Tugas apa yang menantiku di sini? Menyambung takdir seorang Syelena D'Arph kah?
♧♧♧♧♧♧♧
Helena mulai duduk di menghadap meja makan. Tangannya dengan lincah menyiangi akar, menoreh batang dan menghancurkan daun, kemudian memasaknya di dalam pot tanah liat. Beberapa jenis obat telah berhasil dibuatnya.
Ia memisahkan obat-obat tersebut berdasarkan jenisnya, kemudian membungkusnya dengan daun kering lebar.
"Dora," panggil Helena dengan suara pelan.
"Hamba, My Lady," sahut Dora dan ia mendatangi gadis itu.
"Minumlah ini agar kakimu kuat untuk berjalan besok. Selanjutnya, minumlah satu kali tiap malam," ujar Helena menyerahkan bungkusan kepada Dora.
"Hamba, My Lady ... terima kasih," ucap Dora seraya membungkuk hormat.
"Simpanlah dulu, agar tidak tertukar dengan obat lain," ujar Helena sambil membereskan peralatan. "Dora, pemintal ini nanti taruh di luar tapi jangan dihilangkan. Peralatan ini taruh di sana," tunjuk Helena pada meja yang ada di ruang pemintal.
"Hamba, My Lady," ucap Dora.
Kemudian ia berbisik di telinga Dora, "Obat yang ini untuk Circe, satu hari minum dua kali, pagi dan malam. Jangan sampai ada yang tahu kalau obat ini dari sini."
"Hamba, My Lady," sahut Dora ikut berbisik.
"Besok subuh kita berangkat. Selamat tidur, Dora," ucap Helena sambil menghampiri ranjangnya untuk merebahkan diri dan menyongsong mimpi.
Dora telah mengatur kepada siapa saja ia harus menyampaikan obat tersebut, melalui beberapa tangan dan tangan pertama haruslah orang yang tidak mengenalnya. Instruksi harus disampaikan dengan baik, ia akan memulai hal itu esok pagi dalam perjalanannya menuju area perdagangan.
Helena bangun pagi-pagi sekali, ia membiarkan tubuhnya mengenali udara pagi hingga bisa memperkirakan bahwa saat itu adalah pukul empat pagi. Setiap jam memberi aroma yang berbeda, bersyukur ia pernah mempelajarinya dulu dalam pelajaran bagaimana bertahan di tempat asing dan tidak ada teknologi. Semua harus diukur dengan suhu, bau dan ritme tubuh.
Ia segera bangun dan mulai memoles wajahnya agar tidak terlihat pucat tapi terlihat legam dan kasar. Kemudian memakai baju salah seorang penjaga dan membuntal rambutnya ke atas sebelum memakai penutup kepala yang biasa dipakai oleh tentara dengan bagian samping kepala terjulur untuk menutupi telinga.
Helena memakai shading pada wajahnya dengan bahan yang telah dibuatnya dari akar tanaman. Shading tersebut berhasil mempertegas bentuk rahangnya hingga terlihat keras layaknya seorang pria. Bibirnyapun disapunya agar lebih gelap dari warna aslinya.
Tidak ketinggalan sepatu yang terbuat dari kain yang kasar dan sudah lusuh. diikatnya kencang-kencang pada pergelangan kaki, hal itu memudahkan orang untuk berlari dalam keadaan darurat. Sarung tangan pria penahan dingin telah dipakainya.
Ia memberikan satu kantung uang logam kepada Dora untuk berbelanja kebutuhan mereka selama tiga bulan. Dora yang telah siap pergi segera keluar dari kamar dengan pura-pura kedinginan seolah ragu untuk pergi, hanya demi mengelabui penjaga sebab Helena memegang pintu dari bagian dalam dan sedang menguncinya.
Gadis bertubuh langsing itu, menghampiri jendela yang dibagian luarnya sedang disandarkan beberapa kayu untuk keperluan atap kebun yang akan dibangunnya. Satu tangan menyelinap di antara kayu sandar, kemudian tubuh kecilnya menyelinap sambil menutup jendela kembali setelah berhasil menggelosorkan dirinya ke atas pijakan tanah.
Ia berhenti sejenak memasang mata dan telinga, kemudian ia mendengar suara Dora tengah berbicara kepada penjaga yang di area depan untuk mengalihkan dari suara-suara yang timbul saat Helena menggeser kayu-kayu dan mengeluarkan dirinya dari sana.
Dengan mudah Helena menyelipkan tubuhnya di antara sela pagar yang telah dirusaknya satu batang, kemudian memasangnya kembali. Lalu ia menyelinap ke dalam hutan dan berjalan ke arah depan. Terus melangkah sejauh delapan ratus meter kemudian melewati bagian samping banguan kamar Abram.
Tanpa menghentikan langkahnya, ia terus berjalan ke depan dan perlahan bergabung dengan orang-orang lain yang juga hendak menuju ke pinggiran hutan.
Ternyata jarak cukup jauh, tapi Helena mulai membuka kupingnya lebar-lebar, mendengarkan segala sesuatu. Ia memperkirakan perjalanan itu ditempuh dalam satu jam. Bagi orang-orang itu tentu saja sangat dekat, tapi tidak bagi Helena. Di kotanya dulu, tidak ada yang menempuh jarak satu jam dengan berjalan kaki, tapi menempuhnya dalam sepuluh menit menggunakan kendaraan.
Helena yang menyamar sebagai lelaki muda akhirnya sampai di perbatasan. Orang-orang sudah mulai ramai dan ia memperhatikan dengan seksama para pedagang yang telah menjajakan jualannya, kebanyakan berasal dari kota, yaitu wilayah kerajaan.
Kemudian tatapannya jatuh pada penjual makanan. Sup dan roti. Di sana sudah banyak para lelaki yang sedang makan bergerombol sambil mengobrol. Helena mendekati warung itu dan memesan sup panas satu mangkuk. Ia memasang telinganya lebar-lebar.
"Pencarian putri Syelena apakah masih dilanjutkan dalam keadaan memanas seperti saat ini?"
Helena merasakan jantungnya berdebar-debar. Satu hal yang ia sadari bahwa keberadaan dirinya masih belum diketahui pihak kerajaan.
"Tidak terpengaruh karena ini permasalahan permaisuri. Bahkan dalam beberpa hari ke depan, hutan wilders akan diperiksa juga. Mereka sedang mempersiapkan orang-orang di bawah pangeran Damon."
"Pangeran sendiri tidak turun? Ha ha saya yakin, jika pangeran Damon bertemu putri Syelena maka dia akan membawanya ke dalam kamarnya, ha ha ha."
"Ya, lebih baik kita bersiap terhadap serangan tentara Barco, dengar-dengar dalam waktu tiga purnama, mereka akan bersiap menyerang kita dari wilayah timur. Harus memperkuat penjagaan di sana."
"Ayo kita lanjutkan perjalanan."
Helena nyaris tidak mampu menelan roti kesat yang bahkan telah dicampur pada kuah sop. Sop itu lumayan enak tapi rotinya bagai pasir di mulut Helena.
Tiba-tiba ia mendengar suara orang yang berteriak, mengusir orang-orang yang sedang berada di warung tersebut bahkan sambil menggebrak meja. Orang-orang berlarian seketika tapi tidak Helena. Ia hanya bangkit, membayar makanannya lalu melangkah keluar melalui pintu terdekat dan menjauh.
Bukan Helena kalau tidak penasaran dengan hal itu. Ia menyelinap ke sebuah lapak yang menjual pakaian laki-laki, kemudian ia membelinya lengkap dengan penutup wajah berwarna hitam sambil melirik ke arah warung yang ia tinggalkan tadi.
Matanya yang jeli telah melihat ada jalan melingkar untuk kembali ke warung tersebut. Setelah melemparkan uang koin perak pada penjual baju, ia pun segera menyelinap. Lima menit kemudian, ia telah berada di sisi warung dan berdiri di balik dinding kayu yang rapat. Tapi kemudian ia melihat sebuah ceruk dan memasukinya. Helena duduk pada dudukan kayu yang biasanya dipakai istirahat oleh pemilik warung.
Dari sana ia bisa mendengar sangat jelas apa yang sedang dibicarakan di dalam warung. Rupanya mereka sedang mengadakan rapat dadakan karena salah satu dari mereka mendapatkan surat agar segera mundur ke perbatasan utara.
Seketika Helena paham bahwa mereka adalah tentara kerajaan yang sekarang dikomandoi oleh Raja Cleon. Bukan oleh D'Arph. Pasukan itu terkenal sadis dan tanpa ampun. Tapi, ada yang aneh di sana.
Karena pembicaraan mereka, membahas mengenai strategi penyerangan terhadap istana sendiri, bukan terhadap musuh kerajaan. Helena merinding, terlebih karena sasaran mereka adalah kedua putra mahkota. Mereka belum berhasil mencari tahu lokasi penyekapan pangeran Arion di dalam istana karena setiap pelayan istana tidak ada yang tahu lokasi tersebut.
Hal itu sangat tidak masuk akal bagi mereka kecuali, sang permaisuri sendiri yang memberinya makan dan mengurusnya. Hal itu juga membingungkan bagi Helena sendiri.
Penyerangan itu sendiri akan dilakukan tiga purnama ke depan. Jika kedua pangeran telah terbantai maka, Raja akan dipaksa menurunkan tahta dan menobatkan raja baru hari itu juga. Siapa Raja yang akan dinobatkan itu?
Sayangnya, rapat itu segera bubar karena seorang utusan datang dan meminta semua pasukan berkumpul di gerbang kota. Kabarnya selir Evanthe yang memanggil mereka. Helena terhenyak. 'Selir?!'
Dalam sekejap warung itu sepi. Helena kini sudah tidak berminat lagi untuk berkeliling. Ia membutuhkan waktu yang tenang agar bisa berpikir, hati kecilnya mengatakan bahwa ia harus membebaskan pangeran Arion tapi dengan cara apa, itu yang harus dipikirkannya. Dengan langkah gontai, Helena kembali memasuki gerbang Wilders lalu menyelinap ke bagian hutan. Dia memilih jalan yang agak sulit di lalui sambil meninggalkan jejak, menghindari bertemu dengan orang-orang.
♧♧♧♧♧