Siapa mom ku?

1119 Kata
"Siapa wanita tadi?" Tanya Rina begitu sang putra sudah mendudukkan dirinya di sofa dihadapan wanita paruh baya itu. "Kan aku udah bilang tadi mam, nama nya Clara dia sekretaris aku.." jelas Liam, seperti nya Liam masih ingat bagaimana dirinya memperkenalkan kedua wanita beda usia itu. "Mam tau kalau dia namanya Clara dan dia juga status nya itu sekretaris kamu, tapi mam tau kalau sebenarnya lebih dari itu juga kan?" Tanya Rina dengan pandangan menyelidik kepada sang putra. "Maksud mam gimana? Liam nggak ngerti" "Ayolah Liam, mam tau kamu itu pintar. Kamu pasti ngerti apa yang mam maksud" kata Rina lagi. Rina jelas tau jika Liam mengerti maksud dari kata-kata nya, dan Rina juga tau jika untuk hal ini ada yang di sembunyikan dari Liam kepada nya. Liam hanya diam, dia sama sekali tidak menjawab atas pertanyaan mami nya kali ini. Dan benar, Liam tidak bodoh untuk mengerti apa maksud dari kalimat yang dikatakan oleh mami nya. "Mam bisa lihat dari mata kamu waktu natap dia lagi masak tadi Liam, mata kamu sendiri yang mengatakan jika dia lebih dari bawahan kamu. Dan juga nggak mungkin kamu akan biarin Juna manggil orang lain dengan panggilan mom jika kamu sendiri nggak ada rasa sama perempuan itu" beberkan Rina saat merasa jika sang putra tidak akan menjawab pertanyaan nya. . . . Clara melangkah pelan memasuki unit apartemen nya dengan langkah gontai, jujur saja jika sebelum nya dia merasa senang saat bersama dengan Juna dan juga Liam. Hati Clara merasa berbunga bunga, tapi begitu tadi dia bertemu dengan Rina Pramudya yang tidak lain adalah ibu dari Liam membuat semua nya berubah. Tatapan tegas namun bersahabat dari Rina membuat Clara merasa kurang nyaman. Selama dirumah Liam tadi meski dia sibuk menyiapkan makan malam keluarga itu, tapi Clara bisa merasakan jika Rina mengawasi setiap saat. Jangan menganggap Clara berlebihan, bagaimana pun juga sejak kecil tidak ada terjalin hubungan baik antara Clara dan juga ibu kandung nya. Jadi wajar saja jika bertemu dengan Rina membuat nya bingung harus bagaimana, ditambah lagi tadi dia membuat kesalahan dengan mengira jika Rina adalah tamu Liam. . Clara merebahkan dirinya diatas kasur, pikiran nya benar benar kacau untuk hari ini. Melihat interaksi antara Liam, Juna dan juga Rina membuatnya iri. Iri akan kehidupan keluarga yang bahagia, Apa lagi saat tau jika Rina langsung datang begitu mendengar Arjuna sakit, yang membuktikan betapa sayang nya Rina kepada anak dan juga cucu nya. "Kalo di inget inget, mereka kayak nya nggak pernah ada di saat gw sakit" gumam Clara saat mengingat kedua orang tua nya. Tidak ada satupun ingatan kebersamaan dengan orang tua nya, karena yang diingat oleh Clara hanya mereka yang sibuk dan tak pernah ada waktu satu sama lain sampai akhirnya keduanya memutuskan bercerai dan menjalani kehidupan masing masing. Jangankan disaat Clara sakit, di hari hari besar seperti ulang tahun maupun kelulusan saja mereka atau salah satu nya tidak ada yang menyempatkan diri untuk datang. Clara menutup mata nya sebentar, lalu membuka nya lagi. "Udah cukup kepikiran tentang mereka. Buat apa juga mikirin mereka, toh mereka aja nggak pernah mikirin gw" kata Clara lagi, lalu mengambil ponsel nya yang ada di tas kecil di samping nya. Saat membuka ponsel nya, Clara mengerutkan kening saat melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dan satu pesan dari Devan. "Cla, gw berangkat ke Jerman hari ini. Jaga diri Lo baik baik" Sungguh Clara lupa jika Devan akan berangkat ke Jerman hari ini, di pertemuan terakhir mereka Devan memang mengatakan jika dirinya akan melanjutkan studi di Jerman dan bertukar nomor ponsel. Devan juga menyampaikan harapannya jika Clara datang untuk sekedar mengantar. Clara tidak mengiyakan permintaan Devan, karena Clara tau jika Devian dan keluarga nya pasti mengantar Devan. Dan Clara tidak mau bertemu dengan mereka. Tapi Clara ingin bertemu dengan Devan sebelum pria itu berangkat, tapi apa boleh buat. Kemarin dia sibuk menjaga Juna dan hari ini dia pergi kerumah keluarga Pramudya. Mungkin nanti saat Devan sudah sampai di Jerman Clara akan menghubungi nya dan meminta maaf karena tidak bisa ikut mengantar. . . . "Nenek, kapan kakek pulang?" Tanya Juna pada Rina. Pagi ini Juna terbangun dengan Rina yang ada disamping nya sedangkan Liam sudah berangkat kekantor karena ada meeting mendadak. "Emh nenek tidak tau pasti nya sayang, karena kakek di Jakarta harus bekerja. Nanti sore setelah Daddy mu pulang nenek juga harus kembali ke Jakarta untuk menemani kakek disana" kata Rina dengan wajah sedih, karena dia tidak rela berjauhan dengan cucunya. Tapi apa boleh buat dia harus menemani sang suami. "Nenek jangan sedih, Juna baik-baik kok disini. Kan udah ada Daddy sama mom" kata Juna dengan senyum yang berusaha untuk membuat Rina tenang. "Juna nenek mau tanya" Rina menghentikan sebentar perkataan nya, Juna sendiri menatap sang nenek dengan pandangan seolah bertanya ada apa?. "Apa Juna memanggil sekretaris dad, dengan panggilan mom tidak ada yang masalah?" Tanya Rina akhirnya melanjutkan perkataan nya, Rina sendiri berusaha menggunakan kalimat yang mudah di pahami oleh Juna dan tidak membuat anak kecil itu salah paham. "Masalah? Seperti apa contoh nya nek?" Juna sungguh tidak mengerti dengan apa yang dikatakan nenek nya, masalah? Kenapa harus menimbulkan masalah? Teman teman nya saja memanggil mom dan dad dan tidak ada masalah. Lalu kenapa jika Juna yang mengatakan nya akan menjadi masalah? Wanita paruh baya itu menjilat sedikit bibir bagian bawah nya sebelum menjawab pertanyaan cucu nya. "Maksud nenek, apa Tante itu nggak masalah kamu panggil mom? Bagaimana pun juga dia bukan mom kamu?" "Lalu dimana mom ku nek?" Baiklah seperti nya Rina kembali menggunakan kalimat yang salah. . . . Rapat pagi ini sebenarnya rapat penting, karena membahas tentang keuangan tahunan. Terutama ini sudah memasuki tahun akhir. Tapi sejak di mulai nya rapat Liam sama sekali tidak bisa fokus, tatapan nya terus mencuri curi pandang kepada sekretarisnya yang ada di sebelah nya. Clara yang sangat serius mencatat point' point' penting dari rapat ini benar benar menarik Dimata Liam. Bukan hanya kali ini saja, tapi sejak dulu Clara yang serius saat melakukan sesuatu benar benar terlihat cantik di mata Liam. "Jadi bagaimana tuan Liam, apa anda merasa ada yang kurang?" Suara salah satu karyawan nya yang tadi menjelaskan panjang lebar di depan sana mengaburkan lamunan Liam. Semua mata yang ada di ruangan itu tertuju kepada Liam semua termasuk Clara, dan hal itu membuat Liam gelagapan. "A-emh, ya seperti nya itu cukup. Dan saya ingin laporan keuangan setiap bulan nya harus dibuat terperinci seperti ini, tidak hanya saat rapat mendekati akhir tahun tapi setiap bulan" kata Liam yang berusaha mengendalikan kegugupan nya dengan menekankan kata akhirnya. "Baik tuan" kata Nathalia selaku kepala divisi keuangan yang ada disana juga. "Baik, rapat hari ini cukup" setelah mengatakan itu Liam langsung keluar, dan diikuti oleh Clara yang terburu buru karena tidak tau jika Liam akan langsung keluar. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN