Berpisah (Lagi)

1666 Kata
Pagi hari ini Clara berangkat bekerja seorang diri, dia memesan taksi online untuk mengantarnya ke perusahaan tempatnya bekerja. Vani tidak pulang tadi malam yang jadi Clara tidak bisa berangkat bersama dengan wanita itu untuk bekerja. Vani menginap di tempat Devian, dan hari ini katanya mereka akan menjemput orang tua Devian yang baru kembali dari luar negeri. Clara sendiri tidak mengenal dekat keluarga Devian dan Devan jadi menurut nya dia tidak perlu ikut, karena jika dilihat dari segi manapun tidak ada hubungan khusus yang dimiliki oleh Clara yang bisa membuatnya harus dekat dengan keluarga Devian dan Devan terutama orang tua nya. Satu setengah jam waktu tempuh Clara, biasanya hanya memakan 40-60 menit namun hari ini jalanan sangat lah macet dan hal itu membuat Clara datang lebih lama namun belum terlambat. Hari pertama bekerja Clara tidak ingin terlambat makannya dia berangkat lebih pagi jadi walaupun terjebak macet dia tidak telat. Begitu sampai di perusahaan Clara langsung menuju lift dan langsung menekan angkat 40, ruangan paling atas di gedung besar ini yaitu ruangan CEO. Dan begitu dirinya sampai di lantai 40, Clara tidak bisa berhenti kagum dengan desain disana yang terlihat sangat mewah sekaligus elegan. Ruangan yang luas dan sepengelihatan Clara tidak ada ruangan lain disini selain 1 ruangan bertuliskan CEO di depan nya. Clara juga yakin jika meja yang tersedia di depan pintu besar itu adalah untuk nya, atau lebih tepatnya untuk sekretaris karena memang tidak ada tempat lain lagi disana, dan tidak mungkin juga tempat sekretaris di dalam ruangan CEO. Begitu puas mengagumi tempat itu Clara langsung saja berjalan mendekat ke arah pintu dan mengetuk nya langsung. Tok tok tok "Masuk" tidak lama setelah Clara mengetuk pintu langsung ada sahutan dari dalam yang meminta nya untuk masuk. Saat masuk kedalam ruangan itu bisa Clara lihat ada seorang pria yang sedang duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. Duduk dengan tubuh gagah nya yang di balut oleh jas mahal.  Si pria yang tau jika ada yang masuk kedalam pun menatap ke arah pintu, dan tanpa sengaja tatapan kedua nya bertemu. Clara yang merasa salah tingkah dan kurang sopan saat melakukan itu memutuskan untuk mengalihkan pandangan nya ke bawah. "Mendekat, dan duduk lah" kata pria itu mengintruksikan kepada Clara. Langsung saja Clara berjalan mendekat, sesuai yang diminta oleh pria dihadapannya ini yang terlihat ramah. Dan itu terbukti dari senyum yang terus terpasang diwajah nya itu, seperti dengan mudah menerima Clara sebagai sekretaris nya. "Clara Annisa?" "Ya tuan" "Santai saja jika sedang berdua tidak perlu memanggil tuan. Aku tidak suka itu, panggil saja Kei. Dan namaku adalah Keiland Pramudya" kata Kei memperkenalkan dirinya kepada sekretaris baru ini. "Tapi bukan kah itu tidak sopan? Bagaimana pun juga saya masih pegawai baru" kata Clara, ayolah ini cukup aneh jika hanya memanggil nama terlebih yang di panggilnya itu adalah atasannya di tempat kerja, akan sangat terlihat tidak sopan. "Hanya saat kita berdua" kata Kei "Baiklah jika itu yang tu-emh Kei mau" kata Clara pada akhirnya, jika hanya mereka berdua seperti nya tidak masalah, lagi pula seperti nya pria di hadapan nya ini memiliki umur sedikit diatas Clara. Keiland tersenyum, sebenar nya bekerja dikantoran bukan lah gaya nya. Karena Kei ingin menjadi seorang seniman bukan pebisnis, dirinya sangat tidak suka jika pekerjaan yang dilakukan duduk di balik meja kantor Berjam jam dan membaca banyak nya berkas yang tidak dia mengerti sama sekali. Tapi kali ini Kei mau melakukan hal itu demi membantu papi dan juga Abang nya, kedua nya harus melakukan perjalanan keluar negeri karena urusan pekerjaan dan perusahaan disini tidak boleh kosong tanpa pemimpin, makanya untuk sementara Keiland menggantikan. "Karena ini hari pertama mu bekerja, mungkin lebih baik kamu mengerjakan hal yang ringan saja. Atur ulang jadwal ku selama seminggu ini jika sudah selesai tolong bacaan secara langsung. Ah dan satu lagi semua yang kamu butuhkan sudah ada di meja depan" kata Keiland memberikan pekerjaan Clara pertama, karena Keiland tau untuk awal Clara pasti belum mengerti dengan apa yang harus dia lakukan sebagai sekretaris. Dan menurut nya hal yang harus di kerjakan Clara adalah mengatur jadwal, jika wanita itu sudah tau jadwal nya makan sisa nya akan berjalan sesuai dengan sendiri nya. "Baik Kei, aku akan mengatur ulang jadwal. Aku permisi" Setelah berdiri, membungkuk untuk berpamitan Clara langsung keluar dari ruangan Kei. Setelah melihat Clara yang keluar dari ruangan nya, Keiland langsung bernafas dengan benar. Tadi selama ada Clara di dalam sini, kei merasa untuk bernafas saja sangat sulit dia lakukan hal itu di karenakan dia yang gugup sekaligus terkagum dengan paras cantik yang dimiliki oleh Clara. Keiland tidak munafik jika dia menyukai paras ayu yang dimiliki Clara, dan Kei juga yakin banyak yang akan memiliki pendapat sama seperti nya ketika bertemu atau berkenalan dengan Clara.  "Kenapa bang Liam beruntung banget ya? Selalu di kelilingin sama cewek cewek cakep" kata Kei pada diri nya sendiri yang merasa heran dengan keberuntungan kakak tertua nya yang selalu memiliki wanita cantik di sisi nya. . . . Sekarang Clara dengan serius nya mengerjakan apa yang diminta oleh Kei tadi, mengatur ulang jadwal nya. Dan menurut Clara ini bukanlah hal yang mudah karena banyak dan padat nya jadwal Kei dengan pertemuan pertemuan bisnis dengan perusahaan lain. Sosok Clara yang sangat serius dengan kaca mata yang bertengger manis di hidung nya sangat lah menawan Dimata siapapun yang melihat nya. Tapi ada satu hal yang perlu kalian tahu juga, Clara jika sedang serius memang terlihat jauh lebih menarik tapi gadis itu bisa melupakan sekitar nya jika sedang serius. Seperti saat ini contoh nya, Clara yang sibuk dengan pekerjaan nya sampai tidak tau atau lebih tepatnya tidak peduli dengan ponsel nya yang terus saja berbunyi, dan panggilan itu di lakukan oleh Vani dan juga Devian entah apa yang kedua pasangan itu inginkan Clara juga tidak tau. Karena merasa terganggu Clara justru mematikan ponsel nya agar dua orang itu sama sekali tidak bisa menghubungi nya. Di hari pertama dirinya bekerja Clara hanya ingin fokus pada pekerjaan nya, dan jika memang sepasang kekasih itu memiliki kepentingan dengan dirinya bisa dikatakan nanti saat sudah berada di rumah. Jauh di tempat Clara berada, baik Vani maupun Devian berdecak kasar karena Clara yang sama sekali tidak menjawab telfon kedua nya. Padahal ada hal penting yang ingin di sampaikan. "Bagaimana apa kalian bisa menghubungi nya?" tanya mamah Devian dengan senyum yang merekah penuh dengan harapan di dalam nya. "Belum mah, Jika seperti ini biasanya Clara sedangan sibuk" jawab Devian yang hafal betul dengan sahabat kekasih nya itu. Dan jika tidak salah ingat hati ini juga merupakan hari pertama wanita itu kerja. Mendengar perkataan putra nya sontak saja raut wajah wanita paruh baya itu berubah, yang awal nya tersenyum perlahan menunjukan pandangan kecewa. Padahal dia berharap jika hari ini bisa bertemu dengan Clara namun seperti nya halangan masih saja ada. "Iya tante, jangan sedih. Ini adalah hari pertama Cla kerja jadi pasti dia lagi sibuk banget nih" kata Vani berusaha membuat calon mertua nya ini tidak sedih lagi, dia tidak tega melihat raut kecewa dari orang tua. Ibu Devian pun tersenyum di paksakan mendengar perkataan keduanya yang berusaha sekali membuat nya tidak kecewa. "Nggak apa apa kok, mungkin lain kali masih bisa" katanya berusaha meyakinkan jika memang masih ada hari lain untuk bertemu dengan Clara. . . . Hari sudah sore, dan ini juga sudah memasuki jam pulang kantor. Saat ini Clara sedang berada di halte yang tidak jauh dari kantor menunggu taksi yang dia pesan untuk datang. Saat tadi Clara menyalakan ponsel nya untuk memesan taksi dia bisa melihat banyak panggilan tak terjawab dan juga pesan yang di kirim oleh Vani juga Devian, tapi Clara sama sekali tidak memiliki niat untuk menjawab nya. Tin tin tin Suara klakson mobil yang tiba-tiba itu membuat Clara terlonjak kaget, dan hampir saja me jatuhkan ponsel nya ke tanah. Saat Clara menatap mobil di depan nya tadi,si pemilik mobil langsung menurunkan kaca mobil nya. "Ayo gw anter pulang" kata pria itu yang tak lain tak bukan adalah Devan pria yang di hindari oleh Clara. "Gw udah pesen taksi, lo bisa pulang aja duluan" kata Clara menolak secara halus, meskipun Clara tidak suka berdekatan dengan Devan dia masih punya rasa kemanusiaan dengan berbicara baik-baik dengan pria itu. Bertepatan dengan itu taksi yang dipesan oleh Clara datang dan saat Clara ingin menuju taksi nya, Devan dengan cepat turun dan menuju taksi itu untuk membuat Clara tidak jadi naik. "Nggak jadi bang, nih uang buat bayaran nya" kata Devian sambil memberikan 2 lembar uang 100 ribu. Dan si supir taksi yang menerima uang itu pun langsung pergi dari sana karena merasa jika ada pertengkaran antara kekasih yang membuat si perempuan tidak mau pulang dengan si pria makanya pesan taksi. "Lo tuh mau nya apa sih?" tanya Clara saat dengan paksaan Devan membawa nya memasuki mobil milik pria itu dan Clara tidak mempunyai pilihan lain selain ikut masuk kedalam mobil Devan. "Kan gw udah bilang gw mau nganter lo pulang" jawab Devan dengan santainya dan mulai menjalankan mobil nya tanpa peduli raut wajah Clara uang menunjukan kekesalannya. "Ya kan tadi gw juga bilang gw udah mesen taksi" kata Clara dongkol karena di paksa seperti itu oleh Devan. "Taksi nya udah pergi cla, udah lah lu nurut aja sama gw sehari kenapa sih?" "Ya kan lo juga yang nyuruh supir nya pergi" "OK ok maaf, gw cuma mau berduaan sama lo hari ini aja. Setelah itu gw gak akan ganggu lo lagi" Clara yang mendengar itu pun langsung menatap Devan dengan serius, karna tidak biasanya pria di sebelah ya ini bersikap sedemikian rupa. Dan menurut Clara Devan berubah entah karena apa alasannya "Lo mau pergi?" tanya Clara dengan tatapan yang sulit diartikan. Kecewa? Mungkin, tapi Clara adalah sosok wanita yang pandai menutupi perasaan nya. "Ya.." "Kemana?" tanya Clara lagi "Jerman, gw bakalan lanjutin bisnis nyokap disana sekaligus lanjut S2" "Kenapa jauh banget?" tanya Clara tiba tiba yang kaget dia juga tidak sadar jika sudah menaikkan nada bicara nya. Ada rasa tidak menyangka di dalam nya. "Gw pernah baca katanya, cara ngelupain orang yang nggak bisa kita miliki itu lebih baik menjauh" Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN