Awal Rencana

1475 Kata
Awalnya mereka betiga menolak rencana Robi untuk berlibur ke Kampung nenenknya. Mereka bertiga beranggapan tidak ada hal menarik yang bisa mereka lakukan nanti di sana. Mereka ingin liburan kali di lakukan di temapt-temapt yang menarik, secara sudah dengan susah payah mereka menaajukan cuti, hingga menunggu dua tahun lamanya untuk bisa melakukan liburan ini. “ Mau ngapin kita ke Kampung Rob, mau cari kecebong ? “ ucap Anjas “ Iya, mending ke tempat yang pasti seru aja, ke mana gitu, Bali mungkin “ imbuh Aris “ Jangan salah, di sana itu seru banaget, yakin, percaya sama aku” jawab Robi Robi mulai menjelaskan seberapa menariknya kampung neneknya unutk liburan..Robi mengatakan bahwa kampung neneknya masih sangat alami sekali, jauh dari kata polusi. Banyak hal yang bisa mereka lakukan di sana, ada arum jeram, pemandangan air terjun, dan mereka bisa bercamping juga di sana. Pokoknya nggak akan rugi jika mereka ke sana. “ Yakin semenarik itu ? “tanya Anjas “ Yakin, berani sumpah aku, kalau akau bohong, iris tuh kuping bapak Fano “ canda Robi “ Kenapa jadi bapak aku, bapak Aris aja tuh “ ucap Fano “ Iya nggak apa-apa bapak ku aja, kan bapak ku sudah meninggal..hiyakkk” Akhirnya setelah melewati perdebatan yang cukup panjang, mereka sepakat untuk libuiran ke Kampung nenek Robi lusa, walaupun nantinya di sana mengecewakan, masih ada banyak waktu unutk mencari tempat liburan lain nantinya. Sudah larut malam, Aris telah selesai mengemasi barang-barang yang akan ia bawa untuk besok. Tiba-tiba terdengar suara orang gedor-gedor pintu rumahnya, terdengar suara orang sesenggukan memanggil-manggil namanya. Aris nampak taka sing dengan suara itu, ia segera membuka pintu dan melihat keluar. Ternyata benar dugaan Aris, itu suara Anjas. Dia sudah duduk jongkok di depan pintu rumah Aries sambil menangis. “ Kamu ngapain , la kok nangis “ Aries kaget melihat Anjas ada di sana tengah malam seperti ini sembari nangis. “ Cewek ku ris “ Anjas berbicara sambil nangis. “ Iya, cewek mu kenapa ? hamil ? “ Aries menggoda Anjas “ Hamil bapak kau, dia selingkuh “ tangis Anjas semakin menjadi-jadi “ Kok bisa, ayo masuk dulu lah, nggak enak di dengerin tetangga malam-malam kayak gini” Aris mengajak Anjas masuk ke dalam rumahnya, memberinya minum agar ia bisa lebih tenang “ Coba cerita sekarang “ ucap Aris “ Ncen d****k wonge og ris, tego ngelarani awaku sing wis setia koyok ngene “ logat jawa Anjas keluar. “ Bentar-bentar, pakai bahasa Indonesia aja tapir, nggak paham aku kamu ngomong apa “ “ Maaf-maaf, emosi aku ris “ Aris bercerita kalau di putus, karena pacarnya selingkuh dengan temannya sendiri. Dia sudah LDR dengan pacarnya selama dua tahun, Anjas di Jakarta sedangkan pacarnya di kampung. Aris mencoba menangkan Anjas. Aris bilang bahwa perempuan di dunia ini nggak cuma dia doang. Masih banyak ikan di laut, masih banayak perempuan yang mau dengan Anjas yang lebih cantik dan setia. Nikmati saja liburan besok, siapa tahu dengan liburan nanti dia bisa melupakan kisah sedihnya. Aris menyuruh Anjas mala mini tidur di rumahnya saja, Aris khawatir jika Anjas sendirian, dia bisa melakukan hal-hal konyol. Pagi telah tiba, sudah pukul 05:30 Anjas masih belum bangun, nampaknya tadi malam dia tidak tidur. Padahl nanti jam 06:00 mereka sudah harus berangkat. Aris tidak tega membangunkannya, akhirnya dia menyiapkn baju-bajunya dua kali lebih banyak untuk Anjas nantinya. Robi sudah menelepone Aris berkali-kali, memintanaya agar lekas bersiap, sebentar lagi di akan ke rumahnya bersama Fano. Aris mengatakan pada Robi, bahwa Anjas ada di rumahnya sejak tadi malam, agar nanti dia dan Fano langsung ke rumahnya saja. “ Njas..anjas…ayo bangun,bentar lagi berangkat nih “ Aries sebenarnya kasihan memabangunkannya, tapi mau gimana lagi. “ Oke-oke, jam berapa ini ” mata yang masih bengkak, menandakan Anjas masih terus menangis tadi malam “ Udah hampir jam enam ini, bentar lagi Robi dan Fano datang “ “ Ohhh…bajuku, aku belum beres-beres tadi malam “ sontak Anjas bingung, dia belum menyiapkan apapun untuk ia bawa. “ Udah tenang..pakai baju aku aja nanti, aku bawa lebih kok “ ucap Aris “ Syukurlah..suwun banget bos ku “ Terdengar suara di depan rumah, nampaknya Robi dan Fano sudah datang, Aris segera keluar dan menemui mereka. “ Gimana, barang-barang bawaanmu udah siap semua “ tanya Robi “ Udah-udah, barng ku dan Anjas udah siap semua “ jawab Aris “ Mana Anjas ? tumben dia tidur di rumahmu “ ucap Fano “ Masih di dalam lagi mandi, lagi Broken Heart dianya “ ucap Aris sambil ketawa. “ Kok bisa? “ tanaya Fano “ Tanya sendiri ke orangnya aja sana “ jawab Aris Robi dan Fano bergegas masuk kedalam, segera ingin menemui Anjas. Sekedar ingin meledek teman mereka yang satu ini, yang katanya orang yang paling pantang patah hati, secara dulu jaman kuliah, dia adalah playboy kelas kakap. Melihat Anjas duduk termenung di atas sofa, Robi dan Fano pun ketawa meledeknya. “ Ya ampun, kenapa bro kita yang satu ini? “ Robi mencoba menggoda Anjas yang masih terlihat sedih. “ Kuciwo,kuciwo, anjur atiku dek “ imbuh Fano Anjas hanya bisa diam melihat teman-temannya mengejeknya, dia hanya bisa menahan malu. “ Sudahlah, sudah hampir jam enam ini, ayo berangkat, nanti kesiangan malah macet lagi jalan “ ucap Aris “ Iya , ayo “ ibuh Fano Melihat kondisi satu temannya seperti itu, Robi tampak tidak tega jika harus memkasakan berangkat hari ini. Terpikir oleh dia bagaimna jika menunda dulu keberangkatan liburannya, selain itu hari ini dia juga meras kurnag enak badan jika harus menyetir jarak jauh. “Kasihan dia, kita tuda dulu ajalah. Mungkin besok atau lusa baru berangkat” ucap Robi. “Aku sih terserah bagaimana baiknya” sahut Aris. Namun tampaknya hanya Fano yang tidak setuju jika keberangkatan mereka di tunda hanya karena Anjas yang sedang patah hati. Sedangkan Anjas yang sedang patah hati hanya diam saja, dia tidak peduli mau berangkat kapan. “Ayolah, sudah tanggung ini. Aku sudah capek-caapek packing baju dari tadai malam” ucap Fano sembari merengek layaknya anak kecil yang meminta jajan. “Kamu jangan begitu, lihat itu muka Anjas. Kalau cuma masalah capek packing baju, aku mungkin lebih capek daripada kamu” ucap Aris. Merasa tidak ada yang mendukungnya sama sekali, Fano memilih untuk pergi keluar rumah. tampaknya dia benar-benar kesal jika hari ini mereka batal untuk berangkat. Robi segera menyusl Fano keluar, dia ingin berbicara baik-baik dengan Fano, karena sebenarnya mereka sudah tahu memang seperti ini sifat Fano sedari dulu , selalu saja ingin semua kemauannya harus di turuti. Setelah Robi berbicara sebentar dengan Fano, tampaknya dia sudah mau mengerti dan setuju jika keberangkatan liburan mereka unutuk sementara waktu di tunda dulu. “Bagimana? Dia setuju?” tanya Aris pada Robi yang sudah masuk rumah kembali. “Dia setuju, tapi sekarang dia sudah pulang” jawab Robi dengan tertawa, dia merasa gemas saja dengan Fano yang masih saja bersikap seperti anak kecil. “Biarkan saja, pasti nanti atau besok dia kembali ke sini” ucap Aris. Fano bisa pulang sendiri karena rumah dia dengan Aris tidak terlalu jauh, dengan jalan kaki saja. Namun Robi tampaknya malam mini harus menginap di rumah Aris karena dia malas jika harus pulang lagi, jarak rumah dia dari rumah Aris cukup lumayan jauh, mungkin butuh waktu satu jam untuk sampai, selain itu dia juga merasa bosan dan kesepian karena dia di rumah sendirian. “Kamu mau pulang dulu atau nginap di sini saja?” tanya Aris pada Anjas. “Nginap sajalah, malas akau jika harus pulang lagi. Robi juga nginap di sini kan?” “Iya, akau juga malas jika harus pulang lagi” ucap Robi. Mungkin karena karena terus menangis sejak kemarin malam mebuat tubuh Anjas lelah, baru juga selesai adzan maghrib, dia sudah tertidur pulas di sofa, mungkin memang patah hati benar-benar menguras energi. Sedangkan Anjas sudah tidur dengan pulasnya, Robi dan Aris memilih untuk mengobrol sambil minumkopi di teras rumah, mereka sungguh kangen dengan suasana seperti ini, entah sudah berapa lama mereka terakhir melakukna hal seperti ini. “Akhirnya kita bisa seperti ini lagi ya” ucap Aris “Iya, seneng banget rasanya bisa seperti ini lagi” sahut Robi. Robi akhirnya bercerita kenapa dia bersikeras untuk menunda perjalanan hari ini, sebenarnya bukan masalah Anjas yang menjadi alsan dia meunda perjalanan, melainkan kondisi fisiknya yang hari ini tidak mendukung dan yang paling utama adalah mimpi dia tadi malam. “Mimpi? Mimpi apaan?” Aris tampak penasaran sekali dengan isi mimpi Robi. “Aku tadi malam didatangi oleh kakek-kakke tua di dalam mimpiku” ucap Robi menggunakan suara pelan, seolah-olah dia ingin membuat ceritanya menjadi seram. “Heleh, kakekmu itu mesti” sahut Aris. “Bukan, aku belum pernah bertemu dengan dia sebelumnya” Robi melanjutkan ceritanya, di dalam mimpinya kakek-kakek itu meminta dia unutuk jangan pergi jauh-jauh hari ini, kalau memang dia tidak ingin mendapatkan kesialan. Entah kenapa Robi merasa percaya dengan apa yang diwejangkan kakaek-kakek itu di dalam mimpinya, seolah-olah hati dia berbicara meminta dia agar Robi menuruti saran dari kakek itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN