"Ayah udah siuman?" Rani menggeser duduknya mendekati ayahnya, di genggamnya tangan lelaki tua itu dan mengusapnya lembut. "Rani, kamu baik-baik saja, kan?" gumam Adi dengan suaranya yang masih lemah dan sedikit serak, hingga Rani mengambilkan segelas air untuk diminum olehnya. "Rani baik-baik saja, Yah," sahut Rani dengan mata berembun dan hati yang berulang kali mengucap syukur, karna ayahnya bisa sadar kembali. "Bagaimana suamimu? Apa dia bersikap baik padamu?" Deg! Seketika perasaan Rani berubah tak enak. Kenapa dari tadi ayahnya seolah sedang menginterogasi dirinya? Aneh sekali. Jangan-jangan memang benar kalau ayahnya sudab tau tentang surat perjanjian itu? "Damian baik, Yah. Bahkan sangat baik," ujar Rani berusaha bersikap tenang, agar ayahnya tidak curiga. "B

