Perangkap

1812 Kata
Bahkan orang yang menginginkanmu, bisa jadi makhluk terjahat demi memenuhi nafsu bejatnya. ♧♧♧♧♧ "My Lady, silakan tidur, biar masalah ini hamba yang selesaikan," ujar Abram menahan kemarahan dirinya atas peristiwa rencana pembunuhan terhadap dia dan Helena. Keduanya adalah musuh dari Raja yang berkuasa dalam kasus yang berbeda. Namun, gadis cantik yang tampak rapuh itu menolak. "Tidak, Tuan. Saya harus berhadapan langsung dengan orang yang menginginkan kematian saya. Sampai saja mendapat jawaban yang jelas, baru saya bisa tenang. Bawa ke sini pelayan itu!" titah Helena. Abram terdiam. Satu sisi ia tidak bisa membantah gadis itu karena posisinya sebagai putri Jenderal D'Arph meskipun sang jenderal sedang berada di dalam penjara istana, tapi juga, gadis itu adalah kekasih putra mahkota kerajaan. Sang pewaris kerajaan. Tapi, satu sisi, egonya sebagai lelaki menampik jika permasalahan nyawanya ditangani oleh seorang wanita. Helena menyadari akan hal itu. Ia menarik napas sebelum bicara, "Tuan Abram, mengenai penghukuman, aku sepenuhnya menyerahkan kepada Tuan. Aku hanya ingin tahu secara jelas, siapa orang dibalik ini semua. Hanya itu, Tuan." Helena menjelaskan agar tidak terjadi kesalah pahaman. Seketika wajah Abram berubah. Ia bisa menerima penjelasan dari gadis itu. "Hamba, My Lady, dengan senang hati, kita akan mencari tahu, setelahnya, izinkan hamba membawa orang itu," ucap Abram sambil mengguratkan senyum dan membungkuk. Helena mengangguk. Kesepahaman telah dicapai. Ia kembali duduk menghadap teko dan gelas tanah yang kini sudah ditutupi oleh selembar kain. Tidak berapa lama, terdengar keramaian di luar, Abram mengangguk kepada Helena dan memberi kode pada penjaga agar membawakan kendi dan dua gelas dalam sebuah nampan. Abram mengangkat lengannya agar Helena bisa menangkupnya dan mereka berjalan bersamaan menuju depan rumah yang cukup terang benderang. Circe tampak tidak berdaya di antara pagar betis para tentara Abram. Melihat Abram dan Helena ia segera bersujud sambil menangis. Tidak ingin membuang waktu lama, Abram memberikan isyarat kepada anak buahnya. Kendi pun diambil dari atas nampan dan beberapa orang memegang Circe hingga ia berdiri sekarang. "Katakan siapa yang mengutusmu? Jika berani berbohong maka kamu akan dipaksa untuk meminum racun itu!" seru Abram dengan nada dingin. "Ma--maaf, Tuan. Hamba tidak bisa bicara ...," sahut Circe lemas. "Katakan saja, kamu mau hidup tidak? Atau keluargamu terancam?" tanya Helena dengan suara tenang dan mantap. "I--iya, My Lady. Keluargaku akan dibantai. Bunuh saja hamba, My Lady," ucap Circe pasrah sepasrah-pasrahnya. "Kamu mau berkorban untuk keluargamu?" tanya Helena. "I--iya, My Lady," sahu Circe bergetar. "Baiklah, bisikkan saja pada orang di sampingmu, kami akan membunuhmu. Jadi, keluargamu akan tetap aman, Bukankah selama ini kamu telah dijamu dengan baik olehku?" Helena berkata dengan tenang. Semua orang menoleh atas perkataan Helena yang agak aneh itu. Tapi, tanpa diduga, Circe benar-benar berbisik pada pria di sampingnya dan pria itu segera menghampiri Helena. "Berbisiklah," ujar Helena memberikan telinganya pada lelaki itu. Abram menghentakkan lengannya yang sedang digandeng oleh Helena. Seketika ia merasa cemburu. Tapi, ia berusaha menahannya sambil tersengal-sengal. Helena justru melepaskan tangannya saat ia merasa Abram menghentakkannya, dikira memang lelaki itu memberikan waktu dan ruang bagi dirinya. Lelaki itu refleks menarik pinggang ramping Helena cukup keras hingga tubuhnya semampai itu menabrak tubuh Abram dan sengatan listrik terjadi di antara keduanya. Helena tergugu sesaat tapi ia segera sadar diri dan sebuah nama sudah berada di dalam benaknya. Ia menoleh kepada Abram dan mengangguk. Abram paham kemudian ia berkata pada anak buahnya, "Tahan dia Sebentar!" Kemudian ia berbalik, mengantar Helena kembali ke kamar. "My Lady, hamba akan membawa Circe dari sini. Terima kasih dan selamat beristirahat," ujar Abram sambil membungkuk. Helena mengangguk sebelum Abram mundur dan menutup pintu. "Dora, siapkan bajuku," titah Helena yang telah berdiri di depan lemari, secara tidak langsung meminta bantuan Dora untuk melepaskan baju yang dipakainya. Ia tidak tahan dengan ikatan talinya yang kencang hingga membuat pinggangnya begitu kecil. "Hamba, My Lady," sahut dora segera membongkar baju yang rumit itu dari tubuh Helena. "Besok antar saya jalan-jalan ke hutan dan bawa keranjang, ajak juga penjaga agar kamu tidak berat mengangkut barang," ujar Helena. "Hamba, My Lady," sahut Dora sebagai tanda ia siap menjalankan perintah. Helena merebahkan dirinya di atas kasur yang nyaman dengan selimut tebal dan berat, membuat tubuhnya seakan mendapat pijatan lembut. Suhu kamar pun sejuk sesuai keinginannya. Hanya Dora yang lebih hangat dengan menancapkan obor-obor kecil di sekelilingnya. Helena merasa bagaikan telanjang* di tempat itu karena keberadaannya sangat tidak aman. Jangankan permaisuri yang pastinya akan memburunya, tapi ... pelindungnya pun di hutan ini, mempunyai niat buruk kepadanya. Gadis itu mendengus mendengar kebohongan dari Circe yang mengaku bahwa ia diutus oleh permaisuri. Kenyataannya, yang berada di dalam cairan itu bukanlah racun ular tapi getah sebuah pohon yang tidak mempunyai rasa bila dicecap tapi membuat orang cepat tidur. Tapi untuk apa? Apa yang akan terjadi jika Abram dan dirinya ngantuk bersama? Tidur bareng satu ranjang? Kini, haruskah ia bersembunyi agar tidak terdeteksi oleh semuanya? Tapi bagaimana caranya ditengah-tengah banyak orang yang kemungkinannya untuk membocorkan keberadaannya tinggi karena butuh uang? Ia mengambil kesimpulan bahwa dirinya tidak boleh mempercayai siapapun. Perlahan-lahan, kesadaran gadis itu menurun. kelopak matanya menutup dan ia telah masuk ke dalam tidur yang tenang. ◇◇◇◇ Sementara itu, Disebuah ruangan, hanya ada Abram dan Circe. Lelaki itu terlihat murka. "Bagaimana ceritanya hingga kamu memasukkan racun ular? Bukankah seharusnya hanya obat tidur biasa?!" Circe mendongak, wajahnya tampak kebingungan. Ia menggeleng cepat-cepat. "Tuan, itu benar-benar getah, bukan racun ular, Tuan. Bagaimana caranya hamba mengambil racun ular sementara hamba takut dengan binatang yang merayap, Tuan. Getah itu, tangan hamba sendiri yang menyantingnya, Tuan," ucap Circe dengan sungguh-sungguh. "Bohong kamu! Sekarang juga minum racun itu sampai habis!" teriak Abram sambil menunjuk kepada teko kendi yang terbuat dari tanah liat itu. Tanpa keraguan sedikit pun, Circe segera meraih kendi yang isinya hanya tinggal satu gelas saja. Ia meneguknya langsung dari corong kendi sampai dedak getah itu ikut meluncur melalui tenggorokannya. Keanehan terjadi saat minuman itu menyebar di dalam tubuh. Circe menggeliat dan merasakan seluruh tubuhnya panas. Kemudian dengan gerakan gemulai, tangan gadis itu mulai menarik lembaran pakaian bagian atas dan menarik tali dari bagian pinggangnya dengan gerakan memutar. Abram duduk di atas ranjang dan menyaksikan aura m***m dari pelayannya itu. Sorot mata Abram melayu saat pupilnya menangkap pemandangan bukit kembar yang bulat dan mencuat. Napas lelaki itu mulai memburu. Circe terus menggerakkan tubuhnya dengan bergoyang perlahan seolah mengikuti kepalanya yang terasa berayun-ayun. Tangannya terus mengupas kain lembar demi lembar dari tubuhnya hingga ia kini benar-benar telanjang*bulat. Abram berdecak kasar. "Bangun, Syelena," ujarnya serak. Circe yang berparas manis itu memang memiliki tubuh yang sintal dan serba besar. Tapi pikiran Abram penuh dengan bayangan Helena. "Berikan tubuhmu padaku, Syelena," desah Abram sambil menarik tubuh yang sedang bergoyang sambil memejamkan matanya. Lelaki itu mearik tubuh Circe dan berbisik di telinganya, "Buka matamu," Circe membuka matanya dengan berat dan lelaki itu menekan pundak Circe hingga ia berlutut di bawahnya. Kemudian ia membuka ikatan yang membelit pada pada dan pinggangnya. "Buka mulutmu!" Gadis itu membuka mulutnya, serta merta Abram memasukkan dirinya pada mulut yang terbuka dan merasakan kehangatan yang basah di sana. "Katupkan, isap kuat-kuat, jilat, Aaah! Syelena ...," Abram memejamkan matanya erat-erat, ia membayangkan Syelena. Setiap sudut pikirannya hanya ada Syelena. Syelena dan Syelena di sana-sini. Semakin penuh dengan Syelena, semakin nikmat yang dirasakannya. Tidak tahan, Abram melepaskan kepala Circe dari tubuhnya lalu menggerayanginya dengan kasar, bermain-main pada d**a* gadis itu yang masih berada dalam tahapan antara sadar dan tidak sadar. Namun, alam bawah sadarnya mampu mendeteksi syaraf-syaraf yang mengenali sensasi nikmat bereaksi. Mulut wanita itu mendesah dan mengerang, membuat Abram semakin menggila. "Enak, Syelena, hah? Enak? Seenak inikah dengan Arion ha? Katakan Syelena! Katakan!" Abram semakin tidak tahan mendengarkan moaning yang terus meluncur dari mulut Circe. Lelaki itu tidak tahan lagi. Ia mengangkat tubuh Circe dan membantingnya ke atas kasur lalu menarik kedua kaki gadis itu, membukanya dan ia bersiap menyatukan dirinya dengan wanita yang tampak lemas tidak berdaya itu. Abram menerobos dengan tenaga sekuat-kuatnya, Circe tersentak dan membelalak. Sebuah desisan muncul dari mulutnya. "Sakiitt ...!" Tapi lelaki itu tidak peduli. Ia dibutakan oleh rasa nikmat yang luar biasa dengan bayangan Syelena yang terpampang jelas dalam benaknya. "Syelena ... nikmat sekali kamu ... aah! Kamu milikku Syelena, bukan Arion! Tapi milikku, Abram Linkton Aah ...!" erang Abram yang semakin lama semakin kencang. Abram menceracau liar sambil memejamkan matanya. Ia memompa diri tidak peduli dengan gadis yang menderita di bawahnya. teriakan Abram terus menggema dalam erangan dan desahan, sumpah serapah serta memanggil-manggil Syelena. Sampai akhirnya ia berteriak dalam lolongan panjang. Membuat orang yang melewati ruangan kamarnya, berhenti sejenak karena terkejut sebelum akhirnya senyam senyum saat paham bahwa pimpinannya tengah bertempur dengan seorang wanita di atas ranjang. Abram terkulai lemas menggelinding ke samping dari tubuh Circe. Ia masih merasakan nikmatnya sebuah keperawanan dari Syelena dalam bayangannya. Kemudian ia menuju ruang kamar mandinya yang dibuat sama dengan kamar mandi di rumah kayu Helena. Masuk lagi ke dalam kamar dan melihat tubuh sintal di mana pemiliknya telah jatuh pingsan. Abram yang sedang kasmaran berat kepada Syelena, mendadak bangkit lagi. Ia meraih kaki gadis itu tapi kemudian melihat darah yang menjijikan di sana. "PELAYAN!" teriak Abram. Seorang wanita tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan. "Hamba, Tuan," sahutnya sambil menundukkan wajahnya, tidak berani melihat tubuh telanjang* Tuannya. "Bersihkan dia sekarang! Gotong ke bak dan bersihkan! Bersihkan alas tidur itu. Cepat!" perintah Abram sambil teriak-teriak. Ia duduk di atas kursi sambil mengelus-elus bagian bawah tubuhnya dan memilih-milih pelayan yang sekiraya sudah berpengalaman. "Kamu! Sudah menikah?" tanya Abram melihat wanita itu tampak paling berumur diantara semuanya. "Hamba, sudah, Tuan," sahut wanita itu ketakutan. . "Sini!" titah Abram. wanita itu berbalik dan menghampiri lalu bersimpuh di depan Abram. "Sini lebih dekat, sini," Abram menarik bahu wanita itu yang tubuhnya gemetar ketakutan. "Jangan takut. Kamu bersumpah untuk melayani tuanmu kan? Buka mulutmu!";titah Abram. Wanita itu tahu apa yang diperintahkan oleh Abram karena wajahnya kini berhadapan dengan makhluk yang berdiri tegang dan berurat. Dia tergoda melihatnya. Dengan gerakan luwes, ia mulai menjelajahi seluruh area tanpa ada yang terlewat. Membuat bola mata lelaki itu menukik ke dalam, merasakan nikmat yang luar biasa. "Syelena ah Syele ... na ... kenapa seperti ini rasanya Syelena ..." Saat membuka matanya, ia melihat kalau gadis telanjang* itu telah berada kembali di atas kasur sementara pelayan yang lainnya duduk bersimpuh karena belum diperintahkan untuk keluar ruangan. Abram memicingkan matanya ia menatap gadis-gadis pelayan satu persatu dan menunjuk salah satu dari mereka. Gadis yang mempunyai ukuran bukit paling besar. "Kamu, sini!" Yang ditunjuk gemetaran tapi tidak bisa menolak. "Ha--hamba Tuan," jawabnya lemah. "Berdiri sini!" titah Abram. "Buka lembaran kain itu, sini .. sini ...." Abram menyuruh gadis itu memasukkan puncak bukitnya kepada mulut lelaki itu. Ia melumat habis-habisan karena dalam benaknya semua sensasi kenikmatan itu bersumber dari Syelena. "Pergi semua!" perintah Abram setelah merasa tidak bisa menahan diri lagi. Dalam sekejap mereka melesat berlari sementara Abram menghampiri Circe dan kembali menyatukan dirinya tanpa ampun hingga lolongan panjang itu kembali menggema dan membangunkan orang-orang yang sudah tertidur. Circe masih tidak sadarkan diri dan darah segar terus merembes diantara sela-sela pahanya. ♧♧♧♧♧
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN