Keluarga Pramudya

1463 Kata
Mendengar perkataan mamah nya Devan merenungi itu semua, Devan jelas ingin mempertahankan perasaannya kepada Clara dan membuat gadis itu mau terbuka kepadanya lalu menceritakan tentang apa yang dirasakan. Devan ingin Clara menganggapnya sebagai tempat wanita itu berkeluh kesah, tapi apa daya keadaan kini memukul nya untuk mundur secara teratur agar menjauhi Ara dan menghilangkan perasaan yang dimilikinya untuk wanita itu. Dan sampai akhirnya Devan memutuskan untuk mundur dan mengubur perasaan nya dalam dalam, sebelum Clara jatuh cinta padanya lebih baik dia pergi. Karena jika menunggu Clara jatuh cinta baru dirinya pergi itu akan menyakiti Clara karena Devan sadar jika ada hal yang membuat nya dan juga Clara tidak bisa bersatu. Yaitu mamah nya. "Gw nggak tau kalau akhirnya bakalan kayak gini Cla..." Lirih Devan, dia belum rela jika harus melepaskan perasaan nya yang cukup besar kepada Clara. Perjuangan nya selama bertahun-tahun harus berujung dengan hal yang sama sekali tidak pernah dia sangka atau perkirakan. "Tapi keadaan maksa gua buat ninggalin lo, gua harap lo bisa dapet cowok yang sesuai dengan keinginan lo dan lelehin puncak es di hati lo itu" gumam Devan yang sebenarnya tertuju kepada Clara namun jelas gadis itu tidak akan mendengar karena tidak ada disini jadi lah Devan mengungkapkan isi hati nya itu untuk dirinya sendiri. . . . Saat Clara masuk kedalam kos-kosan yang dia tempati bersama sang sahabat, bisa Clara lihat jika di dalam sudah ada Devian dan juga Vani yang seperti nya menunggu dirinya datang, hal itu terbukti dari keduanya yang langsung bangkit dari tempat duduk saat menyadari kedatangan Clara. "Kalian disini? Udah lama?" tanya Clara basa basi sambil mendudukkan dirinya dihadapan kedua pasangan sejoli itu yang menatap nya dengan tatapan aneh. "Udah sekitar satu jam" kata Vani, dan mendengar perkataan Vani, Clara hanya menganggukkan kepala nya mengerti cukup lama ternyata kedua nya sudah menunggu, tapi Clara kan memang baru pulang kerja jam segini jadi dia tidak merasa bersalah apa lagi keduanya tidak ada mengatakan apapun untuk bertemu. Clara bangkit dari duduk nya dan ingin memasuki kamar untuk menaruh tas dan membersihkan dirinya yang terasa lengket setelah pulang bekerja, tapi belum juga kaki nya melangkah Vani menghentikan nya. "Emh, lo sibuk banget ya Cla? Sampe gw dan Vian telfon nggak lo angkat" tanya Vani yang Clara tau itu hanya sekedar basa-basi saja. "Ya, Gw harus susun ulang jadwal CEO gw dan nggak ada waktu buat buka hp. Lo sendiri tau gimana gw kalo udah sibuk dan serius" jawab Clara "Emang nya ada apaan kok kayak nya penting banget?" tanya Clara lagi sambil duduk di tempatnya lagi mengurungkan niat nya untuk masuk kedalam kamarnya. "Nyokap gw mau ketemu sama lo" kata Devian kepada Clara. "Ketemu sama gw? Kenapa emang? Bukannya gw sebelum nya emang nggak pernah ketemu atau kenalan sama nyokap lo ya?" tanya Clara heran. Karena selama 4 tahun berteman dengan Devan dan juga Devian, Clara tidak pernah berkenalan dengan wanita yang berstatus sebagai ibu dari pria tampan itu. Berbeda dengan Vani yang status nya memang kekasih Devian yang pasti sudah mengenal ibu Devian karena setahu Clara, Vani sering berkunjung ke rumah Devian dan Devan. Dan untuk Clara sendiri jika tidak salah ingat dirinya tidak pernah datang kerumah saudara kembar itu. "Nyokap mau kenal sama lo" kata Devian lagi mencoba mengatakan maksud dan tujuan ibu nya ingin bertemu dengan Clara. "Oh gitu, yaudah nanti gua luangin waktu buat ketemu deh. Tapi gua nggak janji dalam waktu deket ya soalnya banyak kerjaan" kata Clara dan akhirnya kedua orang itu pun mengangguk mengerti, karna bagi keduanya Clara mau bertemu dengan mamah nya saja sudah suatu keberuntungan, karena Clara type wanita yang menghindari bertemu dengan orang baru. Dan setelah itu Clara memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya dan membersihkan diri, meninggalkan pasangan sejoli itu untuk berdua di ruang tamu kos mereka. "Menurutmu jika Clara tahu semua nya nanti apa dia akan menerima?" tanya Vani kepada kekasih nya itu karena sebenarnya pertemuan yang mereka atur memiliki tujuan tertentu. "Aku juga tidak tahu, tapi jika pun Clara menerima itu tidak akan mudah" kata Devian yang selama 4 tahun ini jelas mengenali watak Clara yang keras kepala dan tidak ada yang boleh ikut campur tentang masalah pribadi nya terutama masalah keluarga, karena Clara akan selalu menghindar jika diantara mereka ada yang membahas tentang keluarga Clara. ... Keiland Pramudya memasuki rumah milik keluarga besar Pramudya, sebenarnya Keiland sudah memiliki rumah sendiri semenjak dia memutuskan untuk bekerja. Hanya saja hari ini dirinya atau bisa dikatakan keluarga besar Pramudya mengadakan acara makan malam untuk menyambut kedatangan Liam abang dari Kei yang sebelum nya tinggal di luar negeri karena menjalankan bisnis keluarga yang memang akan jatuh ke tangan anak sulung itu. "Kei kau sudah datang nak?" sapa wanita parubaya yang rambutnya sudah memutih sebagian namun masih terlihat cantik dan sangat elegan di balut dengan pakaian mewah namun sederhana. "Mam" sapa Kei lalu mencium tangan wanita itu yang merupakan Ibu nya "Papah sama bang Liam udah sampai mam?" tanya Keiland lagi karena sejak kepulangan nya dari kantor dia sama sekali tidak melihat sosok kedua nya. "Sudah, papah masih istirahat di kamarnya, kalo abang mu lagi nemenin Juna main di taman belakang" kata Mami Keiland memberi tahukan kepada putra bungsu nya itu. "Yaudah kalo gitu aku ke kamar ya mam, nanti kalo udah waktunya makan malam panggil aku aja" kata Keiland lalu menuju lantai dua dimana kamarnya berada untuk membersihkan diri selepas pulang kantor. . Rangkaian acara makan malam telah usai di lakukan, dan nyonya besar keluarga Pramudya pun sudah pergi dari meja makan meninggalkan sang suami dan kedua putra nya untuk meniduri sang cucu yang sudah mengantuk akibat perjalanan jauh kepulangan ke Indonesia. Maklum cucunya itu baru berusia 3 tahun setengah jadi memang sudah seharusnya tidur sebelum malam terlalu larut. "Kei, kamu masih harus gantiin abang ya selama 1 minggu ini setelah itu kamu baru abang bolehin pergi ke Paris buat ikutan pameran kesenian disana" kata Liam sang abang Keiland yang membuka percakapan setelah selesai makan malam. "Emang abang di Jakarta berapa lama?" tanya Kei menanggapi perkataan Abang nya. "Cuma 1 minggu setelah itu papih sama mamih yang menetap di Jakarta buat jalanin perusahaan yang ada disana" kata Liam pada sang adik, sedangkan sang tuan rumah hanya mendengarkan pembicaraan kedua putra kebanggaannya ini. Sekarang semenjak putra tertuanya bisa dan mau mengambil alih perusahaan tugas nya di perusahaan tidak terlalu banyak dan berat karena sebagian besar akan di ambil alih putra sulung nya Liam. "Emang waktu 1 minggu cukup buat abang ngurus semua nya? Kalo emang abang butuh Kei buat gantiin abang lebih lama Kei nggak masalah kok" kata Keiland penuh dengan maksud tertentu, dan perkataan Keiland itu mengundang tanda tanya besar untuk kedua Pramudya yang ada disana itu. Jelas mereka merasa aneh karena setahu mereka seorang Keiland Pramudya paling anti sekali duduk di balik meja besar perkantoran dan membaca berkas berkas, karena membosankan katanya. Dan itu sebabnya dia memilih menjadi seorang seniman yang sebentar lagi akan menggelar pameran seni di Paris, Prancis. Dan jika tiba tiba saja ingin mengganti kan untuk bekerja kantoran bahkan mau lebih lama seperti nya ada yang harus di curigai. "Coba sekarang jelaskan apa ada sesuatu yang terjadi di perusahaan selama papah dan Liam tidak ada? Yang membuat mu betah disana dan suka rela menggantikan Liam?" tanya tuan Pramudya pada sang putra bungsu nya itu dengan penasaran. Keiland yang di ajukan pertanyaan oleh papahnya seperti itu hanya tersenyum penuh arti yang membuat pria paruh baya itu bingung tapi tidak dengan Liam, dia jelas mengerti sekarang dengan apa yang terjadi pada sang adik. Apa lagi alasan nya jika bukan perempuan? Karan adik nya ini sudah sejak dulu terkenal playboy meskipun sudah di jodohkan dengan rekan bisnis keluarga nya. "Siapa wanita itu Kei?" pertanyaan yang di lontarkan Liam membuat Kei kaget dan tuan Pramudya menatap sang putra bungsu dengan tatapan menuntut penjelasan. "Apa maksud abang mu Kei?" belum sempat Kei menjawab tuan Pramudya lebih dulu melontarkan pertanyaan lagi untuk sang putra agar menjelaskan apa yang dimaksud oleh Abang nya. "Jangan pernah bermain- main dengan perasaan wanita Keiland Pramudya!! Ibu mu adalah wanita dan jangan lupakan jika kau sudah memiliki tunangan" kata tuan Pramudya dengan tegas mengingatkan sang putra kalau dia sudah memiliki tunangan yang merupakan hasil dari perjodohan. "Tapi aku tidak mencintai Dhea pah" kata Keiland memberikan alasan, karena baginya pertunangan yang dia jalani adalah hasil dari perjodohan yang dilakukan oleh orang tua nya, dan selama menjalani pertunangan ini tidak pernah sedikitpun rasa di hati Kei tumbuh untuk wanita pilihan orang tuanya itu. "Cinta tidak cinta kau sudah mengiyakan pertunangan itu. Dan kami tidak pernah memaksa mu untuk menerima perjodohan itu jika kau tidak mau" kata tuan Pramudya. Karena memang pada dasar nya meskipun dia melakukan perjodohan pada putra bungsu nya dia tidak memaksa untuk Kei menerima, tapi karena waktu itu Kei sudah menerima dan menurutnya Kei harus bertanggung jawab untuk keputusan yang diambil pria itu. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN