Sheya melenguh dalam dekapan suaminya saat mendengar suara yang memanggil mereka berdua. “Ehmm … Mas … Itu sepertinya Sera.” Sheya berusaha mendorong pelan bahu suaminya dan menepuk-nepuk lengan masnya. Memang setelah melewati trimester pertamanya dan tidak lagi mengalami morning sickness, Sheya justru dilanda kantuk setiap habis subuh, sehingga beberapa bulan terakhir dia lebih sering tidur lagi setelah subuh dan baru ke dapur jam enam pagi. Biasanya, saat weekeday justru masnya yang menyiapkan sarapan, dan Sheya akan bergabung untuk menyiapkan bekal mereka. Namun berhubung ini weekend dan mereka biasanya sarapan lebih siang, masnya akhirnya ikut tidur lagi setelah subuh. “Ibuuu …. Ibuuu … Ayah … Ayo bangun … katanya mau jalan pagi dengan adik bayiiii.” Suara Sera yang terdeng

