Jika firasat bisa dirasakan, bukankah itu bentuk lain dari penglihatan akan masa yang akan datang?
♧♧♧♧♧♧
Menjelang malam di hari ketiga, rombongan yang dipimpin langsung oleh Pangeran Arion sampai di tengah-tengah hutan wilder. Di sana telah terbangun sebuah komunitas di bawah pimpinan Abram Linkton. Lelaki muda yang berjuang untuk membela kaum tertindas dari kebijakan Raja maupun antek-anteknya.
Pangeran Arion disambut langsung oleh Abram yang telah menyediakan kamar khusus untuk calon istri Pangeran, Syelena D'Arps.
"Selamat datang Pangeran, semoga berkenan di tempat kami," sambut Abram sambil membungkuk hormat.
"Saya butuh tabib yang paling hebat di seantero negeri. Apakah kamu bisa menyediakannya? My Lady sakit parah dan butuh pengobatan segera," tutur Arion dengan wajah serius.
"Kebetulan di sini ada tabib hebat yang belum diketahui oleh istana, Pangeran," jawab Abram. "Kedua tabib ini sangatlah hebat bahkan salah satunya adalah maha guru dari tabib-tabib istana," lanjut Abram.
"Benarkah? Kalau begitu cepat panggil mereka karena saya tidak bisa berlama-lama di sini," titah Arion tidak sabar.
Abram memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk memanggil kedua tabib yang dimaksud.
Tidak lama kemudian, seorang kakek yang masih terlihat gagah dan gesit membungkuk hormat di hadapan Pangeran Arion. "Hamba mengabdi kepada Yang Mulia Pangeran," ucap tabib tersebut.
"Tolong cepat periksa My Lady!" perintah Arion, sambil melangkah memasuki sebuah gubug yang memang disediakan untuk Syelena.
Helana menoleh ke arah suara yang menyibakkan pintu dari kain tebal. Ia melihat Arion yang gagah dan tampan membungkukkan badannya untuk bisa masuk ke dalam kemah yang berbentuk seperti kubah itu. Disusul oleh seorang kakek yang mengenakan jubah berwarna putih kusam. Dari wajahnya terpancar kecerdasan dan kebijaksanaan. Saat itu juga, Helena merasa ia menyukai lelaki tua itu.
"My Lady, ini adalah tabib yang akan mengobatimu. Tolong jaga baik-baik dirimu, aku akan segera menjemputmu. Saat ini, aku harus segera kembali sebelum Permaisuri menyadari aku tidak ada." Arion membungkukkan badannya kepada sosok Syelena yang jiwanya sudah diisi oleh Helena.
Helena mengangguk dengan lemah, ia mengiringi kepergian Arion dengan tatapan matanya. Hati kecilnya merasakan bahwa ia akan merindukan lelaki itu. Lelaki yang telah menjaga dirinya selama tiga hari dengan resiko besar. Sedetik kemudian ada rasa iri pada Syelena yang begitu dicintai oleh lelaki itu.
"Lady Syelena, hamba hadir untuk membaktikan diri, apa yang dirasakan, Lady?" Suara lelaki tua itu membuyarkan pikiran Helena dari sosok Arion.
Wajah gadis itu berpaling, kini ia menatap sang kakek dengan seksama, mencoba untuk mengerti banyak hal dari pantulan wajah renta itu.
"Sa--saya membutuhkan obat untuk mengencerkan darah, bisakah Anda meramunya? Atau, berikan saja tanaman sonchus arvensis. Tidak perlu diramu dengan bahan lain. Saya hanya butuh itu," sahut Helena dengan suara yang lemah.
Tabib tua yang sudah kenyang makan asam garam tersebut tampak kebingungan. Dari mana gadis itu mengetahui tentang sonchus arvensis yang hanya tumbuh di daerah dengan curah hujan tinggi? Bahkan dirinya pun belum pernah menggunakan daun tersebut untuk pengobatan meskipun banyak sekali manfaatnya. Sangat sulit mendapatkannya.
"Kita bisa membudi dayakan tanaman itu, asalkan sudah mendapatkan dua saja pohonnya yang berbunga dengan cara membuat hujan buatan." Helena megap-megap, ia sangat kelelahan.
Melihat hal seperti itu, tabib tua segera bersimpuh untuk memberikan penghormatan dan memutuskan mencari tanaman yang dimaksud. "Hamba undur diri, My Lady, dalam beberapa hari baru bisa kembali karena perjalanan yang ditempuh, sangat jauh."
Namun, Helena tidak menyahut, secara perlahan, ia telah kehilangan kesadarannya. Sang tabib terkejut. Ini bisa jadi pertanda buruk dan itu tidak boleh terjadi. Ia bisa saja dihukum pancung karena Syelena berada di dalam tangannya saat ini.
Dengan sigap ia segera keluar dan memetik bunga liar serta mencabut akan tanaman rambat lalu mencucinya bersih-bersih dan menghancurkan sampai lembut keduanya bersamaan di dalam lempung kemudian memerasnya menggunakan kain bersih.
Obat yang diramunya jauh dari kata steril, tapi khasiat menjadi pertimbangan penting dibanding bakteri ataupun hal lain yang menjadi penyebab terjadinya efek samping saat mengkonsumsi obat.
Tangan renta tersebut, memasukkan cairan hasil perasan ke dalam botol-botol kecil dan segera membawanya ke hadapan Syelena. Ia meletakkan botol-botol tersebut di atas bantal yang agar terlihat oleh gadis itu, lalu meraih satu botol dan memasukkannya pada mulut gadis itu secara perlahan-lahan.
Alam bawah sadar gadis itu mengenali cairan obat yang membasahi kerongkongannya, tanpa kesulitan yang berarti, ia menelan cairan dan merasakan bagaimana kemurnian alam bekerja atas tubuhnya.
Melihat wajah yang pucat berangsur-angsur memerah, tabib tersebut merasa lega. Kini ia bisa berangkat untuk mencari tumbuhan yang dimaksud. Ia segera meninggalkan kemah Syelena dan mengambil kudanya lalu pergi meninggalkan area wilders.
Gadis itu tertidur sangat tenang. Beberapa kali seorang wanita setengah baya yang ditugaskan untuk melayani Syelena oleh Abram, menyibakkan tirai tebal yang berfungsi sebagai pintu. Tapi, ia terus mendapati gadis yang akan dilayaninya itu masih tidur dalam damai.
Baru keesokan paginya, setelah tidur selama tiga puluh enam jam, kelopak mata Helena perlahan membuka. Seluruh tubuhnya terasa ringan dan ia samar-samar ingat bahwa tabib tua itu telah mengalirkan obat pada mulutnya. Senyum tipis membayang pada wajah cantik itu. Perlahan ia mengangkat tubuhnya dan jantung yang telah menyiksanya sudah mau berdamai dengan dirinya saat itu.
Tirai tebal itu tersingkap, seraut wajah muncul dengan sorot mata yang menyenangkan. Melihat gadis itu telah bangun, senyum cerah mengembang pada wajahnya yang tambun. Wanita setengah baya tersebut tergopoh-gopoh memasuki tenda. "My lady sudah bangun? Hamba Dora, yang akan melayani My Lady," ucapnya sambil bersimpuh di bawah ranjang Helena.
Helena yang tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu merasa risih sekaligus kasihan terhadap orang-orang yang rela merendahkan dirinya sendiri di hadapan orang lain.
"Dora, bangunlah. Tidak perlu sampai duduk di tanah. Sini, duduk di sini saja, terus ceritakan padaku secara detail, apa maksudnya 'melayani' aku?" Helena menepuk lembut pinggir ranjang, agar wanita yang berwajah ramah itu duduk di dekatnya.
"My Ladi, ha--hamba tidak berani, maafkan kelancangan hamba," sahut Dora seraya membungkukkan setengah tubuhnya.
Helena semakin merasa heran. "Kenapa harus meminta maaf jika tidak ada yang salah?"
"Ha--hamba hanya menjalankan perintah, My Lady," ucap Dora terlihat gugup. Merasa iba, Helena tidak ingin memperpanjang hal itu. 'Jika mereka sendiri merasa nyama, ya sudahlah,' batin Helena.
"Baiklah, katakan apa saja tugasmu." Helena bersiap mendengarkan sambil bersandar pada kepala ranjang kecil itu.
"Memandikan setiap pagi dan sore, membawakan makanan dan memastikan My Lady makan dengan baik, selalu berada di dekat My Lady untuk menerima perintah, merapikan dan membersihkan ruangan, menemani jalan-jalan dan banyak hal lainnya," tutur Dora menjelaskan yang semampu ia ingat dalam kondisi gugup luar biasa.
"Ah, kamu diutus untuk menjadi temanku juga? Bagus, aku memang butuh teman," timpal Helena merasa senang.
"Ti--tidak, My Lady, bukan teman tapi saya adalah pelayan Anda yang setia," bantah Dora yang kini keningnya sudah menempel pada lantai tanah.
"Hei, apa yang kamu lakukan? Bangun!" seru Helena yang semakin dikagetkan oleh tingkah wanita itu.
"Ha--hamba, My Lady ...," ucap Dora patuh dan segera bangun dari sujudnya.
"Berdiri!" seru Helena, tidak puas.
Wanita itu tampak terkejut dan cepat-cepat berdiri dengan wajah memerah dan menunduk, ia tampak ketakutan.
"Ha ha ha, kamu tahu, Dora? Kamu jadi seperti badut! Ha ha ha." Helena tertawa dengan renyah menyaksikan wanita itu yang menurutnya tidak masuk akal.
"Ba--badut, My Lady?" tanya Dora terbata, ia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh gadis cantik tersebut.
Seketika Helena terdiam, ia baru menyadari bahwa dirinya sekarang tidak sedang berada di dunianya. Wajahnya menjadi murung, tanpa menoleh kepada Dora yang masih berdiri mematung, Helena berkata, "Maafkan karena sudah membuatmu bingung. Pergilah, aku ingin sendiri," ucap Helena.
"Ta--tapi, My Lady, kenapa harus meminta maaf?" Dora benar-benar tidak bisa memahami gadis muda di depannya itu.
"Pergilah," ucap Helena dengan nada memohon.
"Maafkan hamba, My Lady." Wanita itu membungkuk dalam-dalam kemudian melangkah dengan posisi mundur sebelum berbalik di depan tirai dan keluar dari sana.
Helena menggelengkan kepalanya, ia belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya berada di tempat asing yang belum memiliki alat-alat tekhnologi dalam hal apapun. Bagaimana kehidupannya bisa mudah? Kenapa dengan orang-orang yang selalu membungkukkan tubuhnya? Seketika tubuhnya menggigil saat ingat bahwa raga itu bukanlah raga Helena tapi raga Syelena, lalu, di manakan raga aslinya? apakah telah membusuk di dalam tanah?
Selapis cairan bening menggenang mengisi kelopak matanya. Sudah beberapa hari berlalu dari keberadaannya di labolatorium untuk menganalisa produk kosmetik dan mengalami kecelakaan yang sangat menyakitkan kemudian tiba-tiba terbangun di dalam raga seorang gadis muda empat tahun dibawah usianya.
Teringat bagaimana tingkah aneh adik lelakinya dan keragu-raguan di manik mata ibunya saat melepas dirinya pergi bekerja. Mereka telah menerima sebuah firasat yang artinya, memang dia ditakdirkan untuk mengalami menempati jasad orang lain.
"Mama ... aku merindukanmu dengan sangat, jangan sedih mama ... aku baik-baik saja, ta--tapi, di abad enam belas!" Seketika tangis Helena pecah. Ia tersedu-sedu. Sejurus kemudian, gadis itu meringis, jantungnya berulah lagi dan rasanya sakit sekali. Kemudian ia ingat kalau di samping kepalanya ada botol-botol obat, hanya saja, ramuan tersebut sangat mentah, karenanya tidak higienis sama sekali.
Menahan sakitnya, ia berusaha memanggil Dora. "Dora! Dora!" Tapi tidak ada yang menyibakkan tirai. Kemudian ia beralih membuat kegaduhan, memukul ranjangnya dengan sandal kayu dan berhasil membuat Dora tergopoh-gopoh menghampirinya.
"My Lady? Hamba datang," ucap Dora dengan gerakan cepat bersimpuh di hadapan Helena. Gadis itu sangat geram tapi rasa sakitnya begitu menyiksa.
"Ambilkan api dan wadah untuk menjerang air yang kecil, cepat!" perintah Helena sambil meringis dan memegang d**a*nya.
"Segera, My Lady," ujar Dora yang membutuhkan waktu lebih lama dari bersimpuh hingga berdiri. Kemudian keluar dalam kondisi kebingungan. Bagaimana caranya membawa api?
"A--api kecil, Dora, I--itu," tunjuk Helena pada sebuah meja yang di atasnya tertancap dalam pot sebuah obor kecl untuk penerang ruangan.
"Segera, My Lady." Dora mengambil obor tersebut dan membawanya keluar untuk dinyalakan.
Tidak lama kemudian, ia masuk kembali membawa obor yang sudah menyala dengan sebuah mangkuk kecil yang terbuat dari tanah.
"Pegang obor itu," ujar Helena sambil membuka tutup botol kecil dan menuangkan isinya ke dalam mangkuk. Kemudian, dibawanya mangkuk itu ke atas api sambil diputar-putar. Ia berhenti sejenak karena jarinya kepanasan, lalu mengambil kain dan menjepit mangkuk tersebut kemudian menjerangnya kembali di atas api.
Aroma dari pemanasan tersebut telah keluar dan Helena menunggu sampai bau yang menandakan bahwa bakteri dan zat berbahaya lain telah mati dalam cairan tersebut. Setelah mengental dan meletup-letup tipis dibagian pinggir-pinggirnya, Helena berkata, "Matikan apinya."
Ia terus menggoyang-goyangkan mangkuk agar cairan yang akan mengental itu cepat dingin dan membentuk bulat lonjong seperti kapsul. Helena paham jika melalui pemanasan seperti tadi, khasiat utama dari ramuan tersebut akan berkurang tiga puluh persen tapi relatif tanpa efek samping.
Sementara jika tidak melalui pemanasan, khasiat ramuan seratus persen tapi bakteri jahat akan tumbuh dan berkembang biak di dalam tubuhnya yang akan mengakibatkan pencernaan serta ginjalnya mengalami gangguan serius.
Setelah cairan itu menggumpal dalam ukuran sebesar kacang polong, ia memungutnya lalu memasukkannya ke dalam mulut dan mendorongnya dengan air kendi, hingga ia tidak harus mengunyah tapi langsung menelan, karena rasanya luar biasa pahit.
Ramuan tadi perlahan akan mencair kembali di dalam tubuh karena panas tubuh yang konstan, kemudian akan diserap oleh tubuh dan menyebar rata. Namun, yang akan menerima reaksi hebat adalah sel darah serta jantungnya.
Dosis yang diminumnya akan berfungsi selama dua puluh empat jam, pada masa itu, jaringan jantung bekerja memperbaiki dirinya sendiri dan lebih optimal jika ia bisa tidur lebih lama lalu mengkonsumsi obat lagi.
Hati kecilnya mengagumi kepandaian kakek tabib yang telah menghitung dosis secara tepat untuknya.
"Dora, aku ingin mandi. Di mana?"
◇◇◇◇