anak nya lebih dulu.
Tbc