Devan sekali lagi melirik kebelakang, mencari sosok yang dia harapkan untuk datang mengantar keberangkatan nya menuju negeri orang untuk waktu yang lama.
Tapi sudah lama di tunggu nyatanya tidak ada tanda tanda jika yang di tunggu akan datang. Devan menghela nafas nya dengan berat, padahal di hari keberangkatan nya ini dia sangat berharap jika Clara bisa datang dan mengantar.
Tapi seperti nya itu hanya harapan sia sia karena Clara pun sama sekali tidak terlihat di bandara yang luas ini.
"Bang... Lo nungguin siapa?" Devian bertanya dengan Vani dan juga kedua orang tua mereka di samping nya.
Devan yang tersadar jika keluarga nya sedang memperhatikan pun langsung menggeleng dengan cepat.
"Enggak kok" jawab Devan dengan senyum yang dipaksakan. Mungkin yang lain akan percaya dengan senyum itu, tapi lain hal nya dengan Devian yang mengerti dengan kegundahan hati saudara kembar nya itu.
"Nak, hati-hati dijalan. Kalau nanti sudah sampai langsung hubungi mamah biar nggak khawatir " kata Retta pada sang putra sulung nya itu
"Iya mah" jawab Devan sambil memeluk mamah nya itu, lalu beralih kepada ayah sambung nya Wijaya.
"Belajar yang benar disana ya nak, biar nanti waktu kamu udah balik ke Indonesia kamu bisa langsung ambil alih perusahaan papah" Devan memeluk sebentar ayah sambung itu dan hanya mengangguk pelan tanpa menjawab dengan suara.
"Yaudah aku mau check-in dulu. Kalian nggak perlu nungguin aku lagi langsung pulang aja" kata Devan pada kedua orang tua nya yang langsung di jawab anggukan.
Dan saat kedua orang tua nya menjauh tatapan Devan tertuju kepada Devian dan juga kekasih nya Vani.
"Kalian berdua baik-baik. Jangan ribut Mulu, nggak ada yang nengahin lagi" kata Devan.
"Iya bang" jawab Devian dan Vani barengan.
"Yaudah kalo gitu gua pamit. Jaga mamah sama papah. Dan... Kalo kalian ketemu Clara plis jangan bahas lagi hal yang bikin kalian ribut. Inget kalian itu sekarang udah jadi saudara" setelah mengatakan itu Devan menepuk bahu Devian dan mengelus kepala Vani, dan berjalan menjauh.
Tapi sebelum semakin jauh, suara Devian yang membuat langkah Devan terhenti. "Lo nggak lupa kan bang kalo Clara sekarang udah jadi saudara kita?" Mendengar perkataan Devian, Devan tersenyum dan membalikan lagi badannya dan menatap sepasang kekasih itu dengan senyuman yang tenang.
"Gw nggak lupa. Dan karena Clara saudara kita bukan berarti kita bisa ikut campur tentang hidup dia. Clara punya kehidupan nya sendiri, hormati itu" setelah mengatakan itu Devan langsung membalikan badannya lagi dan berjalan menjauh meninggalkan sepasang kekasih itu yang masih terdiam.
.
.
.
Clara mematung saat membuka pintu rumah Liam, ya saat ini mereka bertiga sudah ada di rumah milik Liam, setelah bermain di taman Liam membawa Clara dan juga Juna untuk kembali kerumah nya.
Dan saat ini Juna sedang dimandikan oleh Liam di kamar nya, sedangkan Clara baru saja ingin memulai memasak karena Juna sudah kelaparan, sedangkan asisten rumah tangga yang biasa ada sedang mengambil cuti jadi lah Clara yang memasak untuk makan siang menjelang sore ketiga nya.
Sebelum memasak dimulai, Clara mendengar bel rumah di bunyi kan. Dengan inisiatif sendiri Clara membuka pintu rumah itu dan langsung melihat seorang wanita paruh baya dengan penampilan sosialita yang ada di balik pintu.
"Maaf nyonya mencari siapa?" Tanya Clara sopan karena dirinya sama sekali tidak mengenali siapa wanita tua yang masih tetap modis di usia nya yang tidak lagi muda ini.
"Eh, ini masih rumah William Pramudya kan?" Tanya wanita itu tidak enak, karena dia takutnya salah. Tapi dia jelas masih ingat karena dia baru pergi belum lama dari sana.
"Iya nyonya, ini rumah-"
"Mom... Juna lapar..." Belum sempat Clara menyelesaikan perkataan nya, panggilan melengking dari dalam sudah mengintrupsi nya.
"Ini benar rumah tuan William nyonya. Mari masuk biar saya panggilkan tuan didalam" kata Clara mempersilahkan tamu itu masuk.
.
"Mom Juna sudah mandi dengan dad, sekarang Juna mau makan" kata Juna begitu melihat Clara yang berjalan masuk kedalam dengan seseorang di belakang nya.
"Nenek?" Panggil Juna pada wanita tua di belakang Clara. Dan panggilan itu tentu saja membuat Clara berdiam kaku di tempat nya.
"Hai cucu nenek, apa kabar saya?" Tanya wanita yang di panggil nenek oleh Juna itu sambil menghampiri sang cucu yang sudah terlihat tampan dan wangi karena sudah mandi.
"Baik nek, nenek pulang?"
"Nenek dengar dari om Ilham kamu sakit. Makanya nenek Dateng kesini"
"Mami?" Mendengar suara itu membuat semua pandangan yang ada disana tertuju ke arah tangga diman Liam sudah berdiri di pertengahan tangga dan melihat siapa saja yang ada disana.
"Mami pulang ke Bali sama siapa? Papah dimana?" Tanya Liam berturut.
"Papah kamu masih sibuk di Jakarta, mami Dateng kesini juga karna denger kabar kalau Juna sakit. Kamu kenapa nggak kabarin mami kalo Juna sakit?" Rina mami dari Liam dan juga Keiland memberondong putra nya itu dengan banyak pertanyaan.
"Aku masih bisa ngatasin nya kok mam, lagian Juna cuma demam biasa doang" kedua orang itu sibuk berbincang melupakan seorang wanita yang tidak bergerak sejak tadi karena kaget dengan siapa yang datang kerumah bos nya.
"Emh mam, kenalin ini Clara dia sekretaris baru aku. Dia juga yang bantu aku jaga Juna waktu sakit" kata Liam memperkenalkan Clara, dia baru sadar jika wanita itu sejak tadi hanya diam.
"Saya Rina, mami nya William sekaligus nenek dari Juna" kata Rina membuka pembicaraan dengan Clara karena sadar jika Clara seperti nya masih malu dan juga gugup.
"Saya Clara nyonya, saya sekretaris tuan Liam di kantor. Maafkan saya yang tidak mengenali anda tadi" kata Clara sambil membungkuk meminta maaf atas kebodohan nya yang sama sekali tidak bisa mengenali nyonya besar Pramudya.
"Ah tidak apa apa, saya mengerti kamu masih baru kan?" Pertanyaan Rina dijawab anggukan oleh Clara yang masih merasa kali dan tidak enak.
.
.
.
"Liam, bisa mami bicara sebentar?" Panggil Rina saat putra nya baru saja kembali setelah mengantar Clara pulang.
Tadi mereka sempat makan bersama setelah Clara memasak lalu setelah makan bersama Juna minta di temani oleh Clara untuk tidur, lalu setelah Juna tertidur Clara pamit pulang karena hari sudah terlalu sore.
Walaupun Liam tau itu hanya alasan karena sebenarnya Clara merasa sangat gugup saat pertama kali bertemu dengan mami nya Rina.
"Iya mam?" Tanya Liam sambil berjalan mendekat ke arah Rina yang sedang duduk di sofa ruang tamu yang luas ini.
"Duduk lah" punya Rina, baiklah Liam tau jika mami nya akan melakukan sidang kepadanya karena ini adalah pertama kali nya Liam membawa seorang wanita kerumah nya sendiri.
Tbc