"Jadi dia sekretarismu?" Damian menggerakkan kedua alisnya, mengiyakan pertanyaan Rani. Sebelah tangannya menopang kepala istrinya, sebelahnya lagi sibuk memainkan rambut Rani. Mereka sedang tiduran di kamar yang sama. Di dalam selimut yang sama, tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh. Rani menaruh kepalanya dengan nyaman di lengan kokok milik Damian, sedangkan sebelah tangan Damian kini membelai wajah cantik istrinya yang terlihat sedikit redup di bawah sinar lampu kuning keemasan. "Kenapa harus dia? Apa nggak ada yang lain?" gerutu Rani. "Mungkin kamu harus menanyakannya langsung pada pimpinan Rich hotel." "Daddy kamu?" Damian mengangguk. "Beliau yang memilih dan menunjuk Karin sebagai sekretaris, dan tak ada yang bisa aku lakukan kecuali patuh padanya."

