Siang hari ini Clara baru saja menyelesaikan pekerjaan nya yang di tinggal oleh Liam, dan seperti yang pria itu katakan jika Liam tidak akan masuk sampai Juna sembuh.
Dan saat tadi Clara ingin meletakan berkas yang siap di tanda tangani oleh Liam, Clara baru melihat map yang kemarin kepala divisi keuangan berikan kepadanya.
Clara menepuk kening nya pelan saat dia lupa mengatakan pada Liam kemarin, karena dia sibuk berdebar serta kaget dengan sikap perhatian Liam padanya.
Dan bersamaan dengan itu Clara melihat Ilham yang baru saja keluar dari ruangan Liam, dengan beberapa tumpukan berkas dan terlihat bingung.
"Mas Ilham" panggil Clara "Mas nyari apa?" Tanya Clara lagi
"Ini loh Cla, aku mau rapat gantiin pak Liam, tapi pak Liam minta anterin laporan keuangan yang dia minta dari divisi keuangan. Barusan aku cari di dalam enggak ada" kata Ilham lagi.
"Eh ini mas, laporan nya masih sama Clara. Kemarin mba Nathalia kasih ke Clara suruh sampein ke pak Liam tapi Clara lupa" kata Clara sambil meringis merasa bersalah karena sudah menyulitkan Ilham.
"Wah ada di kamu ternyata cla, kamu masih ada kerjaan lagi nggak?"
"Enggak mas, kemarin berkas Clara bawa pulang dan Clara selesaikan di rumah jadi siang ini Clara free"
"Aku boleh nggak minta tolong sama kamu? Tolong anterin berkas itu ke rumah pak Liam. Aku harus meeting gantiin beliau" pinta Ilham, karena waktu nya benar benar sudah mepet sekarang.
"Eh tapi Clara nggak tau rumah pak Liam mas, terus juga kenapa nggak nunggu pak Liam masuk aja? Ini kan laporan keuangan bulanan biasa?" Tanya Clara heran.
"Gak bisa Cla, pak Liam lagi nyelidikin penyelewengan dana di perusahaan. Dan soal alamat nanti bakalan aku kirim ke kamu. Udah dulu ya aku udah mau telat ini" tanpa menunggu jawaban Clara, Ilham berlari menuju lift karena mulai nya meeting.
Clara menghela nafas nya kasar saat tidak bisa lagi membantah apa yang dikatakan oleh Ilham, lagian juga dia kasihan melihat Ilham yang kerepotan menggantikan Liam meeting.
Dan menurut Clara, Liam saat sudah menjadi sosok ayah begitu perhatian. Dia bahkan mau untuk tidak masuk kerja karena anak nya sakit, padahal kan sudah pasti ada istrinya yang mengurus putra nya.
.
.
.
Jam sudah menunjukan pukul 11 siang, dan Liam baru saja selesai memberikan makan siang kepada Juna dan juga meminumkan putra nya itu obat. Dan sekarang Juna sedang tertidur pulas.
Jangan kira Liam dirumah maka tanggung jawab atas perusahaan dia biarkan begitu saja. Tentu saja tidak, dia membawa sedikit pekerjaan nya yang kemarin belum selesai dan dia juga sudah meminta Ilham untuk mengantarkan laporan keuangan.
Liam mencurigai jika ada yang bermain dengan dana perusahaan, karena belakangan ini dia melihat laporan pengeluaran jauh lebih besar dibandingkan pendapatan, dan dari pengeluaran itu Liam melihat ada beberapa yang mencurigakan dan tidak biasa nya.
Maka dari itu meskipun Juna sedang dalam keadaan sakit dan Liam harus menemani, Liam tentu saja akan mencuri curi waktu Saat Juna tidur untuk bekerja.
Saat sedang fokus dengan laptop nya, pintu kamar milik nya mendapat ketukan dari luar.
'tok tok tok'
"Masuk" sahut Liam dari dalam, dan Liam bisa melihat jika yang masuk adalah salah satu pembantu rumah tangga nya yang memang memiliki tanggung jawab membersihkan dan menyiapkan makanan untuk nya dan Juna selama orang tua nya tidak disini.
"Tuan dibawah ada yang mencari tuan katanya ingin mengantar berkas yang tuan minta" kata bibi itu.
"Oh iya bi, suruh langsung kesini aja" kata Liam, dia tidak mungkin meninggalkan Juna karena takut tiba-tiba Juna bangun dan menangis lagi.
.
Clara dengan ragu melangkahkan kakinya menuju lantai dua rumah milik Liam, pembantu Liam tadi mengatakan jika Liam meminta nya untuk mendatangi kamar pria itu untuk meyerahkan berkasnya sendiri.
Jelas saja Clara ragu, bagaimana mungkin dia yang seorang wanita masuk kekamar pria yang telah ber istri? Benar benar bukan hal yang baik.
"Kamar tuan Liam pintu pertama sebelah kiri dari tangga" perkataan pembantu Liam masih teringat jelas diingatan Clara.
Dan tentu saja Clara sudah berada di depan pintu kamar Liam. Dengan ragu Clara mengetuk pintu itu, dan langsung mendapat sahutan untuk masuk dari dalam.
Clara tidak menuruti nya, jelas saja tidak mau. Masuk kedalam kamar orang lain begitu saja? Tidak akan pernah Clara lakukan meskipun dapat ijin, lagi pula jelas Clara tidak enak dengan istri Liam, bagaimana tanggapan wanita itu nanti kalo tau ada wanita lain yang masuk kamar mereka selain pasangan suami-istri itu.
.
Liam yang heran dengan kelakuan Ilham pun berdiri dari sofa yang diduduki nya lalu melangkah ke pintu, lalu begitu saja membuka nya.
Betapa kaget nya Liam saat mengetahui bukan Ilham yang datang melainkan Clara. Dia tentu saja bingung kenapa wanita ini bisa ada disini dan mengetahui alamat rumah nya.
Tapi saat Liam melihat berkas yang ada di pelukan wanita itu, Liam mengerti. "Ilham yang suruh kamu kesini?" Tanya Liam.
"I-iya tuan, mas Ilham nggak bisa antar karna harus meeting" jawab Clara.
Baru saja Liam akan mengatakan sesuatu, suara tangisan dari dalam mengalihkan perhatian dua orang dewasa beda usia itu.
"Kamu tunggu dulu di bawah, aku mau cek Juna dulu. Nanti kalo udah tenang aku nyusul kamu ke bawah" setelah mendapat anggukan dari Clara dan Clara dengan cepat melangkah pergi dari depan kamar nya, Liam langsung masuk lagi kedalam untuk melihat juga.
.
.
.
Clara lebih nyaman seperti ini, menunggu Liam di ruang tamu dibandingkan harus ke atas kamar pria itu tadi. Benar benar membuat Clara mati kutu.
Tapi di luar itu semua, banyak hal yang membuat Clara bingung saat tiba di rumah Liam tadi. Rumah pria itu terkesan sangat sepi dan juga seperti tidak ada kehidupan.
Dan lagi, jika tadi Juna menangis kenapa harus Liam yang menenangkan? Dimana istri Liam? Apa istri Liam sedang tidak ada dirumah? Karena sejak tadi dia tidak ada melihat istri Liam.
Pembantu Liam baru saja selesai mengantarkan minum untuk nya, Clara juga tidak berani untuk bertanya kepada wanita paruh baya itu karena tidak enak.
Dan saat sedang sibuk dengan pikiran nya sendiri, Tiba-tiba saja Liam datang dengan Juna yang seperti nya baru selesai menangis.
"Ante... Ndong" pinta Juna berusaha lepas dari gendongan Liam dan Clara yang sadar jika Juna sedang ingin bermanja pun langsung berdiri dan mengambil anak itu dari gendongan ayah nya.
Menggendong sambil duduk, diikuti oleh Liam juga. Keduanya masih dalam keadaan diam karena sadar jika Juna masih mengantuk dan ingin tidur lagi.
Dan benar saja tidak membutuhkan waktu lama Juna sudah tertidur di gendongan Clara. Saat merasa jika Juna sudah nyenyak Liam mulai membuka percakapan mereka.
"Kamu tau rumaku dari Ilham?"
"Iya, mas Ilham kirimin alamat bapak ke saya"
"Kamu kenapa panggil aku kayak gitu sedangkan Ilham kamu panggil mas?"
"Eeh itu-" Clara jelas gugup di serang pertanyaan seperti itu dari Liam.
Kalau Clara tidak salah ingat Ilham pernah meminta kepadanya untuk tidak memanggil seperti atasan saat mereka hanya berdua.
Tapi tentu saja Clara merasa tidak enak.
"Kakak... Inget itu" kata Liam lalu mengambil berkas laporan keuangan yang berada di meja di depan mereka yang memang di bawa sama Clara.
Hening kembali, hanya suara nafas teratur dan juga jangan dari Juna yang memang sudah lelap di gendongannya.
"Pak- eh kak, emang nggak masalah Clara gendong Juna gini? Mamah nya Juna nggak marah?" Tanya Clara karena takut istri Liam tiba tiba datang.
Liam berhenti untuk membaca berkas itu, lalu menaruhnya kembali di meja sebelum menatap Clara dengan pandangan serius.
"Kamu nggak usah takut atau ngerasa nggak enak gitu. Mamah nya Juna udah nggak ada, dia udah meninggal karena kecelakaan"
Tbc