Baru Tahu

1099 Kata
Clara tentu saja kaget dengan apa yang baru saja dia dengar, dia tidak menyangka jika status pria dihadapannya ini yang dia kira masih menjadi suami wanita lain, nyatanya sudah menjadi seorang duda. "Kakak, nggak bohong kan?" Tanya Clara tidak yakin. Ayolah perihal kematian itu tidak boleh menjadi mainan. "Apa kamu pikir aku lagi bohong?" Tanya Liam dengan tampang serius nya. "Ta-tapi bagaimana bisa?" "Dia meninggal karena kecelakaan. Sudah lah jangan dibahas lagi yang ada dia malah menjadi tidak tenang disana" kata Liam lagi Karena jika mengungkit perihal kematian mantan istrinya, Liam akan selalu diliputi rasa bersalah. Apa lagi setiap melihat tatapan polos Juna yang masih butuh kasih sayang sosok ibu di hidup nya. Maka dari itu setiap hal yang bersangkutan dengan Juna akan menjadi utama bagi Liam, sesibuk apapun Liam jika untuk Juna maka dia akan meninggalkan semua nya. "Maafkan aku" kata Clara, dia berfikir jika hal itu menyakiti Liam. "Tidak perlu meminta maaf lagi pula ini sudah berlalu lama" kata Liam lagi lalu melanjutkan kegiatan nya membaca berkas tadi. . . . Clara baru saja sampai di lobby apartemen nya, dia baru pulang dari kediaman Liam di sore hari karena sempat ditahan di sana untuk membantu Liam mengerjakan beberapa berkas dan juga menjaga Juna. Clara pun sampai di gedung apartemen nya diantar oleh supir keluarga Liam, awalnya Liam ingin mengantar sambil membawa Juna namun melihat juga yang sedang tertidur pulas dia urungkan. "Clara..." Clara menoleh ke arah sumber suara, dan dia bisa melihat jika ada seseorang yang tidak ingin dia temui sedang berjalan ke arah nya. Clara yang niat awal nya ingin menaiki lift menuju unit apartemen nya berada, mengurungkan niat nya. "Bisa bicara sebentar?" Pinta orang itu. "Bicara apa?" "Nggak disini, kita ke cafe di depan situ aja" . Clara memutuskan untuk mengikuti apa yang orang itu inginkan yaitu bicara 4 mata dengan nya, hal yang ingin di bahas pun Clara tidak tau. "Gw tau Lo udah tau kalo status kita sekarang saudara tiri" buka percakapan orang itu. "Iya terus?" "Gw nggak akan kayak nyokap atau Devian yang maksa Lo buat tinggal sama kita. Karna gw tau antara Lo dan bokap Lo ada masalah" ya Devan lah yang memutuskan untuk mencari keberadaan Clara melalui anak buah nya. Kekuasaan dan harta yang dimiliki Devan membuat nya sangat mudah mewujudkan apapun yang dia mau, kecuali satu yaitu bersatu dengan Clara. Untuk sekarang dan seterusnya itu pasti sangat mustahil. "Gw cuma mau bilang, kalo emang Lo butuh tempat buat cerita atau keluh kesah, Lo bisa ngomong dan cerita sama gw gimana pun juga sekarang kita saudara" "Jangan kabur-kaburan kayak gini, ini nggak akan menyelesaikan masalah" "Lo tau dari mana tempat tinggal gw yang sekarang?" Tanya Clara tidak menanggapi perkataan Devan sebelum nya. "Bukan hal yang sulit buat gw tau keberadaan Lo. Tapi Lo tenang aja gw nggak akan kasih tau siapapun karena gw ngehargain privasi Lo" kata Devan lagi karena dia tidak mau Clara salah sangka. "Makasih buat perhatian dan segala macem nya. Tapi gw kira Lo nggak lupa kalo gw nggak mungkin bisa ngelakuin apa yang Lo minta. Karna gw nggak mau ketergantungan sama orang lain" "Lagian juga Lo bilang kan Lo mau ke Jerman, emang nggak jadi?" "Lusa gw berangkat, dan sekarang gw nemuin Lo mau sekalian pamit juga. Dan kalo kita nggak bisa Deket sebagai pasangan mungkin emang kita di takdirin buat sebagai keluarga" . . . Saat memasuki unit apartemen nya, Clara meletakan tas nya kasar di meja ruang tamu lalu merebahkan dirinya begitu saja di sofa disana. Pikiran Clara masih terus saja tertuju kepada Devan, pria itu yang beberapa tahun belakangan ini menemani hari hari nya dan juga berusaha untuk mendapatkan hati nya akhirnya menyerah juga karena sebuah takdir. Sosok Devan dan Devian meskipun mereka kembar, masing masing memiliki sifat yang berbeda. Jika Devian ambisius dan jika ada yang dia inginkan maka harus terjadi, beda dengan sang Abang Devan. Devan lebih mengutamakan pikiran dan kenyamanan orang lain yang di sekitar nya. Jika beberapa hari yang lalu Devian dengan keras menginginkan Clara untuk tinggal dengan keluarga pria itu dengan memaksa. Maka lain hal nya dengan Devan yang memasrahkan semua nya dengan keinginan Clara, bagaimana Clara merasa nyaman maka Devan akan mendukung itu. "Lo itu baik Dev, tapi emang takdir aja yang nggak berpihak. Dan gw yakin suatu saat nanti Lo bakal dapet yang lebih baik dari gw" Pikiran Clara kali ini berputar kepada kenyataan yang baru saja dirinya ketahui, yaitu status Liam. Clara tidak menyangka jika Liam sudah tidak memiliki istri, dan juga di usia nya yang masih sangat belia sudah tidak bisa Merakan kasih sayang dari sosok ibu. Sedih, jelas membayangkan bagaimana Juna besar tanpa sosok ibu membuat Clara sedih, karena dia tau bagaimana rasanya besar tanpa kasih sayang ibu. Tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Clara entah mengapa bisa merasakan setitik kelegaan saat mengetahui jika Liam sudah tidak ada yang memiliki lagi. "Lo gila Cla, masa iya Lo seneng. Jangan b**o lagi lah" kembali, Clara meruntuki pikiran nya sendiri. "Lagian kalo diliat-liat pak Liam kalo lagi sama Juna hot Daddy banget" gumam Clara lagi saat tadi melihat Liam menggendong Juna.  Memikirkan kalimat hot Daddy, pikiran Clara kembali meliar, Liam yang terlihat semakin matang membuat jiwa binal nya sebagai perempuan melonjak. "Gila Cla, gitu gitu Lo udah nyobain goyangan hot nya" gumam Clara lagi. "Parah-parah ini, nggak bisa kayak gini gw harus mandi kalo engga makin makin jadi deh nih pikiran kotor nya" setelah itu Clara langsung melangkahkan kaki nya untuk menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar untuk membersihkan diri nya. . . . Selesai mandi, Clara langsung melangkahkan kaki nya menuju kasur dan mengambil ponsel nya yang ada di nakas. Dia bisa melihat notifikasi pesan dari Kei yang saat ini sudah berada di Paris, Perancis. Jika diingat ingat karena kesibukan masing masing keduanya jadi jarang berkabar, walaupun sebenarnya tidak ada hubungan apapun diantara kedua nya. 'Pameran ku sudah fix bakalan dilaksanain 2 bulan lagi. Kamu bisa Dateng nggak? Kalo bisa biar aku yang pesenenin tiket nya juga. Aku sih berharap kalo kamu bisa dateng' Clara yang juga pecinta seni pun senang bukan kepalang karena untuk pertama kali nya diundang untuk melihat pameran seni besar di luar negeri. Dan tanpa berpikir panjang Clara langsung mengetikan balasan. 'Bakalan aku usahain Dateng, aku mau ambil cuti juga nanti. Doain ya semoga di ACC pengajuan cuti ku' Di pikiran Clara mengajukan cuti hal yang mudah, mungkin untuk orang lain akan mudah, tapi ini Clara, dan tujuan cuti nya adalah bertemu dengan Kei, lalu bos Clara adalah Liam Abang dari Kei. Apa pengajuan cuti Clara akan berjalan lancar dan mulus seperti pemikiran wanita itu? Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN