[0.4] Giodana Pratama

1140 Kata
★Dari setiap kata cinta yang kau ucapkan terdapat kebohongan besar di baliknya★ "Apakah yang kamu ucapkan kemarin itu benar bahwa gadis di samping adalah tunanganmu?" Suara yang berasal dari televisi dalam ruang gelap tak luput dari pendengaran seorang pemuda yang duduk berjongkok di atas kursi sofa kamarnya. Matanya sayu dan ada lingkaran di bawah matanya. Begitupun dengan kemejanya yang mulai mengusut. Laki-laki yang mengenakan jas hitam yang berada di televisi iu terdiam sejenak. Ia menarik nafas lalu mengeluarkannya."Ya, Anatasya Buditama adalah tunangan saya dan sekitar satu minggu lagi kita akan menikah!" Prang Sosok pria berumur 25 tahun yang duduk di depan televisi itu membanting keras botol bir yang ada di hadapannya membuatnya pecah berkeping-keping. Raut wajahnya nampak begitu marah. Ia mengambil remote dan mematikan televisinya.Di raihnya ponsel yang berada di meja. Air matanya seketika turun melihat foto dirinya dan sahabat kecilnya tersenyum menghadap kamera.Entah mengapa hatinya terasa remuk mendengar orang yang ia sayangi sebentar lagi akan menikah. Tentu saja, siapa yang tidak akan merasakan apa yang kini dirasakan oleh Gio.Ditinggal nikah. Sungguh lucu baginya mendengar hal tersebut. Ia menyesal tidak mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Pernah suatu hari, gadis itu mengungkapkan perasaannya pada dirinya. Namun begoknya ia malah menganggap dirinya sebagai adik tak lebih.Laki-laki yang tengah terpuruk itu adalah Giodana Pratama. CEO dari Pratama Group. Mantan sahabat Alvino sekaligus mantan sahabat Anatasya. "Sya ... Kenapa? Kenapa kamu ninggalin aku?!" Gio mendekap ponsel tersbut. Ia sudah mabuk berat. Tubuhnya ambruk dan tangisnya pecah begitu saja. "Gio seandainya Ana suka sama Gio gimana?" "Gak gimana-gimana!" "Kenapa?" "Gak kenapa-napa." Masih terbayang saat mengingat wajah kecewa Ana padanya dulu. Bukan hanya itu,ia teringat jelas bagaimana gadis itu tertawa dan bersikap manja pada dirinya meski dia tersakiti, tetapi gadis itu selalu tersenyum pada dirinya. Ah sungguh masa lalu yang indah. Rasanya Gio ingin waktu berhenti di mana momen saat ia bersama Ana. Betapa begok dirinya hingga tak menyadari bahwa ia mencintai Ana. Lebih begok lagi saat dengan santainya ia sering berciuman dengan pacarnya dahulu di kantornya dan kepergok oleh Ana. Bukan berarti ia mencintai pacar-pacarnya dulu, ia hanya ingin mengalihkan perasaannya. Berengsek emang. Memang penyesalan datang di akhir. Jika penyesalan datang di awal apa namanya?Apakah semua ini adalah karma dari Tuhan karena kisah kelamnya di masa lalu? Gio menatap pada jari manisnya dimana di sana terletak sebuah cincin perak.  ∞∞ Ana menepis secara kasar legan Alvino yang mencengkram lengannya. Ia mengusap dan meniup pergelangan tangannya yang memerah akibat Alvino. Saat selesai berbelanja, entah mengapa Alvino tiba-tiba marah pada Ana."Kamu apa-apaan sih?!" Alvino tak menghiraukan Ana. Ia mengitari mobilnya dan masuk ke dalamnya di susul oleh Ana.Tak lama seorang petugas supermarket datang membawa belanjaan mereka. Alvino menyuruhnya untuk menyimpan belanjaan tersebut di bagasi.Setelah selesai semua,ia menancap pedal gas melajukan mobilnya dan membelah jalanan. Tak ada percakapan antara mereka. Ana kini sibuk dengan ponselnya sedangkan Alvino sibuk memikirkan rencana kedepannya.Mata Ana nampak membulat dan ia terpekik karena terkejut melihat panggilan yang ada di ponselnya. Gio. Mengapa tiba-tiba laki-laki itu menelefon dirinya? Alvino melirik Ana yang nampak terkejut. Namun satu detik berikutnya ia kembali menatap jalanan. "Hallo Yo?" Setelah tahu siapa yang menelefon Ana, Alvino mengetatkan rahangnya dan mencengkram erat stir mobil. " ... " "Loh bik Inah?" " ... " "A ... Apa? Iya bik nanti Ana ke sana sebentar lagi!" Ana segera menutup telefonnya. Mendengar nada panik Ana membuat Alvino penasaran. Ia menoleh pada Ana yang hendak membuka suara. "Alvi anterin ke rumahnya Gio! Kamu tau kan?" Alvino mengangkat sebelah halisnya,"Mau ngapain?" "Gio sakit ..." Lelaki itu mendelik "Gak males!" "Alvi ... " lirih Ana. Mendengar nada yang lirih membuat Alvino menjadi tak tega. Ia memarkirkan mobilnya di garasi rumah pribadi Gio yang jaraknya dua rumah menuju rumah Ana. Dengan cepat Ana membuka pintu dan masuk ke dalam rumah gio tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ana sudah biasa keluar masuk rumah Gio,bahkan pemilik rumah tersebut mempersilahkan Ana datang walau tanpa di undang.Di susul Alvino yang nampak kesal. Ia masuk ke dalam rumah mini malis yang cukup besar. Ia mengekori Ana hingga masuk ke dalam kamar Gio. Di sana, sudah ada bik Inah dan Gio yang terbaring lemah di ranjangnya. Ana berlari kecil lalu duduk di pinggir ranjang. Ia menggenggam tangan Gio yang nampak pucat.Ada apa dengan Gio? Mengapa ia bisa seperti ini? Ana tak mengerti. Gio itu jarang sakit separah ini. Jika sakit palingan cuman demam biasa. Tapi ini? Bahkan wajah nya sangat pucat. "Tasya ..." Hati Ana tersentuh mendengar Gio memanggilnya dengan sebutan kesayangannya. Sudah lama ia tak mendengar Gio memanggil namanya seperti itu. "Gio, kamu kenapa? Kenapa bisa gini?" Gio tersenyum tipis. Ia belum menyadari bahwa ada Alvino yang berdiri tak jauh dari mereka. "Aku rindu kamu Tasya ... " Hati Ana berdetak tak karuan. Mendengar Gio yang berkata seperti itu membuat rasa cinta Ana semakin besar. Mengapa? Mengapa Gio selalu menambah rasa cinta pada dirinya dengan kata-kata manis sekecil itu? "Tasya ... Aku mohon jangan menikah dengan Vino. Dia bukan la-" "Tau apa lo tentang gue hah?" Sela Alvino. Gio tersentak dan baru menyadari keberadaan Alvino."Gak usah bikin dongeng karangan lo yang gak sesuai fakta!" Lanjutnya. Bik Inah yang menyadari bahwa situasi semakin awakward langsung pergi ke luar kamar. "Lo b******n Vin!" Desis Gio. Alvino tersenyum sinis."Lo lupa kejadian tujuh tahun lalu?!" Gio bungkam. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Ana yang tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan mencoba mengalihkan pembicaraan. "Gio ... Kamu udah minum obat?" Gio mengalihkan pandangannya pada Ana. Ia mengangguk. Tangan kirinya masih setia menggenggam erat tangan Ana. "Temani aku Tasya ..." Ana menghela nafas. Ia tak bisa menolak permintaan Gio,karena jika ia menolak permintaan nya pasti Gio akan merajuk. Gio Pratama. Cinta pertama Anatasya Buditama. Orang yang selalu mewarnai harinya. Orang yang mengisi hatinya sekaligus orang yang sering menyakitinya.Seperti obsessi baginya, Ana tak peduli jika ia tersakiti oleh Gio. Baginya, akan ada waktunya dimana Gio akan membalas perasaannya. Gio berharap, Ana mengabulkan permintaannya. Karena ia tahu bahwa Ana akan selalu menuruti perkataannya. Ia memang egois. Selalu ingin memiliki apa yang tak bisa ia dapat. Bahkan ia memilih memutuskan tali persahabatannya demi mendapatkan keinginannya. Dan Ana belum mengetahui sifat buruk Gio yang satu ini. "Baiklah ..." Mata Alvino membola. Apa-apaan Ana ini, dengan seenak jidat menerima permintaan Gio "Gak bisa! Ana gak bisa nginep di sini, dia ada urusan nanti sama nyokap gue!" Ana menautkan halisnya,urusan? Perasaan ia tak punya urusan apapun dengan ibu Alvino. "Ka-" "Tadi mama kirim pesan!" Ana menghela nafas. Ia mengalihkan pandangannya pada Gio. Ia tersenyum lalu mengusap pelan rambutnya. "Maaf ya Gio, aku gak bisa!" Tolak Ana secara halus. Gio mendesah kecewa "Sya ..." "Maaf kali ini bener-bener gak bisa." Alvino berdecih melihat dua sejoli yang seperti akan di tinggal jauh. Ia benci. Benci Gio. Benci sebenci, bencinya. Ana melepaskan genggamannya lalu pergi. Gio menatap nanar punggung Ana yang mulai menjauh dan hilang bersama Alvino.Ia mengacak rambutnya frustasi. Mengapa semua orang yang berada di dekatnya perlahan menjauh? Apakah ini tebusan dosa besar yang pernah ia lakukan tujuh tahun dahulu? Giodana Pratama. Ia benci nama itu. Ia benci pada orang yang memberikan nama tersebut. Karenanya, ia menjadi seperti ini. Ibu. Ya,ibunya yang membuat Gio menjadi seorang player. Menjadi laki-laki b******n tanpa diketahui orang-orang. Ia berharap waktu terputar kembali. Memperbaiki kesalahan yang ia perbuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN