Tidak mudah menyesuaikan diri pada tempat yang bukan berasal dari duniamu.
♧♧♧♧♧
Tirai disibak, Dora masuk dan bersimpuh di atas tanah, kedua tangan menangkup di atas kepala. "My Lady, Tuan Abram hendak menghadap," lapor Dora.
"Siapa lagi Tuan Abram?" tanya Helena.
"Beliau Tuan Kami, yang memimpin masyarakat Wilders, My Lady," sahut Dora masih menangkupkan tangannya.
"Baiklah, suruh masuk," ujar Helena.
Dora segera bangkit, rok mengembang pada bagian kaki bawahnya penuh dengan kotoran tanah. Helena tidak tahan melihat hal itu.
Kembali tirai disibakkan, seorang lelaki tegap dan liat memakai pakaian bagus layaknya pangeran dengan pedang tersalip di pinggang, memasuki gubuk tenda dan membungkuk kemudian berdiri tegak. "My Lady, sungguh merupakan penghormatan bagi kami," sapa Abram.
Helena masih kebingungan, kenapa semua orang membungkuk kepadanya bahkan seorang pemimpin sekalipun. "Katakan ada apa?" tanya Helena yang tidak sabar ingin segera mandi, tubuhnya sangat lengket dan tidak nyaman.
"Rumah sederhana yang kami persipakan, sudah bisa ditempati, My Lady. Kami akan mengantarmu ke sana," sahut Abram sambil kembali membungkuk.
"Apakah lantainya juga masih tanah?" tanya Helena sambil menunjuk ke arah lantai dengan kepalanya.
"Tidak, My Lady. Lantainya dari kayu dengan kualitas terbaik, kami harap My Lady menyukainya." Abram terheran-heran dengan sikap Syelena yang dikabarkan malu-malu dan lemah lembut. Wanita di hadapannya ini sangat blak-blakkan, bahkan berani menatap matanya!
"Kalau begitu, mari kita pindah, mumpung jantungku sedang tidak berulah," ujar Helena yang lagi-lagi membuat Abram tercengang.
Baginya, perkataan gadis itu, yang dikenalinya sebagai Syelena D'Arph, sangat tidak sopan kepada organ tubuhnya sendiri.
Tapi, ia hanya bisa membungkuk sambil memanggil anak buahnya yang membawa tandu berbentuk kursi dengan sandaran dan tampak nyaman, memasuki ruang gubuk tersebut.
Helena membelalakkan matanya. "Aku? naik ini? Tidak. Aku akan berjalan kaki saja," tepis Helena yang merasa tidak nyaman merepotkan orang lain mengangkat dirinya.
"My Lady, Anda masih sakit, Kalau saya biarkan My Lady berjalan kaki, hukuman yang akan saya terima sangat berat dari Pangeran Arion," sahut Abram sambil membungkuk.
Dilema bagi Helena, menaiki kursi yang akan ditandu oleh dua orang itu, membuat perasaannya tidak nyaman. Tapi, dia juga tidak mau mendatangkan masalah bagi pemimpin Wilders. Gadis itu memejamkan matanya sejenak, kemudian ia menoleh kepada kursi berwarna merah yang berlapis beludru tebal dengan ornamen keemasan. Sangat megah. Kemudian, ia mendekati kursi tersebut dan duduk di atasnya. "Nyaman sekali," ujar Helena sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang tinggi.
Kedua orang yang memegang bilah kayu pada sisi kiri dan kanan kursi mengangkatnya secara bersamaan dan helena memekik pelan karena terkejut dirinya mengangkat tiba-tiba. "Ah!" Kemudian ia terkekeh sendiri serta menoleh ke kiri dan kanan. "Maaf ya merepotkan kalian," ujarnya sambil tersenyum.
Abram Linkton yang hendak membungkuk tidak jadi melakukan hal itu karena terkejut mendengar perkataan Syelena kepada anak buahnya. Lebih terkejut lagi saat gadis itu berbicara pada dirinya saat melewati Abram.
"Hei, terima kasih ya,"
'Hm ... sungguh sangat menarik, wanita yang langka!' pikir Abram sambil mengikuti rombongan Syelena yang kini telah memiliki beberapa pelayan untuk melayaninya.
Tempat yang dibangun untuk kediaman Helena agak masuk ke dalam hutan, ini merupakan wilayah teraman dari serangan musuh ataupun hewan buas karena dikelilingi oleh bala tentara Abram dan pagar rapat pada jarak satu kilometer. Wilayah ini pun telah disetujui oleh Pangeran Arion.
Sebuah bangunan kayu berwarna gelap berdiri kokoh di atas lahan yang dinaungi oleh pohon-pohon purba dan sangat besar. Helena terpana melihat pemandangan seperti itu, lebih-lebih, udara yang dihirupnya masih murni dan itu sangat bagus untuk tubuhnya yang ringkih.
Bangunan kayu tersebut, berjarak satu meter dari tanah, di sangga oleh kayu-kayu besar yang sangat kokoh. Dua orang penjaga lelaki bertubuh besar yang berdiri di depan rumah panggung tersebut, membungkuk hormat saat Helena mendekat.
Kursi yang diduduki Helena dinaikkan ke atas balai atau teras kayu dan Helena bangkit berdiri sambil berbalik ke belakang dan cukup terkejut melihat begitu banyak orang yang mengiringinya.
Abram menaiki tangga ke rumah kayu. Sambil membungkuk ia berkata, "Mari, saya antar untuk melihat bagian dalam dari tempat ini."
Helena mengangguk dan cukup puas melihat lantai kayu yang mengkilap. Sebuah ruangan tidak terlalu besar lengkap dengan peralatan layaknya ruang tamu, tapi ada keanehan di sana. Abram menunjuk pada satu kursi besar yang nyaman dengan sandaran tinggi berposisi lebih tinggi karena diletakkan di atas seperti panggung dengan dua undakan tangga.
"Ini adalah kursi khusus untuk My Lady saat menerima tamu," ujar Abram.
Helena terdiam sambil menaiki undakan tangga dan mencoba duduk di atas kursi itu. Dua orang wanita yang mengenakaan gaun panjang sederhana berwarna coklat segera menaiki panggung dari kiri dan kanan lalu mereka berdiri di samping Helena.
"Kalian ngapain?" tanya Helena kepada kedua orang pelayan tersebut.
Melihat Helena duduk di atas kursi, seketika, Abram duduk bersila di bawah panggung tepat di hadapan Helena, diikuti oleh para pelayan. Hanya kedua orang yang berada di samping kanan dan kiri Helena yang tetap berdiri.
Wajah gadis itu semakin terheran-heran. "Tuan Abram, kenapa kamu duduk bersila di sana dan kenapa tidak ada kursi lain di ruangan ini? Bukankah rasanya menjadi seperti kesepian?" tanya Helena dengan mimik serius tapi agak linglung.
"My Lady, setiap orang yang menghadap, mereka akan duduk di atas lantai ini, jadi memang tidak ada kursi, beginilah aturannya May Lady," sahut Abram yang hampir saja keceplosan apakah di rumah Jenderal besar D'Arph tidak seperti ini?
"Baiklah, mana ruangan lainnya, aku jadi makin penasaran," ucap Helena sambil bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah pintu penghubung ke bagian dalam.
"Oh, My ...." Abram tercekat melihat gerakan Syelena yang tiba-tiba. Ia pun segera melompat berdiri dan tergesa-gesa menyusul gadis itu.
Ruangan yang mereka lewati hanyalah ruang kosong tanpa perabot apapun. Helena merasa heran, ia berbalik tiba-tiba dan hampir saja bertabrakan dengan Abram yang segera melangkah mundur dan hendak membungkuk.
"Jangan membungkuk!" seru Helena dengan nada tegas dan berhasil mengagetkan semua orang di sana. "Apakah itu semacam olah raga? Bungkuk-tegak, Bungkuk-tegak. Berapa ratus kali hal itu dilakukan jika kalian selama dua jam ngobrol bersamaku?"
"Oh, My Lady tahu mengenai jam? Maksudnya, hand-winding?" Abram semakin terkejut oleh kalimat yang dilontarkan Helena.
Helena juga terkejut dan cepat memutar otak. Jika ini adalah abad pertengahan enam belas, tentu saja penunjuk waktu sudah dibuat pertama kalinya oleh Robert Dudley yang menciptakan jam tangan untuk Ratu Inggris Elizabeth I. Sejurus kemudian, dia ingat bahwa perkembangan penunjuk waktu baru dimulai pada awal abad ke enam belas. Gadis itu mendengus, akan sangat merepotkan jika ia harus menjelaskan segala sesuatunya kepada Abram.
"Apakah kamu belum punya, Abram?" Helena menjawab dengan pertanyaan.
Abram hendak membungkuk tapi kemudian ia menegakkan tubuhnya. Tidak ingin ditegur terus di depan anak buahnya yang lama-lama terasa memalukan. Lelaki gagah dengan wajah khas bangsa Yunani tersebut menggelengkan kepanya. "Belum punya My Lady. Sudah mencari ke mana-mana tapi belum keluar dari Britania Raya," jawab Abram dengan jujur.
"Baiklah, saya bisa buatkan secara sederhana. Datanglah besok kita akan bicarakan apa saja yang dibutuhkan!" ujar Helena yang menimbulkan pekik tertahan dari orang-orang yang terkejut atas pernyataannya, termasuk Abram yang mendadak terbengong-bengong.
"A-apakah benar Anda Putri Jenderal besar Syelena D'Arph, kekasih Pangeran Kerajaan Arion?" tanya Abram sambil ternganga.
"Bukan, Saya Helena, Laboran," jawab Helena sambil mengangkat bahunya lalu berbalik ke arah dalam.
Abram tersenyum masam atas seloroh Syelena, sementara yang lain tertawa rendah sambil bergumam. Merasa lucu atas gurauan gadis itu.
Dengan segera Abram menjelaskan bahwa ruangan yang mereka lewati tadi adalah ruang tempat penjaga berdiri bila diperlukan. Kemudian, ia membawa Helena ke arah dapur yang cukup luas. Di sana ada lima orang juru masak dan bagi Helena itu sangat berlebihan.
"Kenapa banyak sekali orang memasak? Apakah di sini ada pesta tiap hari? Cukup sediakan satu orang untuk membantu, aku lebih suka masak sendiri!" seru Helena.
"Baik, My Lady," sahut Abram yang semakin kebingungan. Sejak kapan para wanita kalangan atas berani melanggar aturan turun ke dapur?
Kemudian, Mereka memasuki kamar utama dari rumah tersebut. Paling depan sebelah kanan adalah ruangan untuk makan, meja bundar dan dua kursi. Serta lemari penyimpan makanan dan peralatan makan serta minum. Sebelah kiri dari pintu adalah ruangan untuk memintal atau menenun. Menggunakan alat sederhana dari kayu yang di putar.
Helena memeriksa mesin pemintal sambil berkata, "Abram! Eh, maaf, Tuan Abram, mesin penunjuk waktu akan siap dalam waktu singkat untuk Anda," ujar Helena sambil tersenyum lebar. "Mana kamar tidurnya? Sebab aku harus banyak tidur sampai jantungku benar-benar pulih." Helena melangkah lebih dulu ke arah dalam.
Abram kembali terkejut sampai ia berharap agar Dewa segera menghukumnya karena wanita itu terlalu banyak melanggar aturan.
Helena terpana melihat kamar tidurnya yang cukup luas dan mewah, mirip dengan ruang tidur kerajaan yang pernah dilihatnya pada litelatur kerajaan sewaktu berwisata dengan teman-teman kuliahnya dulu.
Sebuah ranjang besar dengan bantalan empuk, tampak sangat nyaman, di seberangnya sebuah bathtub yang diletakkan di tengah ruangan berbentuk melengkung indah dan berwarna putih gading, sofa dua dudukan yang bersandaran tinggi, benar-benar menawarkan kemewahan sebuah kerajaan.
Gadis itu memekik dengan girang. "Aku suka ruangannya, aku suka ranjangnya, aku suka bathtubnya, aku suka kursi sofanya, aku suka semua. Abram! Terima kasih!" seru Helena yang menghampiri Abram dan menjabat paksa tangan lelaki itu sementara Abram hanya berharap dirinya pingsan saat itu juga.
Kala itu, masyarakat di sana tidak mengenali budaya berjabat tangan. Mereka melakukan sapaan dan terima kasih dengan menangkupkan kedua tangannya sendiri di depan d**a* atau di depan kening. Serta, bersentuhan kulit sekecil apapun dengan lawan jenis hanya dilakukan jika mereka sepasang kekasih, saling menyukai atau sudah menikah.
"My Lady, saya undur diri, silakan My Lady beristirahat." Abram merasa gugup dan panik. Ia segera menangkupkan kedua tangannya sambil membungkuk dan melangkah mundur. Sejurus kemudian, ia berlari ke luar dari rumah kayu itu dan terus berlari mengarah kembali ke singgasananya sambil bergumam, "Aku dikutuk Dewa, aku dikutuk Dewa, maafkan aku, Dewa!"
Abram berlari bagai pengecut, hilang sudah kewibawaan dan kegagahannya, hanya karena tangannya diraih oleh seorang gadis dan dipegang serta diguncang-guncang dengan jarak yang sangat dekat.
Namun, yang menyedihkan adalah, semua pelayan dan penjaga juga ikut berlari meninggalkan rumah kayu dan Helena sendirian, melihat pimpinan mereka berlari dengan panik sambil mengucapkan 'dikutuk Dewa' menularkan kepanikan yang justru sangat besar di wajah-wajah mereka.
Dalam sekejap Helena merasakan keheningan yang teramat sangat. Ia juga heran dengan kepergian orang-orang yang begitu cepat. Ia melangkah ke arah teras kayu dan tidak melihat sebatang hidung orang pun di sana.
Ia mengangkat bahu tak acuh. "Huh, katanya ada pelayan dan penjaga, kok malah menghilang dengan cepat?" gumam Helena. Kemudian ia masuk ke dalam rumah, menutup pintu dan terus masuk ke kamarnya. Melihat obor-obor kecil yang menemplok pada dinding-dinding ruang, tapi ia tidak tahu caranya membuat api untuk menyalakan obor-obor tersebut.
Helena segera melihat ke kamar mandinya dan dua buah ember besar yang terbuat dari anyaman bambu keras yang padat, bagian dalamnya terlapisi oleh sesuatu yang akan ia cari tahu tentang lapisan tersebut nantinya, terisi air yang begitu jernih dan murni. ia segera melepaskan bajunya tapi tidak menemukan sabun di sana. Hatinya meradang. "Haruskah aku membuat sabun juga?!" teriaknya putus asa.
Helena membersihkan tubuh ala kadarnya, tapi cukup membuatnya terasa segar, ia membuka lemari pakaian dan sesuai dengan dugaannya, telah disediakan oleh mereka baju-baju kuno yang indah tapi berat dan rumit serta banyak baju dalaman di sana.
Ia mengambil baju dalaman dan cukup nyaman dengan benda itu, kemudian, masuk ke dalam selimut yang tebal dan berat, sekalian menenggelamkan kepalanya dibawah selimut, menyisakan sela diantara ujung selimut dengan bantal yang tidak digunakan karena ia tahu, malam akan dingin di sana, ia harus membuat tubuhnya panas dulu jika ingin selamat sampai pagi, sebab ia tidak tahu cara menyalakan api di sana.
◇◇◇◇