Berubah, menurut Clara Devan yang ada di sebelah nya sekarang sangat berbeda dengan Devan yang biasanya bersama dengan nya semasa kuliah. Clara juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Devan yang membuat pria itu bersikap berbeda dari biasanya.
Devan juga menepati janji pada Clara untuk langsung mengantar wanita itu langsung pulang, dan tidak membawa nya kemana pun. Satu lagi hal yang berubah dari Devan, karena biasanya pria itu hanya beralasan mengantarnya pulang minimal harus menemani pria itu jalan jalan setengah jam baru Clara di perbolehkan pulang.
Saat mereka sampai di kost tempat tinggal Clara, Devan langsung mematikan mesin mobilnya. Tapi tidak ada satupun dari keduanya yang keluar dari dalam mobil, masih terdiam dengan pemikiran mereka masing masing.
Clara yang mendengar perkataan Devan tadi membuat nya merasa menjadi wanita paling jahat karena sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada Devan untuk memiliki nya, dan malah bersikap acuh kepada pria itu. Devan adalah pria baik, Clara akui itu. Jika saja Clara tidak memiliki trauma dalam b******a mungkin bukan hal yang sulit untuk menerima cinta Devan. Tapi ini lah Clara yang sekarang, yang mana luka dimasa lalu menjadi alasannya untuk tidak mencintai siapapun selain dirinya.
Bagi Clara sendiri diri nya sangat tidak pantas jika bersanding dengan pria baik seperti Devan, Devan pria tampan baik dan sangat loyal lebih dari pantas mendapatkan wanita lain dibandingkan Clara yang mempunyai masa lalu yang cukup buruk.
"Lo bener-bener pengen ngelupain gw?" Setelah berdiam cukup lama akhirnya Clara mengeluarkan suara, setelah sebelumnya dia sendiri bingung harus mengatakan apa untuk membuka percakapan.
Mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Clara membuat Devan tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Gak ada pilihan lain, lagian juga Lo belakangan ini semakin ngejauhin gw. Dan gw rasa lo risih kalo gw deket deket sama lo" kata Devan mengungkapkan apa yang dia rasakan belakangan ini terutama setelah mereka lulus dari universitas dan tidak memiliki alasan untuk bertemu.
"Lo tau Dev? Susah buat gw kenal dan deket sama orang baru. Itu sebab nya butuh waktu lama gw akrab sama lo, Devian juga Vani" kata Clara akhirnya membuka apa yang selama ini dia tutupi tentang kepribadian yang dimiliki nya
"Gw benci ketemu dan kenal orang baru, karna gw benci nama nya perpisahan, gak dipeduliin dan di lupain" lanjut Clara lagi dengan senyum tipis, namun Devan sadar jika ada yang tidak beres dengan Clara setelah dia melihat mata Clara berkaca kaca ketika mengatakan hal itu.
Devan sendiri tidak menyangka jika Clara berkata seperti itu karena dalam perkiraan Devan, Clara tidak akan terlalu peduli dengan kepergian nya nanti, dan akhirnya Devan mengerti mengapa sikap Clara seperti terkesan sulit di dekati dan juga terlalu menutup diri. Karena Clara mempunyai luka sendiri yang tidak pernah wanita itu bagi dengan siapapun.
"Dan satu hal lagi, gw paling benci kalo gw tuh dianggap gak bisa ngapa ngapain kalo bukan karna bantuan orang lain. Dan hal itu yang ngebuat gw jaga jarak sama lo"
"Selama ini lo selalu ngejaga dan lindungi gw, gw benci dianggap lemah" Clara akhirnya mengatakan apa yang selama ini mengganjal di hati nya kepada orang yang sudah lama dia kenal tapi baru kali ini dia percaya. Clara sangat tidak suka di perlakukan seperti gadis manja yang tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk dirinya sendiri. Clara tidak bisa di perlakukan seperti itu karena pada kenyataannya dia adalah gadis mandiri.
"Cewek tuh kodrat nya kan emang manja cla, gak ada salah nya dong kalo gw manjain lu?" tanya Devan yang belum paham betul dengan apa yang dibicarakan oleh Clara. Karena dia hanya hidup bersama dengan mamah nya membuat Devan beranggapan jika memang perempuan sudah seharus nya manja.
"Manja? Gw pernah manja, gw pernah ketergantungan ke orang. Sampe sampe apapun yang bakalan gw lakuin gw harus selalu ngomong dan cerita sama dia. Tapi apa vin? Akhirnya semua pergi ninggalin gw, gw yang awal nya manja tiba tiba gak ada tempat buat menyalurkan nya lagi gw gila vin. Gw gak bisa apa apa, sampai akhirnya gw berani bangkit dan nutup diri gw"
"Tapi-"
"Lu gak akan tau rasanya jadi gw kalo lo gak berdiri di posisi gw" kata Clara lalu melepas sabuk pengaman, berbicara dengan Devan dia kira akan mudah dan pria itu akan mengerti. Namun nyata nya tidak, ini sangat sulit sekali untuk di pahami pria itu.
"Thanks tumpangan nya, gw masuk dulu. Dan kalo memang lo beneran bakalan pergi dan lupain gw, gw harap lo berhasil. Dan maaf gw udah jadi cewek jahat karna gak pernah bisa nerima lo" setelah mengatakan itu Clara turun dari mobil Devan, meninggalkan pria itu yang terdiam merasa bersalah. Sungguh Devan sama sekali tidak berniat membuat Clara merasa buruk saat berada di sisi nya, karena bagi Devan Clara adalah wanita yang baik di balik sikap cuek dan tidak peduli nya.
.
.
.
Devan langsung kembali setelah mengantar Clara tadi, langkah kaki nya membawa memasuki rumah. Jujur saja perbincangan nya dengan Clara tadi membuat dirinya semakin ingin mengenal siapa sosok Clara sebenarnya namun dia tidak mau hal itu menjadi masalah di masa depan. Devan sadar jika tembok yang dibangun oleh Clara sangatlah tinggi dan tidak bisa runtuh jika bukan keinginan wanita itu.
Selama 4 tahun mengenal Clara baru kali ini Devan melihat sisi lain dari Clara. Yaitu sisi rapuh yang sesungguh nya, yang selama ini tidak pernah diketahui siapapun, atau lebih tepatnya sama sekali tidak Clara tunjukan baik ke dirinya atau sang adik yaitu Devian. Karena di mata mereka Clara adalah gadis baik, tegar namun tertutup, dan baru sekarang juga Devan sadar jika sikap itu ditunjukan Clara hanya untuk menutupi luka yang sesungguhnya.
"Bang kamu udah pulang?" tanya mamah nya yang baru saja datang dan melihat putra sulung nya yang duduk seorang diri di ruang tamu. Jika dilihat dari wajah sang putra terlihat sekali jika sedang dalam keadaan yang punya masalah, dan membutuhkan tempat untuk bercerita atau bahkan berkeluh kesah.
"Udah mah" kata Devan sambil tersenyum berusaha menutupi keresahan nya perihal wanita. Ya walaupun Devan tau jika mamah nya sendiri tidak masalah dengan apa yang dilakukan oleh putra putra nya selama itu tidak membahayakan.
Retta, ibu dari Devan dan juga Devian tersenyum mendengar perkataan putra nya itu, dia seorang ibu dan seperti apapun usaha Devan untuk menutupi nya pasti tetap dirinya tau jika putra nya itu sedang ada masalah yang dihadapi.
"Abang ada masalah?" tanya Retta pada sang putra yang kini sedang mendudukkan dirinya di sofa panjang tepat di sebelah nya.
Hanya dari melihat raut wajah Devan saja Retta bisa mengetahui hal itu, Devan putra sulung nya itu sangat sulit berbohong jika dihadapan mamah nya sendiri.
"Ah engga mah" kata Devan mencoba mengelak, selama ini Devan tidak pernah sekali pun bercerita kepada mamah nya perihal wanita. Dan masalah kali ini menyangkut wanita tentu saja Devan malu untuk bercerita. Dibandingkan sang adik yang memang terkenal suka Gonta ganti kekasih, Devan type yang sangat sulit jatuh cinta dan membuatnya tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun atau memperkenalkan kepada mamah nya.
"Cerita sama mamah, siapa tau mamah bisa bantu" kata Retta tidak putus asa membujuk agar putra sulung nya ini mau berceritam
Kedua putranya sudah tidak merasakan kasih sayang dari ayah nya cukup lama, dia juga tidak mau membuat anak nya tidak merasakan kasih sayang dari Mamah nya. Maka dari itu Retta selalu menyempatkan diri untuk mendengar cerita putra nya tentang hal apapun itu.
"Mah, kenapa ya perempuan itu sudah banget buat terbuka sama laki laki?" Devan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, masalah dirinya dan Clara harus ada sesama wanita yang memahami perasaan wanita lainnya, dan dibandingkan bertanya kepada Vani, Devan lebih memilih bertanya ke mamah nya.
"Terbuka?"
"Hm, abang suka sama cewek mah. Tapi abang tau kalo dia gak suka sama abang, tapi abang tetap berusaha selalu ada buat dia. Sampai akhirnya karna keadaan abang terpaksa menyerah"
"Dan saat abang udah mau nyerah, dia tiba-tiba jadi terbuka. Dan ngomong tentang alasan nya kenapa gak bisa nerima abang selama ini"
Retta tersenyum paham dengan apa yang di katakan oleh Devan, rupanya anak sulung nya sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada wanita yang sulit untuk dimengerti atau sulit untuk membuka hati.
"Itu artinya dia gak mau kalo abang sampai salah paham dan nyangka kalo dia itu jahat karna nyuekin dan gak ngerespon perasaan abang" nasihat Retta.
"Kalo gitu abang harus lupain dia kan mah? Udah jelas dia gak suka sama abang"
"Itu semua balik lagi ke abang, apa abang bisa ngebuat dia suka sama abang? Kalo abang sendiri gak yakin mending gak usah, perasaan itu bukan buat mainan"
Devan terdiam, setelah mendengar perkataan Clara tadi dia tidak yakin jika dia bisa melelehkan hati beku wanita itu. Terlalu sulit, dan juga keadaan yang memaksa nya untuk tidak lagi berharap atau mengupayakan rasa yang dimiliki nya untuk di balas oleh Clara.
Terlalu tebal dinding es yang menutupi hati Clara, dan Devan sendiri tidak tau pasti alasan yang menjadi penyebab Clara menjadi pribadi yang dingin. Karena menurut Devan masih banyak alasan yang menjadi penyebab, dan apa yang dikatakan oleh Clara tadi di mobil hanya salah satu nya
"Apapun keputusan abang Mamah akan selalu dukung. Apapun pilihan abang kalo menurut abang itu bener maka lakuin aja, tapi inget jangan pernah sakitin hati perempuan. Inget mamah juga perempuan"
Tbc