bc

Pernikahan dalam Dosa

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
dark
forbidden
love-triangle
contract marriage
family
HE
age gap
fated
friends to lovers
pregnant
kickass heroine
stepfather
single mother
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
serious
bold
brilliant
city
office/work place
cheating
disappearance
lies
love at the first sight
polygamy
addiction
assistant
lawyer
like
intro-logo
Uraian

"Menikahlah denganku! Aku berjanji akan menjagamu dan bayi yang ada di dalam kandunganmu, meski dia bukan darah dagingku."

Dua manusia dengan trauma masa lalu yang dipertemukan oleh takdir, yang kemudian mengikat mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Liam datang di saat Vony berada di titik terendah kehidupannya. Saat hidupnya dihancurkan sehancur-hancurnya oleh sahabat yang paling ia percaya.

Liam datang... menawarkan rasa hangat dan aman bagi Vony. Membuat ia kembali memiliki semangat hidup, untuk dirinya, dan bayi di dalam rahimnya. Ikrar suci telah dilafalkan. Namun, setelah semua itu, Vony justru meragu.

Apakah keputusannya untuk menerima pinangan Liam adalah pilihan yang tepat? Saat satu per satu fakta tentang lelaki itu mulai terungkap. Tentang masa lalunya yang belum benar-benar usai. Dan kini Vony tidak yakin jika pernikahan ini akan membuatnya bahagia.

chap-preview
Pratinjau gratis
01 - Semua Telah Hancur
"Aku hamil... Ini darah daging kamu, Gab." "Katamu kamu mencintaiku dan akan melakukan apapun untukku. Tapi, kenapa setelah malam itu kamu malah menghilang?" "Apa yang harus kulakukan dengan anak ini? Hidupku hancur. Semua sudah hancur." Vony merasa hidupnya benar-benar hancur setelah kesuciannya direnggut paksa oleh sahabat terdekatnya. Namanya Gabriel. Pria itu yang telah menemani Vony menjalani hari-harinya selama lebih dari dua puluh tahun terakhir. Dia adalah sosok yang sangat Vony percaya. Namun, persahabatan itu justru rusak karena rasa yang tak seharusnya ada. Setelah malam itu, Vony berusaha melupakan segalanya. Ia berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa. Kuliah, magang, dan mengurusi dirinya sendiri di negeri tempat ia berada kini. Namun, pagi ini, lagi-lagi ia merasa seolah dunianya telah runtuh saat ia melihat dua garis merah di dalam genggamannya. Ini adalah buah cintanya bersama Gabriel. Dan lelaki itu bahkan tidak tahu keberadaannya. Bahkan mungkin, sudah tak menginginkannya lagi. "Maaf... maafin Mama. Mama tidak bisa memberikan kehidupan yang baik untukmu. Kita hanya memiliki satu sama lain. Dan mungkin, keberadaanmu justru akan membuat banyak orang merasa kecewa dan menderita." Vony menggenggam pembatas logam yang berada di pinggir danau. Suhu dingin menembus kulitnya. Cahaya matahari bahkan belum mampu menerangi bumi dengan baik. Dalam suasana temaram itu, hanya ada dia -- Vony dan segumpal daging di rahimnya. "Hidup Mama sudah hancur. Mama tidak yakin kita dapat melalui semua ini. Sayang... maaf." Vony tahu pilihannya mungkin akan tampak egois. Namun, semua telah hancur. Ia tak lagi memiliki keberanian untuk terus menatap ke depan. Dan inilah batas dari semua rasa sabarnya. Ia melangkah maju. Mengabaikan rasa dingin yang membuat tubuhnya bergetar. Hingga suara benda masuk ke dalam air itu terdengar, memecah keheningan di kala fajar hari itu. Byurrrrr Dingin. Hanya itu yang dapat Vony rasakan. Ia membiarkan ditarik oleh gravitasi yang membuatnya masuk lebih dalam. Hingga perlahan, rasa sesak itu muncul. "Maafin Mama. Mama terpaksa harus memilih jalan ini. Karena Mama tidak mau melihat nenek dan paman kamu kecewa karena Mama." "Papamu mungkin kini sudah bahagia dengan wanita yang dijodohkan dengannya. Kita tidak boleh merusak kebahagiaan mereka." "Sayang... Mama di sini. Mama akan selalu memelukmu. Sampai kita berjumpa di surga nanti." Vony memeluk perutnya lebih erat. Ia mengabaikan rasa perih yang perlahan menyayat kulitnya akibat gesekan air dingin di sekitarnya. Cahaya yang masuk kian menipis. Matanya terasa semakin perih. Dan perlahan, ia menutup matanya. "Inilah akhirnya... selamat tinggal, semuanya..." Tepat sebelum kesadarannya menghilang, Vony mendengar suara benda jatuh ke air. Cukup keras. Ia juga merasakan seperti ada sebuah arus yang menerjang dirinya. Namun, ia sudah tak bergerak. Untuk sekadar membuka mata pun, ia sudah tak sanggup lagi. *** "Gabriel! Apa yang kamu lakukan?!" sentak Vony saat Gabriel melemparkannya di atas kasur. Pria itu datang secara misterius. Ia datang ke Australia untuk menemukan Vony. "Gabriel! Lepas! Sebentar lagi kamu akan menikah. Kita tidak boleh melakukan ini!" "Kenapa tidak boleh?" balas Gabriel. Nadanya terdengar begitu putus asa. Ia menatap mata Vony dengan tatapan berkilat. "Vony... apa kamu tidak bisa merasakannya? Aku sangat mencintaimu. Aku selalu ingin bersamamu. Cuma kamu yang aku mau." "Tapi ini salah..." Air mata Vony mulai menetes. Ia bisa melihat penderitaan di mata sahabatnya itu. "Kamu sebentar lagi akan menjadi milik orang lain." "Aku tidak mencintainya! Yang aku cintai hanya kamu," kekeuh Gabriel. "Aku mohon. Beri aku satu kesempatan lagi. Aku rela keluar dari rumah, meninggalkan segala yang aku miliki asal kamu mau bersamaku," mohon Gabriel. Namun, Vony menolak. Hubungannya dengan orang tua Gabriel sangat baik. Ia tidak mau mengecewakan mereka. Ia tidak mau membuat putra mereka satu-satunya menentang mereka hanya karenanya. "Orang tuamu tahu yang terbaik untukmu. Kita bisa terus berteman. Tapi... aku benar-benar tidak bisa bersamamu." Mata Gabriel kembali berkilat merah. "Tidak. Aku tidak mau wanita mana pun selain dirimu. Kamu harus jadi milikku. Hanya aku yang bisa memilikimu." "Gab!" Vony tersentak saat Gabriel mengunci pergerakan tangannya. Lelaki itu membawa tangan Vony ke atas kepala, membuat Vony tak bisa lagi melawan. "Aku mohon... jangan!" isak Vony. "Aku akan membencimu jika kamu benar-benar nekat menyakitiku!" ancam Vony. Gabriel tersenyum miring. "Aku tak akan menyakitimu. Aku hanya ingin kamu jadi milikku, sayang. Mulai malam ini, kamu akan jadi milikku. Hanya milikku..." Gabriel menempelkan bibirnya pada bibir Vony. Menggerakannya dengan menggebu dan terburu-buru. Vony benar-benar dibuat tak bisa berkutik. Semakin lama, Gabriel semakin berbuat jauh. Yang bisa Vony lakukan hanya menangis dan memohon agar Gabriel menghentikan kegilaannya. Namun, pria itu benar-benar tak mau berhenti. "Arrgh! A- aku benci kamu! Aku sangat membenci kamu, Gabriel!" lirih Vony dengan suara tersengal, dan seluruh tenaga yang nyaris tak bersisa. Ia tak menyangka jika malam itu, ia benar-benar harus kehilangan harta paling berharga di hidupnya di tangan sahabatnya, salah satu orang yang paling ia percaya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.8K
bc

Kali kedua

read
220.9K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook