Chapter 42

1265 Kata

Setelah Robi memasuki ruang ICU di tidak merasa jika air matanya tiba-tiba menetes, hatinya benar-benar measakan kesdihan yang amat dalam melihat salah satu dari sahabatnya terbaring tak beradaya di depan matanya. Meskipun dia mecoba menguatkan hatinya, mencoba menganggap ini smeua dalah takdir, namun tidak dapat ia bohongi jika perasaan bersalah masih terus mengahantui dirinya. Robi mendekati Anjas dan mengusap dahinya, dahi Anjas benar-benar terasa dingin sekali, entah ini pertanda baik atau buruk, Robi juga tidak menegrti. Selama dia masih terlihat bernafas, Robi menganggap jika Anjas masih baik-baik saja. “Maafkan aku. Aku benar-benar boodoh mengajak kalian ke sini” ucap Robi sembari menggenggam tanagn Anjas yang juga amat terasa dingin. “Ayo cepat bangun, jangan tidur seperti ini Nj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN