Kehidupan Cinta dan Mati terikat erat pada jiwa-jiwa yang percaya.
♧♧♧♧♧
Abram Linkton mempersilakan Helena berjalan di depannya dengan perasaan tidak menentu, aura gadis itu benar-benar menyedot sisi hati yang terus bergejolak.
Mereka beriringan kembali ke rumah kayu.
Gadis itu duduk di teras dan memanggil Dora.
"Hamba, My Lady," ucap Dora tanpa bersimpuh.
"Ambilkan saya pengerat," ujar Helena meminjam istilah Syelena untuk benda seperti pisau.
"Hamba punya, My Lady," timpal Abram seraya mengambil pisau yang terselip pada pinggangnya.
Helena tersenyum, ia menerima pisau tersebut dari tangan Abram. Sekilas tangan mereka bersentuhan dan aliran listrik menyengat keduanya. Bukan sembarang aliran, tapi sesuatu yang menyetrum hati mereka masing-masing. Wajah Helena merona, dengan cepat ia menunduk, mulai mengerjakan tutup pipa bambu tapi tangannya bergetar seiring debar jantungnya yang bertalu-talu.
Helena menghentikan kegiatannya, ia tahu tidak bisa melakukan sebuah pekerjaan jika keadaan hatinya tidak karuan seperti itu. Dengan tenang, ia meletakkan bilah kayu dan pisau di sampingnya sambil menoleh ke arah Abram yang terus menatapnya.
"Ada sesuatu yang ingin Anda katakan, Tuan?" tanya Helena menekan segala rasa yang timbul pada dirinya.
Seketika Abram salah tingkah, merasa gugup dan panik. Hal itu harusnya tidak terjadi pada lelaki petualang yang mencari uang dengan cara merampok saudagar-saudagar kaya.
"Ti--tidak, My Lady. Sa--saya hanya ingin tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membantu," sahut Abram dengan perasaan kacau dan malu kepergok sedang menatap gadis itu.
"Duduklah, Tuan. Bantu saya menggunakan pengerat ini," ujar Helena kembali mengambil bilah kayu dan pisau. Demi menenangkan dirinya, ia harus mengajak Abram bicara agar tidak terfokus pada kegugupan.
Helana tahu apa yang dirasakannya kepada Abram adalah benih-benih cinta. Dulu, semasa masih kuliah mengambil jurusan teknologi laboratorium medik atau analisis kesehatan, ia pernah dekat dengan seorang mahasiswa kedokteran.
Pada awalnya, apa dirasakan Helena pada lelaki itu persis dengan apa yang dialaminya sekarang kepada Abram. Dari setrum-setrum aneh berkembang memasuki keadaan di mana ia tidak bisa mengusir bayangan lelaki itu dari benaknya, kemudian memasuki tahap kecemburuan dan keinginan kuat mengukuhkan komitmen.
Sayangnya, cinta Helena bertepuk tangan. Lelaki yang ia jatuh cinta kepadanya, memilih jatuh cinta kepada wanita lain. Ia hanya dianggap sahabat olehnya. Tidak lebih. Patah hati Helena berlangsung berbulan-bulan sampai akhirnya ia memilih memutuskan persahabatan dengannya.
Helena mempunyai banyak teman dikarenakan sikapnya yang humble, bersahaja, cerdas dan mudah mengulurkan tangan bagi orang yang membutuhkan bantuan. Tapi, yang tertarik padanya sebagai lawan jenis, nyaris tidak ada.
Ia sadar akan kekurangan dirinya dalam hal fisik. Parasnya sangat tidak menarik dengan cuping hidung lebar, bermata kecil, kaca mata tebal, postur pendek dan bibir yang terlihat manyun. Tidak memiliki daya pikat sama sekali.
Saat menyadari bahwa Abram tertarik padanya karena jasad Syelena bukan jasad asli Helena yang ia yakin, lelaki di sampingnya itu pun bahkan tidak akan melirik meski dengan sebelah mata kepadanya, Helena harus meredam perasaannya sendiri.
Ia juga sadar, raganya adalah milik Pangeran Arion meski perasaannya menginginkan Abram. Situasi yang sangat dilematis baginya.
Gadis itu menelan salivanya, ia merasakan ulu hatinya tertusuk puluhan duri saat menyadari bahwa diusianya yang sudah menginjak dua puluh empat tahun, ia tidak ditakdirkan memiliki kisah cintanya sendiri.
"Tetaplah di sampingku, hanya untuk membuatku merasa hidup," gumam Helena dalam keputus asaannya.
"Hamba, My Lady?" Abram tercengang karena dengan jelas mendengar gumam gadis itu.
Helena tergugu, ia terbawa arus perasaannya yang tampak tidak masuk akal. Walaupun segala hal tentang cinta memang berawal dari ketidaklogisan.
"My Lady, apa maksudnya dengan 'merasa hidup'?" Abram mengejar ketidak mengertiannya.
"Karena aku berada bukan pada tempat di mana seharusnya aku berada dan waktuku bukan seharusnya berada di sini ...," ujar Helena sambil menerawang. Kemudian ia menoleh kepada Abram. Wanita yang pikirannya moderat itu pun, menatap bola mata Abram dalam-dalam. Tidak peduli apakah lelaki itu memahaminya atau tidak, yang jelas ia merasa harus mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Jiwaku menyukaimu tapi ragaku bukan untukmu, Permisi," ujar Helena seraya bangkit berdiri. Meninggalkan Abram yang terpaku dan membeku di tempatnya, berusaha memahami ucapan gadis itu tapi tidak menemukan jawaban apapun di sana.
Abram tidak ingin meninggalkan rumah kayu tersebut. Tidak peduli Helena tidak menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Ia memilih mengawasi semua anak buahnya yang sedang mengerjakan pipa bambu. Sementara Helena memeriksa garam yang bercampur pasir.
Gadis itu menuangkan garam kedalam wajan besar dan mencampurnya dengan air dimasak sampai mendidih lalu menginstruksikan kepada Dora agar menyiapkan kain berserat tipis yang bersih dan hal lain yang harus dilakukan. Ia juga meminta orang untuk mengupas buah kelapa matang dan memarutnya yang akan dicampur dengan air matang dan dimasukkan ke dalam botol-botol lalu membiarkannya selama dua hari dua malam.
Helena tampak puas melihat bumbu di dapur meskipun tidak terlalu lengkap, tapi setidaknya ia bisa mengolah makanan sendiri.
Kesibukannya di dalam rumah masih belum memungkinkan dirinya mengeksplor tanaman yang ada di hutan tersebut. Helena harus puas dengan keadaannya sekarang.
Gadis itu menolak semua makanan kecuali roti dan s**u. Roti itu sangat keras hingga ia harus mencelukannya ke dalam s**u panas. Semua makanan diolah menggunakan lemak hewan dan itu membuatnya mual. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukannya demi untuk memuaskan perutnya, diantaranya, membuat tepung dari biji gandum, membuat minyak kelapa untuk menggoreng dan menumis, membuat mentega yang baik karena mentega yang ada berkualitas sangat rendah.
Satu per satu dikerjakan hingga ia kelelahan, mandi, minum obat dan tidur. Semakin hari, jam tidurnya semakin berkurang hingga ia memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi obat dan tubuhnya sudah terasa sangat baik.
Hari kelima Helena berada di sana, ia mengundang Abram untuk makan malam di rumahnya. Helena telah membuat roti sederhana yang empuk dari tepung gandum yang dibuatnya sendiri. Ia juga menggoreng daging menggunakan minyak dan mentega yang dibuatnya sendiri, membuat setup sayuran yang ditaburi garam murni tanpa campuran apapun hingga warna rasanya juga murni.
Abram mengenakan pakaian kebesarannya dalam menerima undangan makan malam dari Helena. Gadis itu menyambutnya di depan pintu. Lelaki yang hampir gila karena setiap saat merindukan Helena terpaku di tempat saat melihat keanggunan Helena yang berdiri di depannya.
Rambut yang disanggul acak ke atas kepala menampakkan tirus wajahnya yang hanya menggunakan sapuan merah tipis pada bibir mungilnya. Leher jenjang disangga dua bahu yang kuat dan pinggang ramping serta bagian d**a* yang membusung indah, benar-benar memabukkan pandangan Abram. Gadis itu tampak tinggi, senyum gugupnya menambah kecantikan alami pada parasnya.
"Silakan masuk, Tuan Abram," sambut Helena dengan pita suara halus dan jernih milik Syelena. Lelaki itu berlutut sebelah di hadapan Helena dan meraih tangan kanan berkulit halus serta lentik lalu menciumnya tanpa melepaskan pandangan matanya dari gadis itu.
Helena tersenyum gugup saat Abram berdiri tanpa melepaskan genggaman tangannya. Ia mengangkat lengan kirinya untuk diraih oleh dekapan Helena dan mulai melangkah menuju meja makan bundar kecil di dalam kamar. Abram menarik kursi untuk Helena duduk.
Dora memberikan kain segi empat yang ditempatkan Helena di atas pangkuannya. Abram mengikutinya dengan meletakkan kain di atas pangkuannya juga sambil terus menatap ke arah gadis itu.
Gelas kosong segera diisi air putih oleh seorang pelayan dan Helena memberikan isyarat kepada Dora.
Sup krim ayam dihidangkan beserta satu keranjang roti yang membuat Abram terpana. Sup itu sangat wangi menggugah selera serta roti berbentuk lonjong mengkilap dan membuatnya terkejut karena roti itu begitu empuk dan wangi.
Helena mengambil satu buah roti lalu ia menyobeknya dan mencelupkannya ke dalam sup krim lalu memakannya dengan perlahan dan anggun.
Abram mengikuti Helena memakan sup dengan roti dan dalam sekejap, telah habis tidak tersisa. Ia masih merasakan lapar tapi tidak berani meminta tambah, meski ia merasa heran karena tidak seperti makan dalam kebudayaannya yang digelar banyak-banyak di atas meja melainkan hanya semangkup sup kecil yang lezat dengan beberapa buah roti yang juga sangat lezat. Ia hanya bisa menunggu wanita cantik di depannya selesai dengan sup dan roti.
Helena memberikan kode sambil menyeruput sedikit air putih sementara gelas Abram telah kosong. Pelayan mengambil mangkuk sup dan keranjang roti lalu pelayan lainnya menyajikan steak beserta saus tomat pedas dan setup sayuran. Karena mereka tidak memiliki pisau makan, sang pelayan memotong-motong daging kemudian mengembalikan kehadapan Helena dan Abram.
Gadis itu menuangkan saus tomat yang bagi Abram adalah hal baru, makanan baru. Ia mengikuti Helena menuangkan saus tersebut ke atas piring. Helena mengambil garpu tajam yang ia buat dari kayu dan mulai menusuk daging yang telah berbalur dengan saus lalu memakannya.
Lagi-lagi Abram makan dengan cepat karena rasanya luar biasa enak, daging yang masih juicy itu gurih dan empuk. Begitupun dengan setup sayuran, ia sangat menyukai aroma mentega dan rasa asin yang sama sekali tidak mengandung pahit sedikit pun.
Dalam sekejap, makanan itu telah habis tidak bersisa, bahkan saus tomat yang agak pedas itu pun di minumnya dengan rakus. Helena hanya tersenyum melihat perilaku Abram.
Meja kembali dibersihkan, hidangan penutup adalah buah segar campur yang dipotong kecil-kecil dan direndam dalam kuah s**u serta manisan air tebu. Rasanya luar biasa segar. Abram tergila-gila oleh hidangan makan malam yang disajikan oleh Helena.
Akhirnya lelaki itu merasa kenyang. "My Lady, hamba tidak tahu harus berkata apa tapi semua makanan tadi adalah semuanya baru dan rasa baru yang luar biasa. Sangat nikmat dan lezat. Dari mana My Lady tahu banyak tentang segala hal?" tanya Abram memberanikan diri karena baginya semua hal yang diketahui gadis itu sangat asing dan luar biasa.
Bahkan santer gosip beredar bahwa gadis itu bukanlah Syelena D'Arph tapi adalah Dewi yang menyamar sebagai Syelena.
Helena tersenyum. Telunjukanya mengangkat dan mengetuk pelipisnya sendiri. "Dari sini," seloroh Helena.
Abram menatapnya lekat-lekat dalam sorot mata tidak mengerti.
"Berpikir dengan logika, berpikir yang masuk akal." Helena tetap menyunggingkan senyumnya.
Abram mengangguk meskipun kurang memahami maksud Helena.
"Katakan padaku, bagaimana komunitas Tuan bisa berdiri pada awalnya?" tanya gadis itu dengan sangat ingin tahu, sebab, tidak mudah mengumpulkan banyak orang yang mau mengabdi kepada seseorang apalagi dalam sebuah kerajaan. Hal hebat apa yang dimiliki oleh lelaki di hadapannya itu.
Abram kebingungan menjawab pertanyaan Helena. Tidak mungkin ia menceritakan kejahatannya kepada gadis yang sedang dipujanya itu.
Seorang pelayan kembali menuangkan air putih ke dalam gelas Helena dan juga ke dalam gelas Abram. Dengan cepat tangan Helena terulur mencegah Abram meminum air itu.
Diudara yang sangat bersih, penciuman Helena semakin tajam. Samar-samar ia mencium sesuatu yang tidak biasa dari air yang dikucurkan dari kendi yang kini masih dipegang oleh salah seorang pelayannya.
Helena memanggil pelayan itu. "Sini kamu!"
"Hamba, My Lady," sahutnya menghampiri Helena dengan tenang.
"Kamu mengambil air ini dari mana?" tanya Helena.
"Hamba tidak mengambil air My Lady, hamba hanya menerima kendi ini dari dapur," sahutnya merasa heran.
"Dari dapur atau dari seseorang?" Helena menatapnya dengan bola mata bergerak-gerak.
"Yang ini, My Lady?" Pelayan itu memastikan diri. Helena mengangguk dengan cepat.
"Ini saya terima dari Circe, My Lady," ujar pelayan itu. "Kenapa ya My Lady?" Ia balik bertanya tidak memahami pertanyaan Helena.
Abram menghardiknya. "Tidak boleh kamu bertanya!"
"Sstt ... tidak apa, aku yang membolehkannya," Helena tersenyum kepada Abram lalu menoleh kembali pada pelayan itu.
"Kamu duduk. Dora, bawa Circe kemari!" seru Helena.
Dora tergopoh-gopoh memasuki ruang makan. "My Lady, Circe menghilang. Hamba sudah suruh orang mencarinya," sahut Dora sambil membungkuk. Ia segera mencari Circe saat Helena masih bertanya-tanya kepada pelayan yang polos itu.
Helena menoleh kepada Abram. "Tolong suruh orang-orangmu mencarinya dan Tuan akan tetap berada di sini sampai Circe bisa ditemukan," tegas Helena.
Abram segera berdiri dan berbicara pada anak buahnya yang berjaga di depan pintu. Kemudian ia kembali duduk di hadapan Helena. "My Lady ... ada apa?"
Helena meminta kendi yang masih dipegang oleh pelayan itu, lalu membukanya dan kembali hidungnya mencium sesuatu. Helena tahu persis itu apa. Kemudian, ia menutup kendi itu rapat-rapat juga menyumpal ujung luar kendi dengan serbet kain dan menyerahkannya kepada Abram. "Ciumlah," ujar Helena
Abram membuka tutup kendi dan segera wajahnya berpaling. "Bau apa ini My Lady?"
"Racun Ular," jawab Helena dengan yakin.
Hari itu adalah hari pertama di mana ia sadar atas ancaman nyata kepada dirinya.
"Pertanyaan penting; "Kenapa ditujukan juga kepada Tuan Abram?" Helena saling beradu tatap dalam pemikiran-pemikiran yang sibuk di dalam kepalanya.
♧♧♧♧