Tamara sudah sampai ke apartemennya . Sebenarnya , ini bukan apartemen milik Tamara . Derian yang memberikannya pada Tamara . Mungkin jika Derian benar – benar tidak menemukan di masa kelam Tamara , dia sudah menjadi anak terlantar mungkin . Biaya kuliah dan keseharian Tamara sudah Derian jadwalkan dan bayarkan . Maka dari itu , Tamara merasa berhutang segalanya pada Derian .
Dan sekarang , Derian mulai sibuk dengan pekerjaannya . Sampai bisa jadi , Derian pulang malam dan pergi lagi pagi – paginya . Kalau Derian tidak terlalu sibuk , biasanya Derian suka menghubunginya dan tentu saja menjemputnya .
Belakangan ini , Derian lebih sering menjemputnya . Derian bilang kepada Tamara jika dia akan sibuk seminggu ke depan . Dan Derian ingin menghabiskan waktu sekarang bersama Tamara sebelum dia harus sibuk dengan pekerjaannya .
Lihat . Bagaimana Derian memperhatikan waktunya bersama Tamara ? Derian sangatlah menjaga komitmen yang dia sendiri janjikan dan tentu saja dia sendiri yang menentukannya .
“Derian , mau kemana ?” Tanya seseorang yang sudah lama bekerja dengan dirinya di kantor ini .
“Pulang.” Sahut Derian singkat .
Orang yang tadi memanggilnya bernama Aliva . Iva sebutan untuknya . Iva ini adalah seorang yang bekerja di bawah tekanan Derian namun tetap memilih bekerja dengan Derian daripada dengan yang lainnya . Derian atasan Iva tentu saja, namun Derian menyuruh Iva memanggilnya dengan nama saja tanpa ada embel – embel Bapak, Tuan atau pun yang lainnya .
Derian tidak setua itu untuk dipanggil dengan embel – embel itu . Kecuali jika client yang memanggilnya seperti itu , Derian akan mengerti . Iva ini sekertaris Derian . Menyusun jadwal dan tentu saja menyusun semua acara yang akan Derian lakukan atau akan Derian hadiri .
“Hari ini ada rapat dengan direktur pusat Surabaya .” Kata Iva .
Decakan dari Derian membuat Iva terkekeh . Sepertinya , Derian sangat benar – benar ingin pulang sore itu . Derian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya lalu menatap Iva .
“Jam berapa rapat itu ?”
Iva tersenyum kecil, “jam setengah empat .”
Derian mengangguk , “tidak akan lama.”
Sekarang giliran Iva yang mengangguk, “satu jam akan selesai,” ucap Iva menenangkan Derian .
Derian mengangguk setelah Iva berpamitan dengannya untuk menuju mejanya lagi . Derian membuka ponselnya lalu membuka aplikasi chatting untuk mengabari Tamara jika dia akan sedikit telat untuk menjemputnya .
Pasalnya , Derian sudah berjanji untuk menjemput Tamara , namun Derian lupa jika ada jadwal rapat dengan salah satu cabang di Surabaya . Jika membatalkannya , Derian akan mati saat itu juga . Karena pusat di Surabaya adalah salah satu penyumbang terbesar untuk perusahaan yang Derian pegang saat ini .
‘Its okay, Ri . Gue tunggu lo di apartemen aja ya. See you.’
Derian tersenyum kecil mendapat balasan dari pesan yang Derian kirimkan . Derian dan Tamara jarang bertukar pesan . Selama ini , mereka selalu bertemu . Selalu berduaan . Jika terpisah , Tamara akan meneleponnya dan membicarakan hal yang sangat acak . Derian juga jadi merindukan saat – saat itu .
Tapi sebenarnya , Derian tidak bisa berpisah dengan Tamara barang sedetik pun . Derian sepertinya sudah ketergantungan dengan kehadiran Tamara. Bisa dikatakan jika Derian sangat kecanduan dengan Tamara . Walaupun terkadang Tamara sedikit menyebalkan untuknya, namun Derian sangat – sangat menyukainya .
Kenangan itu kembali memutar di otaknya .
Kenangan dimana Tamara sedang bermain dengan anak – anak di kelasnya . Masih berseragam putih abu – abu. Dan polos tanpa riasan diwajahnya . Walau sekarang , terkadang Derian lebih menyukai wajah bangun tidur Tamara .
Saat itu , Derian berjalan cepat menuju kelas Tamara . Masih dengan baju sekolah putih abu – abunya . Derian melihat Tamara yang mengobrol di kelasnya bersama teman – temannya . Entah Tamara dan yang lainnya mentertawakan apa , tapi Tamara terlihat sangat lepas dan bebas saat itu .
Derian berjalan mendekati Tamara lalu memegang tangannya membuat tawanya berhenti seketika . Teman – teman Tamara yang lain menatap Derian dan Tamara heran . Heran karena seorang Deruian pencetak skor terbaik sekolah mereka di setiap pertandingan basket melihatnya memegang tangan Tamara .
Tamara hampir saja jatuh jika Derian tidak memelankan langkah kakinya menjauhi teman – teman Tamara yang kebigungan akan hal itu . Siapa yang tidak kenal Derian ? Hampir semua kenal Derian . Mungkin seluruh sekolah tau jika Derian tengah dekat dengan perempuan yang sedang di seretnya entah kemana . Banyak yang membicarakannya , berbisik atau bahkan mengatai hal buruk terhadap Tamara .
“Gue suka sama lo . Mulai hari ini , lo cewek gue .”
Itu kata yang Derian katakan pada Tamara ketika sudah sampai di Lorong menuju toilet yang cukup sepi . Di sana tidak banyak orang berlalu Lalang . Tidak banyak orang memakai toilet ini juga . Derian bisa melakukan apa saja saat itu juga jika Derian punya fikiran sekarang .
Tapi , Derian sama sekali tidak berfikir untuk menikmati Tamara saat itu juga . Derian saat itu hanya ingin uang dari teman – temannya jika Tamara berhasil di taklukkan .
“Lo ga mabuk , Derian ?”
Derian yang sekarang terkekeh kecil begitu mengingat itu . Derian benar – benar tidak bisa memahami Tamara saat itu . Kenapa juga Tamara tau jika dirinya suka mabuk ?
“Maaf, Derian . Sudah waktunya berangkat .”
Derian berdeham lalu mengangguk .
Sejenak , Derian menyesal pernah meninggalkan Tamara tanpa tau bagaimana keadaan Tamara yang sebenarnya . Dan Derian benar – benar sangat berterima kasih kepada tuhan yang sudah memberikan jalan untuk Derian bisa meminta maaf dan menebus penyesalannya kepada Tamara . Dan menemukan Tamara di kala dirinya sudah bisa mencari uang sendiri .
Derian melajukan mobilnya diikuti dengan mobil sekertarisnya di belakang . Derian tidak memperbolehkan siapapun duduk di sebelahnya saat di mobil ini . Tempat itu khusus untuk Tamara . Dan jika Tamara sudah memberikan ijin pada Derian untuk membawa seseorang yang akan duduk di sebelahnya , Derian akan mempersilahkannya .
Itu prinsipnya .
Prinsip seorang Derian . Dan tentu saja , hal kecil seperti itu membuat Tamara tertawa saat pertama kali Derian meminta ijin pada Tamara begitu ada orang lain yang akan di antar Derian untuk pulang . Dan yang membuat Tamara tertawa lebih keras adalah saat mengetahui siapa yang akan duduk di kursi biasanya Tamara duduki .
Yang akan duduk itu adalah seorang rekan kerjanya .
Laki – laki .